
Pagi yang sejuk, pemandangan pedesaan yang di selingi kabut menambah keindahan desa yang berada di pegunungan itu. Eliza sudah terbangun dan selesai mandi. Ia duduk di teras menikmati sejuknya udara pagi hari.
Tak selang berapa lama Rayhan datang dan duduk di samping Eliza. " Kamu masih marah, maafin saya ya" pinta Rayhan tulus.
"Sudahlah, tidak apa-apa Kak" Jawab Eliza.
"Beneran"
"hmmm...." Rayhan merasa senang Eliza terlihat sudah tidak kesal lagi padanya. "Udaranya sejuk ya kak" Ucap Eliza tersenyum.
"Iya sejuk sekali"
"Kak Ray mau cobain ini gak? tadi di kasih buk sumi kolak" Ucap Eliza mengambil sebuah mangkuk berisi kolak pisang.
"Boleh, suapin ya" Goda Rayhan.
"Kak Ray nggak malu, kayak anak kecil aja minta di suapin"
__ADS_1
"Ngapain malu kan minta suapin sama pacar sendiri" Rayhan mencubit gemas pipi Eliza.
" Oh ya kak, apa rencana kakak selanjutnya? " Tanya Eliza sambil menyuapi Rayhan.
"Sementara saya akan bersembunyi dulu membiarkan mereka berpikir saya telah tiada sampai saya tahu pergerakan mereka dan siapa itu Ron. Kamu bantu saya ya"
" Apa yang harus Eliza lakuin kak?"
"Kamu terus awasi pergerakan Randi di perusahaan tapi kamu harus hati-hati saya tidak mau kamu dalam bahaya"
" Baiklah Kak, besok aku akan mulai masuk kerja lagi"
Sore hari tampak dokter Danu sudah menjemput Eliza dan Rayhan di rumah pak Kardi. Eliza dan Rayhan pamit pada Pak kardi dan buk sumi. Rayhan meninggalkan kartu nama dan uang yang ada di dompetnya untuk pasangan suami istri itu. Meskipun keduanya menolak tapi Rayhan memaksa dan membujuknya.
Saat ini Rayhan dan Eliza sudah berada di mobil dokter Danu dalam perjalanan kembali ke kota. Rayhan duduk di samping dokter Danu yang sedang mengemudi dan Eliza berada kursi belakang. Rayhan sedikit kesal dengan dokter Danu yang sekilas curi-curi pandang melihat Eliza di spion saat menyetir.
"Nona Cantik, apa kamu lapar atau ingin sesuatu? kita bisa mampir sebentar kalau kamu mau" Tanya dokter Danu.
"Dok bisa kah anda berhenti memanggil kekasih saya dengan sebutan itu" Kesal Rayhan pada dokter Danu.
__ADS_1
"Kenapa memangnya tuan Rayhan? Bukankah nona Eliza memang cantik" Jawab santai dokter Danu.
"Kekasih saya memang cantik, sangat cantik malahan tapi hanya saya yang boleh memandang kecantikannya" Rayhan tak mau kalah dari dokter Danu.
"Mana boleh seperti itu tuan, siapa pun berhak mengaggumi nona Cantik termasuk saya, selama belum ada ikatan sah antara anda dan nona cantik. Dan nama panggilan itu selamanya akan saya gunakan"
" Anda sungguh tidak sopan dokter" Sungut Rayhan.
"huh, bertengkar lagi" Guman Eliza pelan. "Dokter, di situ ada warung bisakah berhenti sebentar aku ingin beli minum" Pinta Eliza dan dokter Danu pun menghentikan mobilnya.
"Biar saya yang beli El" Tawar Rayhan tapi di tolak Eliza karena Eliza merasa kesal dengan pertengkaran keduanya. Eliza pun langsung turun pergi ke warung itu yang ramai dengan anak-anak muda.
Eliza membeli tiga botol air mineral dan beberapa roti untuk mengganjal perutnya nanti yang sedikit lapar. Setelah Eliza membayar ia beranjak meninggalkan warung itu tapi baru beberapa langkah ia sudah di hadang oleh dua orang pemuda yang sedari tadi memperhatikannya.
"Buru-buru amat neng Cantik, boleh kenalan gak" Tanya salah seorang pemuda itu.
"Maaf mas, permisi"Eliza melangkah cepat meninggalkan kedua pemuda itu tapi keduanya tidak tinggal diam, mengikuti Eliza.
" Mas mau apa? yang sopan ya" Teriak Eliza sambil menepis tangan salah seorang pemuda itu yang menarik tangannya.
__ADS_1
Rayhan dan dokter Danu yang yang melihat kejadian itu dari dalam mobil pun, langsung turun dengan emosi yang sudah tak bisa di bendung lagi melihat ada yang mengusik wanita yang mereka sayangi.