Mencari Gadis Penyelamatku....!!

Mencari Gadis Penyelamatku....!!
Episode 148


__ADS_3

tit........tit.......


Layar monitor yang tersambung di tubuh Eliza tiba-tiba berbunyi membuat semua seketika terperangah.


"Dokter, istriku....." Teriak Rayhan merasakan degup jantung Eliza kembali berdetak meskipun terasa lemah.


Dokter Danu dan para dokter lainnya pun segera melangkah cepat menghampiri Eliza. Penanganan kembali di lakukan pada Eliza, setelah layar monitor kembali berbunyi semua dokter berusaha keras menolong Eliza. Reza dan Ron menarik perlahan Rayhan keluar dari ruangan itu.


Beberapa lama kemudian dokter Danu kembali keluar, "Dokter bagaimana istriku" Tanya Rayhan yang sudah tidak karuan perasaannya.


"Tuan Rayhan, berkat keajaiban dan kebesaran dari tuhan serta ketulusan cinta anda, nona Eliza telah kembali bernafas. Tapi....." Dokter Danu menjeda ucapannya. Wajahnya terlihat kembali menahan kesedihan untuk menyampaikan pada Rayhan.


"Tapi apa dokter, katakan" Rasa cemas kembali menjalar di diri Rayhan, sungguh ia sudah tidak sanggup lagi bertahan jika terjadi sesuatu pada Eliza. Jika saja tadi degup jantung istrinya tidak kembali maka degup jantungnya pun pasti juga akan ikut berhenti seketika itu juga.


"Nona cantik saat ini mengalami koma, kami tidak bisa memastikan kapan nona cantik akan tersadar" Ucap dokter Danu pada Rayhan.


"Ya Allah...." Rayhan kembali menangis, andai ia bisa menggantikan posisi istrinya saat ini.


Dokter Danu memegang pundak Rayhan. "Saat ini kita hanya bisa berdoa agar nona cantik bisa tersadar dari koma nya tuan" Tutur dokter Danu.


"El sayang...."Lirih Rayhan melangkah mendekati dimana Eliza berada, di ikuti dokter Danu, Ron dan Reza. Perban yang menutupi luka di kepala Rayhan kini berwarna merah semua akibat darah yang mengalir. Dokter Danu mencoba membujuk Rayhan untuk mengobati kembali lukanya tapi di tolak oleh Rayhan karena saat ini tatapan dan pandangan Rayhan tak lepas dari Eliza. Rayhan seperti tidak sadar dan cenderung seperti orang yang mengalami depresi.


"Ray, kamu harus sabar. Ingat, kedua anakmu saat ini juga membutuhkanmu" Ucap Reza memegang pundak Rayhan mencoba menyadarkan. Ron pun ikut memegang pundak Rayhan.


"Kami juga merasakan hal yang sama sepertimu Ray, tapi saat ini kamu harus kuat" Ucap Ron tak membuat Rayhan bergeming. "Ingat Ray kamu adalah kepala keluarga bagi istri dan kedua anak kalian, jika kau seperti ini tidak mau mengobati lukamu lantas bagaimana kamu bisa menjaga mereka" Ron menarik tubuh lemas Rayhan yang duduk di pinggiran ranjang Eliza, untuk menghadapnya. "Sadarlah Ray demi istri dan anak-anakmu" Bentak Ron membuat Rayhan menatapnya, benar yang di katakan Ron, ia harus sehat agar bisa menjaga Eliza, memberi semangat Eliza untuk kembali sadar.

__ADS_1


Akhirnya Rayhan bersedia di obati kembali lukanya namun ia sama sekali tidak mau beranjak dari ruang VIP di mana Eliza di rawat saat ini. Disisi lain Baron yang baru tersadar pasca operasi, ia bersi keras menemui anak perempuannya itu.


"Nak, ini papa" Baron memegang tangan Eliza duduk di sebelah ranjang Eliza menggantikan Rayhan yang kini beralih duduk di sofa dekat ranjang Eliza. "Kamu harus segera bangun nak" Baron menangis, anak perempuan darah dagingnya kenapa hidupnya selalu menderita seperti ini sedari kecil terlebih lagi ialah penyebab penderitaan Eliza selama ini karena perlakuan buruknya. "Kamu boleh tidak memaafkan papa tapi jangan menghukum Papa dengan cara seperti ini nak, Papa tidak sanggup" Ucap Baron di sela tangisnya yang semakin jadi betapa ia menyesali semua kebodohannya.


***


Tit...........tit............


Satu tahun setengah sudah berlalu, suara itu masih tetap sama terdengar dari monitor yang terhubung di tubuh Eliza. Rayhan masih setia menjaga Eliza, yang saat ini sudah di pindahkan di rumahnya karena setelah sebulan berada di rumah sakit, Rayhan yang di kuasai emosi meminta dokter Danu memindahkan Eliza ke rumahnya. Saat itu ada salah satu dokter ternama dari luar kota yang datang berkunjung ke rumah sakit Rayhan, dokter itu memeriksa kondisi Eliza dan berkata sebaiknya melepas alat-alat bantu di tubuh Eliza.


"Sebaiknya, anda mengikhlaskan istri anda tuan karena tidak ada harapan hidup baginya dan jangan buang-buang biaya lagi" Ucap dokter itu yang tidak tahu bahwa Rayhan adalah pemilik rumah sakit yang ia kunjungi saat ini.


Rayhan yang di kuasai emosi menarik baju dokter itu. "Kau bukan tuhan yang bisa memutuskan kehidupan seseorang, bagiku nyawa istriku lebih berharga dari seluruh harta yang ku miliki di dunia ini bahkan nyawaku pun siap ku berikan untuk istriku" Rayhan semakin menarik tubuh dokter itu dengan tatapan penuh emosi.


"Dokter Danu, saya harap lain kali jangan biarkan ada kunjungan dokter seperti dia lagi di rumah sakit ini karena rumah sakit ini tidak menerima kunjungan dari dokter yang tidak bisa menghargai nyawa pasien" Ucap Rayhan tegas melepas tangannya dari baju dokter itu.


"Anda tidak berhak berkata seperti itu pada dokter seperti saya" Ucap sombong dokter itu yang segera di sela oleh dokter Danu.


"Maaf dokter, saya lupa memperkenalkan bahwa tuan Ray adalah pemilik dari rumah sakit ini" Ucap dokter Danu membuat dokter ternama itu diam seketika merasa malu.


Rayhan yang masih di kuasai emosi meminta dokter Danu untuk memindahkan Eliza ke rumahnya. Di rumah Rayhan, Eliza di rawat di kamar bawah yang mereka tempati selama Eliza hamil besar. Semua alat-alat bantu dan kebutuhan Eliza sudah disiapkan di kamar itu.


Setiap hari dokter dari rumah sakit bergantian datang dan berjaga di rumah Rayhan dengan seorang perawat yang ikut serta. Rayhan menyiapkan ruang khusus untuk dokter dan perawat di rumahnya untuk berjaga. Kebetulan dokter Danu yang paling sering berjaga, dokter muda itu tidak hanya perhatian dengan Eliza tapi juga dengan kedua anak kembar Eliza, ia paling senang jika menggoda kedua anak kembar menggemaskan itu yang sudah di anggap keponakannya sendiri.


Di sisi lain semua pekerjaan di perusahaan Rayhan, di serahkan pada Reno asisten setianya yang juga di bantu oleh Reza, Ron dan Baron. Rayhan hanya fokus pada Eliza dan juga kedua anak kembarnya yang tumbuh semakin lucu. Tubuh Rayhan terlihat semakin kurus, wajahnya tidak secerah dulu meskipun masih terlihat tampan. Ia juga jarang mencukur bulu kumis dan jenggotnya, sungguh Rayhan sama sekali tak memperdulikan keadaannya, ia hanya fokus merawat Eliza, dengan telaten setiap pagi dan sore ia menyeka tubuh Eliza, menggantikan pakaiannya, menyisir rambut istrinya, memotong kuku Eliza ketika memanjang, semua ia lakukan dengan sabar dan penuh harap agar Eliza segera bangun.

__ADS_1


"Ma...ma...." Kedua anak kembar yang baru bisa berjalan itu perlahan turun dari gendongan Nany dan Hanna, melangkah gontai pelan-pelan menghampiri Rayhan. "ma...ma" Ucap Cadel Zahan Syarif putra Rayhan yang terlihat chubby. Rayhan kemudian menggendong Zahan lalu di dudukkan di dekat Eliza kemudian menoleh pada putrinya Zihan syarif yang menarik-narik celana nya ingin di gendong juga. Rayhan lalu menggendong Zihan mendudukan disamping Zahan.


Rayhan mencium kedua anaknya, kemudian menatap Eliza. "Sayang, apa kamu tidak ingin bangun melihat kedua anak kita. Mereka seperti fotokopi dari wajah kita sayang" Lirih Rayhan berdiri kemudian mencium kening Eliza sembari memegangi kedua anaknya agar tidak terjatuh.


Melihat itu kedua anak Rayhan merangkat ingin ikut mencium Eliza juga. "Cumi mama (cium mama)" Cadel Zihan ikut mencium pipi Eliza bersamaan dengan Zahan.


"Cumi mama" Cadel Zahan. Rayhan memeluk kedua anak kembarnya dan istrinya. Nany dan Hanna meneteskan air mata melihatnya. Semenjak Eliza di pindahkan di rumah, keduanya ikut tinggal bersama di rumah Rayhan merawat si kembar di bantu dengan asisten rumah tangga yang di sewa oleh Rayhan.


Sedangkan Baron kini sudah kembali bersama Nancy yang sudah memaafkannya, setiap hari Baron dan Nancy datang untuk melihat keadaan Eliza dan kedua cucu kembarnya. Ron dan Reza juga selalu menyempatkan waktu menjenguk adik dan kedua keponakannya di tengah sibuknya mengurus perusahan mereka sendiri di tambah lagi kini mereka juga membantu Reno mengurus semua perusahaan Rayhan.


Rayhan menangis masih memeluk erat kedua anak dan istrinya. "Sayang cepatlah bangun, kami membutuhkanmu" Ucap Rayhan menangis membuat kedua anaknya yang melihat dirinya menangis ikut menangis keras. Air mata ketiganya membasahi pipi Eliza, lirih isak tangis Rayhan dan suara tangisan keras kedua anaknya seketika membuat tangan Eliza tiba-tiba bergerak perlahan terangkat menyentuh tangan Rayhan yang memeluk dirinya dan kedua anak mereka.


Air mata Eliza perlahan menetes dari matanya yang terpejam. Rayhan yang merasakan sentuhan tangan pun begitu kaget ketika mendapati tangan istrinya lah yang menyentuh tangannya. "Sayang..." Seru Rayhan melihat air mata Eliza mengalir.


.


.


.


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2