
Tiba-tiba sebuah suara di belakang Rudi lengkap dengan pukulan keras membuat Rudi jatuh tersungkur seketika. "Aku masih hidup bangsat, berani sekali kau mengusik anak-anakku" Teriak laki-laki itu. Baron datang setelah anak buahnya yang diam-diam ia perintahkan untuk mengawasi dan melindungi ketiga anak-anaknya melapor memberitahu bahwa ketiga anaknya sedang dalam bahaya. Baron mejadi panik, ia segera datang ke lokasi setelah Rudi tiba hingga bisa mendengar semua kebusukan Rudi.
Kini Baron menoleh mendekati dimana Rayhan dan Eliza berada kemudian tangan Baron terangkat mengusap lembut rambut Eliza, ia sungguh menyesal tidak menyanyangi putri satu-satunya itu sejak dalam kandungan, andai waktu bisa di ulang kembali pikir Baron. Eliza yang masih merasakan sakit di perutnya pun perlahan menatap Baron, ia merasa Baron saat ini terlihat tulus, ada penyesalan yang dalam pada tatapannya.
Baron tersenyum pada Eliza dan tanpa terasa air mata sudah membasahi pipinya. Ya, Baron saat itu juga menangis di depan Eliza. "Maafkan papa nak" Lirih Baron kemudian beralih menatap Rayhan. "Cepat bawa anakku ke rumah sakit nak Ray" Ucap Baron di angguki Rayhan dan segera meninggalkan tempat itu dengan Eliza yang masih berada dalam gendongannya. Anak buah Ron dan Baron saat ini sedang baku hantam dengan anak buah Rendy dan Rudy. Sedangkan Ron dan Reza menatap perlakuan Baron pada Eliza, keduanya bisa merasakan penyesalan Baron yang tulus membuat kebencian di hati keduanya pada Baron mulai sedikit mencair.
Baron kemudian menarik tubuh Rudi yang hendak melarikan diri dan menghujaninya dengan banyak pukulan. "Kau sahabatku kenapa kau menghancurkan kepercayaanku. Aku begitu bodoh percaya dengan rencanamu. Kau sudah membuatku menghancurkan keluargaku sendiri, hari ini akan ku bunuh kau" Teriak Baron sudah benar-benar marah.
Baron memukul, menendang, menghajar Rudi hingga ia benar-benar tak berdaya sampai tak sadarkan diri. Baron masih di kuasai emosi hingga ia mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkan pada Rudi kemudian Baron menarik pelatuk pistol itu dan Door........"Apa yang papa lakukan" Teriak Reza menepis pistol Baron hingga peluru yang keluar mengarah kesamping Rudi. "Apa papa ingin masuk penjara dan lari lagi dari tanggung jawabmu pada anak" Bentak Reza emosi, ia kini sudah bisa menerima Baron kembali sebagai papanya. Ia dapat melihat ketulusan dan penyesalan Baron.
Baron yang merasa kaget dengan sebutan Papa dari bibir Reza seketika kedua matanya berkaca-kaca, sudah lama ia tidak mendengar Reza memanggilnya Papa semenjak kematian Fadiyah. "Nak, kau memanggiku Papa lagi. Kau mau memaafkan laki-laki jahat ini" Ucap Baron menatap Reza.
"Sudahlah Pa kita lupakan masa lalu, yang penting sekarang Papa sudah benar-benar sadar akan kesalahan Papa" Ucap Reza.
"Tentu nak, Papa benar-benar menyesal. Maafkan Papa" Baron segera memeluk Reza.
"Papa harusnya minta maaf pada Eliza dan kak Ron karena mereka berdualah yang paling menderita dari Reza" Ucap Reza membuat Baron yang memeluk Reza menatap Ron yang terdiam berada sedikit jauh di belakang Reza.
"Pasti nak" Baron melepas pelukannya pada Reza, ia perlahan melangkah maju hendak mendekati Ron yang masih terdiam tapi secara tak sengaja bola mata Baron menangkap seseorang di belakang sedang mengarahkan pistol pada Ron hingga langkah perlahan Baron pun menjadi cepat bersamaan dengan suara tembakan. "Awas anakku Ron" Teriak Baron menarik tubuh Ron kesampingnya hingga peluru yang terlepas itu mengenai dirinya.
Ron begitu kaget, darah mengalir dari tubuh Baron. "Pa, apa yang kau lakukan" Teriak Ron seketika menahan tubuh Baron yang hampir terjatuh.
__ADS_1
Rendy kembali ingin menembak, tapi dua buah peluru yang di lepaskan Reza lebih dulu mengenai tangan dan kakinya hingga ia jatuh tak sadarkan diri.
"Pa" Teriak Reza menghampiri Baron.
"Kamu mau memaafkan Papa kan nak" Ucap Baron menatap Ron. Ia tidak tahu seberapa menyesalnya dirinya yang tidak tahu menahu keberadaan Ron anak kandungnya selama ini.
"Papa harus sembuh dulu jika mau aku maafkan" Ucap Ron, ia melihat ketulusan Baron dan bertekad membuang semua kebenciannya. Ron tidak ingin menyia-nyiakan di sisa hidupnya, ia ingin bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang tidak pernah ia dapat sama sekali selama hidupnya. Ron juga senang akhirnya ia punya keluarga lengkap, ia memiliki Momy, seorang adik perempuan dan adik laki-laki, kini ia juga mendapatkan kembali ayah kandungnya. Ron merasa bahagia di sisa hidupnya mempunyai keluarga yang utuh.
"Tentu nak, ini hanya luka ringan" Ucap Baron tersenyum, rasa sakit dari tembakan di tubuhnya tidak sebanding dengan kebahagiaan mendapatkan maaf dari anak-anaknya.
Ron dan Reza pun memapah Baron. "Kita kerumah sakit"
*****
"Aaah" Pekik Eliza semakin merasakan sakit. "Kak...!!" Teriak Eliza membuat Rayhan yang fokus berusaha menyalakan mobil menoleh.
"Sabar ya sayang" Sudah tidak tahu sepanik apa Rayhan melihat istrinya yang begitu menahan sakit. "Ya Allah, tolong lah istri dan anak-anakku" Doa Rayhan tak henti-henti keluar dari mulutnya dan merusaha menyalakan mobil. "Alhamdulillah" Ucap Rayhan seketika saat mobilnya sudah mulai menyala. " Kita ke rumah sakit sayang" Rayhan sudah melajukan mobilnya hingga tanpa ia sadari Erny yang tersadar dari pingsan perlahan juga ikut mengendarai mobil mengikuti mobilnya di belakang.
Mobil Rayhan melaju cepat membawa Eliza menuju jalan rumah sakit hingga saat sampai pada sebuah lampu merah, Rayhan menghentikan mobilnya.
"Sabar ya sayang" Ucap Rayhan berusaha menenangkan Eliza sembari menunggu lampu hijau menyala. Sedangkan mobil Erny terus melaju tepat di belakang mobil Rayhan.
__ADS_1
Dari arah samping diseberang jalan terlihat tanda lampu hijau dari arah jalan itu sudah menyala dan kebetulan ada sebuah truk besar melintas hendak menyebrang di depan mobil Rayhan membuat Erny memanfaatkan kesempatan itu agar mobil Rayhan dan Eliza tertabrak oleh truk besar itu. "Rasakan, akan ku kirim kalian berdua ke neraka" Ucap Erny tertawa melajukan mobilnya menginjak gas kuat, mendorong mobil Rayhan hingga melewati batas lampu merah.
"Ya Allah" Ucap Eliza dan Rayhan merasa kaget merasakan sebuah mobil menabrak dan mendorong mobil mereka.
"Ada apa kak" tanya Eliza sudah terlihat begitu lemas menahan sakit.
"Ada yang menabrak mobil kita sayang" Rayhan menoleh ke belakang dan terlihat Erny berada di kemudi mobil yang menabrak mobilnya.
Kemudian terdengar suara klakson keras membuat Eliza menoleh kesamping Rayhan. "Kak Ray awas...." Teriak Eliza menunjuk truk itu dari arah samping mobil membuat Rayhan seketika menoleh kesamping kaca pintu mobilnya dan telihat sebuah truk melaju kencang menuju ke arah mobilnya.
Boom.....tabrakan itu tak terhentikan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......