
Rayhan menghela nafas saat mendengar cerita Reza tentang masa lalu kelam istrinya. Ia tidak menyangka di balik keceriaan istrinya selama ini tersimpan luka yang begitu dalam. Rayhan tidak tahu harus berkata apa yang jelas dirinya dapat merasakan sakit yang di rasakan Eliza selama ini.
"Saat itu aku tidak tinggal diam melihat gadis kecilku yang meminta uang pada Baron. Aku datang ke rumah sakit secara sembunyi-sembunyi setelah mendapatkan pinjaman uang dari teman-temanku tapi....." Reza menjeda ceritanya, ia meraup wajahnya dengan kedua tangannya sembari mengusap air mata yang terlolos dari pelupuk matanya. "Aku terlambat karena mama sudah tiada" terlihat penyesalan teramat pada wajah Reza.
"Hatiku begitu hancur saat melihat gadis kecilku menangis di depan Mamaku yang pergi untuk selama-lamanya. Aku begitu emosi pada Baron, di depan nya aku memutuskan hubunganku dengannya sama seperti yang gadis kecilku lakukan. Aku meninggalkan Baron dan bertemu dengan orang tua mamaku. Kakek dan nenekku memberikan semua hartanya atas namaku dan Eliza sebelum mereka meninggal" Reza masih terus melanjutkan ceritanya. "Itulah kenapa namaku sekarang bukan lagi Reza wijaya melainkan Reza Fatiyan karena Fatiyan adalah nama dari keluarga mamaku"
Malam semakin larut, Rayhan masih setia mendengarkan cerita Reza. "Selama ini aku terus mencari keberadaan gadis keciku hingga akhirnya aku merasa lega ketika aku tahu adikku sudah menikah dengan dirimu Ray karena aku yakin, kamu pasti bisa menjaga, melindungi dan menyanyangi gadis kecilku" Lanjut Reza.
"Terima kasih kamu sudah percaya padaku" Ucap Rayhan pada sahabat baiknya sekaligus rekan bisnisnya itu.
"Akulah yang harusnya berterima kasih Ray" Sejenak Reza menunduk melihat benda digital yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah malam, sebaiknya aku pulang dulu" Ucap Reza bangkit dari duduknya menggerakkan badan merenggangkan otot-otot pada tubuhnya yang terasa kaku, "Besok aku akan kemari lagi untuk mendapatkan maaf dari gadis kecilku" Tutur Reza yang kemudian menepuk pundak Rayhan yang juga ikut bangkit dari duduknya. "Aku titip gadis kecilku Ray"
"Tentu saja" Rayhan mengangguk sembari menatap sahabatnya itu keluar dari rumah kontrakan.
Rayhan pun kembali memasuki kamar di mana istrinya itu berada. Perlahan ia merebahkan diri di samping istrinya yang sudah begitu terlelap. "Sayang, ternyata sejak kecil kamu sudah begitu menderita" Guman Rayhan pelan merubah posisi tidurnya menghadap Eliza."Kedepannya akan aku isi hidupmu dengan kebahagiaan dan tidak akan membiarkanmu bersedih lagi" Rayhan mencium kening Eliza sembari memeluk tubuh Eliza dan memejamkan mata ikut terlelap ke dalam mimpi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adzan subuh berkumandang, Rayhan terbangun dari tidurnya. Perlahan ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Eliza ketika tidak mendapati istrinya itu di sampingnya.
Rayhanpun beranjak dari tempat tidur hendak keluar kamar mencari Eliza tapi niatnya itu di urungkan ketika mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Selang beberapa menit Eliza keluar dari kamar mandi sudah terlihat segar. "Kak Ray sudah bangun" tutur Eliza tanpa berani menatap Rayhan. "cepat mandi gih, setelah itu kita sholat subuh bareng" Ucap Eliza mengambil baju di lemarinya karena saat ini ia hanya menggunakan handuk yang lilitan pada tubuhnya.
Rayhan tersenyum menatap istrinya itu, perlahan ia mendekati Eliza dan memeluknya dari belakang. Eliza yang sedang mengambil baju pun seketika terkaget " Kak Ray, Eliza kan sudah berwudu" Gerutu Eliza kesal pada suaminya itu yang justru malah menambahkan ciuman di pipinya. "Kak Ray" teriak Eliza.
"Haha......iya maaf sayang nanti kita wudhu sama-sama ya" Ucap Rayhan melepas pelukannya dan segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Rayhan mandi mereka berduapun menjalankan sholat subuh bersama.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan bersedih lagi ya" Ucap Rayhan duduk di kasur disamping Eliza berada.
"Sejak kapan kak Ray berteman dengan orang itu?" Tanya Eliza tak menjawab pertanyaan Rayhan.
"Siapa maksud kamu sayang?" tanya Rayhan berpura-pura tidak mengerti. Eliza sejenak menoleh pada Rayhan kemudian berdecak kesal.
"Jika tahu kak Ray sahabat orang itu, Eliza pasti tidak mau menikah dengan kak Ray" Ucap Eliza asal karena kesal dengan Rayhan yang berpura-pura.
"Apa maksudmu sayang, kenapa berkata seperti itu?" Kaget Rayhan mengeryitkan dahi seketika ia menarik tangan Eliza yang akan beranjak pergi meninggalkannya. Rayhan menarik keras tangan Eliza hingga Eliza jatuh ke pangkuannya. "Jangan pernah berkata seperti itu sayang, meskipun aku bersahabat dengannya tapi sungguh aku tidak tahu kalau kamu adaiknya" Tutur Rayhan terlihat sedih dengan ucapan Eliza, ia takut jika Eliza meninggalkannya hanya karena dia sahabatnya Reza.
"Emang kak Ray tahu siapa yang Eliza maksud. Bukankah kak Ray tadi bilang tidak tahu siapa yang Eliza maksud" Kesal Eliza memalingkan wajahnya dari Rayhan.
"Iya maaf sayang aku tadi hanya ingin kamu menyebut nama kakakmu. Karena semarah apapun Reza tetap adalah kakak kamu sayang" Ucap Rayhan berusaha membujuk Eliza. Eliza masih mengalihkan pandangannya dari Rayhan.
"Dia adalah anak Baron Wijaya bukan kakakku" Ucap Eliza dengan air mata yang sudah lolos membasahi pipinya. Melihat itu Rayhan tidak berani berbicara lebih jauh lagi karena ia ingin nanti biar Reza sendiri yang berbicara pada Eliza.
"Biar Eliza yang memasak" Ucap Eliza beranjak dari pangkuan Rayhan keluar kamar menuju ke dapur.
Eliza saat ini sedang berkutat didapur memasak nasi goreng untuk Rayhan karena hanya itu menu masakan menurutnya yang mudah dan cepat untuk di hidangkan. Rayhan berdiri bersandar pada pintu dekat dapur menatap istrinya yang sudah mulai menghidangkan masakannya di piring.
Rayhan mendekati istrinya. "Saya bantu ya istriku" Ucap Rayhan mengambil alih piring yang di bawa Eliza menuju meja makan. Eliza dan Rayhan sudah duduk di meja makan menikmati sarapan paginya. "Masakan kamu enak sekali sayang" Ucap Rayhan memakan lahap nasi goreng buatan Eliza.
"Tentu saja, Gadis kecilku dari dulu sangat pandai memasak" Suara Reza tiba-tiba muncul menghampiri Rayhan dan Eliza di meja makan membuat keduanya menoleh.
"Kak Ray, aku sudah kenyang" Ucap Eliza seketika mengetahui kedatangan Reza.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..........