
Pagi hari, Eliza mulai terbangun mengerjapkan mata merasakan sebuah pelukkan di tubuhnya. "Kak Ray..." Ucap Eliza menatap suaminya yang masih terpejam. Perlahan tangan Eliza terangkat membelai lembut wajah tampan Rayhan.
"Masih pagi sayang jangan menggodaku" Tiba-tiba ucap Rayhan masih dengan mata terpejam.
"Kak Ray sudah bangun, apa masih marah sama Eliza" Ucap Eliza menghentikan tangannya yang membelai wajah Rayhan.
"Menurut kamu sayang" Tanya Rayhan membuka mata, keduanya saling menatap.
"Hmm" Eliza mengangguk. "Eliza memang pantas di marahin" Ucap Eliza menurunkan pandangan matanya.
"Aku tidak bisa marah denganmu sayang, hanya saja sejujurnya aku kecewa" Ucap Rayhan membuat Eliza kembali menatapnya. "Aku tidak ingin ada rahasia diatara kita, aku ingin selalu jadi yang pertama untuk tahu setiap masalah yang kamu hadapi sayang karena aku adalah suamimu"
"Maaf kak Eliza salah"
"Berjanjilah kedepannya selalu terbukalah dalam setiap masalah apapun dan jangan pernah ada lagi rahasia di antara kita" Pinta Rayhan membelai wajah Eliza yang menatapnya.
Eliza mengangguk. "Iya kak Eliza janji" Ucap Eliza.
"Ya sudah sekarang kamu harus terbuka di depanku" Rayhan menyeringai.
Eliza mengeryit. "Eliza sudah tidak ada rahasia lagi kak, apanya yang harus terbuka" Ucap Eliza bingung.
"Ada yang harus kamu buka sayang atau aku yang harus membukanya" Tangan Rayhan sudah memegang kancing baju tidur Eliza.
"Kak...." Lirih Eliza ketika kancing baju Eliza sudah terbuka semua dan terlihat tubuh putih mulus Eliza. "Kak Ray, gak kerja nanti kesiangan" Lirih Eliza membuat Rayhan menghentikan ciuman yang sudah ia daratkan di ceruk leher Eliza.
"Hari ini aku libur sayang, aku ingin menjenguk anak-anak kita" Rayhan kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Eliza dan berbisik. "Kamu lupa sayang, aku sudah bilang kan setiap kali kamu berbuat kesalahan, aku akan membuat tidurmu tidak tenang semalaman tapi karena semalam aku menunda hukumanmu jadi aku ingin seharian ini menghukummu....."
"Kak Ray....."
***
"Jolie....." Lirih Ron yang mulai membuka matanya.
"Nak, kamu sudah bangun..." Tanya Nancy yang masih setia berada di samping anaknya.
Ron menatap wajah cantik wanita paruh baya itu. Ingatannya kembali dengan kenyataan yang masih belum bisa ia terima. "Aku ingin sendiri Mom, tolong tinggalkan aku" Ucap Ron yang bangun terduduk dari tidurnya.
"Ya sudah momy siapkan sarapanmu dulu sayang" Ucap Nancy yang tak di jawab Ron.
__ADS_1
Nancy pun beranjak dari kamar Ron pergi menuju dapur untuk menyiapkan sarapan buat Ron.
Ron meraup wajahnya kasar, di telinganya mulai terdengar suara Eliza yang memanggilnya paman. Ron berdiri dari ranjang perlahan ia menatap seluruh ruang kamarnya yang di setiap tembok di penuhi dengan foto wajah cantik Eliza dari ia sekolah SMU sampai foto ia bersamanya saat hilang ingatan.
Ron sekilas melihat bayangan Eliza yang melangkah mendekatinya. "Paman kau sangat tampan, tapi sekarang aku harus memanggilmu kakak......kak Ron....kak Ron...." Bayangan Eliza tersenyum pada dirinya membuat ia seketika tidak bisa mengedalikan diri.
"Aku mencintaimu Jolieku....kamu bukan adikku......" Ron berusaha memeluk bayangan itu yang tiba-tiba menghilang.
"Aaaaaarghhhh" Teriak Ron melempar dan menghancurkan semua barang yang ada di kamarnya hingga tangannya pun terluka.
Nancy berlari dengan cepat bersamaan John menuju kamar Ron. "Nak, buka pintunya" Nancy mengetuk pintu kamar Ron yang terkunci dari dalam.
"Tuan Ron, bukalah pintunya" Ucap John.
"Pergilah kalian, aku tidak ingin bertemu siapapun. Biarkan aku sendiri" Ucap Ron terduduk dilantai dengan darah yang menetes dari tangannya. Mendengar ucapan Ron dan melihat Nancy yang terus menangis membuat John menjadi tidak tega.
"Nyonya minggirlah" Ucap John mundur mengambil langkah hendak mendobrak pintu kamar tapi tiba-tiba terdengar suara Ron.
"Jangan lakukan itu John, jika kau mendobrak kamarku maka aku akan memotong denyut nadi ku" Ancam Ron yang mengetahui niat John, membuat John menatap Nancy dan seketika mengurungkan niatnya. "Nyonya sebaiknya kita biarkan tuan sendiri dulu, saya akan berjaga di sini. Anda istirahatlah" Pinta John yang merasa kasihan pada Nancy.
"Aku akan menunggu di sini John"
"Tidak apa-apa, ini semua kesalahanku John" Ucap Nancy terduduk di sofa dekat kamar Ron.
***
Baron saat ini sudah berada di bandara kota YY kembali ke rumahnya yang sudah lama ia tinggalkan sejak kepergian Reza dan Eliza atas kematian Fadiyah.
Baron masih termenung, bayangan Fadiyah dan Eliza yang tersenyum mulai menghantui dalam fikirannya. Fadiyah dan Eliza memiliki wajah yang hampir mirip berbeda dengan Reza yang memiliki perpaduan wajah antara dirinya dan Fadiyah sedangkan Ron anaknya dengan Nancy identik lebih mirip dengan Nancy yang asli dari perancis.
"Fadiyah kau sangat cantik dan aku baru menyadari betapa anak gadismu juga sangat cantik mirip dengan dirimu dulu" Ucap Baron yang saat ini sudah berada di rumahnya, memandang foto Fadiyah yang berada di kamar. "Maafkan aku Fadiyah, aku dulu begitu bodoh mencurigaimu dengan laki-laki itu" Baron terlihat kacau, ia kembali mengingat perlakuannya pada Fadiyah. Dulu ia memang meninggalkan Nancy pergi dari kota perancis untuk menjalankan bisnisnya di kota YY.
Baron bertemu dengan Fadiyah dan langsung jatuh cinta pada kecantikannya. "Aku menyesal Fadiyah" Lirih Baron.
***
"Sayang, kita ke dokter ya" Ucap Rayhan memijat tengkuk leher Eliza yang baru saja mengeluarkan semua yang ia makan.
"Eliza gk apa-apa kak, cuman neg banget kalau habis makan" Ucap Eliza terlihat pucat. Sudah dua hari ini Rayhan tidak bekerja menemani Eliza di rumah. ELiza tidak ingin berjauhan dari Rayhan, karena jika lama sedikit tidak mencium aroma tubuh Rayhan ia akan merasa mual, neg dan muntah-muntah.
__ADS_1
"Sabar ya sayang, kamu harus tetap paksakan makan biar anak-anak kita dapat nutrisi" Rayhan perlahan mengajak Eliza duduk di ruang tamu. "Anak-anak papa, kalian baik-baik ya dalam perut mama" Rayhan mengusap lembut perut Eliza yang terlihat mulai berisi, kemudian membungkuk lalu mencium perut Eliza.
"Kak..." Panggil Eliza membuat Rayhan kembali ke posisinya duduk sembari mendekap Eliza di dada bidangnya.
"Apa sayang" Rayhan mencium kening Eliza.
"Kalau nanti Eliza udah mulai terlihat gendut, udah gak cantik lagi, apa kak Ray masih sayang sama Eliza?" Tanya Eliza mendongak menatap Rayhan terlihat begitu menggemaskan bagi Rayhan.
"Kenapa tanya seperti itu" Ucap Rayhan yang seketika mendapat pukulan pelan di dadanya dari Eliza.
"Kak Ray di tanya malah balik nanya" Kesal Eliza melepas dekapan Rayhan kemudian beranjak berdiri dari Sofa.
"Sayang" Rayhan menahan tangan Eliza ikut berdiri kemudian dengan sigap menggendong tubuh Eliza. "Aku mencintaimu apa adanya, tidak perduli seperti apapun perubahan dirimu bagiku kau akan selalu tetap sama selamanya, tetap Eliza yang aku cintai" Rayhan mencium bibir Eliza kemudian melangkah hendak membawa Eliza ke kamar atas tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara bel pintu depan berbunyi.
"Ada tamu, turunin Eliza kak" Ucap Eliza perlahan turun dari gendongan Rayhan.
"Biar aku yang buka sayang" Rayhan melangkah mendekati pintu.
"Nak Rayhan" Ucap wanita paruh baya terlihat dari dibalik pintu depan rumah yang dibuka Rayhan.
"Nyonya Nancy" Kaget Rayhan melihat Nancy menangis di depan pintu rumahnya. "Ada apa nyonya" Tanya Rayhan bingung.
"Tolong anakku nak Rayhan" Nancy memegang tangan Rayhan dengan isak tangis yang semakin menjadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.......