
Pukul 9 malam Rayhan terbangun membuka mata, ia mengerjap tangannya meraba kesamping tidak merasakan keberadaan istrinya. Ia pun beranjak bangun dari tidurnya, duduk dipinggiran ranjang mengedarkan pandangannya berharap bisa menangkap sosok istrinya tapi nihil.
Rayhan meraup wajahnya kasar, ia takut Eliza masih marah dan takut pada dirinya. Seketika ia mengeryit melihat tangannya sudah terpasang perban dan plester. Ia menjadi semakin merasa bersalah pada istrinya karena sikapnya tadi.
"Sayang..." Panggil Rayhan membuka pintu kamar mandi, lagi-lagi tidak dapat menemukan Eliza. Rayhanpun melangkah keluar kamar menuju lantai bawah. Di ruang makan ia melihat sudah ada masakan yang di siapkan Eliza di meja tapi sama sekali belum tersentuh. Rayhan menghela nafas, ia tahu pasti istrinya belum makan sama sekali sejak tadi siang.
Rayhan melangkah ke ruang tamu menemukan istrinya yang tertidur di sofa. Ia pun mendekati istrinya duduk bertumpu pada kedua lutut, menatap Eliza yang terlihat matanya sembab dan masih mengeluarkan air mata dalam tidurnya. Rasa bersalah kembali menghinggapi dirinya karena akhir-akhir ini ia tidak bisa menahan emosinya.
Tangan Rayhan terangkat menepikan rambut Eliza yang sedikit menutupi wajahnya kemudian melirik tangan Eliza yang memegangi erat ponselnya "Maafkan aku sayang" Lirih Rayhan kemudian mengambil ponsel itu lalu mengangkat tubuh Eliza.
Rayhan membaringkan perlahan tubuh Eliza ketika sampai di dalam kamar. "Hiks....hiks" Suara Eliza menangis saat Rayhan menyelimuti tubuhnya membuat Rayhan merasa sedih.
"Maaf....." Lirih Rayhan merebahkan tubuhnya disamping Eliza menempelkan keningnya pada kening Eliza. Desiran halus nafas Rayhan perlahan membuat Eliza terbangun dari tidur.
"Maaf kak, Eliza selalu bikin hidup kak Ray tak tenang" Lirih Eliza menangis.
Rayhan beralih menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Eliza mendekap istrinya itu. "istri dan anak-anakku adalah kebahagian dalam hidupku, justru tanpa kalian aku tidak bisa hidup tenang" Ucap Rayhan.
Eliza membalas pelukan Rayhan ia bisa merasakan ada air mata membasahi lehernya. Laki-laki gagah itu lagi-lagi mengeluarkan air mata hanya untuk dirinya. "Makasih kak, aku mencintaimu" Bisik Eliza pada Rayhan.
"Aku juga mencintaimu sayang" Rayhan semakin mengeratkan dekapannya hingga tak terasa terdengar suara perut keduanya berbunyi.
Rayhan dan Eliza saling menatap lalu keduanya tersenyum. "Sekarang istri dan anak-anakku harus makan" Rayhan kemudian perlahan membantu menarik tubuh Eliza beranjak bangun bersamaan dengan dirinya.
"Ah" Lirih Eliza merasakan sedikit nyeri pada perutnya membuat Rayhan merasa khawatir seketika.
"Kamu kenapa sayang" Cemas Rayhan memegang perut Eliza. "Kita ke dokter ya.
Eliza menggeleng. "Tidak apa-apa kak, perut Eliza cuman terasa sedikit nyeri" Ucap Eliza.
"Bener gak apa-apa" Rayhan kemudian menunduk, mendekatkan telinganya pada perut Eliza. "Anak-anak papa sayang, kalian yang kuat dan sehat ya.....Papa mencintai kalian" Ucap Rayhan kemudian mencium perut Eliza dan entah mengapa perlahan rasa nyeri di perut Eliza berangsur menghilang.
Rayhan perlahan mengendong tubuh Eliza melangkah membawanya menuju ke ruang makan. "Kak Ray gak makan" Tanya Eliza setelah Rayhan mendudukannya di kursi lalu beranjak ke dapur. Rayhan tersenyum berlalu ke dapur dan beberapa saat kemudian kembali dengan membawa segelas susu di hadapan Eliza.
__ADS_1
"Setelah makan kamu minum susu ini ya sayang" Ucap Rayhan.
"Makasih ya kak, tapi Eliza gak suka minum susu" Jujur Eliza membuat Rayhan mengeryit.
"Ini susu buat ibu hamil baik untuk kamu dan anak-anak kita sayang" Rayhan meraih piring berisi makanan di hadapan Eliza yang sama sekali belum di sentuh. "Sekarang kamu makan, aku suapin ya" Tutur Rayhan.
Suap demi suap dengan telaten Rayhan berikan pada Eliza yang terlihat tidak bernafsu makan karena merasa neg. "Kak Ray juga makan" Eliza mengambil alih sendok menyuapi Rayhan, keduanya pun makan bersama.
Setelah makan, mereka kembali ke kamar. "Eliza neg kak" Keluh Eliza saat Rayhan memberikan susu bumil.
"Ya sudah, kalau gitu kamu minum vitamin dari dokter saja" Ucap Rayhan memberikan vitamin dan segelas air pada Eliza. "Sekarang kamu tidur sayang" Rayhan menyelimuti tubuh Eliza setelah meminum vitamin kemudian mencium kening Eliza. "Aku ke kamar mandi dulu" Ucap Rayhan beranjak ke kamar mandi sembari membawa ponsel Eliza.........
*******
Pagi hari setelah kepergian Rayhan, Eliza kembali ke kamar mencari keberadaan ponselnya yang ternyata berada di meja samping tempat tidurnya. Siang ini ia sudah memutuskan akan pergi ke kantor Reza. Ia akan mencoba berbicara pada kakaknya.
Supir Rayhan sudah melajukan mobilnya mengantarkan Eliza ke kantor Reza setelah Eliza mengirim pesan meminta ijin pada Rayhan.
Eliza perlahan berjalan di loby perusahaan Reza yang sebenarnya adalah perusahaannya sendiri. Semua mata menatap Eliza terutama para pegawai laki-laki karena Eliza yang semakin terlihat cantik di masa kehamilannya.
"Maaf mbak anda ingin bertemu dengan siapa" Tanya salah seorang resepsionis di perusahaan Reza yang tidak mengetahui siapa Eliza karena ini kali pertama Eliza keperusahaannya sendiri.
"Saya ingin ingin bertemu dengan pak Reza" Jawab Eliza tersenyum.
"Apa anda sudah membuat janji" Tanya resepsionis itu.
"Belum mbak tapi saya....." Belum sempat Eliza menjelaskan bahwa dirinya adalah adik Reza tapi ucapannya sudah dipotong oleh Resepsionis itu.
"Maaf mbak, jika belum membuat janji kami tidak bisa menginjinkan anda masuk" Sela resepsionis itu.
"Saya minta tolong biarkan saya masuk atau anda hubungi tuan Reza bilang Eliza ingin bertemu" Pinta Eliza sopan.
"Maaf mbak, tuan saat ini lagi ada miting jika anda mau menunggu silahkan tunggu disana sampai tuan selesai mitingnya baru akan saya hubungi tuan" Tunjuk Resepsionis itu pada sofa didekatnya.
__ADS_1
"Jangan di injinin masuk mbak, wanita ini pasti ingin merayu atasan anda" Sahut seseorang tiba-tiba di sampingnya membuat Eliza menoleh. "Heran ya, wanita seperti loe ini selalu saja menggunakan kecantikan buat merayu semua pemilik perusahaan" Siniz Erny menyindir Eliza. Setelah di pecat dari perusahaan Ron, Erny kini melamar pekerjaan di perusahaan Reza yang tak lain adalah perusahaan Eliza dan Erny baru saja lulus dari interviuw di terima di perusahaan Reza.
Eliza tersenyum. "Terima kasih, mbak Erny sudah bilang Eliza cantik. Tapi kalau soal merayu, Eliza tidak pernah tuh merayu siapapun karena suami Eliza sudah sangat tampan dan kaya jadi untuk apa Eliza merayu pria lain lagi" Seringai di bibir Eliza yang sudah tidak bisa membiarkan Erny semena-mena pada dirinya lagi.
"Halah.....Wanita jalang seperti loe mana mungkin cukup dengan satu laki-laki kaya, buktinya loe juga masih merayu tuan Ron dan sekarang loe pasti mau merayu atasan di sini lagi" Erny kemudian menoleh pada Resepsionis di depannya. "Jangan ijinin masuk wanita jalang ini" Ketus Erny melirik Eliza sedangkan wanita Resepsionis itu tampak bingung hanya terdiam melihat keduanya.
"Jaga bicara mbak ya, saya bukan wanita jalang. Lagian siapa mbak, apa yang mbak lakukan di sini" Tanya Eliza mulai tersulut emosi dengan perkataan tidak sopan Erny.
"Asal loe tahu, gue sekarang bekerja di sini dan loe gak bisa hasut pemilik perusahaan lagi buat pecat gue kayak di perusahaan tuan Rayhan dan tuan Ron karena pemiliki perusahaan ini anti dengan wanita kayak loe" Ucap Erny tertawa senang dengan tatapan sinis. "Sory gue pergi dulu, gak ada waktu buat cewek kayak loe" Erny menyeringai meninggalkan Eliza pergi.
"Huh......sabar za...." Elus Eliza pada dadanya berusaha menahan emosi. "Saya ingin ke toilet mbak" Ucap Eliza pada Resepsionis itu.
"Silahkan mbak...." Tunjuk resepsionis itu pada pintu menuju toilet.
"Terima kasih mbak...." Ucap Eliza yang diam-diam berencana untuk masuk ke dalam perusahaan menemui Reza.
Eliza berjalan bukannya menuju ke toilet tapi ia masuk ke dalam lift, hingga membuat Resepsionis kaget dan memanggil security.
Tiiing...... Pintu lift sudah tertutup sebelum security yang di panggil resespsionis itu datang. Eliza keluar dari lift di lantai paling atas, ia berjalan mencari ruang Reza berada dan akhirnya ia berhenti pada pintu yang diatasnya tertulis ruang Ceo.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan Baron, Ray.....!!" Teriak Reza emosi..........
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.......