
Eliza melangkahkan kakinya hendak melihat lebih jauh lagi tempat itu tapi seketika langkahnya terhenti ketika samar-samar mendengar langkah kaki dan suara orang berbicara. Eliza seperti mengenal suara orang itu. Eliza dengan cepat kembali ke ruangan senjata api dan bersembunyi di balik pintu yang terbuka ketika dua orang itu mulai mendekat.
"Pak Randy, bagaimana pengiriman barang kemarin. Apa berjalan dengan lancar" tanya salah satu anak buah Ron.
"Semua berjalan lancar, begitu pula pengiriman hari ini harus berjalan sesuai dengan keinginan tuan Ron" jawab Randy yang tak lain adalah mantan karyawan di perusahaan Rayhan.
Atas bukti-bukti yang di berikan oleh Eliza waktu itu, Rayhan telah memecat Randy, Erny dan Yola atas persekongkolan yang mereka lakukan untuk menghancurkan perusahaan Rayhan.
Randy kini ikut bekerja dengan Ron di bisnis gelap senjata api sedangkan Erny dan Yola bekerja berada di perusahaan Ron.
Eliza masih tetap berada di balik pintu saat Randy dan salah satu anak buah Ron sudah mulai mendekati pintu ruangan senjata yang terbuka. "Hai, kenapa kau tidak menutup pintu ini" Tanya Randy pada anak buah Ron. Anak buah Ron pun mengeryitkan dahi merasa heran karena ia sudah menutup pintu itu setelah mengeluarkan barang yang akan di kirim. Ruangan itu hanya memiliki dua pintu yaitu satu pintu terhubung dengan rumah Ron dan satu lagi jalan untuk keluar masuknya barang-barang selundupan Ron menuju hutan yang akhirnya menembus jalan raya.
"Perasaan tadi sudah saya tutup Pak" Ucap Anak buah Ron.
"Lain kali kalau bekerja jangan menggunakan perasaan" Ucap Randy mengedarkan pandangannya ke ruangan besar itu yang berisi penuh senjata-senjata api selundupan milik Ron. Randy sekilas mencium aroma parfum yang berasal dari tubuh Eliza. Randy mulai menajamkan penciumannya, sekilas aroma parfum itu kembali mengingatkannya pada wanita yang di incar nya yaitu Eliza.
"Ada apa tuan" tanya anak buah Ron itu pada Randy yang mulai akan melangkah masuk.
"Kau tidak mencium aroma parfum yang sangat manis" tanya Randy sudah memasuki ruangan itu. Eliza yang berada di balik pintu hanya bisa berdoa, melihat Randy yang sedang memunggunginya menelisik ke ruangan itu mulai curiga.
"Tidak tuan, kebetulan saya lagi flu" Jawab anak buah Ron itu kemudian tiba -tiba terdengar suara ponsel berbunyi, membuat Randy terkaget dan melupakan kecurigaannya beralih mengambil ponsel dari saku celananya dan melangkah keluar ruangan.
__ADS_1
" Cepat tutup pintu nya" Ucap Randy kemudian menerima panggilan itu.
"Huh, hampir saja" Ucap Eliza merasa lega ketika anak buah Ron sudah menutup pintu ruangan itu. Eliza segera bergegas meninggalkan ruangan senjata api Ron dan berjalan kembali melewati lorong-lorong menuju ruang kerja Ron.
Lemari buku pintu ruang rahasia Ron sudah tertutup kini Eliza sudah berada di ruang kerja Ron. Eliza berada di depan Lemari rak buku itu mencoba menghela nafas menetralisir rasa ketakutannya. "Jolie apa yang kamu lakukan di sini" Suara laki-laki yang sudah tidak asing bagi Eliza baru masuk dari pintu mendekati dan memeluknya dari belakang membuat Eliza tersentak kaget.......
"Paman" Kaget Eliza sembari berusaha melepas pelukan Ron.
"Kamu sedang apa di sini" Ron kembali bertanya semakin mengeratkan pelukannya.
"Paman, lepasin dulu pelukannya. Saya gak bisa nafas" Ron tertawa sembari melepas pelukannya.
"Iya maaf sayang" Eliza merasa lega terlepas dari pelukan Ron. "Sekarang jawab pertanyaanku sayang, apa yang kamu lakukan si sini? Apa kamu merindukanku?" tanya Ron menatap Eliza.
"Kalau kamu suka nanti akan ku belikan banyak buku buatmu Jolie. Apapun yang kamu minta pasti akan ku berikan asal jangan pergi dariku sayang" Ucap Ron membelai pipi Eliza.
Mendengar ucapan Ron, Eliza hanya mengangguk. "Oh ya paman maaf ya, saya tidak tahu kalau paman sudah pulang" Ucap Eliza sembari perlahan melepas tangan Ron dari pipinya.
"Tidak apa-apa sayang" Ron mengajak Eliza duduk di sofa yang berada di ruang kerja itu.
"Paman, kapan saya boleh bekerja" Tanya Eliza saat mereka sudah duduk. Ron menghela nafas, sebenarnya ia tidak setuju dengan permintaan Eliza tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mau Eliza meninggalkannya seperti waktu itu.
__ADS_1
"Besok kamu boleh mulai kerja di perusahaanku sayang" Ucap Ron menyentuh bibir Eliza membuat Eliza merasa risih dan takut apalagi wajah Ron sudah ingin mendekat pada wajahnya dengan tatapan mata terfokus pada bibirnya.
"Ah iya, saya lupa paman mau bantuin Momy masak" Ucap Eliza tiba-tiba beranjak dari duduknya. "Paman saya tinggal dulu ya" Eliza buru-buru melangkahkan kakinya meninggalkan Ron yang masih duduk diruang kerjanya dengan seringai di bibirnya.....
"Menggemaskan" Lirih Ron...............
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung........
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya..... maaf Author baru update...... ikutin terus ceritannya........Love you All 😍😍