
Ting.......pintu lift tertutup.
Rayhan masih menggandeng tangan Eliza.
"Lepasin Eliza" Ucap Eliza berusaha melepas tangan Rayhan sedangkan Rayhan semakin mengeratkan pegangannya dan menarik Eliza kedalam pelukannya.
"Aku mencintaimu sayang" Ucap Rayhan memeluk erat Eliza, "Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kepercayaanmu kembali. Aku tidak bersalah dan tidak pernah berselingkuh. Sejak dulu aku tidak pernah bisa menyukai perempuan manapun. Hanya kamu satu-satunya sayang yang bisa membuatku jatuh cinta sejak pertama kali bertemu" Rayhan masih memeluk Eliza.
Eliza terdiam dengan perlahan ia mendorong tubuh Rayhan. "Maaf...."Lirih Eliza melangkah mundur di ikuti Rayhan. "Eliza butuh waktu"
Eliza merapat pada dinding lift di belakang punggungnya. Rayhan mengunci pergerakan tubuh Eliza dengan satu tangan berada pada sisi kepala Eliza. Satu tangan Rayhan perlahan meraba perut Eliza. "Sayang apa di dalam perut ini ada benih cinta kita?" Tanya Rayhan lembut tangannya sudah masuk kedalam baju toga Eliza dan membelai lembut perut Eliza yang tertutup baju kebaya.
"Apa maksudmu....?" Tanya Eliza bergetar.
"Sayang apa kamu hamil..?" Tanya Rayhan dengan mata berbinar menatap Eliza yang ketakutan.
"Lepasin Eliza, dari mana pemikiran itu. Anda salah tuan Rayhan" Ujar Eliza berusaha mengelak dan tidak ingin Rayhan tahu akan kehamilannya karena jujur ia masih belum siap dan belum bisa memaafkan Rayhan karena rasa trauma itu masih menghantuinya setiap bertemu dengan Rayhan. "Kenapa kamu berharap ada anak di antara kita sedangkan kita tidak bisa bersama lagi" Ucap Eliza membuat Rayhan sedikit tersulut amarah.
Entah ia hari ini benar-benar sedikit tidak bisa menahan emosinya apalagi berhubungan dengan istrinya. Ia takut kehilangan Eliza, Rayhan tidak mau berpisah dari Eliza karena ia lebih baik tiada dari pada harus hidup tanpa Eliza.
Tiing...... pintu lift terbuka dengan segera Rayhan mengendong tubuh Eliza melangkah cepat menuju mobilnya berada. Eliza memukul dada bidang Rayhan, ingin di turunkan dari gendongan. Rayhan sama sekali tidak bergeming, ia perlahan memasukkan Eliza dalam mobil dengan tangan melindungi kepala Eliza agar tidak terbentur pintu mobil.
Rayhan segera ikut masuk kedalam mobil dan melajukannya. "Tuan Rayhan mau bawa Eliza kemana?" Teriak Eliza memanggil suaminya seperti orang asing membuat Rayhan semakin kesal dan sedih. Rayhan masih terbawa emosi memgemudi dengan kecepatan lebih dari biasanya. Rayhan pun tidak memperdulikan teriakan Eliza yang ia tahu ingin membawa istrinya dan berusaha menghilangkan trauma pada dirinya.
Mobil Rayhan kini sudah berhenti di depan rumah mereka yang sudah beberapa minggu ini tidak mereka tinggali karena Rayhan hanya pulang untuk mengganti baju setelah semalaman menunggui istrinya yang tidur di rumah Reza.
"Kenapa bawa Eliza kesini" Ucap Eliza saat Rayhan kembali membuka pintu mobil dan menggendong paksa istrinya itu untuk masuk kedalam rumah.
"Ini rumah kita sayang, kerumah ini seharusnya kamu pulang" Rayhan membawa Eliza masuk ke dalam kamar mereka dan mengunci pintu kamar itu. Perlahan Rayhan merebahkan tubuh Eliza yang memberontak di atas ranjang. Rayhan membuka jas dan kemeja yang ia kenakan hingga kini ia bertelanjang dada.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa buka baju" Eliza meringsut mundur. "Jangan mendekat" Ucap Eliza menangis.
"Aku suamimu sayang, hanya kamu yang aku inginkan dalam hidupku. Aku harus bagaimana lagi agar kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu" Rayhan menaiki ranjang. "Maaf....mungkin dengan cara ini aku bisa menghilangkan traumamu" Rayhan sudah berada di atas tubuh Eliza, Rayhan sebenarnya tak tega melihat tangis Eliza tapi hanya cara ini yang dapat ia lakukan untuk berusaha menghilangkan trauma Eliza pada dirinya di tambah lagi ia begitu rindu dengan istrinya itu hingga hasratnya sudah tidak bisa di bendung lagi.
__ADS_1
Rayhan perlahan memaksa membuka baju istrinya hingga tubuh polos Eliza terpampang di hadapannya. Rayhan mencium seluruh tubuh Eliza dan melakukan hubungan badan secara berulang pada istri tercintanya itu. Eliza yang masih menangis hanya bisa pasrah pada perlakuan suaminya itu.
Hari sudah menjelang pagi ketika Eliza terbangun dan berjingat kaget karena mendapati dirinya dengan tubuh polos berada dalam pelukan erat Rayhan.
"hiks....hiks....." Tangis Eliza melepas pelukan Rayhan, ia baru mengingat kejadian semalam yang dilakukan suaminya pada dirinya. Rayhan terbangun mendengar tangis istrinya. Ia pun segera mendekap tubuh polos Eliza. "Ini aku sayang, lihatlah aku....aku suamimu jadi jangan pernah takut padaku ya" Ucap Rayhan menenangkan Eliza. "Maaf semalam aku benar-benar tidak bisa menahan diriku karena aku sangat mencintaimu. Aku ingin kamu sembuh dari traumamu dan tidak takut lagi padaku" Ucap Rayhan membelai lembut rambut istrinya itu membuat Eliza terdiam dalam pelukannya.
Eliza sebenarnya takut dengan perlakuan Rayhan semalam tapi entah mengapa dia sedikit merasa tenang di pelukan Rayhan. Eliza merasa nyaman, sudah beberapa minggu ini ia tidak merasakan pelukan laki-laki yang di cintainya itu.
"Eliza memanggil kak Ray saat itu, Eliza berteriak tapi kenapa kak Ray tidak menjawabku. Aku takut sekali waktu itu, aku takut kau seperti papaku yang hanya mencintai mama di awal saja lalu setelah bosan meninggalkan mamaku" Eliza memukul dada Rayhan meluapkan kesedihannya selama ini yang ia pendam. "Aku begitu mencintaimu kak, hanya kamu satu-satunya laki-laki yang aku cintai" Mendengar itu Rayhan mengeratkan pelukannya.
"Pukulah aku sesukamu sayang, luapkan semua kesedihanmu. Lakukan apapun padaku asal kau mau memaafkanku, sungguh aku tidak pernah sedikitpun berniat menyakitimu. Aku tidak pernah berselingkuh bahkan dalam pikiranku pun tidak pernah terbesit sedikitpun karena hanya kamu yang ku inginkan di dunia ini sampai akhir hidupku" Ucap Rayhan yang secara tidak sadar juga menitikan air mata, ia sungguh tidak bisa berpisah dari Eliza.
"Maaf kak...." Lirih Eliza masih memeluk suaminya itu, ia begitu rindu pada Rayhan.
"Aku juga minta maaf dan kedepannya percayalah padaku sayang, jangan pernah ragukan kesetiaanku padamu" Rayhan mencium kening istrinya yang memeluknya erat.
"Aaaaaah" Teriak Eliza tiba-tiba memegangi perutnya, membuat Rayhan seketika khawatir.
"Kamu kenapa sayang?" Ucap Rayhan khawatir mereggangkan pelukannya dan melihat istrinya sedang kesakitan memegangi perutnya.
"Mana yang sakit sayang" Rayhan begitu cemas, "Kita kerumah sakit ya" Rayhan menyibak selimut yang menutupi tubuh polos mereka hendak beranjak memakai baju dan betapa kagetnya ia mendapati ada darah dari istrinya. Seketika Rayhan merasa takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Sabar ya sayang" Cemas Rayhan memakai bajunya dan mengambil baju Eliza di lemari kemudian memakaikannya pada istrinya itu.
"Sakit..." lirih Eliza yang kemudian tidak sadarkan diri.
"Maafkan aku, bertahanlah sayang" Rayhan menggendong Eliza menuju mobil dan masuk ke dalamnya kemudian melajukan dengan cepat ke rumah sakit.
"Dokter tolong istri saya...!!" Teriak Rayhan merebahkan tubuh Eliza di ranjang IGD secara perlahan ketika sampai di rumah sakit.
"Apa yang terjadi tuan" Tanya dokter saat masuk ke dalam ruang IGD.
" Saya tidak tahu dokter, istri saya merasakan sakit pada perutnya" ucap Rayhan.
__ADS_1
Dokter segera memeriksa Eliza. " Tuan, sepertinya kasus ini akan lebih baik jika di tangani pada dokter khusus pada bidangnya" Ucap Dokter itu membuat Rayhan bingung.
" Lakukan yang terbaik buat istri saya dok" Sahut Rayhan meskipun tidak mengerti. Dokter itu menyuruh perawat untuk memindahkan Eliza keruang obgyn atau SpoG.
Hampir setengah jam dokter memeriksa. "Tuan Rayhan silahkan masuk" Seorang perawat mempersilahkan Rayhan masuk keruang di mana Eliza di rawat.
"Bagaimana keadaan istri saya dok, apa yang terjadi? Istri saya sakit apa?" Tanya Rayhan beruntun pada dokter wanita yang menangani Eliza.
Dokter itu menatap pemilik rumah sakit ini yang terlihat gurat cemas pada raut wajahnya."Tuan, istri anda baik-baik saja. Alhamdulillah kandungannya masih bisa di selamatkan" Rayhan seketika tersentak kaget mendengar ucapan dokter wanita paruh baya itu.
"Aa.....apAA....!!. Ma...maksud dokter istri saya hamil....!!!" Teriak Rayhan kaget terlihat wajahnya begitu berbinar.
"Ya tuan, usia kandungan istri anda menginjak 7 minggu"
"Jadi ada anakku dalam rahim istriku buah cinta kami" Ujar Rayhan begitu bahagia.
"Benar sekali" Dokter wanita itu tersenyum. "Tuan Rayhan, pada usia kandungan tahap ini saya harap tuan lebih bijak lagi saat melakukan hubungan badan agar tidak terjadi pendarahan lagi yang akan membahayakan anak dan istri anda" Ucap Dokter itu mengingatkan, membuat Rayhan benar-benar menyesal, ia sadar semalam ia sedikit kasar pada Eliza.
"Saya mengerti dok" Ujar Rayhan menunduk dan merasa bersalah karena hampir saja ia mencelakai anak dan istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung......