
"Ron. Siapa dia? kenapa ingin membunuhku" Guman Rayhan pelan tampak bingung.
"Kita bisa tahu jika kita ikuti permainannya" Ucap Eliza menatap Rayhan.
"Kamu benar, kita ikuti permainannya. Setelah itu kita bisa tahu ketika dia muncul" jawab Rayhan merasa terbesit ide yang sama dengan Eliza.
"Tapi sebelumnya kita harus keluar dari sini dulu kak" Eliza menatap sekitar gelap gulita.
"Sudah malam kita tidak bisa kemana-mana kecuali menunggu pagi" Eliza dan Rayhan saat ini duduk bersandar di sebuah pohon besar hanya ada lampu hp Rayhan sebagai penerang. "Terima kasih ya, sudah dua kali kamu menyelamatkan saya. Semoga saja dalam waktu tiga bulan saya bisa membuat kamu jatuh cinta. Saya mohon berusahalah untuk mencintai saya El" Ucap Rayhan tapi tak di jawab sedikitpun oleh Eliza. Rayhan merasa sedih Eliza hanya diam.
Wajah Rayhan yang bersedih seketika tersenyum ketika menoleh pada Eliza yang ternyata entah sejak kapan sudah masuk ke alam mimpi. "Pantas saja kau tidak menjawabku, gadis ini cepat sekali tertidur" Guman lirih Rayhan.
__ADS_1
Hari semakin larut, udara semakin dingin mencekam membuat Eliza merasakan dingin dalam tidurnya. Rayhan yang masih terjaga melihat tubuh Eliza menggigil kedinginan. Rayhan pun menggeser duduknya mendekati Eliza, dengan pelan-pelan ia menarik tubuh Eliza kedalam pelukannya menyandarkan kepalanya di dada bidang Rayhan. Rayhan mendekap tubuh Eliza dalam pelukannya agar Eliza tidak menggigil kedinginan. "Terima kasih gadis penyelamatku, aku mencintaimu" Guman Rayhan lirih mencium kening Eliza. Setelah itu ia pun ikut larut ke alam mimpi.
"Mama" Guman Eliza yang dalam tidurnya merasa dalam pelukan hangat Mamanya.
Malam berganti pagi, dasar jurang itu mulai terlihat meskipun berkabut. Rayhan masih di posisi yang sama memeluk erat tubuh Eliza. Sinar mentari membuat perlahan Eliza membuka mata indah nya. Aroma khas maskulin tubuh Rayhan seketika membuatnya membulatkan mata, menyadari saat ini ia berada dalam pelukan Rayhan.
Deeg...... deeg......
" Lepas, kak Ray ambil kesempatan ya saat aku tertidur" Mendengar ucapan Eliza, Rayhan tersenyum.
"Mana ada, semalam kamu sendiri yang memelukku. Aku hanya membalas pelukan wanita yang ku cintai" Goda Rayhan masih belum melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Cup. Rayhan mencium pipi Eliza. Eliza yang merasa kaget sontak mendorong tubuh Rayhan. " Auw" Pekik Rayhan saat punggungnya yang terluka membentur pohon.
"Maaf kak, aku gak sengaja" Eliza menyentuh punggung Rayhan.
"Sudah tidak apa-apa, ayo kita pergi dari sini" Rayhan bangun dari duduknya di bantu Eliza. Perlahan mereka berdua berjalan tertatih dengan tubuh keduanya penuh luka. Mereka berjalan terus menyusuri lembah jurang, seketika berhenti setelah mendengar suara gemericik air dari sebuah sungai.
"Wah, airnya jernih kak" Ucap Eliza berhambur mengambil air dengan tangannya lalu meminum air itu. Rayhan tersenyum melihat tingkah Eliza sambil duduk di batu besar yang ada di sungai. Rayhan melepas jas nya yang penuh dengan darah. Ia menyikap lengan bajunya melipat sampai siku, kemudian dengan tangannya ikut mengambil air dan meminumnya. Setelah Mereka berdua membasuh muka dan terlihat segar, mereka kembali berjalan mengikuti arah sungai.
" Eliza lapar kak" Ucap Eliza masih berjalan disamping Rayhan yang terlihat berusaha kuat menahan sakit luka di punggungnya.
" Sabar ya" Rayhan membelai kepala Eliza.
__ADS_1