
"Kak Ray" Panggil Eliza yang saat ini berada di pelukan Rayhan.
"Apa sayang?" Sahut Rayhan lembut sembari menekan tombol remote TV karena keduanya malam ini sedang duduk bersantai di sofa ruang keluarga.
"Artis itu cantik ya?" Tanya Eliza menunjuk layar TV .
"Jelek....." Jawab Rayhan cepat kemudian mencium kening Eliza. "Istriku yang paling cantik"
"Kak Ray bohong. Jelas-jelas cantikkan artis itu" Gerutu Eliza memukul pelan dada Rayhan.
Rayhan tersenyum tangannya terangkat memegang dagu istrinya kemudian perlahan mengarahkan wajah Eliza pada wajahnya dan menatap dengan penuh cinta. "Aku tidak berbohong sayang, di dunia ini hanya istriku yang paling cantik" Rayhan mencubit gemas hidung istrinya. "Kau tahu, semakin hari aku semakin mencintaimu sayang" Ucap Rayhan terlihat ketulusan di matanya saat mengucapkan kalimat itu.
Eliza tersenyum bahagia mendengar ucapan Rayhan. "Kak Ray juga semakin hari semakin tua" Jawab enteng Eliza membuat Rayhan mengeryit, merenggangkan pelukan.
"Apa maksudmu sayang? jadi buatmu aku terlihat tua" Sewot Rayhan tangannya sudah berada di perut Eliza menggerakan jarinya membuat Eliza tertawa merasa geli.
"Ampun....Ampun kak Ray, dengerin Eliza dulu" Ucap Eliza sembari tertawa hingga tak terasa tubuhnya saat ini terbaring di sofa berada di bawah kungkungan Rayhan. Keduanya sejenak terdiam berada pada di posisi itu. "Eliza kan berkata benar, semakin hari kak Ray semakin tua, tapi...." Eliza menjeda kalimatnya. "Selamanya kak Ray akan selalu terlihat masih muda serta tampan di mata dan hati Eliza karena hanya kak Ray yang aku inginkan di dunia ini" Lirih Eliza menatap tulus pada Rayhan yang berada di atasnya.
"Terima kasih sayang" Rayhan tampak tersenyum senang dengan ucapan istrinya, ia pun mencium bibir Eliza.
"Kak....jangan" Lirih Eliza saat Rayhan sudah mencium ceruk lehernya dan meninggalkan jejak disana.
"Kenapa sayang, aku kan ingin menjenguk anak-anak kita" Ucap Rayhan dengan seringai di bibirnya.
Eliza memukul pelan bahu Rayhan. "Kak Ray...."
"Aku juga ingin menunjukkan pada istriku seberapa tua suamimu ini" Rayhan beranjak dari sofa kemudian perlahan menggendong tubuh istrinya.
"Kak...." Lirih Eliza berada di gendongan, sembari jari tangan bermain di dada Rayhan.
"Apa sayang" Rayhan masih terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Kalau Eliza nanti berbuat salah, apa kak Ray mau memaafkan Eliza?" Tanya Eliza serius tapi terlihat takut.
"Sayang kenapa bertanya seperti itu?" Tanya balik Rayhan mengeryit, saat ini mereka sudah memasuki kamar.
"Kak Ray, kenapa malah bertanya. Eliza kan ingin tahu, apa kak Ray akan marah dan menceraikan Eliza" Tanya Eliza penasaran. Rayhan menurunkan Eliza perlahan di ranjang.
"Sayang jangan pernah berucap lagi kata cerai di antara kita karena sampai matipun aku tidak ingin itu terjadi sayang" Rayhan berbaring di samping Eliza perlahan tangannya menarik tali pita gaun tidur Eliza hingga terbuka memperlihatkan bahu putih mulus Eliza. "Sayang aku tidak pernah bisa marah padamu, tapi jika kamu berbuat kesalahan aku pasti akan menghukummu dengan tidak membiarkan istriku tidur tenang" Seringai Rayhan menciumi istrinya........
Aahhh.....kak Ray....!!
__ADS_1
*********
Eliza hari ini meminta ijin pada Rayhan ingin berjalan-jalan keluar rumah dan dengan berat hati Rayhan memberi ijin karena biar bagaimanapun ia tidak ingin terlalu mengekang istrinya apalagi membuatnya bersedih.
Pukul 9 pagi Eliza akhirnya bergegas keluar rumah dengan di antar oleh supir dan tanpa sepengetahuan Eliza, Rayhan sudah mengirim pengawal untuk melindunginya.
Saat ini Eliza sudah berada di depan rumah Baron setelah di antar supir. "Bapak tunggu di sini ya, saya ingin mampir ke rumah teman saya" Ucap Eliza setelah menutup pintu mobil.
"Baik nyonya" Jawab supir itu.
Eliza melangkahkan kaki memasuki apartemen Baron. "Silahkan Nona" Ucap Rudi setelah membuka pintu apartemen untuk Eliza.
Eliza mengangguk kemudian mengikuti langkah Rudi menuju kamar Baron. "Pak Rudi kenapa ada dokter disini? Bukannya kita akan ke rumah sakit!" Tanya Eliza heran karena kemarin pak Rudi meminta tolong untuk mengantar Baron ke rumah sakit.
"Papa anda tidak ingin di bawa ke rumah sakit. Beliau meminta di panggilkan dokter pribadinya. Silahkan" Ucap Pak Rudi pada Eliza dan keduanya mendekati di mana Baron berada yang baru selesai di periksa dokter.
"Bagaimana keadaan papa saya dokter?" Tanya Eliza terlihat cemas pada dokter yang memeriksa Baron.
"Maaf nona apa anda anak dari tuan Baron" Tanya balik dokter itu di angguki Eliza. "Mari silahkan ikut saya" Ucap dokter itu mengajak Eliza sedikit menjauh dari tempat Baron berbaring.
"Ada apa dokter?" Terlihat gurat cemas Eliza yang tulus menghawatirkan Baron.
"Tapi sayangnya tuan Baron tidak bersedia melakukan pengobatan di luar negeri, dokter" Sahut Rudi mendekati keduanya, kemudian Rudi menatap pada Eliza. "Nona, saya harap anda bisa membujuk tuan Baron agar bersedia melakukan pengobatan karena tuan Baron sama sekali tidak memiliki semangat untuk kesembuhannya" Bujuk Rudi pada Eliza.
"Nona dalam keadaan seperti ini dukungan keluarga sangat di butuhkan bagi pasien terutama anda sebagai seorang anak, agar pasien bersemangat" Imbuh dokter juga ikut meyakinkan.
Eliza masih terdiam, merasa tidak tahu harus bagaimana. Ia benar-benar berada pada situasi yang sangat tidak di inginkan. "Kapan sebaiknya Papa berangkat keluar negeri dokter" Tanya Eliza ragu-ragu.
"Nona, kebetulan saya sudah menghubungi dokter spesialis di sana dan lusa adalah waktu yang tepat untuk melakukan operasi" Jawab dokter itu.
"Nona, itu artinya saat ini juga anda harus membujuk tuan agar malam ini bersedia berangkat keluar negeri" Ucap Rudi pada Eliza.
"Malam ini pak...!!" Tanya Eliza.
"Benar nona, harus malam ini karena besok kita akan melakukan persiapan yang di perlukan untuk operasi tuan lusa. Saya harap anda bersedia mengantar dan menemani tuan Baron keluar negeri karena hanya nona satu-satunya keluarga yang di miliki tuan" Ucap Rudi.
Ya Allah, Eliza harus bagaimana.....
Eliza berpikir sejenak, biar bagaimanapun nyawa papanya harus di selamatkan. Ia tidak ingin jadi anak yang durhaka karena sebenarnya ia juga begitu mencintai Baron meski selama ini ia berusaha menutupinya karena kebencian atas perlakuan Baron.
"Baiklah, Eliza akan coba bujuk papa" Ucap Eliza kemudian melangkah mendekati Baron yang masih memejamkan mata.
__ADS_1
"Pa...." Lirih Eliza duduk di pinggir ranjang memegang tangan Baron.
Baron perlahan membuka matanya, "Eliza sayang, kamu di sini nak" Tanya Baron lembut perlahan bangun dari tidurnya sembari memegang dadanya.
"Papa tiduran saja..." Ucap Eliza sembari membantu Baron bangun.
"Tidak nak, papa tidak apa-apa" Jawab Baron yang sudah terduduk menatap Eliza.
"Pa....apa papa menyanyangi Eliza?" Tanya Eliza kembali memegang tangan Baron.
"Tentu saja nak" Jawab Baron.
"Jika papa sayang sama Eliza, papa mau ya melakukan pengobatan keluar negeri." Mendengar ucapan Eliza, Baron sejenak terdiam seperti berpikir.
"Biarkan papa seperti ini saja nak"
"Papa tidak boleh begitu, papa harus sembuh, apa papa tidak ingin melihat cucu papa" Bujuk Eliza lagi. "Eliza mohon pa, papa mau melakukan pengobatan biar lekas sembuh" Baron menatap Eliza, terlihat ketulusan Eliza yang menginginkan kesembuhannya.
"Baiklah nak" Baron membelai rambut Eliza. "Papa bersedia, asal kamu mau menemani papa" Ucap Baron.
"Apa boleh Eliza mengajak kak Ray" Tanya Eliza.
"Jangan nak, papa tidak ingin ada siapapun yang mengetahui kondisi papa. Papa ingin bertemu dengan suamimu ketika papa sudah sehat nanti. Kamu sudah berjanji kan tidak memberitahu suamimu atau papa tidak akan mau melakukan pengobatan di luar negeri" Ucap Baron membuat Eliza sedikit heran dan mulai dalam benaknya timbul pikiran-pikiran buruk tapi rasa sayang pada Baron membuatnya menepis semua pikiran buruknya itu.
"Baiklah pa, nanti malam kita berangkat agar papa cepat sembuh" Ucap Eliza kemudian beranjak pamit pulang pada Baron dan Rudi.
Mobil Eliza sudah melaju meninggalkan apartemen Baron ketika ada seseorang yang tersenyum dengan seringai baru tiba di apartemen Baron.
.
.
.
.
.
.
Bersambung........
__ADS_1