
Rayhan berjalan menelusuri loby rumah sakit setelah tahu dari anak buahnya yang ia perintahkan mengikuti Reza dan istrinya. Perlahan Rayhan membuka pintu ruang VIP itu. Reza yang duduk dibangku sebelah ranjang Eliza terbaring, menoleh. Seketika Reza beranjak dari duduknya melangkah cepat menghampiri Rayhan yang hendak mendekati Eliza yang sedang tertidur di ranjang rumah sakit dengan selang infus terpasang di tangannya.
"Bagaimana keadaan istriku?kenapa dia harus dirawat inap?" Pertanyaan beruntun Rayhan lontarkan pada Reza yang menariknya keluar ruangan itu dan kini mereka duduk di kursi tunggu depan ruangan dimana Eliza di rawat.
"Dia butuh cairan infus karena tubuhnya begitu lemah di tambah lagi semua masalah yang harus ia hadapi membuatnya begitu stress dan hampir depresi" Jawab Reza pada Rayhan masih menutupi kehamilan Eliza karena dirinya sudah berjanji pada adiknya.
Mendengar kata-kata Reza, Rayhan sejenak terdiam ia menutup mata lalu meletakkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia benar-benar merasa bersalah karena secara tidak sengaja menorehkan luka pada istrinya. "Ron...."Rayhan membuka suara membuat Reza mengalihkan pandangannya yang semula menatap lurus ke depan kini beralih menatap adik iparnya yang berada di sampingnya. "Ron dalang dari semua ini, laki-laki psykopat itu bekerja sama dengan Bella" Imbuh Rayhan lagi membuka matanya, menghembuskan nafas kasar dia menegakkan badan menatap ke arah Reza.
"Aku sudah menduga saat melihat Ron tadi" Reza berdecak kesal. "Laki-laki itu kenapa dia bisa bebas dengan mudah?" Tanya Reza.
"Aku mencabut tuntutanku" Sahut Rayhan singkat.
"Apa alasanmu?" Tanya Reza yang sudah mengenal sahabatnya itu, setiap tindakan yang ia lakukan pasti didasari sebuah alasan.
"Ibu Ron, wanita baik hati itu yang tak lain istri kedua dari kakekku memohon demi anak satu-satunya itu" Ucapan Rayhan membuat Reza seketika berpikir.
"Astaga jadi Ron adalah paman tirimu" Tanya Reza dan Rayhan hanya mengangguk. "Aku mengerti sekarang posisimu" Ucap Reza memegang pundak Rayhan.
"Bella sekarang sudah ku sekap. Aku ingin kau membantuku mengajak istriku untuk menemui Bella agar wanita licik itu bisa menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi" Pinta Rayhan pada kakak iparnya. Reza menurunkan tangannya dari pundak Rayhan, ada kegelisahan yang ia rasa pada permintaan yang di lontarkan Rayhan. Ia takut terjadi apa-apa pada kehamilan adiknya tapi biar bagaimanapun masalah keduanya itu harus segera di selesaikan.
"Baiklah akan aku usahakan" Ucap Reza sedikit ragu.
"Terima kasih Za" Reza mengangguk dan Rayhan beranjak dari duduknya, perlahan ia membuka pintu ruangan Eliza. Dari pintu itu ia menatap istrinya yang terlihat pucat dan terlihat badannya semakin kurus. "Maafkan aku sayang" Lirih Rayhan cukup lama memandangi istrinya itu pada posisinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini Eliza sudah tampak rapi dengan baju yang di bawakan Reza sebagai ganti baju pasien yang ia kenakan. Eliza sudah di perbolehkan pulang setelah semalam menginap di rumah sakit.
Eliza tampak sedikit segar setelah mendapatkan cairan infus dan pengobatan dari dokter. Reza mengemudikan mobilnya setelah Eliza masuk kedalamnya. "Kak, kita mau kemana" Tanya Eliza ketika melihat arah jalan yang mereka lewati berlawanan dengan jalan menuju rumah Reza.
"Reza tersenyum kaku, "Kakak ingin mengajakmu ke suatu tempat gadis kecil" Ucap Reza masih fokus mengemudi.
__ADS_1
"kemana kak" Tanya Eliza kembali.
"Nanti kamu juga tahu" Sahut Reza.
Reza mengemudikan mobilnya menuju sebuah gudang tua yang jauh dari pemukiman. "Ayo El" Ajak Reza membukakan pintu mobil untuk Eliza setelah mobilnya sampai.
"Kak, kenapa kita ke sini?" Tanya Eliza bingung setelah turun dari mobil, mengedarkan pandangannya melihat sekitar gudang tua itu yang di jaga oleh beberapa orang anak buah Rayhan.
"Nanti kamu akan tahu, ikut kakak ya" Reza menggandeng tangan Eliza mendekati pintu gudang. Perlahan pintu terbuka oleh anak buah Rayhan, Eliza sedikit ragu untuk melangkah masuk tapi tarikan tangan Reza membuatnya tidak punya pilihan untuk mengikuti langkah kaki kakaknya itu.
"Kak...." Lirih Eliza seketika menghentikan langkahnya membuat tarikan tangan dan langkah kaki Reza tertahan. "Kenapa kakak bawa Eliza kemari? Aku tidak ingin bertemu dengan orang itu" Ucap Eliza ketika melihat ada Rayhan yang berdiri dari duduknya setelah mengetahui kedatangannya dan Reza.
Penglihatan Eliza juga menangkap keberadaan Reno berdiri di samping seorang wanita yang ia kenali, Bella duduk dengan tangan dan kaki terikat di bangku.
"Tidak apa-apa ada kakak" Ucap Reza menenangkan Eliza yang terlihat keringat dingin sudah muncul dari raut wajah cantiknya, rasa trauma itu kembali muncul ketika melihat Rayhan apalagi ada Bella disana.
"Ren...." Panggil Rayhan tanpa menatap Reno karena pandangannya tak lepas dari istrinya yang saat ini memegang erat lengan Reza.
Bella menatap Eliza, terlihat wajahnya kacau dengan make up nya yang terlihat mulai luntur dari wajahnya. "Eliza maafkan aku, tidak terjadi apa-apa antara aku dan suamimu malam itu. Aku menjebaknya. Semua adalah rencanaku atas permintaan Ron..." Bella pun menceritakan semua kejadiannya di malam itu hingga akhir.
Eliza hanya terdiam tanpa berkata sedikitpun saat Bella menceritkan semuanya. "Kak, Eliza ingin pulang" Ucap Eliza tiba-tiba berbalik melangkah cepat melewati pintu keluar gudang meninggalkan Rayhan dan Reza yang berteriak memanggilnya. Eliza masih bingung dan masih di hantui rasa takut. Trauma yang mendalam ketika melihat Rayhan dan Bella masih belum bisa ia hilangkan meskipun telah mendengarkan penjelasan Bella.
"Sayang, aku mohon jangan pergi" Lirih Rayhan yang mengejar Eliza dan memeluk tubuhnya dari belakang.
"Aku sudah membuktikan bahwa aku tidak bersalah, kenapa kamu masih tidak memaafkan aku" Eliza masih terdiam dengan tangisnya.
"Lepaskan Eliza kak"
"Tidak sayang, aku tidak mau melepasmu." Kekeh Rayhan semakin mengeratkan pelukannya. Eliza yang merasa kesalpun menggigit tangan Rayhan.
__ADS_1
Gigitan Eliza sama sekali tidak membuat Rayhan bergeming. Eliza terus memberontak hingga keduanya jatuh, Rayhan terduduk di tanah sedangkan Eliza beruntung Rayhan menahan tubuhnya hingga terduduk di pangkuannya perlahan.
"Eliza butuh waktu" Ucap Eliza berdiri dari pangkuan Rayhan.
"Hati Eliza terlalu sakit, Eliza tidak tahu harus percaya atau tidak pada kalian terutama wanita licik itu" Air mata Eliza masih menetes. Ia benar-benar merasa bingung, rasa takut itu muncul ketika melihat Rayhan. Trauma itu sungguh sulit untuk ia hilangkan, saat seperti ini pun tangannya gemetar melihat laki-laki yang ia cintai duduk di hadapannya.
"Aku akan berusaha mengembalikan kepercayaanmu dan menghilangkan traumamu sayang" Ucap Rayhan mencoba membujuk Eliza.
Eliza sejenak menatap Rayhan kemudian membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam mobil Reza meninggalkan Rayhan yang masih terduduk.
"El sayang, aku tidak akan menyerah" Teriak Rayhan menatap kepergian istrinya.
"Ray..... Biarkan dia tenang dan beristirahat agar kondisinya pulih" Ucap Reza mendekati dan menepuk pundak Rayhan. "Kamu sabar dulu" Lirih Reza menenangkan sahabatnya itu.
.
.
.
.
.
Bersambung.......
__ADS_1