
Rayhan dan Ron belum sempat menyelamatkan, seketika langkah kaki keduanya terhenti ketika melihat di hadapan mereka tubuh Eliza terjatuh.....Ya tubuh Eliza terjatuh tapi terjatuh tepat berada di atas tubuh seseorang yang meraihnya menghindari mobil yang hampir menabrak itu.
Eliza seketika tercengang menatap sesosok yang telah menyelamatkannya. Memori ingatannya kembali berputar mengingat semua perlakuan pria paruh baya itu pada mama dan dirinya.
"Sayang...." Rayhan meraih tubuh Eliza dan membantunya untuk beranjak berdiri kemudian memeluk tubuh Eliza, ia benar-benar merasa takut tadi seperti tidak bisa bernafas melihat istrinya dalam bahaya.
Eliza hanya terdiam, ia masih menatap laki-laki yang menyelamatkannya.
"Kamu tidak apa-apa Eliza" Ucap Baron membuat Rayhan melepaskan pelukannya dan menoleh pada laki-laki yang telah menyelamatkan istrinya.
"Terima kasih tuan Baron sudah menyelamatkan ku" Eliza membuka suara.
Mendengar nama Baron di sebut, Rayhan mulai mengerti arti kebungkaman istrinya sedari tadi.
"Eliza, tidak bisakah kau kembali memanggilku papa" Ucap Baron mencoba mendapatkan kepercayaan anak perempuannya itu.
"Maaf tuan, anda salah orang karena aku adalah Eliza Fadiyah bukan Eliza Wijaya" Ucap Eliza dingin kemudian mengalihkan pandangannya pada Rayhan. "Kak Ray, aku ingin pulang" Ucap Eliza.
Rayhan yang sudah mengerti situasinya pun, menatap Baron. "Terima kasih" Ucap Rayhan pada ayah mertuanya itu. Baron mengangguk, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Rayhan. "Ayo sayang" Rayhan meraih pundak Eliza, keduanya melangkah menuju mobil di ikuti anak buahnya Rayhan meninggalkan Baron dan juga Ron yang terlihat mengepalkan tangan menatap dengan sakit hati yang teramat melihat Jolie bersama rivalnya.
"Kau tenang saja Ron, ikuti rencanaku" Ucap Baron menyeringai pada Ron.
\=\=\=\=\=\=\=
Mobil Rayhan melaju membelah sunyinya malam, Eliza yang duduk di samping Rayhan yang sedang mengemudi pun hanya terdiam. Eliza berpikir kenapa Baron berada di kota ini dan yang lebih membuatnya bingung kenapa seorang Baron yang tidak pernah memperdulikannya sejak ia lahir bisa menyelamatkannya tadi.
Rayhan sekilas menatap istrinya sembari masih fokus mengemudi. "Sayang...." Satu tangan Rayhan meraih tangan Eliza dan satu tangannya masih memegang setir mobil. Eliza tak menjawab ucapan Rayhan. "Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Rayhan melihat air mata kembali lolos membasahi pipi istrinya itu, Eliza hanya menggeleng sembari mengusap air matanya itu.
__ADS_1
Sampai di rumah, Eliza bergegas menuju kamar di ikuti Rayhan dibelakangnya. Eliza masuk ke dalam kamar mandi mencuci tangan, kaki kemudian membasuh mukannya, setelah itu ia pun keluar dari kamar mandi dan ternyata sudah ada Rayhan menunggunya di depan kamar mandi dengan kecemasannya. "Kamu beneran tidak apa-apa sayang, kita ke dokter ya" Ucap Rayhan memegang bahu istrinya.
"Eliza tidak apa-apa kak" Jawab Eliza melepas tangan Rayhan kemudian melangkah keluar kamar. Rayhanpun masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri karena tubuhnya yang kotor dan ada beberapa luka akibat berkelahi dengan Ron tadi.
Setelah selesai Rayhanpun keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit ditubuhnya, Rayhan hendak menggambil baju di lemari tapi seketika di urungkannya karena melihat Eliza masuk kamar dengan membawa sebuah mangkuk besar berisi handuk kecil dan es batu serta kotak P3K duduk di pinggiran ranjang.
Rayhan menghampiri Eliza dan ikut duduk di sampingnya, ia tahu maksud dari istrinya membawa itu semua. Eliza mengambil ea batu membungkusnya dengan handuk kecil lalu tanpa berkata ia pun menempelkan diwajah Rayhan yang terlihat lebam akibat pukulan Ron.
"Lain kali bisa gak kak, gak pake kekerasaan saat berhadapan dengan Paman"' Ucap Eliza dengan tangannya masih mengompres wajah Rayhan.
"Maaf sayang, kalau berhadapan dengan Ron entah mengapa aku tidak bisa menahan emosiku" Jawab Rayhan sembari menatap wajah istrinya yang terlihat serius mengompres lukanya.
"Dia adalah Baron, laki-laki yang sudah membuat mamaku menderita" Ucap Eliza seketika menghentikan tangannya mengompres wajah Rayhan.
"Aku tahu sayang" Rayhan membelai lembut kepala Eliza. "Kamu jangan banyak berpikir ya, ingat ada anak kita di sini" Ucap Rayhan mengusap pelan perut Eliza.
"Ngapain Eliza mikirin orang itu, Eliza gak mau ngomongin dia lagi" Ketus Eliza kemudian melanjutkan mengompres wajah Rayhan. Rayhan menatap lekat wajah istrinya yang terlihat semakin mempesona.
Eliza berdecak, "Tadi saat berkelahi dengan paman kenapa tidak merintih sakit seperti itu saat mendapat pukulan" Sewot Eliza membuat Rayhan tergelak gemas.
"Kamu lucu sayang, masak iya aku berkelahi sambil berteriak seperti itu, aku kan laki-laki" Ujar Rayhan mencubit kecil hidung Eliza.
"Terus sekarang kenapa berteriak seperti itu" Ucap Eliza memincingkan bibirnya,
"Kalau sekarang kan lain, aku lagi ingin bermanja sama istriku" Rayhan tersenyum setelah mencium pipi Eliza.
"Maunya..." Eliza masih mengompres wajah Rayhan. Setelah di wajah Eliza juga mengompres dada Rayhan yang sempat terkena pukulan, tangan Eliza mengusap lembut hingga membuat Rayhan menarik nafas dalam karena jika bersama istrinya ia selalu tidak bisa menahan hasratnya yang begitu mencintai Eliza.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kehilanganmu sayang" Rayhan memegang tangan Eliza yang mengompres dadanya dan mendekatkan wajahnya hendak mencium Eliza.
"Aah" pekik Eliza saat Rayhan tak sengaja menyenggol lutut Eliza.
"Kenapa sayang, mana yang sakit?" Tanya Rayhan cemas.
"Tidak apa-apa kak, cuman lutut aku sedikit perih mungkin tergores batu kerikil saat terjatuh tadi" Ucap Eliza yang seketika kaget karena Rayhan sudah menyikap drees tidurnya ke atas untuk melihat luka di lututnya.
"Sayang lutut kamu berdarah, aku obatin dulu ya" Rayhan mengambil alkohol untuk membersihkan luka Eliza lalu memberikan obat merah dan terakhir menempelkan plester pada lutut istrinya itu. "Lain kali hati-hati ya sayang, aku tidak bisa melihatmu dalam keadaan berbahaya seperti tadi, rasanya seperti tidak bisa bernafas" Ucap Rayhan tulus memegang wajah Eliza.
Eliza mengangguk. "Tapi tadi salah kak Ray yang lebih memilih berkelahi dengan paman dan tidak menghiraukan teriakan Eliza" Protes Eliza.
"Iya maaf ya sayang, aku emosi banget tadi" Rayhan tersenyum kecut memang ia yang bersalah atas kejadian tadi.
"Sudahlah kak" Tangan Eliza hendak menurunkan dressnya yang di sikap Rayhan saat mengobati lukanya tadi tapi seketika di cegah oleh tangan Rayhan. "Kak Ray mau ngapain?"
Rayhan menyeringai. "Aku cuman ingin lihat sayang, apa ada luka yang lain lagi di tubuh istriku........"
💕
💕
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung........
Mohon maaf para Readers tercinta karena Author sering telat up date......Semoga terhibur.....love you