
Setalah Kenzo mengancam akan mendobrak pintu rumah, akhirnya Ayah agung membuka pintu rumahnya, Ayah agung dan ibu Helena nampak gemetar ketakutan, tapi tidak dengan sisil. Dia nampak tenang dan masih mempertahankan sikap arogansi dan rasa sombongnya.
Kenzo, Zia dan Nik, duduk di sofa ruang tamu, tidak ada satu pun yang memulai pembicara setelah Kenzo, Zia dan Nik duduk, hingga akhirnya Sisil yang memulai pembicaraan.
"Untuk apa kalian datang kemari?" tanya sisi ketus.
"Sisil diamlah" ucap Ayah.
"Kenapa aku harus diam, karena mereka selama dua hari ini kita tidak bisa keluar dari rumah, dan karena mereka juga kita jadi merasa seperti di penjara" jawab sisil menggebu-gebu.
"Sisil diamlah, kau tidak tahu apapun" ucap Ayah Agung.
"Memang apa yang tidak aku tahu ayah?" tanya Sisil.
"Sisil diam" berak ibu.
"Kenapa ibu jadi malah ikut marah padaku, memang apa yang tidak aku tahu, aku tahu betul kalau Zia dan Ziko itu bukan anak ayah" ucap sisil.
Darrrrr
Bagai tersambar petir di siang bolong, Zia begitu kaget mendengar apa yang di katakan Sisil, kalau dirinya dan adiknya bukanlah anak dari Ayah Agung.
"Maksudmu apa sisil?" tanga Zia penuh tanya.
"Maksudnya..."
"Sisil diamlah" betak ibu Helena memotong perkataan sisil.
__ADS_1
Mendengar bentakan dari ibunya sisil langsung diam seribu bahasa.
"Ayah apa maksud dari perkataan sisil?" tanya Zia, tapi Ayah agung malah diam tak menjawab.
"Jawablah, Istriku sedang bertanya." Ucap Kenzo.
"Ayah?" tanya Zia.
"Itu tidak benar bukan, aku ini anak ayah dan Ibu Amerta kan?" tanya Zia, tapi Ayah Agung masih bungkam.
"Ayah... Hiks.. Hiks?" tanya Zia lagi mulai menangis.
Entah mengapa Zia merasa kebungkaman Ayahnya adalah jawaban atas pertanyaannya.
"Ayah?" tanya Zia lagi parau.
Zia menoleh ke arah suaminya dan menatapnya lekat.
"Apa yang ingin kau katakan suamiku?" tanya Zia.
"Sayang, hari ini kau akan tahu begitu banyak kebenaran yang akan sangat mengejutkan bagimu dan juga Ziko" jawab Kenzo dengan suara lembutnya.
"Jadi kalian yang akan menjelaskan semuanya atau...." ucap Kenzo mengantung.
"Zia" ucap Ayah Agung.
"Iya Ayah katakan" jawab Zia.
__ADS_1
Nampak ayah agung meremas jari-jarinya sambil menunduk.
"Maafkan Ayah Zia, sebenarnya.... Sebenarnya, Kamu dan Ziko bukanlah anak kandung Ayah" ucap Ayah Agung.
DEG...
Perkataan itu menghujam tepat di hati Zia, bagaikan seribu panah yang secara bersamaan di tusukkan secara langsung ke dalam hatinya.
"Maafkan Ayah Zia, maaf" ucap Ayah agung lagi.
Zia hanya mematung mulutnya terasa terkunci, nafasnya mulai terasa sesak, air matanya sudah mengalir taktertahankan.
Kenzo yang melihat Zia istrinya begitu syok setelah mendengar kenyataan hidupnya, langsung merangkulnya dengan tangan kirinya dan tangan kanannya dia gunakan untuk memegang tangan Zia yang saling meremas kuat.
"Tenanglah" ucap Kenzo dengan suara lembutnya pada Zia.
"Lanjutkan" ucap Kenzo pada Ayah agung.
"Zia.... Dulu Ayah adalah salah satu sopir di rumah kedua orang tuamu di Turki, sebelum Akhirnya Ayah kandungmu meninggal karena di bunuh persaing bisnisnya, sebelum meninggal Ayahmu meminta Ayah menjaga Kalian bertiga, dan demi janji Ayah pada Ayah kandungmu, Ayah membawa mu dan ibu kandungmu yang saat itu sedang hamil Ziko ke tanah Air, demi menghindari hal yang tidak di inginkan."
"Ibumu membawa semua Aset Ayahmu bersamanya dan mendirikan perusahaannya di sini, hingga akhirnya perusahaan yang dia bangun maju dengan begitu cepat dan berkembang begitu pesat."
"Seiring majunya perusahaannya, ibumu jadi begitu sibuk dan bahkan hampir tidak makan di setiap harinya, hingga membuat kondisi kesehatan ibumu menurun di setiap harinya, dan akhirnya ibumu meninggal dunia, karena sakit yang dia derita." Jelas Ayah Agung panjang lebar.
"Hiks... Hiks.... Ahhhh...huu..." Tangis Zia pecah dengan begitu hebatnya hingga membuat Zia menangis tersedu-sedu di pelukan Kenzo.
"Tenanglah sayang, kendalikan dirimu" pinta Kenzo sambil berisik.
__ADS_1
Mendengar itu Zia mencoba mengontrol emosinya yang sudah meluap-luap, Zia menegakkan tubuhnya dan menyeka air matanya dengan kedua tangannya.