
Dengan hati berdebar Diandra mulai masuk ke dalam kantor, banyak pasang mata yang melihat ke datangan Diandra, namun sebisa mungkin Diandra abaykan.
Setalah Diandra masuk ke dalam kantor, dengan cepat dia berjalan ke arah lift dan pada saat dia akan masuk tiba-tiba ada yang menghentikan langkah Diandra.
"Hey kau mau ke mana? Dan ingin bertemu siapa?" tanya seorang wanita dari bagian resepsionis yang melihat Diandra tiba-tiba masuk tanpa izin.
DEG...
Mendengar itu Diandra terkejut setangah mati, Diandra seperti merasa tertangkap basah karena suatu kejahatan yang dia lakukan.
" Em.. Saya mau... Mau..." Ucapan Diandra terbata karena tiba-tiba dia merasa gugup setangah mati.
"Mau apa... , anda jangan macam-macam ya, jika tidak ada kepentingan silahkan keluar dari sini dengan baik-baik atau saya panggilkan keamanan untuk membawa anda pergi dari sini." ucap resepsionis itu dengan nada ketus,
"Hey aku bukan pencuri yang harus di amankan di sini ya, lagi pula kau tidak tahu siapa aku?" tanya Diandra yang merasa tidak terima di usir dari dalam kantor keluarganya sendiri.
"Saya tidak peduli siapa anda nona, anda jelas-jelas masuk ke dalam kantor tanpa menemui resepsionis terbih dahulu untuk menanyakan keperluan anda dan itu adalah kesalahan." Ucap Wanita tersebut.
"Ah... Nona Diandra, selamat datang, maaf atas ketidak nyamanannya, mohon maafkan teman saya dia tidak tahu siapa anda jadi tolong dimaklumi, silahkan lanjutkan perjalanan anda." ucap Seorang wanita lain yang baru datang dan menjadi penengah pembicara Diandra dengan wanita bagian resepsionis tersebut.
__ADS_1
"Huh... Ya beri tahu siapa saya padanya, dan tolong ajari dia cara berbicara yang sopan dan lembut pada orang lain." Ucap Diandra karena begitu kesal, lalu Diandra langsung masuk ke dalam lift.
"Kau nanti harus minta maaf padanya dia adalah putri dari pemilik perusahaan ini, sekaligus adik kandung dari bos besar kita." ucap wanita tersebut.
"Apa... Ya mana aku tahu... Lalu bagaimana ini"
"Tidak tahu, pokoknya kamu harus minta maaf padanya nanti."
🌺🌺🌺🌺
Tink..
Lift berhenti di lantai paling atas perusahaan Maliq Grup, Diandra keluar dari dalam lift dan dilihatnya meja sekretaris yang kosong, Diandra mengedarkan matanya hingga tertuju pada satu ruangan milik Nik.
"Ketuk, jangan ya... ketuk, apa jangan?" ucap Diandra lirih penuh ragu.
"Em... Jangan mending aku pulang lagi aja.. Iya pulang" ucap Diandra dan membalik badannya bersiap berjalan pergi tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan kembali menghadap pintu ruangan Nik.
"Tapi udah jauh-jauh datang masa iya mau balik lagi" ucap Diandra gusar.
__ADS_1
"Ah... Berasa mau masuk kadang singa aku nih..." Gerutu Diandra.
"Ketuk aja Diandra terus kasih makanannya dan langsung pergi seperti biasa tanpakkan wajah judesmu" ucap Diandra menyemangati diri sendiri.
Lalu perlahan Diandra kembali mencoba mengetuk pintu ruangan Nik.
"Tapi bagaimana kalau dia lagi makan, terus aku harus jawab apa kok tumben banget gituh bawa makanan buat dia, mau taro di mana coba ini wajahku Ah.... Kok malah jadi gini sih" ucap Diandra kembali bingung.
"Nona Diandra" ucap seseorang dari belakang Diandra.
"Em.. Iya" jawab Diandra sambil melihat ke sumber suara.
"Anda ingin bertemu dengan tuan Nik?" tanya laki-laki yang tadi memanggilnya.
"Em... Itu.. Aku" jawab Diandra gugup.
"Beliau ada di dalam dan sepertinya juga belum makan siang" ucap laki-laki tersebut sambil melihat bungkusan makanan di kedua tangan Diandra.
"Oh ya..." ucap Diandra sepontan.
__ADS_1
"Iya nona, mari masuk" ucap laki-laki tersebut sambil mengetuk pintu ruang kerja Nik dan tanpa aba-aba langsung membukanya.
Melihat itu Diandra gelagapan setengah mati, dan berusaha mencegahnya untuk tidak membuka pintu tapi sayang pintu sudah terbuka.