
"Selamat pagi" sapa Iren yang langsung masuk ke rumah Zia tanpa salam
"Pagi Ren" jawab Zia sambil tersenyum
"Zia aku pinjem Hair dryer dong, gara-gara Nik jemput aku buru-buru jadi aku gak sempet deh keringin rambut " gerutu Iren tanpa basa basi
Iren memang sejak dulu tidak menggunakan kerudung, tapi walau begitu dia selalu berkapakaian sopan kemanapun dan kapanpun
"Kamu di anterin Nik ke sini? Mana dia kok gak masuk?" Tanya Zia
"Iya tadi aku di anterin Nik tapi katanya dia buru-buru ada pekerjaan penting yang harus dia selesaikan" Jawab Iren
Mendengar perkataan Iren tentang Nik seketika membuat hati Zia sedikit tenang, ya Zia berpikir mungkin Kenzo juga pergi ke kantor sama terburu-burunya seperti Nik, tapi yang jadi pertanyaan Zia adalah "kenapa Nik baru ke kantor jam segini? Padahalkan Kenzo sudah pergi sejak subuh tadi" memikirkan pertanyaan itu membuat hati Zia kembali cemas
"Zia?... Zia?" Tanya Iren membuyarkan lamunan Zia
"Ah iya adapa?" Tanya Zia
"Eh malah ngelamun, Akukan tadi bilang pinjem pengering rambut kamu mau ngasih pinjem gak?" Tanya Iren
"Ah iya tentu, ada di kamar yu kita ke kamar" ajak Zia
"Memangnya suami kamu udah berangkat kerja?" Tanya Iren
"Udah tadi" Jawab Zia sambil menaiki tangga
__ADS_1
"Pantesan Nik tadi buru-buru banget" jawab Iren
Ceklek...
Zia dan iren memasuki kamar Zia dan Kenzo
"Ya ampun aku sampai lupa belum rapihin kamar" Ucap Zia dalam hati dengan wajah yang memerah karena malu pada Iren
"Em kamar suami istri emang bedaya ya haha.. uhhh.. kaya habis perang gituh" celetuk Iren dengan nada bercandanya
"Apan si.. Kamu tunggu di luar ya, aku ambilin hair dryernya" Ucap Zia
"Ya ampun Zia udahlah gakpapa udah ketahuan ini hehe" Ucap Irean yang menyadari kalau Zia begitu malu padanya
"Hem, untung kamu sahabat aku Ren" Ucap Zia
"Kamu masuk ke kamar ganti aja di sana, aku mau rapihin ini dulu" ucap Zia dengan wajah yang merona
"Iya.. Iya deh heheh.. " jawab Iren sambil tersenyum lebar
Zia buru-buru merpihkan ranjangnya tapi tangan Zia terhenti saat menyibakan selimut dia melihat ada noda darah di seprai tempat tidur
"Ya ampun ini mah harus di ganti sama seprainya" Ucap Zia dalam hati sambil menutup kembali noda darah itu dengan selimut agar Iren tak melihatnya
Zia hanya merapihkan tempat tidur ala kadarnya saja karena tidak mau mengganti seprai di depan Iren, Zia berpikir nanti Iren akan mencandainya terus menerus
__ADS_1
Setelah iren selesai Zia buru-buru mengajak iren keluar dari kamarnya dengan alasan sarapan pagi, di meja makan sudah ada Ziko yang sedang memakan sarapannya, Zia sungguh terharu melihat penampilan Ziko yang rapih seperti anak muda yang normal
"Wah Ziko kau tampan sekali dengan baju seperti itu" Ucap Iren sambil duduk di meja makan
"Benarkah? Diandra bilang aku memang harus menggunakan baju seperti ini agar terlihat tampan" jawab Ziko
"Diandra?" Tanya Zia
"Iya Diandra bilang berpakaian itu ada tempat dan waktunya, kita jangan asal berpakaian, Kita juga harus menempatkan pakaian sesuai tempat dan jamnya" jawab Ziko sambil memakan makanannya dengan rapih tanpa belepotan ke mana-mana
Mendengarkan nama Diandra membuat perasaan Zia jadi tak menentu, "Diandra? " ucap Zia dalam hati
❤️❤️❤️
Jam 13.00 Diandra mulai sadar dia membuka matanya perlahan, silau, buram, dan pusing itu yang pertama Diandra rasakan. Diandra berusaha membuka matanya dia juga merasakan sekujur tubuhnya yang terasa remuk redam
"Sayang" ucap mommy Almira yang melihat putrinya kini telah sadar
"Mommy" Jawab Diandra dengan lemas
"Iya sayang ini mommy hiks.. Hiks.." Ucap Mommy Almira sambil menangis haru
"Aku di mana?" Tanya Diandra yang bingung dengan keberadaannya saat ini
"Kamu di rumah sakit Princess" Jawab Daddy Darsi yang juga begitu bahagia melihat putrinya sudah sadarkan diri
__ADS_1
Mata Diandra sudah terbuka sempurna di lihatnya wajah orang-orang tersayangnya ada di hadapannya mommy Almira, Daddy Darsi dan Kakaknya Kenzo, melihat itu Diandra mulai tersenyum bahagia dalam hati Diandra begitu bersyukur masih bisa melihat mereka