Menemukanmu Adalah Takdirku

Menemukanmu Adalah Takdirku
BAB 97


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit keluarga Maliq, Kenzo dengan setia menemani Zia yang sedang berjuang untuk melahirkan baby Twins mereka,


"Ayo bu terus di dorong bu" ucap dokter Arini, memberikan intruksi pada Zia.


Zia nampak mengikuti semua aba-aba yang di perintahkan Dokter, sedangkan Kenzo dia terus merapalkan doa tiada henti sambil menahan sakit di lengannya karena Zia yang terus berpegang pada lengan tangannya.


"Terus bu, terus bayina sudah kelihatan" ucap Dokter Arini lagi.


"Ahhhhhhhkkkkk" teriah Zia kencang


Dan dalam satu kali dorongan akhirnya Zia pun melahirkan bayi pertamanya.


"Alhamdulillah bayinya sudah keluar" ucap dokter Arini.


"Bayi pertamanya laki-laki" ucap dokter Arini lagi.


Suara bayi yang begitu kencang memenuhi seluruh penjuru ruangan bersalin itu.


Zia dan Kenzo napak terharu melihat bayi pertama mereka lahir.


"Alhamdulillah" ucap Kenzo sambil mengusap kedua sudut matanya yang basah.


Selang Lima menit berikutnya Zia mulai mengalami kontraksi lagi, yang berarti bayi kedua mereka juga siap untuk lahir.


Dan benar saja bayi kedua mereka lahir dengan begitu cepat dan tidak sesulit bayi pertama.


"Yang kedua juga laki-laki" ucap Dokter Arini,


"Alhamdulillah" ucap Kenzo lagi dan lagi tiada henti.


Setelah kedua bayi mereka lahir kenzo dengan cepat mencium kening Zia dan tak henti mengucap syukur atas anugerah kedua bayi kecil mereka.


"Di Azani dulu" ucap Zia lemah.


"Iya sayang" jawab Kenzo, sambil menciumi seluruh wajah Zia.


Lantas kenzo pun mulai mengAzani satu persatu bayi mereka yang sudah selesai di bersihkan para perawat rumah sakit.


Zia napak mengis haru saat Kenzo mengAzani dan menglantunkan komat di kedua telinga baby Twins mereka.

__ADS_1


"Namanya siapa pak?" tanya Dokter Arini.


"Yang pertama Sultan Abdul Maliq dan yang Kedua Salman Abdul Maliq" jawab Kenzo dengan lantang dan penuh kebanggaan.


.................


Setalah merasa Diandra mulai tenang Nik nampak mengurai pelukannya, dia mengangkat perlahan wajah Diandra yang terlihat murung.


Di kecupnya kening milik Diandra dengan penuh kelembutan.


"Mari kita menikah?" Ucap Nik to the point.


Diandra nampak diam saja tak menjawab, membuat Nik sedikit frustasi.


"Diandra, apa kau tidak ingin menikah denganku?" tanya Nik lagi sendu.


Diandra masih diam bergeming.


Nik pun perlahan mundur karena dia sudah tidak sanggup berdiri terlalu lama dalam keadaan kakinya yang masih cedera.


Nik mendudukan dirinya di atas kursi sambil memijat pelan paha kanannya yang terasa kebas dan sakit.


Semua yang di lakukan Nik tak luput dari pandangan mata Diandra, Diandra nampak menggigit bibir bawahnya karena bingung harus berbuat apa, semua yang telah terjadi malah membuatnya merasa bingung dan salah tingkah.


Nik pun mengeluarkan sebuah Kotak dari balik jas yang dia gunakan.


"Aku bukan laki-laki yang romantis tapi aku, sungguh-sungguh mencintaimu Diandra, jadi untuk yang kesekian kalinya lagi, aku bertanya apakah kau mau menjadi istriku?" tanya Nik lagi, sambil membuka kotak berbentuk love yang di dalamnya ada sebuah cincin yang sangat indah dan mahal tentunya hanya untuk Diandra seorang.



Cicin itu adalah cicin yang Nik beli saat di Kanada untuk melamar Diandra tapi urung Nik berikan pada Diandra karena Nik malah mengalami penolakan telak dari Diandra, dan juga mengalami kecelakaan yang membuat kakinya cedera hingga sekarang.


Diandra masih setia dengan Diamnya, dan Nik pun masih sabar menanti jawaban Diandra.


"Katakanlah sesuatu aku mohon" pinta Nik, penuh harap.


"Kak Nik?" ucap Diandra.


"Hem..." jawab Nik cepat, penuh antusias.

__ADS_1


"Beginikah cara mu melamar seorang gadis?" ucap Diandra dengan senyum di bibirnya dan air mata yang juga telah turun membasahi pipi indahnya.


"Sudah aku bilang aku bukan pria yang romantis" jawab Nik sambil mengambil tangan kanan Diandra dan memasangkan cicin indah itu di jari manisnya.


"Pas" ucap Nik senang.


"Aku belum mengatakan Iya" protes Diandra.


"Tidak peduli, karena cicinnya sudah terpasang, itu artinya sekarang kau adalah Istriku" jawab Nik cepat.


"Mana ada yang seperti itu" protes Diandra lagi.


"Ada," jawab Nik tak terbantahkan.


"Pokoknya mulai sekarang kau adalah milikku dan Aku adalah milikmu seutuhnya" ucap Nik lagi, penuh dengan Kesungguhan sambil menatap dalam ke dua mata Diandra, wanita yang sangat dicintainya sejak lama.


Diandra hanya membalas Celotehana Nik degan senyuman kebahagiaan yang terbit di bibirnya dan tidak dapat di sembunyikan lagi oleh Diandra karena begitu bahagia.


Walau sebenarnya dia merasa gengsi dan malu secara bersamaan.


"Peluk aku, aku sudah tidak sanggup berdiri" Keluh Nik, membuat Diandra hawatir.


"Kak Nik bagaimana kalau kita kerumah sakit saja ya?" ucap Diandra mulai cemas.


"Aku tidak butuh dokter, aku hanya butuh pelukan darimu" jawab Nik sedikit manja, membuat Diandra ternganga mendengarnya.


"Menyebalkan" ucap Diandra dan dia pun mulai memeluk Nik dan di balas Nik dengan bahagia.


Mereka berpelukan cukup lama, saling menyalurkan rasa bahagia yang mengalir di hati keduanya, hingga akhirnya Nik pun melepaskan pelukannya dan berkata,


"Baiklah sekarang sebaiknya kita kerumah sakit untuk melihat apa kah keponakan kita sudah lahir" ucap Nik.


"Heyy...aku hampir melupakan mereka karena dirimu" ucap Diandra kesal.


Dan Nik hanya menjawabnya dengan kekehan saja.


"Kalau begitu kita pergi sekarang?" tanya Nik lagi.


"Iya.. Sekarang" jawab Diandra penuh semangat.

__ADS_1


__ADS_2