
Hari ini Nik sudah siap dengan kopernya, dia akan melalukan perjalanan Bisnis ke Kanada, dengan langkah percaya diri dia berpamitan pada papa Marco untuk pergi ke bandara.
Sesampainya di bandara Nik nampak gelisah dia menantikan kedatangan seseorang yang sejak tadi dia tunggu.
"Tuan sudah waktunya berangkat" ucap Alvin.
"Apa dia tidak datang, rasanya tidak mungkin" ucap Nik dalam hati.
"Tunggu sebetar lagi" jawab Nik.
"Baik Tuan" jawab Alvin.
Setalah cukup lama menunggu akhirnya Nik menyerah dia harus cepat berangkat ke Kanada.
"Harusnya dia datangkan, aku sudah meminta Izin pada Tuan besar langsung agar dia bisa ikut, dan tidak pergi dengan laki-laki itu." Ucap Nik dalam hati.
"Tuan..?" ucap Alvin lagi.
"Baiklah aku pergi, kau atasi semua pekerjaan selama aku pergi dengan baik, jika ada masalah beritahu aku dulu, jangan langsung memberitahu tuan Kenzo, mengerti?" titah Nik pada asistennya.
"Baik tuan" jawab Alvin.
"Pergilah" pinta Nik lalu dia pun pergi menuju landasan pesawat dan memasukinya seoarang diri.
Dengan perasaan hampa dia memasuki pesawat pribadi milik keluarga Maliq, dua pramugari yang begitu cantik menyambutnya dengan ramah, tapi tak di hiraukan sama sekali oleh Nik, sikap Nik yang dingin semakin mendingin setelah tahu bahwa yang di nanti tak kunjung datang hingga sebuah suara membangunkan Nik dari semua kemelut di pikirannya.
"Apa kak Nik tidak bisa lebih cepat sedikit, aku sudah menunggu sejak tadi di sini hingga rasanya aku seperti cake yang gosong dalam open karena terlupakan untuk di angkat." Protes sebuh suara yang sangat di kenali Nik menusuk di indra pendengarannya.
Nik yang sejak awal masuk kedalam pesawat tidak melihat sekelilingnya dan langsung duduk di kursi penumpang di kagetkan dengan kehadiran Diandra yang berdiri menjulang tinggi di sampingnya sambil mengoceh tak jelas.
"Hah..." Nik mendesah lega setelah melihat seseorang yang di nantinya sejak tadi, ternyata sudah ada di hadapannya, dengan wajah yang di tekuk dan mulut yang terus bersuara, menyuarakan aksi protes yang begitu panjangnya.
"Kak Nik...? Oh ya ampun kau sungguh tidak berperasaan." Protes Diandra tapi masih di abaikan Nik.
"Oh Ampun Kak Nik sungguh... Ah..." Suara Diandra hilang saat Nik menarik tanggannya hingga Diandra terjatuh di pangkuan Nik.
Bola mata Diandra membola sempurna sebagai betuk protes atas aksi Nik yang untuk ke sekian kalinya terlalu berani menyentuh dirinya.
__ADS_1
" Kau terlalu berisik sejak tadi, sekarang duduklah di sampingku dan nikmati semua momen kebersamaan kita karena ini jarang terkadikan" ucap Nik.
Diandra masih mematung di atas pangkuan Nik, dirinya seolah di buat bisu melihat sorot mata Nik yang begitu dekat dengannya, bahkan Diandra bisa merasakan hembusan napas laki-laki di hadapannya.
Nik yang melihat Diandra hanya diam saja tak mengoceh lagi hanya tersenyum simpul, dia menyentuh pipi Diandra dengan lembut mengusapnya hingga ke dagu dan berhenti tepat dekat bibir tipis Diandra.
Sebagai laki-laki yang Normal jelas Nik sangat tergoda dengan keindahan mahluk tuhan di hadapannya itu, perlahan namum pasti Nik mengecup bibir Diandra.
Dengan reflek Diandra mendorong tubuh Nik dengan kencang, namung sayang Nik hanya mundur sedikit dari hadapan Diandra dan Tangan Nik malah semakin erat memeluk pinggang Diandra.
"Kak Nik.." Protes Diandra.
"Hem.." Jawab Nik cuek seolah tak melakukan dosa padanya.
Dan sialnya Diandra yang lengah kini kembali harus merasakan sentuhan lembut dari bibir laki-laki yang memiliki tempat khusus di hatinya itu.
Setelah cukup lama Nik baru melepaskan Diandra dengan di akhiri ciuman hangat di dahi Diandra dengan begitu lembut.
"Duduklah di sampingku, pesawatnya akan segera take Off." Ucap Nik dengan suara lembutnya.
Selama dalam perjalanan di udara Nik fokus dengan pekerjaannya, begitupun Diandra dia menyibukkan diri dengan membaca buku Novel yang di bawanya.
Diandra membisu tidak mau mengatakan apa pun dan menjawab apa pun yang di ucapkan atau di tanyakan Nik padanya, sebagai bentuk protes dan marahnya pada Nik yang seolah sedang mempermainkan perasaanya.
Tapi walau begitu Diandra terkadang selalu mencuri pandang pada Nik yang duduk tepat di sampingnya, Nik yang begitu fokus dan serius dengan pekerjaannya menambah tingkat ke gagahannya di mata Diandra.
"Apa aku terlihat begitu tampan sehingga sejak tadi kau menatapku?" tanya Nik yang masih fokus dengan pekerjaannya tanapa melihat lawan bicaranya.
Diandra tidak menjawab dengan cepat dia membuang muka dan kembali fokus dengan buku novelnya.
Nik yang sejanak menghentikan pekerjaannya dan melihat Diandra yang kini seriyus dengan buku novelnya.
"Sudah siang apa kau tidak lapar?" tanya Nik, sambil menghentikan sejenak pekerjaannya, yang dirasa Nik tak ada habis-habisnya.
"................." Diandra tak menjawab.
"Hey apa kau dengar tadi aku bertanya?" tanya Nik lagi.
__ADS_1
Dan lagi-lagi Diandra tak menjawab.
Nik yang gemes langsung mencubit pipi Diandra dengan sedikit bertenanga, hingga si empunya pun mengaduh sakit karena ulahnya.
"Ih.... Sakit" bentak Diandra.
Namun Nik hanya terkekeh geli, menjawab aksi protes Diandra.
"Simpan dulu bukumu itu kita makan siang tebih dahulu" Pinta Nik, sambil mengelus lembut pipi Diandra yang tadi dia cubit.
Nik mengintrusikan pada Pramugari untuk menyediakan makan siangnya, dengan semangat kedua Pramugari cantik pun menyajikan makanan di depan Nik dan Diandra,
Sambil menyajikan makan siang mereka sesekali mencuri pandangan pada Nik, berharap bisa menarik perhatian dari Nik, dan Diandra bisa melihat dengan jelas ketertarikan dua Pramugari cantik tersebut pada Nik.
Diandra tidak memungkiri, hatinya terasa panas dan kesal dengan sikap kedua Pramugari tersebut yang sok cari perhatian, walaupun Nik mengabaikan mereka dengan terus memainkan ponselnya, tapi tetap saja Diandra tidak terima dengan aksi sok caper dari kedua Pramugari tersebut.
"Kalian bisa pergi" ucap Diandra dengan menunjukan seyuman permusuhan pada kedua Pramugari tersebut.
"Baik Nona, selamat menikmati hidangan makan siangnya tuan dan nona, jika adahal yang di perlukan kami ada di belakang siap melayani" ucap salah satu Pramugari dengan sopan dan lembut.
"Terimakasih" jawab Diandra masih dengan seyuman permusuhannya .
Nik tidak menjawab hanya mengibaskan jari tangannya pertanda pengusiran pada mereka.
"Makanlah" pinta Nik.
Dengan perasaan dongkolnya Diandra memakan makan siangnya dengan lahap karena memang Diandra begitu sangat lapar dan kesal saat ini.
"Makanlah perlahan aku tidak akan mengambil makananmu" ucap Nik, tapi diabaikan Diandra.
Melihat itu Nik hanya tersenyum dan mengelus kepala Diandra pelan.
Masih di perjalanan mengudara di atas awan, hari sudah sangat malam Diandra napak terpulas di kusinya dengan buku di kedua tangannya.
Nik mengambil buku tersebut lalu memangku tubuh Diandra yang tertidur dan memindahkannya ke dalam kamar yang tersedia di dalam pesawat, dengan pelan Nik membaringkan Diandra dan menyelimutinya dengan selimut.
Nik yang merasa kelelahan pun memilih berbaring di samping Diandra menatap lekat wajah manis dan imut Diandra dengan sejuta pemikirannya, tak lama Nik pun ikut tertidur di samping Diandra.
__ADS_1