
"Tuan berbaringlah" pinta salah satu perawat.
"Tidak sebelum istriku selesai diperiksa" tolak Nik.
"Tuan tenanglah istri anda sudah baik-baik saja, dia hanya melangalami syok ringan saja, dan tidak ada luka seriyus, saat ini dia hanya sedang pingsan, sebentar lagi juga pasti akan sadar." Tutur Dokter panjang lebar untuk menenangkan Nik.
"Berbaringlah tuan, biar saya periksa terlebih dahulu, luka anda cukup seriyus." Ucap Dokter tadi.
"Hem..." akhirnya Nik pun menurut setalah memastikan Diandra baik-baik saja.
Dokter dan perawat pun mulai mengobati luka-luka yang ada di tubuh Nik, setelah selesai Nik, Diandra dan laki-laki asing yang hampir menabrak mereka pun di pindahkan ke ruang rawat.
Nik meminta satu kamar VVIP untuk di tempati berdua dengan Diandra, dan satu kamar VIP untuk laki-laki yang hampir menabrak mereka berdua.
"Dokter kenapa istriku belum sadar?" tanya Nik khawatir,
"Anda tenang saja Tuan, istri anda akan sadar sebentar lagi" jawab Dokter.
"Baiklah terima kasih Dokter" ucap Nik.
"Kalau begitu kami permisi." jawab Dokter
Dokter dan perawat pun pergi, Nik duduk di kursi dekat ranjang dia melihat wajah Diandra yang pucat.
"Diandra... Sayang bangunlah, aku minta maaf, aku mohon maafkan aku." Ucap Nik penuh sesal.
Lalu setalah beberapa menit akhirnya Diandra pun sadar, Nik yang melihat itu pun begitu senang sekali, Nik langsung menekan tombol bel untuk memanggil Dokter dan perawat,
"Alhamdulillah, Diandra sayang kau sudah bangun? " ucap Nik bahagia.
Setalah beberapa saat Dokter dan perawat pun datang ke kamar Nik dan langsung memeriksa keadaan Diandra.
"Bagaimana Dokter?" tanya Nik.
"Istri anda baik-baik saja Tuan, tidak perlu hawatir" jelas Dokter.
"Alhamdulillah, terima kasih Dokter" ucap Nik.
__ADS_1
"Tentu Tuan kami permisi dulu" ucap Dokter
Lalu Dokter dan perawat pun kembali meninggalkan ruang inap Diandra dan Nik.
"Hey..." Ucap Nik gugup.
Diandra hanya mematung tidak menjawab.
"Maaf, karena aku kamu jadi seperti ini, maafkan aku." Ucap Nik sambil menggenggam erat tangan Diandra.
Sungguh Nik sangat menyesal, harus melihat Diandra mengalami kecelakaan besar untuk yang kedua kalinya karena dirinya.
"Tadinya aku ingin melamarmu menjadi istriku, tapi aku tidak tahu semua akan menjadi seperti ini, aku minta maaf." Ucap Nik lagi, tapi masih tidak ada jawaban dari Diandra.
Nik melihat Diandra yang sejak tadi hanya diam membisu.
"Kau begitu marah marah padaku, sampai kau tidak ingin bicara denganku?" tanya Nik.
"Aku, minta maaf, aku mohon, katakan sesuatu jangan diam seperti ini." Ucap Nik.
Deg....
Hati Nik mulai diserang rasa takut.
"Ini sudah malam, dan kau baru sadar, jadi lebih baik kamu istirahat dulu, besok pagi kita pulang ya" pinta Nik.
"Tidak aku ingin pulang sekarang, dan aku yakin semua orang rumah pasti sedang menantikan kepulanganku." Ucap Diandra.
"Aku akan menghubungi mereka dan menjelaskan semuanya nanti, kau tidak perlu khawatir jadi....."
"Aku bilang aku ingin pulang" ucap Diandra menyela ucapan Nik.
"Jika kau tidak bisa mengantarkan aku pulang aku bisa pulang sendiri" ucap Diandra lagi.
Diandra berusaha bangun dari tidurnya dan dia juga mencoba mencabut sendiri jarum inpus yang menempel di tangannya, Nik yang melihat hal itu pun menyerah dan tidak ingin berdebat lagi dengan Diandra.
"Hentikan, baiklah kita pulang malam ini" ucap Nik sambil menahan tangan Diandra yang ingin mencabut jarum inpus dari tangannya.
__ADS_1
Dengan berat hati Nik pun memaksa Dokter untuk mengizinkan mereka pulang, dan dengan terpaksa Dokter pun mengizinkan Nik dan Diandra untuk pulang.
Nik dan Diandra pun meninggalkan rumah sakit malam itu, beruntung keadaan Diandra baik-baik saja, tapi tidak bagi Nik, dia harus pulang dengan luka di kepala, tangan dan kakinya, bahkan Nik harus menggunakan satu alat bantu jalan berupa jangka karena tulang kaki Nik yang mengalami sedikit cedera di kaki bagian kanannya.
Tepat pukul 11.00 malam Nik dan Diandra pulang kerumah kediaman keluarga Hans di Kanada.
Suasana rumah begitu sepi, pertanda bahwa orang-orang rumah sudah tertidur lelap.
Diandra berjalan cepat ke arah kamarnya tanpa berbalik melihat Nik atau pun mengkhawatirkan keadaan Nik.
Hati Nik begitu terasa kebas melihat Diandra yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya sendiri.
Huh.... Nik membuang nafasnya pelan dan mengusap wajahnya kasar.
Nik berjalan ke arah kamarnya dengan tertatih lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
"Cari tau siapa laki-laki itu" pinta Nik, lalu Nik menutup sambungan teleponnya.
"Aku tau kau begitu marah padaku, marahlah dan jangan maafkan aku, jika itu bisa membuatmu bahagia." Ucap Nik sambil melihat welpaper foto Diandra di ponselnya.
"NIk" panggil seseorang dengan begitu marahnya.
Nik melihat ke sumber suara dan ternyata itu adalah Hans.
"Tuan?" jawab Nik pasrah.
"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku Diandra hah jawab?" tanya uncle Hans marah.
"Maaf Tuan ini semua salahku" jawab Nik pasrah.
"Selama ini aku percaya padamu, tapi lihat apa yang sudah kau lakukan, kau hampir membuat putriku Diandra terluka." Ucap Hans lagi masih dengan kemarahan yang memuncak.
"Maaf Tuan" hanya itu yang dapat Nik ucapkan.
"Kau masih beruntung karena Diandra baik-baik saja, kalau saja dia sampai terluka parah, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri Nik." Ancam Uncle Hans.
"Maaf tuan" lagi-lagi hanya maaf yang bisa Nik ucapkan, tidak ada yang lain.
__ADS_1