Menemukanmu Adalah Takdirku

Menemukanmu Adalah Takdirku
BAB 75


__ADS_3

"Pagi hari yang menegangkan." Ucap Diandra dalam hati.


Setelah sarapan Diandra bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengeluarkan seisi lemarinya, Diandra sibuk mencari baju yang pas untuk dirinya tapi setelah satu demi satu baju yang Diandra coba, tetap saja Diandra tidak menemukan baju yang dia rasa pas untuknya saat ini.


"Ahhhh... Kenapa ini dari semua baju yang ada kenapa gak ada satupun yang bagus, ih menyebalkan" gerutu Diandra.


"Apa aku beli baju aja dulu ya" celotehnya lagi.


"Ya ampun Diandra, kamu apa-apa sih, kamu kan udah bertekad untuk melupakan kak Nik bukan untuk mendekat pada kak Nik" ucap Diandra lagi.


"Okh Diandra ambil napas keluarkan, sekali lagi" ucap Diandra monolog.


Setalah merasa dirinya tenang Diandra mengambil kemeja hitam miliknya beserta celana hitam dan di padukan dengan kerudung berwarna pink, lalu bergegas menggunakannya tak lupa riasan natural Diandra gunakan di wajah cantiknya.


"Baiklah siap, mari pergi Diandra" ucap Diandra menyemangati dirinya sendiri.


Sepatu kets warna putih melekat di kaki Diandra membawanya untuk masuk ke ruang kerja kenzo.


Tok tok tok.


"Kak?" panggil Diandra sambil membuka pintu ruang kerja kenzo.


"Masuk" jawab Kenzo.


"Ini berikan pada Nik" pinta Kenzo sambil memberikan beberapa map yang cukup tebal pada Diandra.


"Katakan padanya untuk memeriksa kembali semua berkas itu" ucap Kenzo lagi.


"Baiklah, aku pergi" ucap Diandra sambil berlalu pergi.


"Hati-hati" teriak Kenzo.


"Mommy, daddy aku berangkat ya" ucap Diandra setalah sampai di ruang tengah.


"Iya sayang hati-hati ya" jawab mommy Almira.


"Siap mom" jawab Diandra.


"Em Daddy apa boleh Diandra membawa mobil?" tanya Diandra ragu.


"Tidak, sopir akan mengantarmu sayang" jawab Daddy Darsi yang masih merasa takut jika Diandra harus kembali membawa mobil sendiri.


"Baiklah, aku pergi Assalamualaikum" ucap Diandra.

__ADS_1


"Waalaikum salam" jawab mommy dan Daddy.


Setelah cukup lama akhirnya Diandra sampai di rumah Nik, dengan perasaan yang gugup Diandrapun memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah keluarga Albar.


Rumah dua lantai yang cukup mewah dengan unsur classic membuat rumah itu terlihat sangat elegan.


"Nona sudah sampai" ucap sang sopir yang melihat Diandra hanya diam saja.


"Ah iya aku tahu, kamu tunggu di sini ya" ucap Diandra.


"Baik nyonya" jawab sang sopir.


"Assalamualaikum" ucap Diandra yang langsung masuk karena memang pintu rumah terbuka lebar.


"Nona muda" ucap Marco Albar yang tak lain adalah ayah Nik.


"Em.. Uncle Marco, aku datang untuk memberikan ini pada kak Nik" ucap Diandra langsung terus terang.


"Masuklah dan berikan langsung pada Nik dia ada di kamarnya" jawab uncle marco sambil tersenyum.


"em... Uncle, aku...."


"Masuklah nak, uncle harus pergi ke pernikahan anak teman uncle hari ini." Ucap uncle marco tanpa mendengar Diandra bicara.


"Tapi.. Uncle....." ucap Diandra yang di abaikan Uncle merco.


"Ah... Kenapa rasanya seperti aku memasuki kadang macan sih" ucap Diandra mendadak lesu.


"Tau gini aku gak mau datang ke sini" ucap Diandra lagi.


"ini juga Kenapa mendadak gak ada satu pelayanpun yang terlihat" gerutu Diandra.


Dengan perasaan tak menentu Diandra memberanikan diri naik ke lantai dua di rumah Nik, di lihatnya ada satu pelayan wanita yang sedang mengepel lantai.


"Maaf permisi, bisa tolong panggilan kak Nik." Pinta Diandra.


"Ah... Maaf nona saya tidak berani, tuan Nik sangat tidak suka jika harus di ganggu kecuali oleh tuan besar" jawab pelayan wanita tersebut sambil menunduk.


"Em siap namamu?" tanya Diandra.


"Nama saya wulan nona" jawab pelayan tadi tersenyum ramah.


"Begini wulan, tolong kau panggilkan kak Nik dan katakan Diandra datang untuk memberikan beberapa berkas penting padanya." Pinta Diandra.

__ADS_1


"Maaf Nona saya tidak berani" jawab wulan yang memang terlihat sedikit ketakutan.


"Kenapa tidak berani?" tanya Diandra yang merasa penasaran.


"Di rumah ini tuan Nik melarang siapapun untuk masuk ke dalam kamarnya dan hanya kepala pelayan yang boleh membersihkan kamar Tuan Nik." Jawab wulan.


"Benarkah, Kalau begitu panggilkan kepala pelayanannya." Pinta Diandra.


"Maaf Nona kepala pelayan sedang pergi keluar" jawab wulan lagi.


"Nona coba masuk saja ke dalam kamar tuan muda" ucap Wulan.


"Tunggu siapa kamu boleh mengizinkan tamu ini masuk ke dalam kamar tuan muda?" tanya pelayanan wanita lain yang tiba-tiba datang dari arah kamar yang sudah dia bersihkan.


"Nona tolong datanglah di lain hari, jika melihat hari ini sepertinya tuan sedang tidak bisa di ganggu." Ucap pelayan ke dua


Mendengar kata pengusiran secara tidak langsung membuat Diandra kesal, pasalnya tidak ada yang berani mengusir Diandra di sepanjang hidupnya.


"Katakan di mana kamarnya?" tanya Diandra.


"Nona sebaiknya anda pulang tolong jangan membuat kami jadi di marahin nantinya" ucap pelayan wanita itu.


"Aku tanya sekali lagi di mana kamarnya kak Nik?" tanya Diandra lagi.


"Di sana" jawab wulan.


"Nona anda tidak boleh masuk" ucap pelayan wanita yang satunya.


"Kenapa kau melarangku masuk, bagaimana kalau aku adalah orang yang sangat penting bagi kak Nik?" tanya Diandra


"Tidak mungkin bahkan sahabat wanita terdekat taun Nik saja dilarang langsung untuk masuk, apa lagi anda." jawab pelayan ke dua.


"Baiklah mari kita lihat apakah tuanmu yang dingin itu akan mengusirku atau tidak?" tanya Diandra menantang.


Diandra pergi dengan langkah yang lebar ke arah pintu kamar Nik.


Di ketuknya pintu kamar Nik dengan keras.


Tok tok tok....


Membuat kedua peyalan wanita yang melihatnya langsung mendadak gemetar, tak di pungkiri Diandrapun sebenarnya merasa ketakutan setengah mati, dan dia akan sangat malu jika Nik ternyata benar akan marah dan mengusirnya di depan para pelayan Nik.


Ceklek...

__ADS_1


DEG....


__ADS_2