
Kini Kenzo, Zia dan Ziko telah sampai di rumah utama Keluarga Maliq, mommy Almira menyambut ke tiganya dengan suka cita.
Nampak wajah-wajah bahagia dari Daddy Darsi, Mommy Almira dan Diandra dalam menyambut kedatangan ketiganya.
Ya semenjak oma mariam dan opa Ibrahim memutuskan untuk tinggal di Kanada bersama Han dan istrinya lusy rumah keluarga Maliq selalu nampak sepi, kini kesepian itu akan berubah menjadi kehangatan setalah mendatang Kenzo, Zia dan Ziko.
"Zia sayang gimana kabar kamu nak?" tanya mommy Almira sambil memeluk Zia.
"Aku sangat baik mommy" jawab Zia.
"Mommy, mommy peluk aku" ucap Ziko.
"Ah.. Tentu saja sayang" jawab mommy Almira sambil memeluk Ziko.
"Sudah-sudah ayo masuk" ucap Daddy Darsi yang sepertinya tidak rela mommy Almira memeluk Ziko.
"Ah iya ayo-ayo masuk" jawab Mommy Almira yang memang cukup peka dengan keadaan.
Kenzo, Zia dan Ziko pun masuk ke dalam rumah, mereka semua duduk di ruang keluarga, sementara pelayanan membawa semua koper ke kamar masing-masing.
"Kak Zia, Kak Ziko kalian harus coba salad buah buatan Diandra, ini aku buatkan khusus buat kalian." Ucap Diandra antusias.
Diandra memberikan semua masing-masing satu mangkuk ditangan Zia dan Ziko.
"Hey untukku mana?" Protes Kenzo yang tidak kebagian.
"Untuk kakTua bawa aja sendiri ya di dapur hehehe" ucap Diandra dengan entengnya.
"Kau ini selalu saja" ucap Kenzo.
"Wah Diandra ini enak sekali seger lagi.. Emmm.. Enak pake banget" Ucap Zia sambil makan dengan lahapnya.
"Hey... Kak ipar makanlah dengan perlahan aku tidak akan mencuri makananmu" ucap Diandra.
"Abisnya ini enak sekali" jawab Zia.
"Ya sudah habiskan makananmu, lalu kita Istirahat di kamar ya" ucap Kenzo.
Zia hanya menjawab dengan anggukkan kepala saja.
Setalah salad buah Zia habis Zia dan Kenzo langsung pamit untuk beristirahat ke kamar mereka, begitupun dengan Daddy dan Mommy Almira yang pergi untuk jalan-jalan di taman.
Kini hanya tinggal Diandra dan Ziko saja di ruang keluarga, Ziko sangat antusias ingin memainkan alat musik yang ada di ruang keluarga tersebut, di sana ada Piano yang berukuran besar, dan satu biola.
"Diandra ayo kita main itu" ajak Ziko sambil menunjuk ke arah Piano.
__ADS_1
"Kak Ziko mau main piano?" tanya Diandra.
Ziko mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah ayo kita main" ajak Diandra.
Mereka berdua duduk di depan piano, jari jemari Diandra begitu lincah dalam memainkan piano.
Diandra mengajarkan Ziko cara bermain piano dengan membuat nada lagu Bintang Kecil.
Cukup sulit Diandra mengajari Ziko tapi dia tetap sabar membimbing Ziko hingga akhirnya Ziko bisa memainkan pianonya sendiri.
"Hore.. Berhasil" ucap Ziko sambil memeluk Diandra.
"Iya Hore kak Ziko berhasil" ucap Diandra pula antusias.
Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang cukup tajam melihat Ziko dan Diandra berpelukan, wajahnya menujukan raut ketidak sukaanya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Ekehmm..." ucapnya.
Diandra refelek melepaskan paksa pelukan Ziko saat melihat sosok laki-laki yang bertubuh tinggi tegap tengah memandangnya dengan tatapan yang tidak menyenangkan.
"Kak Nik" ucap Diandra sedikit takut.
"Nona bisa kita bicara sebentar?" tanya Nik dengan masih memasang wajah tak ramah.
"Tidak boleh kita kan sedang bermain piano, benarkan Diandra?" ucap Ziko.
"Em... Em.." Diandra mulai bingung harus jawab apa.
"Nona muda?" ucap Nik lagi.
"Tidak boleh, pokoknya Diandra tidak boleh pergi." Tolak Ziko.
Huffff...
Nik menghembuskan nafasnya pelan.
"Ayo kita lanjutkan mainnya lagi" ucap Ziko.
"Ah... Iya ayo" jawab Diandra, dan tanpa Diandra sadari ucapannya sudah membuat Nik semakin marah padanya.
"Diandra, bisa kita bicarakan sebentar?" tanya Nik pelan tapi penuh penekanan.
__ADS_1
DEG...
Mendengar Nik memanggil namanya bukannya membuat Diandra senang tapi justru malah membuat hati Diandra kotar-katir tak karuan.
"Kak Ziko, kakak tunggu sebentar ya, nanti aku kembali ok." Bujuk Diandra.
"Aku tidak mau, Diandra jangan pergi." Tolak Ziko.
"Baiklah aku tidak akan pergi" jawab Diandra.
Mendengar itu Nik sangat kesal bukan main, tanpa mengatakan apapun lagi Nik langsung pergi dari ruang keluarga menuju ke ruang makan dengan perasan kesal dan cemburu yang menjadi satu.
"Hey.. Dia pergi, apa dia marah?" tanya Diandra dalam hati.
"Emang apa urusannya dengan ku kalau dia marah yakan..." Ucap Diandra lagi dalam hati.
"Tapi kenapa aku jadi gak tenang gini ya... Ahh.. Aduh..." Gerutu Diandra dalam hati lagi.
🌺🌺🌺🌺
Ceklek...
Suara pintu kamar terbuka.
"Wah suamiku ini kamarmu?" tanya Zia.
"Kamar kita" jawab Kenzo sambil duduk di sofa.
Ini adalah pertama kalinya Zia masuk ke dalam kamar Kenzo, karena setalah menikah Kenzo langsung membawanya pindah, jadinya Zia tidak pernah masuk ke kamar Kenzo sebelumnya.
Kamar yang di dominasi dengan warna hitam dan abu itu menunjukkan kesan maskulin yang sangat kuat, Zia sungguh kagum melihat kamar Kenzo saat ini.
Kenzo melihat Zia yang masih mematung dan mengamati kamar lamanya pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Zia sambil memeluknya dari belakang.
"Apa kau lelah?" tanya Kenzo.
Zia mengangguk..
"Kalau begitu kita Istirahat ayo.." Ajak Kenzo sambil menuntun Zia ke tempat tidur.
Mereka berdua berbaring di atas tempat tidur, Zia berbaring diatas ranjang dengan menjadikan lengan tangan Kenzo sebagai bantalnya, dan Kenzo memeluk Zia sambil mengusap-usap punggung Zia.
"Tidur lah" ucap Kenzo.
__ADS_1
"Emm.." jawab Zia sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Kenzo.