Menemukanmu Adalah Takdirku

Menemukanmu Adalah Takdirku
BAB 56


__ADS_3

Di dalam mobil Zia tidak henti menangis di pelukan Kenzo, dia terus menangis dengan suara kencang sampai tersedu-sedu.


"Sudahlah sayang jangan menangis lagi, apa kau tidak lelah, untuk apa kau menangisi mereka, sangat di sayangkan air matamu hanya untuk menangis mereka." Ucap Kenzo.


Sudah berulang kali Kenzo meminta Zia untuk berhenti mengis tapi Zia sama sekali tidak mehiraukannya, hingga akhirnya kini mereka telah sampai di rumah.


"Zia, hentikan jangan menangis lagi" ucap Kenzo karena sudah kesal pada Zia yang tidak mau mendengarnya.


"Kau memanggilku apa?" tanya Zia di sela-sela tangisannya.


"Berhenti mengis, lihat sekarang kita sudah sampai di rumah." Ucap Kenzo.


"Bukan, tadi kau memanggilku apa?" tanya Zia dengan raut wajah yang sudah berubah dengan mode ngambeknya.


"Zia" ucap Kenzo.


"Kenapa kau memanggilku Zia?" tanya Zia galak.


"Memang namamu Zia bukan?" jawab Kenzo.


"Iya namaku memang Zia" ucap Zia sambil turun dari dalam mobil dan membanting pintunya keras.


Kenzo sampai terlonjak kaget sekaligus sangat heran dengan perubahan sikap Zia,


"Tadi dia begitu sedih dan tidak berhenti menangis tapi sekarang dia malah marah, sebenarnya ada apa dengannya?" tanya Kenzo.

__ADS_1


"Saya tidak tahu tuan" jawab Nik.


"Ah sudahlah" ucap Kenzo sambil turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.


Nik pun ikut masuk ke dalam rumah Kenzo karena berniat mengambil berkas pekerjaan yang di simpan di ruang kerja kenzo.


Nik menghentikan langkahnya tepat di belakang tubuh wanita yang selalu dia rindukan di setiap detiknya, siapa lagi kalau bukan Diandra.


Diandra nampak bingung melihat Zia yang pulang dengan wajah sembab, dan juga terlihat marah, Diandra di tambah bingung lagi saat Kenzo datang dan langsung mengejar Zia yang masuk ke dalam rumah.


"Ada apa dengan mereka, apa mereka sedang bertengkar?" tanya Diandra sambil melihat Kenzo yang berlari menaiki tangga ke lantai atas.


"Ehem" ucap Nik.


"Ah.." ucap Diandra kaget sambil melihat ke arah sumber suara.


Melihat ada Nik di depannya Diandra langsung merubah sikapnya dengan wajah yang super jutek.


"Bagaimana kabar anda Nona?" tanya Nik.


"Seperti yang kau lihat aku baik" jawab Diandra ketus.


Melihat sikap Diandra dan cara bicaranya yang terlihat jutek, bukannya membuat Nik marah tapi justru malah membuat Nik semakin gemes milihatnya.


"Syukurlah kalau begitu Nona, em.. Kalau begitu saya permisi" ucap Nik.

__ADS_1


"Hem" jawab Diandra so cuek.


Saat Nik akan pergi Diandra teringat akan keadaan Zia dan Kenzo, lalu tanpa sadar Diandra menarik lengan kekar Nik yang terbalut Jas berwarna hitam untuk menghentikan kepergian Nik.


"Tunggu, itu tadi... Kak Zia sama Kak Kenzo kenapa? Apa mereka bertengkar?" tanya Diandra dengan wajah penuh rasa pemasaran.


"Terus kenapa mereka bisa bertengkar?" tanya Diandra lagi.


Nik menghentikan langkahnya, sambil sedikit tersenyum simpul bahkan hampir tak terlihat.


"Em.. Nona Zia dan Tuan Kenzo sebenarnya..." ucap Nik teropong karena begitu gemes melihat raut wajah Diandra yang begitu manis saat di penuhi rasa penasaran.


"Sebenarnya apa?" tanya Diandra dengan penuh rasa penasaran.


"Sebenarnya tidak apa-apa" jawab Nik berbohong.


"Tidak apa-apa bagaimana, tadi tuh Kak Zia kaya habis nangis gituh terus juga dia kayanya lagi sangat marah, mereka pasti bertengkar kan?" tanya Diandra lagi.


"Entahlah saya tidak tahu" jawab Nik berbohong.


"Hey.. hey.. Bukankah kalian tadi bersama tidak mungkin kak Nik tidak tahu apapun" jawab Diandra.


Nik begitu senang mendengar Diandra memanggilnya dengan sebutan kak Nik lagi.


"Itu urusan mereka sebaiknya anda tidak perlu terlalu ikut campur urusan orang lain, apalagi bila tidak diberi hak untuk berbicara" jawab Nik.

__ADS_1


"Hah.. Kau benar, aku tidak punya hak untuk ikut campur, lagi pula mana aku mengerti masalahnya, apalagi masalah cinta, aku mana mengerti hal itu, ya.. Mungkin itulah mengapa aku selalu gagal dalam cinta" ucap Diandra.


__ADS_2