
Diandra mulai menyuapi Nik, yang awalnya Diandra sangat kesal tapi lama-kelamaan Diandra mulai luluh apalagi saat Nik berulang kali mencandainya dengan kata-katanya, Diandra bahkan dibuat terheran dengan perubahan sikap Nik, dilihatnya wajah yang terbiasa datar dan dingin itu kini berubah menjadi wajah yang penuh seyuman bahkan terlihat hangat dan menenangkan.
"Apa kau sudah makan?" tanya Nik.
"Aku... Sudah" jawab Diandra berbohong.
"Benarkah?" tanya Nik lagi.
"Iya.. Sudah jangan banyak bicara terus dan cepat habiskan makananmu" jawab Diandra lagi.
"Baiklah ikuti apa kata nona muda" celoteh Nik.
Diandra hanya memutar bola matanya malas.
"Ayo satu suapan lagi" ucap Diandra.
"Hem.."Jawab Nik sambil mengangguk
"kalau dia seperti ini terus mana bisa aku melupakannya dan semua usahaku untuk menjauh darinya hanya akan sia-sia saja, apa yang harus aku lakukan? Pikiranku berkata jauhi tapi hatiku berkata jangan dan tetaplah di sampingnya seperti ini!" Ucap Diandra dalam hati.
Saat mereka tengah asik bercanda dengan semua sikap humoris Nik yang datang secara tiba-tiba, membuat mereka berdua tidak sadar akan kedatangan dua orang yang tengah melihat canda tawa Nik dan Diandra, hingga akhirnya suara deheman seseorang memecah kedekatan Nik dan Diandra yang baru saja terjalin.
"Ehem..." serunya.
Baik Nik maupun Diandra kaget bukan main saat melihat dua orang yang betubuh tegap berdiri tak jauh dari pintu masuk.
"Da... D.. Daddy" ucap Diandra terbata dan langsung berdiri.
Suapan terahir yang Diandra berikan harusnya menjadi suapan yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagian bagi Nik, tapi kini suapan terakhir itu mulai terasa hambar dan sulit untuk Nik telan karena begitu kaget sekaligus cemas melihat kedatangan Daddy Darsi dan Papanya di hadapannya.
Nik berdiri mengsejajarkan dirinya dengan Diandra yang mulai gemetar ketakutan, Nik bahkan harus menelan bulat-bulat makanan yang masih tersisa di mulutnya.
Tanpa mengatakan apapun Daddy Darsi melangkah ke meja kerja Nik dan di ambilnya air putih dalam gelas yang tersedia di sana, lalu membawanya dan menyerahkannya pada Nik.
__ADS_1
"Minumlah, atau kau akan tersedak" ucap Daddy Darsi.
Ya benar saja Nik saat ini sedang menahan rasa sakit di tengkuknya dan di dadanya akibat menelan makan bulat-bulat tanpa di kunyah terlebih dahulu.
"Terimakasih tuan" ucap Nik sambil menerima gelas berisi air putih dari tangan Daddy Darsi.
Nik kembali duduk di sofa dan meneguk air putih dalam gelas di tangannya dengan begitu cepat, lalu menaruh gelas kosong tersebut di atas meja dan kembali berdiri.
"Apa yang kau lakukan di sini sayang?" tanya Daddy Darsi.
"Em... Aku.. Aku..." Diandra sungguh tidak bisa mengatakan apapun dari mulutnya dia terlalu tegang dan takut pada Daddynya.
Alasan pertama di karenakan selama ini Diandra hanya menyimpan rasa cinta pada Nik sendirian dan tidak seorangpun yang tahu, kecuali kenzo dia tahu dengan sendirinya, semua ini karena Diandra takut kalau Daddynya tidak akan setuju dengan hubungannya dengan Nik, jika pun mereka benar bersama,
Dan alasan ke dua yang paling Diandra takuti adalah jika Daddynya tahu dan menyetujui hubungannya dengan Nik, Diandra takut Daddynya akan memaksakan kehendaknya yang membuat Nik harus menerimanya tanpa Cinta yang tulus dari Nik, apalagi jika melihat sikap Nik padanya yang begitu dingin dan seperti menganggap Diandra tidak pernah ada.
Dua hal itu yang selalu menjadi sumber ketakutan Diandra paling besar dari keluarganya, beda cerita lagi jika Nik membalas cintanya mungkin Diandra akan memperjuangkan hubungannya dengan Nik walau apapun resikonya, tapi kenyataannya Diandra hanya tahu kalau Nik tidak pernah mencintainya dan hal itu menambah luka di hati Diandra.
"Maaf Tuan, Tuan Sodiq dari P Commpany sudah sampai dan mereka sudah ada di parkiran Tuan" ucap Alvin menyelamatkan ketegangan Nik dan Diandra saat ini.
"Huuh Alvin terimakasih" ucap Nik dalam hati.
"Persiapkan sambutan atas kedatangan mereka dan langsung bawa mereka ke ruang rapat, jangan lupa jamu mereka." Ucap Daddy Darsi.
"Baik tuan" jawab Alvin.
"Sayang pulanglah, kasihan Pak ahmad jika harus menunggu terlalu lama di parkiran" pinta Daddy Darsi.
"Em.. Iya Daddy" jawab Diandra.
"Nik aku tunggu kau di ruang kerja kenzo dan bawa semua berkas untuk rapat hari ini" ucap Daddy Darsi.
"Baik tuan" jawab Nik.
__ADS_1
Dengan cepat Diandra mengambil tas nya dan tak lupa menyimpan ponsel milik Nik di atas meja yang tadi sempat dia rampas dan dia masukan ke dalam saku bajunya.
Daddy Darsi jelas melihat Diandra mengeluarkan ponsel Nik dari dalam saku bajunya dan menyimpannya dia atas meja, lalu dia hanya memandangi putrinya sambil menggelangkan kepala.
"Aku pulang dulu daddy" ucap Diandra.
"Iya pergilah" jawab Daddy Darsi.
Dilihatnya Nik terlebih dahulu sebelum benar-benar melangkah pergi, Nik yang sadar akan apa yang di pikirkan Diandra hanya menganggukkan kepalan saja pada Diandra seolah mengatakan,
"Semua akan baik-baik saja tidak perlu khawatir" begitulah kira-kira arti anggukkan kepala Nik.
Lalu Diandra pun pergi dari ruangan Nik dengan hati yang begitu cemas.
"Aku menunggumu Nik" ucap Daddy Darsi.
"Em.. Saya meminta izin untuk Sholat Dzuhur terlebih dahulu tuan, setelah itu saya akan datang." Ucap Nik yang memang belum melaksanakan Sholat Dzuhur.
"Ya..." Jawab Daddy Darsi sambil berlalu pergi dari ruangan Nik.
Nik terduduk lemas di sofa dia memegangi lututnya yang masih terasa gemetar,
"Kenapa papa tidak memberi tahu jika akan datang?" tanya Nik pada papa Marco yang masih berdiri di ruangannya.
"Papa sudah memberi tahu mu lewat pesan kalau hari ini tuan Darsi akan menggantikan Tuan muda untuk rapat kerja sama dengan P Commpany." ucap Papa Marco.
"Tapi bagaimana kau akan membuka pesanku kalau kenyataannya ponselmua tidak ada padamu dan malah ada di saku nona muda" ucap papa Marco lagi.
Nik tidak menjawab apapun lagi atas semua perkataan papanya.
"Cepatlah, tuan Darsi tidak pernah suka menunggu orang terlalu lama" ucap papa Marco sambil berlalu pergi dari ruangan Nik.
"Ada apa denganku biasanya juga tidak pernah seperti ini kalau berhadapan dengan Tuan Darsi, tapi kali ini Astaghfirulloh aku berasa jadi tersangka atas sebuah kejahatan, lebih baik aku sholat dulu saja." Gerutu Nik sambil bersiap untuk berwudhu.
__ADS_1