
Huffff... Zia menghembuskan nafasnya pelan.
"Jadi Ayah dan Ibu kandunganku tidak pernah menikah?" tanya Zia.
Dan Ayah Agung hanya menggelengkan kepalanya.
"Bagi ibu mu aku tetaplah seorang sopir, Kalau pun ada yang berubah aku hanya pengasuh bagimu dan Ziko saat dia pergi bekerja" ucap Ayah Agung.
"Jadi ini alasannya kenapa kau selalu membiarkan istri dan anakmu menyiksa diriku dan Adikku" bentak Zia dengan emosi yang kembali menguasai dirinya.
"Kau bahkan tidak pernah sekalipun melarang mereka menyiksa kami, dan kau bahkan tidak pernah membela kami, jadi... Hiks...hiks.. Ini alasannya, karena aku bukan Anakmu iya?" tanya Zia dengan emosi yang luap-luap.
"Tidak.. Zia Ayah sebenarnya tidak...."
"Tidak apa?" betak Zia memotong perkataan Ayah Agung.
"Tidak peduli, iya kan?" ucap Zia lagi.
"Hentikan Zia, kau dan adikmu memang pantas untuk di siksa, karena kalian telah merebut kebagianku dan ibuku, asal kau tahu, Ayahku selalu menjagamu dan Ziko saat ibumu pergi bekerja, tapi ibuku dia harus menjagaku sendiri di rumah, dan itu karena kalian" ucap sisil.
"Hoh, jadi apa yang kalian lakukan adalah misi balas dendam padaku dan Adikku?" tanya Zia.
"Anggap saja begitu" jawab sisil.
"Apa sekarang sudah inpas?" tanya Zia.
"Penderitaan kalian hanya satu sampai tiga tahun saja, tapi penderitaanku harus bertahun-tahun, jadi apa semua penderita yang ibu ku lakukan pada kalian sudah inpas?" tanya Zia lagi.
__ADS_1
"Ya.. Semuanya sudah inpas Zia, sejujurnya aku belum puas melihatmu menderita, tapi setalah apa yang sudah terjadi akurasa mungkin sudah inpas" jawab Sisil.
"Sisil diamlah" ucap ibu.
"Ayah bilang, Ayah tidak pernah menikah dengan ibuku bukan, itu artinya kalian semua tidak punya hak sedikitpun atas harta ibuku dan juga atas rumah ini" ucap Zia megelegar menusuk di telinga sisil dan ibu Helena.
Kenzo tersenyum puas atas apa yang di ucapkan Zia istrinya, begitu pun dengan Nik.
"Ibuku membangun bisnisnya sendiri, dengan uangnya sendiri, dan rumah inipun pasti atas nama ibuku, jadi kalian sama sekali tidak punya hak sepeserpun di sini." Ucap Zia lagi.
"Jika aku jadi kalian aku akan sangat malu telah mengambil hak orang lain dan menyiksa si pemilik hak tersebut bahkan sampai beritahun-tahun, sungguh ini adalah perbuatan kriminal, dan tempat terbaik untuk orang seperti kalian adalah penjara" imbuh Zia.
Ibu Helena dan sisil yang mendengar itu langsung kaget dan saling tatap, sungguh Zia sudah sangat berubah dari Zia yang dulu yang sering mereka siksa, walaupun dulu Zia memang sering melawan, tapi Sisil dan ibu Helena masih selalu bisa mengalahkannya dengan menggunakan Ziko, tapi sekarang mereka tidak punya senja apapun untuk menjatuhkan Zia.
"Kau tidak akan biasa melakukan itu Zia" betak sisil.
Sisil tidak bisa menjawab lagi perkataan Zia karena apa yang di katakan Zia sungguh benar adanya, kini Zia di lindungi oleh Kenzo yang sudah menjadi suaminya, dan Kenzo bukanlah orang biasa, dia adalah salah satu orang terkaya di negara ini, dengan kekayaannya Kenzo bisa melakukan apapun.
Ayah agung hanya bisa tertunduk malu, dan tidak berani memandang Zia ataupun mengatakan apapun lagi pada Zia.
"Selama ini aku sangat menghormatimu Ayah, walaupun kau tidak pernah peduli padaku dan Ziko, karena selama ini aku kira kau benar-benar ayah kandungku, tapi sekarang kau benar-benar menghancurkan rasa hormatku padamu" ucap Zia.
"Suamiku kita pulang aku sudah tidak mau melihat mereka lagi" ucap Zia.
"Jadi kapan Kau ingin membuang mereka ke sungai Amazon? aku dengan senang hati akan melakukannya untukmu sayang." Ucap Kenzo.
Ibu Helena dan sisil sudah mulai gemetar ketakutan, walaupun Kenzo mengatakannya dengan suara yang rendah tapi dari nada bicarakannya, terdengar nada ancaman yang membuat Ibu Helena dan Sisil yang mendengarnya gemetar ketakutan.
__ADS_1
Sementara Ayah Agung nampak sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanyan.
"Terserah padamu, aku sudah jengah melihat mereka, aku ingin pulang" pinta Zia.
"Baiklah sesuai keinginanmu sayang" jawab Kenzo.
"Nik" ucap Kenzo.
"Baik tuan" jawab Nik.
Tanpa permisi Kenzo dan Zia langsung pergi dari rumah tersebut, kini hanya tinggal Nik yang menghadapi keluarga Ayah Agung.
Nik dengan sendirinya mengeluarkan Aura dingin penuh intimisadi yang memenuhi seluruh penjuru ruangan, membuat siapapun merasa takut dan gemetar hebat.
"Langsung saja, yang pertama kalian di beri waktu selama dua hari untuk mengosongkan rumah ini, karena rumah ini mutlak milik Nona Zia Hussain dan tuan Ziko Hussain, dan kalian tidak punya Hak sebutir pasirpun atas rumah ini" ucap Nik.
"Yang Kedua, Kalian juga tidak punya Hak atas perusahaan yang di dirikan oleh Nyonya Amerta Hussain, jadi aliran dana yang ada di dalam buku tabungan kalain sudah kami bekukan"
"Atas kebaikan Tuan Kenzo, dan nona Zia, kalian di perbolehkan membawa pergi barang berupa pakaian dan perhiasan yang sudah kalian beli dengan harta nona Zia, anggap saja itu sebagai tanda terimakasih pada Tuan Agung sebagai pengsuh nona Zia dan tuna Ziko yang sudah membesarkan Tuan Ziko dan Nona Zia selama ini."
"Yang Ketiga pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah kembali, jika kalian bertemu di jalan maka kalian harus cepat pergi dan di larang bertanya apapun, jika kalian melanggar maka kalian akan mendapatkan balasan yang tidak pernah kalain bayangkan, dan mungkin kalian benar-benar akan kami buang ke sungai Amazon" ucap Nik panjang lebar.
"Kalian mengerti?" ucap Nik.
Karena sangking takutnya ibu Helena, sisil, dan Ayah Agung, pada Nik membuat ketiganya diam dan tidak berani menjawab, ketiganya hanya mengangguk tanda mengerti.
"Kalau begitu, saya rasa sudah tidak ada lagi yang perlu di permasalahankan, ingat jangan pernah mencoba mengambil lebih dari yang sudah di berikan, karena saya pasti akan mengetahui hal itu, saya sudah menghitung semua harta nyonya Amerta, jadi jika hilang satu rupiah saja dari yang semestinya, maka kalian sudah di pastikan akan masuk penjara dengan hukuman berlapis" ancam Nik.
__ADS_1