
Di kediaman Malik Indonesia.
"Sayang kau habis bicara dengan siapa?" tanya Kenzo yang baru saja memasuki kamarnya.
"Aku habis bicara dengan Iren di telepon, dia bilang sudah berada di Kanada." Jawab Zia sambil menyambut pelukan hangat yang di berikan Kenzo padanya.
"Iren sahabatmu itu?" tanya Kenzo lagi sambil menciumi pipi Zia dengan lembut.
"Iya, Iren sahabat ku, memeng Iren yang mana lagi." Jawab Zia sambil terkekeh.
"Sayang kau tidak memberi tahu pada Iren kalau Nik dan Diandra sedang berada di Kanada kan?" tanya Kenzo memastikan.
"Ah... Aku sudah memberi tahunya, karena dia bertanya padaku kenapa Nik tidak pernah menjawab telepon darinya dan juga tidak membalas pesan darinya juga, ya aku beritahu saja yang sebenarnya kalau Nik dan Diandra sedang berada di Kanada, lalu dia bergegas pergi menyusul Nik ke Kanada." Jelas Zia dengan polosnya.
"Apa, sayang kau... Kau memberitahu Iren?" tanya Kenzo lagi.
"Iya memangnya kenapa?" tanya Zia tidak mengerti.
"Lagi pula Iren mengatakan padaku kalau dia sangat menyukai Nik, dan aku sangat mendukung Iren untuk dekat dengan Nik" jawab Zia.
"Sayang... Iren mengatakan itu padamu? Dan kau mendukungnya?" tanya Kenzo tak percaya.
" Iya memangnya kenapa? Bukankah itu hal bagus" jawab Zia yang memang tidak mengetahui apa pun.
"Huh...." Kenzo membuang napasnya kasar.
"Sayang dengarkan aku, mulai sekarang aku melarangmu untuk ikut campur lagi dengan apa pun tentang hubungan Nik dan sahabatmu Iren, kau mengerti?" tutur Kenzo lembut.
"Memangnya kenapa, apa salah bila aku mendukung sahabatku untuk mendapatkan cintanya?" Tanya Zia tidak terima.
"Tidak sayang, tapi untuk kali ini tolong jangan ikut campur tentang pilihan hidup Nik, karena aku pun tidak pernah berani mencampuri urusan pribadinya, jadi biarkan Nik menentukan sendiri pilihan hidupnya, kita tidak perlu ikut campur." tutur Kenzo memberi pengertian pada Zia dengan nada yang di buat selembut mungkin agar Zia mengerti.
" Tapi suamiku aku harus membatu Iren untuk bisa dekat dengan Nik, karena Iren selalu mengeluh karena sulitnya mendapatkan perhatian Nik." Jawab Zia.
__ADS_1
"Sayang, jika aku bilang jangan ikut campur ya berarti jangan ikut campur, biarkan Nik sendiri yang menentukan siapa yang akan dia pilih sebagai pendamping hidupnya." Perintah Kenzo.
"Tidak bisa suamiku, aku sudah berjanji pada Iren bahwa aku akan membantunya untuk bisa dekat dengan Nik, dan aku pun sudah berjanji padanya bahwa kau pun akan membatuku untuk menjodohkan Iren dan Nik." Jawab Zia dengan lantang.
"Apa... Kenapa Kau mengatakan sebuah janji tanpa bertanya terlebih dahulu padaku?" tanya Kenzo tak menyangka.
"Karena aku pikir kau pun akan setuju suamiku" tukas Zia.
"Dan aku tidak mau tau kau pun harus membatu Iren agar bisa berjodoh dengan Nik." Pinta Zia penuh paksaan.
"Tidak, aku tidak akan pernah mau melakukan itu, sejak dulu aku memang dekat dengan Nik, dan aku tau batasanku, aku tidak akan mencampuri urusan pribadi Nik, kecuali dia sendiri yang memintanya padaku." Jelas Kenzo.
"Baiklah jika kau memang bersih keras tidak mau membantu ku, maka aku akan berusaha sendiri, aku akan menyingkirkan semua wanita yang berani mendekati Nik, dan aku sendiri yang akan memastikan bahwa sahabatku akan berjodoh dengan Nik." Ucap Zia dengan menggebu-gebu.
" Kau sadar dengan ucapanmu?" tanya Kenzo tak percaya dengan sikap Zia barusan.
" Tentu saja aku sangat sadar dengan apa yang aku katakan, dan aku seriyus dengan ucapanku." Ucap Zia ketus.
" Tentu saja karena dia adalah sahabatku dan aku akan membelanya sampai kapan pun." Ucap Zia dengan pongahnya.
"Hentikan semua ini Zia atau kau akan mendapat masalah yang sangat besar" ucap Kenzo memperingati.
"Berikan aku alasan, kenapa aku tidak boleh mendukung hubungan Nik dan Iren sahabatku?" tanya Zia dengan nada marah.
"Kau ingin tau, baiklah akan aku beritahu, karena adikku Diandra sudah lama menaruh hati pada Nik dan aku rasa Nik pun merasakan hal yang sama seperti ADIKKU DIANDRA" Ucap Kenzo tegas sambil menekan taka adikku dan nama Diandra.
"Apa?" jawab Zia kaget.
"Itulah kenapa aku melarangmu ikut campur tentang hubungan Nik dan Iren" jelas Kenzo.
"Tapi Iren..." Ucap Zia.
"Jangan pernah lagi memihaknya sayang, biarkan Nik menuntukan pilihan hidupnya, atau kau akan di hadapkan dengan sebuah pilihan yang sulit, antara sahabatmu Iren atau Adik iparmu Diandra." tutur Kenzo panjang lebar.
__ADS_1
"Tapi.... " ucap Zia terhenti.
" Aku sungguh tidak pernah tau soal Diandra dan Nik" sambung Zia mulai menyesal.
Mendengar apa yang di ucapkan Zia tentang adiknya Diandra membuat Kenzo merasa kesal dan juga marah.
"Aku pikir kau sudah memahami adikku Diandra Zia, walau pun hanya sedikit, seperti bagaimana adikku Diandra yang selalu memahamimu dan adikmu Ziko,"
"Di setiap hari adikku Diandra selalu ada untuk memahami kalian walau pun, kalian tidak pernah mengatakan apa yang kalian inginkan, tapi adikku selalu mewujudkan apa yang kalian inginkan" tutur Kenzo.
"Tapi sepertinya kau sama sekali tidak pernah memahami adikku, atau jangan-jangan kau juga tidak pernah bisa memahami aku sebagai suamimu sendiri." Ucap Kenzo kecewa.
"Setalah melihat dan mendengar bagaimana kau membela sahabatmu aku rasa kau benar-benar akan menyingkirkan adikku seperti yang kau katakan." Ucap Kenzo sambil mendesah kecewa.
"Aku...." Ucap Zia bingung.
"Tapi lakukanlah, dukunglah sahabatmu itu Zia, seperti tadi, aku berjanji tidak akan pernah ikut campur dengan urusan mu dan sahabatmu, atau pun pada adikku sendiri."
"Aku hanya akan mendukung atas apa pun pilihan Nik, sekali pun mungkin dia akan memilih Iren atau pun orang lain, aku akan mendukungnya, dan aku akan menjadi kakak yang selalu menenangkan hati adikku dari kehancuran yang akan menguncang hidupnya, dan jika itu sampai terjadi aku akan melarangmu untuk kembali dekat pada adikku, karena nyatanya kau tidak pernah memahami adikku, bahkan aku ragu kau menganggapnya sebagai adik atau tidak." tutur Kenzo panjang lebar dengan penuh kekecewaan.
Sungguh Kenzo sangat kecewa pada Zia yang tidak mampu memahami Diandra, padahal Diandra selalu ada dan sigap membatu Zia dan Ziko dalam segala hal.
"Lakukanlah apa pun, terserah padamu, aku tidak peduli" ucap Kenzo sambil melangkah pergi dari kamar meninggalkan Zia dengan sejuta keterkejutannya atas apa yang di katakan Kenzo padanya.
"Suamiku, tunggu" pinta Zia tapi tak di dengar Kenzo.
"Ya Ampun kenapa jadi begini, Diandra? Kenapa sampai aku tidak bisa memahaminya, maafkan aku, suamiku aku mohon maafkan aku." ucap Zia pada dirinya sendiri sambil menyusul kepergian Kenzo.
Zia keluar dari dalam kamarnya dan mencoba menyelesaikan kesalah fahaman yang di buatnya pada Kenzo, dia mencoba menghampiri Kenzo tapi Kenzo bergegas pergi dari rumah dengan mobilnya entah kemana.
Zia mencoba menghubungi Kenzo tapi Kenzo tak kunjung mengangkat sambungan telepon darinya.
"Kenapa jadi begini, suamiku maafkan aku" ucap Zia sambil menahan air matanya agar tidak terjatuh.
__ADS_1