
Setelah beberapa lama Diandra sampai di sebuh Villa yang sudah dihias dengan begitu indah.
Sopir membukakan pintu mobil untuk Diandra, dengan perasaan yang campur aduk Diandra memberanikan diri untuk turun dari dalam mobil,
Setelah Diandra turun dari mobil, sang supir pun langsung membawa laju mobilnya pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, membuat Diandra kebingungan setangah mati.
Deg..
Deg...
Deg....
Dengan hati yang berdebar Diandra berjalan perlahan kearah pintu Villa yang terbuka.
Tok tok tok...
Diandra mengetuk pintu Villa yang dia datangi.
"Permisi..." Ucap Diandra sedikit gemetar.
"Permisi..." Ucap Diandra lagi karena sejak tadi tidak ada sahutan dari dalam.
"Apa aku salah tempat" ucap Diandra pada dirinya sendiri.
"Permisi... " tok tok tok " Kak Nik...?" panggil Diandra.
Karena tak kunjung ada orang yang menyambut, baik dari Nik atau pun orang lain, Diandra pun memberanikan diri untuk masuk kedalam Villa tersebut.
Dilihatnya Villa itu begitu sangat indah dengan hiasan yang sempurna, Diandra melangkahkan kakinya lagi ke dalam Villa dan di sana Diandra melihat ada sebuah meja makan yang sudah di hias dengan begitu cantiknya lengkap dengan hidangan yang sangat menggugah serela.
"Kau Sudah datang?" ucap seseorang dari belakang tubuh Diandra.
Deg...
Tubuh Diandra tiba-tiba mematung dan kaku, setelah mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya.
Tap...
Tap...
Tap...
Sebuh langkah seseorang mendekat ke arah Diandra.
__ADS_1
Diandra masih mematung di tempatnya dan tidak berani melihat seseorang di belakangnya, hingga akhirnya seseorang itu kini berada tepat di hadapannya.
Diandra masih bergeming melihat seseorang yang begitu gagah berdiri di hadapannya lengkap dengan pakaian semi formalnya.
"Kau datang terlambat" ucapnya.
"......." Diandra.
"Tapi kau sangat cantik" ucapnya lagi, sambil melangkah kembali ke belakang tubuh Diandra.
Dan dengan lancangnya seseorang itu berani memeluk Diandra dari belakang, hingga membuat Diandra terperanjat kaget.
"Kak Nik" ucap Diandra setalah sejak tadi membisu.
"Akhirnya kau bicara" ucap Nik, sambil kembali mengeratkan pelukannya pada Diandra, dan mencium wangi parfum has milik Diandra.
"Kau membuatku sesak" ucap Diandra.
Mendengar itu Nik melepaskan pelukannya.
Hening....
"Kau menghias ini sendiri?" tanya Diandra sambil melihat-lihat setiap sudut ruangan.
"Hem..." Jawab Nik.
"Kemarilah" pinta Nik, sambil mengulukan tangannya pada Diandra, tapi Diandra hanya diam tak menerima uluran tangan Nik.
Melihat itu Nik pun mendekati Diandra dan mengambil tangan Diandra mesra, pada saat Nik hendak mencium tangan Diandra, dengan cepat Diandra langsung menarik tangannya dari tangan Nik, dan berjalan menuju meja makan dan menduduki kusi yang sudah ditarik Nik untuknya tadi.
Melihat itu Nik hanya tersenyum simpul dan duduk tepat di samping Diandra.
"Makanlah selagi hangat" ucap Nik.
"Bisa kita langsung ke intinya saja, kenapa kak Nik memintaku datang ke sini?" tanya Diandra ketus.
Sungguh Diandra tidak mau hatinya tenggelam dalam suasana indah yang Nik buat di tempat itu.
"Kita makan dulu, aku sungguh sudah sangat lapar menunggumu sejak tadi" jawab Nik santai, membuat Diandra geram dibuatnya.
"Kak Nik..." panggil Diandra.
"Bisakah kita makan dengan tenang?" tanya Nik.
Mendengar itu Diandra mengalah dan mencoba memakan makanan yang ada di hadapannya.
Nik pun memakan makanannya setelah melihat Diandra mulai makan.
__ADS_1
"Ya ampun kenapa tiba-tiba makan ini benar-benar terasa seperti batu dan begitu hambar" ucap Diandra dalam hati.
"Suasana malam ini sungguh membuatku sesak dan tidak tenang" ucap Diandra lagi dalam hati.
"Diandra jangan terbawa suasana, dan jangan terbawa perasaan, jaga hatimu Diandra, kak Nik pasti punya rencana itulah mengapa dia melakukan hal seperti ini." Ucap Diandra dalam hati untuk yang ke sekian kalinya.
Pada saat makan malam suasana begitu hening hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar, membuat suasana begitu terasa mencekam bagi keduanya.
Nik dengan sekuat hati menahan kakinya yang tiba-tiba gemetar, belum lagi hatinya dan jantungnya yang seolah-olah ingin berlomba untuk melompat keluar dari tubuhnya, hal itu membuat tubuh Nik panas dingin dibuatnya.
"Tenang Nik, tenang..." Ucap Nik menenangkan.
"Ayolah jantung, hati, kaki dan tubuhku, diamlah dan jangan buat onar, kalian bisa membunuhku kalau seperti ini terus." Ucap Nik lagi dalam hati.
"Aku sudah selesai" ucap Diandra.
"Tapi makananmu belum habis" jawab Nik.
"Aku tidak makan banyak saat malam" jawab Diandra.
"Habiskan makananmu baru kita bicara" ucap Nik beralasan mengulur waktu.
"Tapi aku tidak mau" ucap Diandra ketus.
"Kalau begitu kita tidak akan memulai pembicaraan apapun" ucap Nik enteng.
"Isttt kau ini,..." Protes Diandra terhenti saat Nik bicara.
"Kau habiskan makan malammu, atau mau aku suapi?" tanya Nik dengan seringai liciknya.
Dengan hati geram Diandra terpaksa memakan makanannya hingga habis.
Melihat itu Nik hanya tersenyum kaku, "Kenapa dia makan terlalu cepat kalau begini bagaimana bisa aku mengulur waktu" ucap Nik dalam hati.
"Aku sudah selesai" ucap Diandra sambil memperlihatkan piringnya yang kosong.
"Hem..." Jawab Nik.
"Ya ampun kak Nik kenapa kau makan begitu lama sekali?" tanya Diandra.
"Biarkan aku menikmati makan malamku dengan tenang" jawab Nik bohong, padahal dia mati-matian berusaha menenangkan rasa gugupnya.
Diandra mengalah dia membiarkan Nik makan dengan begitu pelan.
Hingga akhirnya Nik pun selesai dengan ritual makan malam yang lambat.
"Jadi bisa kita mulai pembicaraan kita sekarang?" tanya Diandra.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu tidak sabaran, setidaknya biarkan aku minumdulu"