
Sejenak Dokter Salim sedikit menjauh dari Tania dan mencoba membacanya dengan seksama dan penuh keseriusan, kini dia mengerti apa yang disembunyikan putrinya selama ini hingga membuat dia histeris saat ini.
"Tania.. Katakan pada ayah kau tidak memanipulasi kesehatan Nik kan?" tanya Dokter Salim sambil menahan sejuta kemarahan dalam dadanya.
"Ayah..." ucap Tania sambil menjatuhkan dirinya kelantai "Maafkan aku" ucap Tania dengan air mata yang kini mulai pecah dan berjatuhan membasahi kedua pipinya.
"Tania katakan ini tidak benar?" tanya Dokter Salim lagi dengan suara yang sedikit membentak.
"Iya semua itu benar ayah" jawab Tania dengan suara yang lantang.
Deg...
"Tania... " Bentak Dokter Salim merasa tidak percaya dengan apa yang putrinya lakukan.
"Kenapa kau lakukan ini Tania? Kenapa kau melanggar sumpahmu sebagai Dokter Tania?" tanya Dokter Salim tak percaya.
"Karena aku mencintai Nik Ayah.. Aku ingin Nik selalu ada di sampingku dan menyayangiku Ayah, tapi... Tapi nyatanya Nik malah mencintai Diandra, dan bukan aku...." ucap Tania dengan menggebu-gebu.
"Aku berusaha agar Nik mau mencintaiku, dan.. dan... aku pikir ini satu-satunya cara agar Nik mau melupakan Diandra dan memilihku." Jelas Tania panjang lebar dengan derai air matanya dan deru napasnya yang tersengal.
"Tania... Apa kau sudah gila, cinta sudah membuatmu buta sampai kau membuat diagnosa palsu untuk Nik" ucap Dokter Salim penuh kekecewaan.
"Kau pikir dengan membohongi Nik dan kau bisa mendapatkan Nik setelahnya kau bisa bahagia Tania?, tidak Tania kau salah" ucap Dokter Salim penuh kekecewaan.
"Kalau pun Nik memang mulai mencintaimu seperti yang kau rencanakan, tapi pada akhirnya dia akan kembali tidak mencintaimu bahkan akan sangat membencimu jika suatu saat dia tau kebenarannya" ungkap Dokter Salim lagi.
"Kau membuat Ayah kecewa Tania" ucap Dokter Salim lagi, sambil melihat kearah Nik yang sejak tadi hanya duduk dan menyaksikan pertengkaran ayah dan anak di hadapannya.
"Maaf Ayah.. Maafkan aku.. Aku melakukan ini karena aku sangat mencintai Nik" ucap Tania sambil merangkak kearah dokter Salim lalu memeluk kaki kanan Dokter Salim.
"Ini bukan Cinta Tania, ini bukan Cinta, tapi ini obsesi buruk yang harus kau buang jauh-jauh dari hidupmu, sebelum obsesimu menguasai dirimu dan menghancurkan dirimu lebih dalam lagi." Ucap Dokter Salim.
__ADS_1
"Maafkan aku ayah... Maafkan aku, aku menyesal.. Aku menyesal..." ucap Tania dengan begitu terisak.
Perlahan dokter Salim meraih tubuh putrinya yang duduk di lantai sambil memeluk erat kakinya.
"Berdirilah Tania" ucap Dokter Salim, sambil memaksa Tania untuk bangun dari duduknya.
"Minta maaflah pada Nik sekarang dan terima hukumanmu" ucap Dokter Salim lagi.
Sejenak Tania melihat wajah Ayahnya yang penuh dengan kekecewaan terhadap dirinya dan saat itu pula tangis Tania kembali pecah hingga sulit dibendung lagi.
Dengan penuh rasa malu dan ketakutan dari dalam dirinya Tania melangkah kearah Nik dan medudukan kembali tubuhnya di atas lantai tepat di samping Nik.
"Maafkan aku Nik, aku sungguh-sungguh menyesali semuanya, aku akan menerima hukumanku, tapi aku mohon jangan pernah melibatkan Ayahku, dia tidak tahu apapun, di sini akulah yang bersalah hanya aku seorang bukan ayahku" ucap Tania penuh kesungguhan dan di sertai derai air mata yang tak henti mengalir dari kedua mata indahnya.
Nik sejenak diam membisu, hingga akhirnya terdengar lehan nafas yang dia buang dengan kasar dari mulut dan hidungnya.
"Berdirilah Tania" ucap Nik sambil dia pun meraih tongkat penyangga tubuhnya.
Belum selesai keterkejutan yang menghujang dada Dokter Salim kini dia harus kembali dibuat terkejut bagaikan petir disiang bolong, saat melihat Nik nampak membuka dinding di samping mereka hingga terbuka, dan nampaklah orang-orang yang sangat dokter Salim kenal di balik dinding yang Nik buka.
Sejenak Dokter Salim mulai gemetar ketakutan dia nampak terduduk di kursinya dengan mata yang ia tutup,
Dokter Salim sudah menerka pastilah orang-orang di balik dinding itu sudahlah mendengar dan mengetahui apa yang mereka ucapkan dan mereka debatkan tadi.
"Aku rasa kalian sudah mendengar semuanya bukan, terutama anda Nona muda?" ucap Nik pada salah satu orang yang ada di balik dinding.
Tania nampak gemetar ketakutan, saat melihat Daddy Darsi, Mommy Almira dan Diandra yang kini ada di hadapan dirinya.
Semua nampak hening tiada yang berbicara sepatah katapun, hingga akhirnya mommy Almira menghampiri Tania yang nampak syok dengan apa yang terjadi.
"Tania" tanya Mommy Almira dengan lembut.
__ADS_1
Tania napak ketakutan dia memundurkan langkah kakinya kebelakang dengan sejuta ketakutan di benaknya.
"Tidak mommy" ucap Tania gemetar.
Ya Tania selalu memanggil Mommy Almira dengan sebutan Mommy, begitu pun dengan mommy Almira yang selalu menganggap Tania sebagai putrinya.
"Aku.... Aku hanya mencintai Nik, apa itu salah?" ucap Tania.
"Tapi dia malah mencintai Diandra, aku benci itu aku tidak suka." Ucap Tania lagi.
"Tidak sayang kau tidak salah, tapi harus kau pahami kalau cinta itu tidak bisa di paksakan, dan cinta juga tidak harus memiliki." jelas Mommy Almira dengan lembut.
"Tidak aku tidak sanggup dan tidak menerima jika Nik harus dimiliki oleh Diandra, aku tidak terima, tidak...." Ucap Tania histeris dan menggebu-gebu.
Plakkk....
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Tania yang basah dengan air mata, hingga membuat Tania bungkam seketika.
Semua napak terkaget saat melihat Dokter Salim menampar Tania dengan begitu keras.
"Ayah..." Ucap Tania lirih.
"Minta maaflah Tania sekarang" ucap Dokter Salim sambil membuang wajahnya.
Tania nampak Diam dan tidak mengatakan apapun.
"Tania" bentak Dokter Salim.
"Dokter Salim tenanglah dulu" potong mommy Almira.
Dokter Salim napak membuang napasnya dengan kasar, di detik berikutnya Dokter Salim berkata,
__ADS_1
"Aku benar-benar meminta maaf atas apa yang putriku lakukan, aku sungguh-sungguh minta maaf, terutama padamu Nik, kau yang paling di rugikan di sini, tolong maafkan putriku." Ucap Dokter Salim dengan menekan semua rasa malunya.