Menemukanmu Adalah Takdirku

Menemukanmu Adalah Takdirku
BAB 76


__ADS_3

Diandra pergi dengan langkah yang lebar ke arah pintu kamar Nik.


Di ketuknya pintu kamar Nik dengan keras.


Tok tok tok....


Membuat kedua peyalan wanita yang melihatnya langsung mendadak gemetar, tak di pungkiri Diandrapun sebenarnya merasa ketakutan setengah mati, dan dia akan sangat malu jika Nik ternyata benar akan marah dan mengusirnya di depan para pelayan Nik.


Ceklek...


DEG....


"Nona.... " ucap Nik teropong, saat Diandra menerobos masuk kedalam kamarnya.


Diandra menerobos masuk tanpa izin ke dalam kamar Nik dia sungguh tidak mau jika Nik sampai harus marah padanya di depan para pelayan Nik.


Deg deg deg.... Deru jantung Diandra berpacu cukup kencang sehingga membuat Diandra sedikit gemetar, bahkan Diandra sendiri sampai tidak bisa berkata apapun sangking takutnya.


Nik melihat kedua pelayan yang mematung di luar kamarnya dengan jarak yang cukup jauh.


"Apa yang kalian lihat?" ucap Nik dingin sambil menutup pintu kamarnya.


Nik melihat Diandra yang hanya mematung tanpa mengatakan apapun, Nik melangkahkan kakinya ke arah meja dan di ambilnya air miliknya lalu di berikannya pada Diandra.


"Minumlah sepertinya kau sangat kesal sekali" ucap Nik.


"Em..." Jawab Diandra sambil mengambil mengambil dan meminum air yang dia berikan oleh Nik.


Diluar dugaan Diandra ternyata Nik tidak marah padanya dan malah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti Diandra.


Diandra menarik napasnya pelan dan mencoba menenangkan dirinya dan hatinya.

__ADS_1


"Baiklah Diandra berikan berkas ini dan cepatlah pulang, sudah cukup senam jantung yang kamu alami hari ini" ucap Diandra dalam hati.


"Aku datang karena.... Karena kakak memintaku untuk memberikan ini padamu" ucap Diandra yang sambil memberikan map berkas pada Nik bahkan hembusan napasnya yang kasar masih terdengar jelas saat dia berbicara.


Nik mengambil map berkas yang di ulurkan Diandra dia juga mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan Diandra, tanpa mengatakan apapun Nik melangkah menuju sofa yang ada di kamarnya dan menyimpan map berkasnya di atas meja beserta gelas kosongnya.


Melihat bagaimana Nik mendiamkannya membuat Diandra beranggapan bahwa apa yang di katakan para pelayan wanita tadi bener kalau Nik tidak suka siapapun masuk kedalam kamarnya.


"Harusnya aku mendengarkan apa kata pelayanan tadi, bodoh kamu Diandra huh... " Ucap Diandra dalam hati.


Diandra sudah tidak bisa mengendalikan dirinya dadanya terasa sesak, seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya memerah karena panas, matanyapun memerah karena menahan air mata yang hampir akan jatuh.


Tanpa mengatakan apapun Diandra melangkah ke arah pintu dan mencoba untuk membukanya, tapi belum juga pintu itu di buka Diandra di kagetkan dengan Nik yang menarik tubuhnya dan memeluknya erat.


Diandrapun tak kuasa menahan air matanya dia menangis saat itu juga dalam pelukan Nik, dia meluapkan semua rasa sesak di dadanya dengan tangisannya hingga baju yang di kenakan Nikpun basah karenanya.


"Apa yang mereka katakan?" tanya Nik yang masih memeluk Diandra dan mengusap lembut punggungnya.


"Katakan apa yang mereka katakan sampai kau harus menangis seperti ini, akan ku pastikan mereka akan mendapatkan hukuman." Ucap Nik lagi.


Mendengar itu Diandra mendorong tubuh Nik darinya. "Apa.. Kau bilang.. Hukuman, baiklah katakan padaku hukuman apa yang pas untukmu karena yang sebenarnya yang membuatku menangis itu kamu bukan mereka." Jawab Diandra masih dengan napas yang tersengal.


"Aku....memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Nik yang memang tidak sadar atas kesalahannya.


"Kau..... Sudahlah aku akan pulang" ucap Diandra yang tidak mau berdebat.


"Tidak bisa, kau sudah datang dan kau tidak bisa pulang begitu saja" ucap Nik.


"Heh.... Tidak bisa katamu, kau tidak akan bisa melarangku untuk pulang" jawab Diandra ketus.


Diandra mencoba menggapai gagang pintu tapi dengan cepat Nik mengunci pintu kamarnya dan memasukkan kuncinya kedalam celana pendek yang dia gunakan.

__ADS_1


"Kak Nik" bentak Diandra.


Tapi Nik malah pergi dan duduk di sofa kamarnya mengabaikan teriakan Diandra bagaikan angin lalu.


"Berikan kuncinya" pinta Diandra dengan mode marah.


"Kau datang lalu menangis dan sekarang kau marah-marah padaku" ucap Nik tanpa melihat Diandra sambil membuka dan memeriksa berkas yang Diandra bawa untuknya.


"Ini semu karenamu" ucap Diandra.


Masih di abaikan Nik


"Hah... harusnya aku memang tidak datang kemari, aku menyesal menuruti perintah kakak untuk datang kemari." Ucap Diandra sambil menghembuskan napasnya kasar.


Nik menyimpan kertas dan pulpen ditangannya di atas meja "Kemari dan duduklah di sampingku" ucap Nik lembut.


"Tidak mau" jawab Diandra galak.


"Its... Kau ini" ucap Nik sambil menarik paksa tangan Diandra sehingga membuat Diandra jatuh dan duduk di atas pangkuan Nik.


"Lepas..." Ucap Diandra dengan menunjukkan wajah marahnya karena Nik menahan pinggang nya Posesive.


"Baiklah tapi duduklah yang manis di sampingku" pinta Nik.


"Tidak mau" jawab Diandra masih dengan mode galaknya.


"Kalau begitu kita akan tetap seperti ini" ucap Nik.


Mendengar itu Diandra langsung menatap tajam pada Nik, "Baiklah, sekarang lepaskan aku" ucap Diandra galak.


"Hem" jawab Nik.

__ADS_1


__ADS_2