
Perlahan tapi pasti Nik memindahkan Diandra yang tertidur pulas dari sofa ke atas ranjang miliknya, taklupa Nik menyelimuti Diandra dengan selimut miliknya.
Nik masih setia di samping Diandra melihat wajah yang telah membuat hatinya hanya tertuju padanya, dan terkunci untuk wanita yang lain.
Dengan sengaja Nik berbaring di samping Diandra dan memeluknya pelan berharap Diandra tidak bangun dari tidurnya, dan Nik pun tertidur sambil memeluk Diandra.
Hampir dua jam Diandra tidur dia mulai membuka matanya Diandra merasa ada sesuatu yang berat telah menimpa badannya, dan dilihatnya Nik yang tertidur di sampingnya sambil memeluk tubuhnya.
"Ahhh...." Diandra menjerit kecil karena begitu kaget melihat Nik di sampingnya.
"Kalau Daddy tahu bisa habis kau kak Nik" ucap Diandra dalam hati.
Dengan pelan Diandra berusaha melepaskan tangan Nik yang melingkar di pinggangnya, namun baru saja satu senti Diandra mengngangkat tangan Nik, Nik sudah melingkarkan kembali tangannya di pinggang Diandra dengan begitu erat.
"Kau sudah bangun?" tanya Nik tanpa membuka matanya.
Diandra merasa Nik malah semakin memeluknya erat dan sekarang bukan hanya tangan Nik saja yang menyentuh tubuhnya, tapi Nik sudah menenggelamkan wajanya di leher Diandra dan menindih kaki Diandra dengan sebelah kakinya.
"Kak lepaskan, kau tau inikan sebuah kesalahan dan ini sebuah dosa besar?" ucap Diandra sambil mematung.
"Aku tau" jawab Nik lagi-lagi tanpa membuka matanya.
"Kalau begitu lepaskan" pinta Diandra.
"Diandra?" tanya Nik.
"I.... Ya!" Jawab Diandra gugup.
Sungguh Diandra merasa tubuhnya kaku dan sulit untuk berontak, ditambah napasnya serasa berat karena detak jantungnya yang tidak bisa di kendalikan lagi.
"Diandra?" tanya Nik lagi.
"Kenapa?" bentak Diandra dengan gugup.
"Will you marry me?" tanya Nik yang masih setia memeluk Diandra dengan Posesive.
"Hah...?" ucap Diandra kaget, "Kak Nik....?" tanya Diandra.
"Hem..." Jawab Nik.
__ADS_1
"Aku rasa dia hanya mengigau" ucap Diandra dalam hatinya, sekarang Diandra merasa sangat di permainkan.
Tanpa Diandra sangka Nik kini melepaskan tubuhnya dan mengukungnya dari atas tubu Diandra.
Tatapan mata mereka bertemu dengan rasa yang sama-sama mereka pendam.
Cup
Nik mencium lama kening Diandra dengan begitu lembut.
"Bangunlah, ini sudah siang, kau pasti lapar." Ucap Nik sambil turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Diandra merasa terhina yang melihat Nik pergi begitu saja tanpa melihatnya, Diandra mengambil tasnya dan berusaha membuka pintu kamar Nik namun sayang pintu terkinci rapat.
"Hah ya ampun aku lupa kalau pintunya di kunci" gerutu Diandra. "Sekarang bagaimana cara aku keluar dari disini" ucap Diandra dengan kekesalan yang luar biasa.
Lama Diandra menunggu Nik yang sedang di kamar mandi, hingga akhirnya yang di tunggupun keluar, kini dia sudah terlihat lebih segar, dengan rambut basahnya dan handuk yang meliput di pingangnya.
Wajah Diandra memerah melihat Nik, buru-buru Diandra memalingkan wajahnya ke arah lain, Nik hanya tersenyum simpul melihat Diandra yang kini salah tingkah karenanya.
Nik langsung masuk ke ruang ganti dan memakai bajunya, sementara Diandra memilih masuk dalam kamar mandi milik Nik.
Setelah dirasa cukup segar Diandra keluar dari kamar mandi, dilihatnya Nik yang sedang melaksanakan Sholat dzuhur.
Setelah Sholat Nik melihat kearah Diandra, "saya sudah siapakan mukena untuk anda" ucap Nik.
"Em... Aku sedang tidak sholat" jawab Diandra dengan wajah memerah.
"Oh" jawab Nik kaku.
"Kalau begitu kita makan siang dulu, anda pasti lapar kan nona" ucap Nik.
"Nona, kenapa sekarang dia memanggilku nona, bukankah tadi dia memanggilku Diandra?" tanya Diandra dalam hati.
"Aku mau pulang" ucap Diandra.
"Setalah makan siang saya akan mengantar anda pulang" ucap Nik, yang kini sudah kembali berbicara datar pada Diandra.
Nik melangkah ke arah pintu dan membukanya, "Mari Nona" ucap Nik.
__ADS_1
Sungguh Diandra begitu merasa marah karena ulah Nik saat ini, setelah apa yang dia lakukan tadi padanya.
Dengan perasaan kesal Diandra melangkah keluar dari damar Nik dengan berjalan cepat pergi dari kamar Nik, Diandra tidak peduli lagi pada Nik karena dia hanya ingin cepat pergi dari rumah Nik.
"Nona muda?" ucap papa Marco yang kini melihat Diandra turun dari tangga.
"Uncle..?" jawab Diandra gugup.
Marco melihat kearah putranya yang terlihat biasa saja,
"Kita makan siang bersama nona mari?" ajak papa Marco.
"Tidak Uncle, Diandra mau pulang" tolak Diandra.
"Nik akan mengantarkan anda pulang nona, tapi sebaiknya kita makan siang dulu ayo" ajak papa marco lagi sambil berjalan meninggalkan Diandra dan Nik kearah ruang makan.
"Mari Nona" ajak Nik.
Dengan terpaksa Diandra pun memilih makan siang bersam kak Nik dan Uncle Marco karena merasa tidak enak pada Uncle Marco.
Setelah makan siang Diandra pun diantar pulang oleh Nik, dalam perjalanan tidak ada satu pun yang bersuara, dan Diandra tidak menyukai itu.
"Nona lusa saya akan pergi ke Kanada apa anda akan ikut?" tanya Nik sambil tetap fokus dengan stirnya.
"Tidak" jawab Diandra tegas.
"Anda yakin?" tanya Nik lagi.
"Tentu" jawab Diandra singkat.
"Kenapa?" tanya Nik.
"Aku berniat pergi dengan kak Faiz dan menghabiskan akhir pekan dengannya, dia mengajakku pergi untuk nonton di malam minggu dan aku akan pergi dengannya." Jawab Diandra tanpa melihat wajah Nik yang sudah berubah kesal karena ucapan Diandra.
"Nona anda tidak akan pernah pergi dengan laki-laki mana pun, dan saya akan pastikan anda hanya akan pergi bersama saya ke kanda lusa nanti." Ancam Nik sambil nemarkirkan mobilnya tepat di depan pintu rumah keluarga Maliq.
Diandra menatap Nik dengan tajam."itu tidak akan pernah terjadi" sanggah Diandra.
"Kita lihat saja nanti nona" ucap Nik sambil turun dari dalam mobil dan membukan pintu mobil untuk Diandra.
__ADS_1