Menemukanmu Adalah Takdirku

Menemukanmu Adalah Takdirku
BAB 94


__ADS_3

Saat makan siang tidak ada yang terasa janggal bagi Tania, Nik nampak menikmati makan siangnya, hal itu membuat Tania nampak bahagia sekali.


Tapi berbeda dengan Dokter Salim dia merasa gundah tidak menentu, hati kecil dokter Salim merasa akan ada hal buruk yang terjadi tapi dia sendiri tidak tau apa itu.


Hingga makanan habis semua nampak baik-baik saja, tapi dokter Salim masih merasa akan ada hal buruk yang terjadi.


"Dokter Salim bagaimana situasi di Rumah Sakit? Apa semua aman terkendali?" tanya Nik setelah mereka menghabiskan makan siang mereka.


Para pelayan nampak sedang menghidangkan makanan pencuci mulut di atas meja.


"Ya keadaan rumah sakit selalu sama saja, tidak ada yang berubah" jawab Dokter Salim sekenanya.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Dokter Salim.


Nik nampak terkekeh kecil "Aku hanya bertanya saja" jawabnya.


"Nik kapan kau kembali dari Kanada kenapa tidak memberi tahuku?" Tanya Dokter Tania mengalihkan pembicaraan.


"Biasanya kau selalu memberi tahuku jika kau akan pergi atau kembali, tapi kali ini kau bahkan tidak memberi tahuku, saat kau akan pergi ke Kanada begitu pun saat kau kembali." protes Dokter Tania panjang lebar.


"Tapi aku cukup senang karena kau mengajak Aku dan ayahku untuk makan siang bersama" ucap Tania lagi.


"Ah... Ya Tania maaf, aku pikir selama ini aku cukup merepotkan dirimu karena diriku, padahal kita tidak memiliki hubungan cukup seriyus selain pertemanan kita sejak dulu." Jawab Nik.


"Nik kenapa kau mengatakan hal itu?" Tanya Tania Merasa sedih dengan jawaban Nik yang mengatakan mereka hanya teman saja.


"Aku justru merasa senang bisa selalu ada untukmu Nik, bahkan aku selalu mengatakan padamu mungkin hubungan kita bisa lebih dari sekedar pertemanan biasa Nik" ungkap Tania dengan rasa kecewa.


"Dan Jawabanku tetap sama, aku hanya menganggapmu sebatas teman tidak lebih Tania, dan kau cukup tau alasannya bukan." Jawab Nik.


"Lantas untuk apa kau mengajak aku dan Ayahku makan siang bersama saat ini Nik?" tanya Tania geram.


"Untuk menanyakan suatu hal yang sangat penting pada Dokter Salim" jawab Nik cepat.


"Dokter bolehkah aku memintamu untuk memeriksa sesuai untukku?" Tanya Nik pada Dokter Salim.


Mendengar itu raut wajah Tania mulai nampak cemas.


"Apa itu?" tanya Dokter Salim sedikit merasa emosi karena Nik secara tidak langsung telah menolak Cinta putrinya dihadapan dirinya sendiri.

__ADS_1


Nik mempak memanggil bawahan kepercayaannya Jo untuk masuk kedalam ruang makan.


Jo napak membawa beberapa map besar dan menyerahkannya langsung kepada Dokter Salim.


"Apa ini?" tanya Dokter Salim lagi.


"Tolong coba kau periksalah Dokter?" jawab Nik.


Deg..


Melihat itu Tania mulai gemetar ketakutan, hati kecilnya mengatakan Nik sudah mengetahui kebohongannya selama ini.


"Ayah" panggil Tania mencoba melarang Ayahnya untuk membuka map yang di berikan bawahan Nik pada Dokter Salim.


"Jangan dibuka" ucap Tania lagi dengan tangan yang sudah bergetar.


"Kenapa Tania?" tanya Nik "Memangnya kau tau apa isinya?" tanya Nik lagi penuh penekanan.


Bahkan sorot mata Nik nampak sudah tidak bersahabat lagi seperti biasanya, menambah keyakinan dokter Tania akan kecurigaannya pada Nik kalau Nik memang sudah mengetahui tentang kebohongannya selama ini tentang penyakit yang dibuat-buat olehnya untuk Nik.


Deg...


"Tania sayang kau kenapa?" tanya Dokter Salim khawatir.


"Dokter sebaiknya kau periksa saja berkas yang bawahan ku berikan padamu, menurutku Tania napak baik-baik saja, bukan begitu Tania?" tanya Nik dengan penuh sindiran.


"Tapi Nik putriku seperti sedang ketakutan" jawab Dokter Salim cemas.


"Sayang kau tidak apa-apa?" tanya Dokter Salim lagi.


"Dokter kau mengabaikan permintaanku?" ucap Nik mulai kesal.


Mendengar itu Dokter Salim cukup geram lantas mulai membuka map berkas yang di berikan bawahan Nik padanya.


"A... Ayah" ucap Tania terbata karena rasa takut yang memenuhi dirinya sehingga membuat Tania sedikit sesak dan tubuhnya napak gemetar hebat.


"Nik kau sakit?" tanya Dokter Salim keget setelah membaca hasil diagnosa yang tertera dalam berkas catatan kesehatan milik Nik.


Namun Nik tidak menjawab, dan membiarkan Dokter Salim membuka map berkas catatan kesehatan milik Nik lebih lanjut.

__ADS_1


"Tania kau tidak pernah mengatakan pada Ayah kalau Nik sakit keras, bahkan dari catatan ini Nik nampak sudah sakit cukup lama" ucap Dokter Salim lagi sambil membuka berkas selanjutnya.


Dari gurat wajah dokter Salim dia napak hawatir setalah membacanya sebagian.


Saat melihat Dokter Salim akan membuka berkas yang kedua, dengan tubuh bergetar karena ketakutan Tania bersaha berdiri dan mencoba mencegah tangan Dokter Salim agar tidak membuka dan membaca lebih lanjut berkas catatan milik Nik ditangannya.


"A... Ayah, ja... Jangan di lihat lagi, A.. Ayah aku mohon" ucap Dokter Tania sambil menahan tangan Dokter Salim agar tidak melanjutkan berkas catatan kesehatan milik Nik.


"Tania kenapa kau begitu terlihat ketakutan hem..." Tanya Nik tepat sasaran, "Tenangkan dirimu dan duduklah biarkan Dokter Salim membaca berkas hasil catatan kesehatanku." Ucap Nik lagi penuh penekanan.


"Tidak.... tidak...." Ucap Tania Histeris sambil merebut berkas catatan kesehatan milik Nik yang ada ditangan Dokter Salim.


Bug...


Suara kursi yang diduduki Tania terjatuh begitu saja karena Tania berusaha berdiri sambil merebut berkas catatan kesehatan milik Nik dari tangan Ayahnya.


Tania nampak sedikit menjauhkan diri dari Nik dan Dokter Salim Ayahnya, setalah mendapatkan berkas catatan kesehatan milik Nik.


"Tania?" tanya Dokter Salim bingung dan keget secara bersamaan.


"Ayah... Ini masalah antara aku dan Nik, ayah tidak perlu tahu, aku sudah memulai semua ini dan aku yang akan mengakhirinya." jawab Tania dengan penuh ketakutan.


"Nik... Nik.. Ayahku tidak tahu apa-apa soal ini Nik, mari kita selesaikan berdua saja jangan kau ikut sertakan Ayahku, aku mohon Nik?" pinta Tania suara bergetar.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Dokter Salim tidak mengerti.


"Tidak ada apa-apa Ayah, sungguh tidak ada apa-apa sebaliknya Ayah pulang saja ya.. Sekarang" pinta Tania masih dengan suara yang bergetar.


"Tania kau menyembunyikan sesuatu dari Ayah nak, ayah tadi lihat catatan kesehatan Nik kalau dia sedang sakit keras, dan kau sebagai Dokter penanggung jawabnya." Ucap dokter Salim


"Ini jelas bukan main-main Tania, ayah perlu membaca lebih lanjut hasil periksaan itu, karena ini mengenai hidup dan mati Nik." Ucap Dokter Salim.


"Tidak Ayah... Biar aku saja.. Biar aku saja, aku mohon ayah pulanglah dan lupakan hal ini.. Aku mohon ayah" pinta Tania sedikit histeris.


"Tania.. Apa kamu bilang lupakan saja, mana bisa seperti itu Tania, sekarang berikan berkasnya pada Ayah sekarang juga" ucap Dokter Salim sedikit marah sambil merebut berkas catatan kesehatan milik Nik dari tangan Tania.


"Tidak ayah jangan.. Jangan Ayah" ucap Tania karena dokter Salim telah berhasil merebut berkasnya dari tangan Tania.


Nik hanya diam tak bergeming sedikit pun

__ADS_1


Sedangkan Tania dia napak menggigit bibirnya dan meremas jari2 tangannya.


__ADS_2