
Zia memapah Ziko ke dalam kamar mereka, ya sedari kecil hingga dewasa mereka tidur bersama dalam satu kamar kecil dengan beralaskan karpet kecil yang hanya cukup untuk dua orang saja, tidak ada kasur di sana yang ada hanya dua selimut kecil dan tipis yang Zia beli dengan uangnya sendiri
Zia membatu Ziko untuk duduk sambil bersandar karena badan Ziko menggigil akibat Demam yang dideritanya saat ini
"De makan dulu ya liat kaka bawa nasi uduk" Ucap Zia sambil mengeluarkan nasi uduk dari dalam tasnya
"Kamu makan ya, kaka akan keluar dan memasak untuk mereka, seperti biasa jangan lupa kamu kunci pintunya, kalau tidak nanti ada yang masuk dan melihat makanan ini dan kamu taukan mereka pasti akan mengambilnya" Ucap Zia lagi
"I--Iya kak" Jawab Ziko terbata
__ADS_1
Sejak kecil Ziko sering terkena demam, badannya yang lemah membuat dia sering sakit, Zia selalu nyesali keadaan Ziko saat ini, karena tidak bisa membawa Ziko RS tepat waktu, betapa tidak saat usia Ziko 9 tahun dan Zia berusia 12 tahun, Ziko mengalami demam tinggi sampai kejang-kejang dia berusaha meminta bantuan pada ayahnya dan ibu tirinya untuk membawa Ziko ke rumah sakit tapi sayang mereka menolak membawa Ziko kerumah sakit, berhari-hari Ziko sakit dan ayahnya tidak peduli sama sekali, karena keadaan Ziko yang semakin parah Zia nekad membawa Ziko sendirian kerumah sakit, dan pada saat Dokter memeriksa Ziko, ternyata kedaan Ziko sudah kritis, dokter bilang Ziko terlambat dibawa ke RS dan terlambat mendapatkan penanganan alhasil kini Ziko mengalami pembekuan otak.
Sejak saat itu Ziko seolah terperangkap dalam dunianya sendiri, namun beruntung dengan bantuan seorang Dokter yang mau merawat Ziko tanpa harus membayar biaya perawatan, Ziko bisa menjalani terapi untuk memulihkan keadaannya, sehingga keadaan Ziko bisa dibilang baik, Ziko bisa berintraksi dengan orang di sekitarnya dan dan berbicara normal walau terkadang terbata-bata, hal yang harus dihindari dari Ziko adalah menyenteh kepalanya, karena daerah belakang kepala Ziko sangat sensitif dan bisa membuat Ziko histeris, dan hanya Zia dan Dokter yang merawatnyalah yang bisa menyentuh kepala Ziko tanpa histeris
Walau demikian Zia bersyukur Ziko tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sangat tampan, badannya yang bongsor menjadikan Ziko terlihat gagah, dengan tubuh bongsornya sekilas orang akan melihat Ziko seperti orang yang normal pada umumnya, tapi jika Ziko mulai bicara maka orang akan tau kekurangan Ziko, bahwa dia tidaklah seperti orang normal pada umumnya
Dan Sejak saat itu Zia merasa menjadi kaka yang tidak berguna, dan Zia selalu merasa keadaan Ziko adalah salahnya, karena ketidak berdayaannya membuat Ziko menjadi seperti saat ini.
"Zia..." Teriak Ibu tiri dengan keras sekaligus menyadarkan Zia dari lamunan masalalunya
__ADS_1
"Ya ampun... nenek Sihir sudah memanggil kaka keluar dulu ya, kamu makan dulu kaka akan kunci pintunya dari luar okh..." pinta Zia dengan senyuman yang manis
"i-Iya ka--Ka" Jawab Ziko
Lantas Ziapun bergegas ke luar dari kamar dan taklupa mengunci pintu kamar agar tidak ada yang bisa menganggu Ziko di dalam Dengan cepat Zia memasak makanan untuk Ibu tirinya, Ayahnya dan adik tirinya Sisil.
Satu jam sudah kini Zia sudah menyelesaikan masakannya, dengan rapih Zia menata makanan yang telah dia masak di atas meja makan tepat di depan Ayah, ibu tiri dan sisil.
"Sudah sana pergi" Usir sisil
__ADS_1
Zia mengangguk dan pergi kemali ke kamarnya, setibanya di kamar Zia melihat adiknya belum memakan nasi uduk yang dia bawa tadi
"loh De, kok belum makan si.. Kan kaka bilang kamu harus makan" Ucap Zia