
“ Aku tidak sanggup lagi kalau begini, Ly. ” keluh Adhisti begitu dia menghampiri Lyra yang sedang duduk membaca di perpustakaan.
“ Ada apa? ” respon Lyra penasaran dengan masalah Adhisti.
“ Gavrill yang gila itu mengikutiku 24 jam penuh! Coba bayangkan itu! ” pekik Adhisti sedikit keras.
“ Pelankan suaramu kita sedang di perpustakaan...bagaimana dia bisa mengikutimu selama 24 jam? ”
“ Dia tinggal di rumah sekarang ahhh...bahkan bernapas saja aku tidak bisa tenang..”
“ Apa? Kakakmu mengizinkan dia tinggal serumah denganmu? ”
“ Jangan tanya lagi...malah Kakak yang menegaskan aku harus bisa terima karena itu untuk keselamatanku juga. Tapi aku benar-benar merasa terkekang ”
“ Astaga....” lirih Lyra prihatin.
“ Aku harus bagaimana...sekarang saja dia sudah mengirim pesan akan segera menjemputku pulang. Ini sama saja dengan mengurungku ”
Lyra tidak tahu harus memberi solusi apa, dia juga sama terkekangnya dengan Adhisti tidak diperbolehkan pergi kemana pun tanpa seizin Ares. Dia juga harus kembali ke rumah tepat waktu. Hanya saja dia tidak memiliki penjagaan khusus seperti Adhisti.
“ Aku mau membantu tapi kamu tahu sendiri Kakakmu kalau sudah membuat keputusan tidak bisa diubah ” ucap Lyra.
“ Sampai kapan aku tahan dengan semua ini ” keluh Adhisti, lalu tiba-tiba ponselnya berdering.
Adhisti menerima panggilan itu sebentar.
“ Menyebalkan! ” rutuknya.
Lyra seketika bisa menebak bahwa itu pas Gavrill yang memberi tahu dia telah tiba untuk menjemput Adhisti.
“ Ayo aku akan temani ” ajak Lyra berusaha membujuk Adhisti agar sedikit lebih tenang.
Dengan langkah yang malas Adhisti mengikuti Lyra, dan benar saja Gavrill sudah menunggu dengan mobilnya di depan perpustakaan itu.
“ Silakan Nona ” ucap Gavrill sambil membukakan pintu untuk Adhisti.
“ Aku pergi duluan, Ly. Ada manusia yang tidak sabaran disini ” sungut Adhisti lalu masuk ke dalam mobil.
Gavrill menutup pintu mobil itu tanpa menghiraukan ejekan Adhisti.
“ Nona Lyra sebentar lagi akan di jemput oleh supir yang di tugaskan Tuan. Tidak masalah jika kami pergi terlebih dahulu? ” tanya pada Lyra.
“ Sebaiknya jangan terlalu keras kepada Adhisti, kasihan dia ” balas Lyra.
“ Maaf Nona tapi ini sudah tugas saya ” tegas Gavrill kaku.
__ADS_1
Lyra hanya dapat menghela napas menyadari tak ada gunanya berbicara dengan manusia keras kepala di depannya itu.
“ Baiklah kalian pergi saja, aku akan menunggu di sini ” ucap Lyra.
“ Hati-hati Nona dan jangan pergi kemanapun sebelum supir Anda datang ” Gavrill lalu masuk ke mobil.
“ Aku harus langsung pulang sekarang?! ” tanya Adhisti dengan nada kesal.
Gavrill melajukan mobil itu.
“ Setahuku Anda tidak memiliki agenda kegiatan yang lain lagi ” jawab Gavrill tenang.
“ Tetap saja apa aku tidak bisa memiliki waktu untuk sekadar bersantai ”
“ Nona bisa bersantai di rumah. Setelah mengantarkan Anda ke rumah aku masih punya pekerjaan lain ”
“ Kamu yang tidak bisa pergi, tapi aku yang dikurung di rumah. Aku juga bisa menjaga diri walaupun pergi sendiri ”
“ Tetapi saya di tugaskan untuk mengikuti dan menjaga keselamatan Anda kemanapun Nona pergi ”
Adhisti merenggut kesal, lagi-lagi Gavrill hanya menekannya dengan mengandalkan perintah Ares.
* * *
“ Anda siapa?! ” lonjak Lyra terkejut saat seorang pria paruh baya menepuk bahunya, dia segera berdiri menjauh dari pria itu.
Lyra tidak langsung percaya begitu saja, dia tetap siaga dan memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Saat itu dia memang sedang menunggu supirnya dan duduk di bangku taman perpustakaan. Lalu tiba-tiba pria itu menghampirinya.
“ Maaf aku tidak mengenal Anda permisi ” ucap Lyra cepat bermaksud meninggalkan pria itu.
“ Tunggu dulu Nona Muda, Anda mungkin tidak mengenal saya. Tetapi saya kenal baik dengan suamimu terutama mertuamu ”
Langkah Lyra terhenti mendengar pria itu menyebut mengenal suaminya dan juga mertuanya yang sama sekali Lyra tidak kenal.
“ Aku adalah teman baik Ibu suamimu Ares. Apa suamimu tidak pernah bercerita? ” lanjut pria itu.
Lyra berbalik walaupun tidak mendekat ke arah pria itu, karena dia penasaran bagaimana pria itu tahu Ares suaminya sedangkan kebanyakan orang tidak mengetahui hal itu karena identitasnya di rahasiakan oleh Ares.
“ Aku senang bisa bertemu denganmu di sini. Tadi kebetulan aku lewat di sekitar sini. Lalu melihatmu karena merasa familiar dan ternyata dugaanku benar aku bertemu istri Ares di sini ” jelas pria itu dengan perlahan khas seorang dengan usia lanjut.
“ Aku tidak mengenal Anda dan suamiku juga tidak pernah memperkenalkan aku pada Anda. Lalu bagaimana bisa Anda mengenalku? ” tanya Lyra cepat.
“ Oh...sangat disayangkan Ares tidak pernah membicarakan pria tua ini kepada istrinya. Padahal aku begitu dekat dengannya, dia sudah ku anggap anak sendiri. Tentu saja aku mengenal istrinya. ”
Lyra mengelengkan kepala tidak percaya dengan ucapan pria itu.
__ADS_1
“ Aku teman Ibunya, dia sudah seperti anakku sendiri. Sangat disayangkan memang Ratna pergi begitu cepat meninggal dua anak malang itu ” ungkap pria itu.
“ Ratna? Apa itu nama Ibu Tuan Ares? ”, batin Lyra bertanya-tanya.
“ Ratna itu siapa? ” tanya Lyra penasaran.
“ Astaga! Anak itu tidak pernah menceritakan tentang Ibunya padamu. Ratna itu Ibunya Ares, mertuamu! ” seru pria itu seakan terkejut Lyra tak mengenali mertuanya sendiri.
Lyra terdiam tak tahu harus berekspresi seperti apa, karena memang benar dia sama sekali tidak mengetahui sedikit pun tentang orang tua
Ares.
“ Inilah masalah anak itu dia terlalu tertutup. Semua tentangnya bahkan tak dia ceritakan pada siapa pun ” Pria itu terus bercerita seolah dia mengenal Ares dengan sangat baik. Dan dari semua ceritanya Lyra dapat menjamin itu benar, karena sangat sesuai dengan kepribadian Ares yang selama ini dia kenal. Pria itu terdengar cukup mengenal sifat dan perilaku Ares.
“ Bagaimana pun aku turut bahagia Ares bisa menikah denganmu. Aku tahu kamu wanita yang baik, Ares pasti bahagia memilikimu apalagi saat ini aku dengar kamu sedang hamil ” tutur pria itu.
Lyra benar-benar terkejut pria itu mengetahui perihal kehamilannya, gerakan spontan Lyra menyentuh perutnya seakan berniat melindungi anaknya. Dia tidak menyangka pria itu bisa tahu dia sedang hamil. Jika sekadar menebak saat ini Lyra mengenakan hoodie yang terbilang tebal sehingga tidak mungkin seseorang dapat langsung mengetahui kehamilannya.
Lyra sangat bingung dan bertanya-tanya apakah semua yang dikatakan pria itu benar dia dekat dengan Ares. Sehingga Ares yang menceritakan kepada pria itu Lyra adalah istrinya dan saat ini tengah mengandung anaknya. Tapi selama ini Lyra tidak pernah melihat pria ini berada di sekitar Ares, oleh karena itu dia tidak bisa langsung mempercayai pria itu.
“ Kalau aku boleh tahu Anda ini siapa? ” tanya Lyra.
“ Panggil saja Jack. Aku titipkan salam pada Ares katakan padanya aku senantiasa akan mengawasi kalian. Bagaimana pun kamu sangat penting bagi Ares, jadi begitu juga bagiku ” ucap pria itu lalu dengan sedikit menunduk hormat dia segera meninggalkan Lyra di sana.
“ Tu-tunggu ” guman Lyra mencegah pria itu tapi pria bernama Jack itu telah benar-benar lenyap dari pandangannya secepat itu.
Lyra berdiri termenung di sana mencoba mencerna fakta yang baru di dengarnya.
“ Nona maaf telah membuat Anda menunggu ”
Lyra tersadar dari lamunannya dan melihat supirnya berdiri di sampingnya.
“ Ahh..iya tidak apa-apa ” jawab Lyra ling-lung.
“ Kita berangkat sekarang Nona ” ajak supir itu.
Lyra mengangguk lalu melangkah mengikuti supirnya, dia berbalik sebentar melihat apakah pria yang tadi masih ada di sana. Ternyata pria itu benar-benar sudah pergi.
Lyra lalu melanjutkan langkah, sampai sang supir membukakan pintu mobil.
Mobil itu melaju membelah jalanan, namun Lyra masih sibuk memikirkan pertemuannya tadi dengan pria itu.
“ Aku akan tanyakan langsung pada Tuan Ares ”, guman Lyra dalam hati.
"**Orang yang kuat bukan mereka yang selalu menang. Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh." - Kahlil Gibran
__ADS_1
Mystorios_Writer🌷🌷**