
Lyra benar-benar merasa aman berada bersama Ares, semua perhatikan Ares dalam bentuk penjagaan makanan dan juga bagaimana pria itu memastikan tidak ada yang berani mendekat untuk mengganggu ketenangan Lyra.
Membuat Lyra menerima perlakuan bak ratu dan terasa sangat nyaman.
“ Kamu suka makanannya ” ucap Ares sambil menyeka sudut bibir Lyra dengan sapu tangan miliknya.
Lyra mengangguk cepat.
“ Kamu mau lagi ” tawar Ares.
“ Tidak ini sudah cukup, aku akan kekenyangan nanti ” tolak Lyra.
“ Ya sudah, nikmati makananmu ” Ares mendekatkan makanan yang masih ada disana kepada Lyra.
“ Tuan Ares maaf menganggu, saya ingin memberitahu acara dansa akan segera dimulai dan itu di adakan di pinggir pantai. Saya harap Tuan dan Nyonya berminat untuk bergabung ” ucap Farhan yang datang menghampiri Ares.
“ Baiklah aku dan istriku akan bergabung segera ” jawab Ares dan dengan tersenyum senang Farhan permisi dari sana.
Lyra menatap Ares yang terus menatapnya.
“ Sebaiknya Tuan jangan menungguku, keberadaan Anda pasti penting di sana. Jadi pergi saja ” ucap Lyra dengan mulut mengunyah makanan.
“ Aku akan pergi denganmu ” jawab Ares.
“ Aku masih makan, pergilah nanti aku susul ”
“ Makan makananmu dan jangan cerewet ”
“ Ya sudah aku sudah ingatkan...malah di bilang cerewet ” Lyra mengerucutkan bibirnya sedikit lalu melanjutkan makannya.
Benar saja Ares menunggu Lyra sampai selesai makan, bahkan menyuruhnya untuk istirahat sebelum mereka pergi.
“ Aku tidak menyangka ternyata ada juga pesta yang diadakan di pinggir pantai seperti ini ” ungkap Lyra begitu mereka tiba di lokasi pesta dansa itu.
“ Karena selama ini kamu menghadiri pesta formal yang biasanya hanya diadakan di gedung-gedung besar. Pesta ini berbeda ” jelas Ares.
“ Oo ” jawab Lyra singkat padahal dia senang Ares menjelaskan itu padanya.
Musik di putar semakin keras, cukup berbeda dengan pesta yang sebelumnya pernah di hadiri Lyra yang biasanya sangat tenang dengan alunan musik yang lembut. Para tamu pesta juga kebanyakan berdiri dan mengobrol. Sedangkan di pesta ini musiknya cukup kuat dan bersemangat juga para tamu yang menari sebebas-bebasnya.
“ Kemari, nanti kamu bisa tertabrak seseorang ” Ares menarik Lyra ke hadapannya, menjaga wanita itu dengan posisi memeluk. Meletakkan tangannya di pinggang Lyra sehingga wanita itu terkunci padanya.
“ Ehmm...baiklah ” jawab Lyra gugup.
Ares melangkahkan kakinya pelan bergerak seakan mereka sedang berdansa, walaupun cenderung lembut untuk musik yang bersemangat.
“ Kamu suka pesta? ” tanya Ares intens pada Lyra.
“ Tidak terlalu ”
__ADS_1
“ Tapi kamu nampak bersemangat di pesta waktu itu ”
“ Bersemangat dari mana....waktu itu aku banyak menangis ingat?! ” tekan Lyra.
“ Kamu berdandan sangat cantik malam itu, sayang sekali riasanmu luntur sedikit karena menangis ” Ares kembali mendekatkan Lyra ke arahnya ketika mereka tepat berada di tengah kerumunan yang menari tak beraturan itu.
“ Aku berdandan untuk satu alasan saat itu ” lirih Lyra.
“ Boleh aku tahu alasannya, jujur kamu nampak berbeda saat itu begitu cantik dan...seksi itu utamanya ”
“ Aku tidak akan memberitahu Anda ”
“ Tunggu dulu...itu bukan karena kamu pergi bersama Aslankan ”
Lyra tersenyum geli mendengar itu.
“ Bukan ” jawabnya.
“ Baiklah bukan masalah selagi alasannya tidak karena pria itu ” tegas Ares posesif.
“ Anda ini aneh sekali seandainya aku berdandan hanya karena Pak Aslan juga untuk apa ” Lyra geleng-geleng kepala mendengar Ares masih mempermasalahkan perihal Aslan.
“ Kita sebaiknya menepi dari sini, suasananya semakin riuh ” ajak Ares, Lyra menjawab dengan anggukan dan mereka pun memilih pergi lebih dekat ke arah pinggir pantai.
“ Sampai sini saja jangan pergi terlalu jauh ” Ares menahan tangan Lyra.
“ Kenapa kita tidak pergi sedikit lebih dekat, pasti menyenangkan bisa merasakan ombaknya ” protes Lyra.
Lyra akhirnya memilih mengalah dan langsung duduk di tempat itu, di atas pasir pantai menghadap langsung ke arah pantai, bibir pantai masih nampak jelas karena pencahayaan dari acara pesta itu.
“ Jangan duduk di situ, sebaiknya kita ke gazebo yang ada di sana saja ” larang Ares.
“ Tidak mau duduk di sini saja, ayo....” pinta Lyra menarik tangan Ares sehingga pria itu menunduk.
Dengan menghela napas pasrah Ares akhirnya duduk di tempat itu tepat di samping Lyra.
“ Uhhh!! aku tidak menyangka pemandangan langit seindah ini!! ” sorak Lyra bersemangat.
“ Bisa menyaksikan pemandangan ini benar-benar beruntung! Tuan lihat langitnya!! ” Lyra memegang bahu Ares mengajak pria itu melihat apa yang dia tunjukkan.
“ Indah sekali bukan!! Langitnya penuh bintang!! ” mata Lyra berbinar-binar menatap ke atas.
“ Itu memang pemandangan yang pantas untuk dilihat ” ucap Ares lalu memakaikan jasnya ke bahu Lyra.
“ Terima kasih...rasanya hangat sekali ” ungkap Lyra tanpa menoleh pada Ares.
Ares memandang takjub ke arah Lyra, bagaimana bisa wanita itu begitu bahagia untuk hal-hal kecil seperti memandangi langit seperti saat ini. Sangat berbeda bahkan saat Ares membawanya menaiki kapal mewah dan fakta bahwa pulau ini milik Ares. Tidak sedikit pun membuat gadis itu bersorak bahagia seperti saat ini.
“ Tetaplah seperti ini jangan berubah ” ujar Ares cepat lalu mengecup pipi Lyra cepat.
__ADS_1
Lyra menyentuh pipinya yang di cium oleh pria itu.
“ Anda...jangan mengambil kesempatan saat aku tidak memperhatikan ” Lyra memperingatkan dengan ekspresi mengancam.
“ Oo tadi kamu tidak memperhatikan, ya sudah. Tetaplah jadi istriku ” ucap Ares lagi lalu mencium pipi Lyra lagi.
“ Ya!! Tuan maksudku jangan melakukan hal itu! Pakai acara cium pipi segala! ” sungut Lyra dengan ekspresi kesal yang di buat-buat, karena sejujurnya dia juga suka.
“ Ahhh...aku mencium pipinya maaf...seharusnya di sini ” Ares mengecup cepat bibir Lyra.
“ Tuan!! ” pekik Lyra dengan perasaan malu dan jantung yang berdebar kencang.
Ares tertawa kecil melihat itu, dia tahu walau Lyra bicara seakan menolaknya tapi istrinya menginginkan itu. Ares tentu tahu saat melihat pipi Lyra yang memerah.
“ Oo disana juga tak boleh, kalau begitu di sini ” Ares mendaratkan ciumannya ke dahi Lyra.
“ Aku-
“ Ya sudah bagaimana kalau di sini, lalu di sini dan yang ini bagaimana ”
Belum sempat Lyra berbicara Ares sudah menciumi seluruh bagian wajah Lyra.
“ Terserah Anda saja, aku bingung semakin dilarang malah semakin menjadi ” lirih Lyra.
“ Karena terserah padaku, kalau begitu bagaimana kalau di sini ” Ares mengecup tengkuk leher Lyra cepat.
“ Tuan!! ” pekik Lyra dengan tubuh yang meremang.
“ Aku akan pergi! ” ancam Lyra cepat.
“ Jangan pergi, aku tidak akan melakukannya lagi ” Ares menahan tangan Lyra.
“ Dasar..” sungut Lyra lalu menjauhkan duduknya dari Ares, tapi dengan cepat Ares mendekat lagi.
“ Jaga jarak Anda ” protes Lyra.
“ Aku berjanji tidak mencium, bukan menjauh ” balas Ares tenang.
“ Awas kalau berbohong! Aku benar-benar akan pergi ” tegas Lyra, Ares hanya membalas dengan tawa kecil.
“ Habisnya kamu pura-pura menolak padahal mau ” ungkap Ares.
“ Apa?! ”
**From Author
Terima kasih atas dukungan teman-teman semua, semoga novel ini bisa lebih di kenal sama lebih banyak penggemar lagi. Semangat!!
Quotes dari Author
__ADS_1
“ Terkadang kata-kata jujur yang menyakitkan lebih baik daripada pada kata-kata penenang penuh dusta ”
Mystorios_Writer💍💍**