
Ares menatap Lyra yang tertawa lepas, saat bersamanya ini baru pertama wanita itu tertawa seperti itu. Tulus dan nampak bahagia.
“ Lain kali jangan begitu lagi ” ucap Lyra setelah menenangkan diri sambil mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa.
“ Kamu lebih cantik jika tertawa seperti itu ” puji Ares.
Lyra memasang muka malas.
“ Aku berkata jujur kamu lebih cantik saat tertawa ”
“ Haiiis terserah Anda saja ” balas Lyra.
“ Ini pertama kalinya kamu tertawa saat denganku, aku rasa itu bagus ”
“ Karena berada dekat Anda hawanya selalu menyeramkan ”
“ Apa? menyeramkan ”
“ Anda terkejut sekali, bukankah harusnya banyak orang yang mengatakannya. Tuan itu saat menatap seseorang dengan tajam membuat kita harus tetap waspada dan sikap dingin Anda benar-benar mengganggu ” celoteh Lyra ceplas-ceplos.
“ Tidak ada yang pernah mengatakannya padaku sebelumnya ”
“ Benarkah? Wahh apa mereka setakut itu untuk mengatakannya ”
“ Lalu kamu sendiri tidak takut saat mengatakannya padaku? ”
“ Tidak...apa Anda berharap aku takut? ”
“ Itu bagus berarti kamu tidak perlu merasa enggan ataupun sungkan kepadaku ” syukur Ares.
Apa ini? Bukankah dia sikapnya berubah drastis. Dia jadi sangat lembut dan sedikit lebih mau mendengarkan, batin Lyra.
* * *
Tringg!! Tringg!! Tringg!!
Ponsel Lyra berbunyi dengan segera dia meraih ponselnya.
“ Siapa yang menelponmu ini sudah malam? ” Ares bertanya cepat pada Lyra, Lyra hanya mengedikkan bahu karena dia juga belum melihat layar ponselnya.
Ares menghentikan aktivitasnya sebelumnya dia sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.
“ Halo, Pak ” sapa Lyra sopan.
“ Siapa? ” tanya Ares tapi Lyra malah memberi isyarat agar dia diam.
“ Maaf sebelumnya Pak, karena aku tidak sempat meminta izin secara resmi. Karena kejadiannya begitu tiba-tiba ” lanjut Lyra.
__ADS_1
“ Apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa masuk rumah sakit? ” tanya Aslan cemas, benar yang menelpon Lyra adalah Aslan. Setelah sebelumnya Robert mengatakan alasan mengapa Lyra tak masuk bekerja.
“ Ceritanya panjang Pak, aku mengalami pendarahan. Tetapi untungnya saat ini aku baik-baik saja ” jelas Lyra.
“ Ya ampun ” guman Aslan prihatin.
“ Aku sudah baik-baik saja, Pak. Kemungkinan dua atau tiga hari lagi aku sudah keluar dari rumah sakit. Jadi aku bisa mulai bekerja lagi. Aku sudah mengatakannya pada Pak Robert sebelumnya ” Lyra memang meminta izin dari Robert dan menjelaskan keadaannya.
“ Jangan khawatirkan tentang itu. Justru aku mau memberitahumu kamu tidak perlu bekerja lagi ”
“ Apa? Tapi mengapa, Pak? ” tanya Lyra panik.
“ Dengarkan dulu, aku bukan memecatmu tapi kamu bekerja untuk menyelesaikan magang kuliahmu bukan? ”
“ Benar, Pak ” sahut Lyra cepat.
“ Masa magangmu tinggal seminggu lagi. Jadi aku memutuskan kamu tidak perlu masuk bekerja lagi. Tenang saja aku akan mengurus agar tetap memberikan nilai magang penuh. Pakai sisa waktumu untuk beristirahat sebaik mungkin ” jelas Aslan.
“ Tapi, Pak. Aku merasa tidak seharusnya-
“ Sudahlah jangan merasa tidak enak. Aku berutang banyak padamu. Perusahaan memakai rancanganmu tanpa royalti in bahkan tidak cukup untuk membalas itu ”
“ Rancangan itukan memang sudah seutuhnya menjadi hak milik perusahaan Anda, Pak. ”
“ Pokoknya aku ingin kamu melaksanakan seperti yang kukatakan tadi. Juga aku tetap berharap jika kamu masih mau membantu perusahaan untuk proyek bangunan itu. Bagaimana pun itu ranjanganmu kamu yang paling mengerti ” pinta Aslan.
“ Jaga dirimu dan lahirkan bayi yang sehat ” Aslan lalu mengakhiri panggilan itu.
Terkadang mungkin kita berada di posisi sangat menginginkan seseorang. Entah itu disebut cinta atau hanya obsesi sesaat. Sedikit terasa menyebalkan memang harus merelakanmu. Tapi begitu menakjubkan melihatmu bahagia, ucap Aslan dalam hati.
“ Ini mungkin pengalaman yang belum pantas disebut kisah cinta karena aku belum sempat berjuang untukmu. Semoga kamu terus bahagia Lyra ” guman Aslan tersenyum tulus.
* * *
Lyra mendekap ponselnya sambil tersenyum bahagia.
“ Siapa yang menelpon? ” tanya Ares penasaran melihat wanita itu tersenyum seperti itu setelah bicara dengan orang di telpon tadi.
“ Aku bersyukur sekali ” girang Lyra.
“ Aku bertanya siapa yang menelponmu? ”
“ Itu Pak Aslan pemilik perusahaan tempat aku bekerja ” ungkap Lyra masih tersenyum sumringah.
“ Aku tahu, untuk apa dia menelpon semalam ini ”
“ Ini baru jam 9, tadi dia menanyakan kabarku dan mengapa aku tidak masuk bekerja ”
__ADS_1
“ Dan itu membuatmu tersenyum seperti ini. Kamu suka dia menanyaimu begitu ” sungut Ares.
“ Anda ini kenapa, tentu saja aku senang setidaknya ada yang mengkhawatirkan aku. Selain itu tadi Pak Aslan mengatakan aku tidak perlu bekerja lagi ” seru Lyra bahagia.
“ Dia memecatmu? ”
“ Bukan...karena masa magangku tinggal seminggu lagi, dia menyuruh agar aku menggunakan waktu itu untuk istirahat dan masalah nilai magangku tetap terhitung penuh. Bukankah menurut Anda Pak Aslan itu bos yang sangat baik ” puji Lyra.
“ Baik apanya..” dengus Ares kesal.
“ Aku berkata jujur Pak Aslan itu adalah orang yang baik. Dia itu tetap ramah, bahkan aku sering sekali di ajak makan siang bersama. Padahalkan dia seorang CEO, tapi memang dia sangat rendah hati. ”
“ Kamu nampaknya menyukainya ” Ares kesal mendengar Lyra yang memuji-muji Aslan.
“ Tentu saja aku suka, semua orang pasti menyukai Pak Aslan dia itu sangat ceria dan juga punya selera humor yang baik.”
“ Saat Pak Aslan dan Pak Robert berkumpul bersama. Ya ampun aku rasanya bisa mati tertawa. Mereka akan terus membuat lelucon, terkadang saat serius pun mereka malah bercanda ” Lyra bercerita sambil tertawa mengingat tingkah lucu Aslan dan Robert, tapi tak menyadari ekspresi kesal Ares.
“ Anda sudah bertemu dengan Pak Robert kan, astaga dia adalah orang paling humoris yang pernah ku temui. Semua bisa jadi bahan bercandaan untuknya. Dia memanggil setiap orang dengan panggilan yang dibuatnya sendiri, contohnya dia memanggilku Lyly. Bekerja dengan mereka benar-benar menyenangkan ” Lyra bercerita panjang lebar sambil tersenyum bahagia.
“ Sudah selesai kamu memuji-muji mereka ” ucap Ares begitu Lyra diam.
Lyra baru menatap ke arah Ares dan menyadari ekspresi kesal pria itu.
“ Ada apa? Anda nampak kesal ” tanya Lyra bingung.
“ Kamu menyukai dua pria itu ” ucap Ares penuh penekanan.
Lyra menatap bingung.
“ Iya ” jawabnya polos.
“ Bisa-bisanya kamu terang-terangan mengatakan menyukai pria lain di depan suamimu ”
“ Apa? Jangan-jangan Anda berpikir yang aneh. Aku mengatakan menyukai mereka maksudnya sebatas rekan kerja bukan lebih dari itu. Anda ini sebenarnya kenapa sih? ” Lyra tak habis pikir dengan prasangka Ares.
“ Kamu bahkan nampak sangat bahagia saat menceritakan mereka. Kamu suka memuji pria itu ” ujar Ares masih kesal.
“ Sepertinya ada yang salah dengan Anda, mengapa bertingkah seperti seseorang yang cemburu begitu. Aku hanya menceritakan kebaikannya saja, tak bermaksud lain ” balas Lyra.
“ Apa kalau aku bilang aku cemburu kamu tidak akan menceritakan pria itu lagi? ”
“ Ya?! Anda melantur atau bagaimana ” Lyra semakin bingung dibuat pria itu.
“ Aku cemburu ” ucap Ares cepat.
“**Cintailah aku tanpa rasa takut. Percayalah padaku tanpa perlu bertanya. Butuhkan aku tanpa menuntut. Inginkan aku tanpa batasan. Terima aku tanpa perubahan. Dan sayangi aku apa adanya.”-Anonim
__ADS_1
Mystorios_Writer 🥉🥉**