
“ Sebaiknya kita tetap pada batasan kita ” tutur Lyra.
Ares mengusap wajahnya menatap Lyra kebingungan dengan batasan apa yang dimaksud Lyra.
“ Aku selalu berpikir mengapa harus ada batasan di antara kita ” ucapnya
“ Karena Anda yang sendiri yang membuat itu ” balas Lyra.
“ Beristirahatlah tidak perlu memikirkan hal itu, saat ini kesehatanmu lebih penting ” Ares membenarkan selimut Lyra dan memperbaiki posisi tidurnya.
Ares memilih tidak melanjutkan pembicaraan itu karena dia tidak ingin membuat Lyra merasa terbebani bahkan bersedih karena hal itu.
Lyra memejamkan matanya mengikuti arahan Ares untuk tak meneruskan pembicaraan mereka. Hingga tak berapa lama dia terlelap tidur.
Ares senantiasa menunggu di samping Lyra. Perhatiannya tak pernah teralih dari wanita itu.
* * *
Ketika Lyra membuka matanya di dapatinya Ares yang tertidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya. Pria itu menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Lyra.
Dia menatap dalam wajah pria yang begitu tenang terlelap dalam tidurnya. Pria yang akhir-akhir membuat hatinya tidak tenang. Manik mata Ares yang senantiasa menghipnotisnya untuk tidak pernah berpaling.
Lyra perlahan menyentuh lembut rambut Ares, berhenti sejenak takut pria itu terbangun. Setelahnya dia mengelus lembut kepala Ares.
“ Aneh sekali bukan kamu begitu sering menyakitiku, tapi aku malah jatuh hati padamu ” guman Lyra pelan.
“ Apa aku tidak cukup baik untuk kamu bisa memandangku sebagai wanita. Aku berharap kamu menganggapku lebih dari sekadar ibu dari anakmu ”
Lyra perlahan menyentuh alis mata Ares yang berbaris lurus. Membuat Ares sedikit menggerjapkan matanya.
Dengan cepat Lyra menarik tangannya. Karena Ares mulai bergerak dan terbangun.
“ Kamu sudah bangun, maaf sepertinya aku ketiduran ” ucap Ares dengan suara berat khas bangun tidur.
“ I-iya ” jawabnya salah tingkah beruntung Ares tak mendengarkan perkataannya tadi.
Tiba-tiba seorang perawat masuk membawakan nampan makanan.
“ Ini saatnya pasien makan ” ucap perawat itu.
Ares menerima nampan itu dari perawat dan mengizinkan perawat itu pergi.
Lalu Ares menaikkan posisi ranjang menjadi duduk dan membantu Lyra membenarkan posisinya.
“ Ayo makan dulu ” Ares menyodorkan sesuap bubur pada Lyra.
“ Aku bisa sendiri ” tolak Lyra meminta sendok itu dari Ares.
“ Buka mulutmu ” kekeh Ares tak mengizinkan Lyra makan sendiri.
Lyra akhirnya memakan bubur itu di suap oleh Ares. Lyra menatap Ares yang serius menyuapinya, tak terasa matanya berkaca-kaca. Dia mengusap matanya sebelum air mata itu jatuh.
“ Ada apa? ” tanya Ares yang melihat Lyra menangis.
Lyra menggeleng.
__ADS_1
“ Aku hanya tak sengaja menggigit lidahku ” ucapnya berbohong.
“ Minum dulu, makannya pelan-pelan saja ” Ares memberi gelas itu pada Lyra.
Setelah bubur itu habis, Ares mengambil tisu dan membersihkan mulut Lyra.
“ Baiklah sudah selesai, kamu bisa minum obatmu sekarang ”
Lyra menerima obat itu dari Ares menelannya lalu segera minum.
“ Apa kamu butuh sesuatu yang lain? ” tanya Ares.
“ Bisa tolong ikatkan rambutku, aku tidak bisa karena selang infusnya ” pinta Lyra karena memang rambut panjang Lyra tergerai dan itu sedikit mengganggu. Ares mengangguk pelan.
Lyra membelakangi pria itu dan menyerahkan sebuah ikat rambut kain pada Ares.
Ares dengan teliti menyisirkan tangannya merapikan rambut Lyra, mengumpulkan menjadi satu lalu dengan lembut mengikatnya dengan ikat rambut itu.
“Sudah selesai ” ucap Ares pada Lyra.
“ Terima kasih ” balas Lyra.
“ Kamu ingin kembali berbaring? ”
“ Aku merasa badanku sedikit pegal karena terlalu lama berbaring aku ingin duduk sebentar ”
“ Kalau begitu tunggu sebentar ” ucap Ares lalu dia pergi keluar.
Tak lama Ares kembali dengan membawa air.
“ Aku akan membantumu membersihkan tubuhmu ” ucap Ares sambil memeras handuk kecil.
“ Sebelumnya kamu banyak berkeringat, dokter juga belum mengizinkan kamu mandi ” jelas Ares.
Lyra menggeleng menolak.
“ Sini tanganmu ” Ares tak menghiraukan penolakan Lyra. Diraihnya tangan Lyra lalu melapnya lembut dengan handuk itu.
“ Ini air hangat ” lanjutnya.
Lyra tentu saja merasa sangat malu hingga dia hanya diam saja tak menjawab ucapan Ares.
Ares membersihkan kedua tangan Lyra, wajahnya, lalu lehernya.
“ Maaf sebentar ya ” ucapnya membuka selimut Lyra bermaksud ingin membersihkan kaki Lyra.
“ Jangan! ” pekik Lyra.
“ Su-sudah cukup tidak perlu sampai situ ” Lyra merasa sangat malu.
Bukannya mendengarkan Lyra, Ares meneruskan tindakannya. Dia membersihkan kaki Lyra dengan teliti mulai dari telapak kakinya.
“ Berhenti! Jangan lanjutkan lagi! ” tolak Lyra ketika Ares akan menyentuh pahanya.
“ Tenanglah aku tidak akan macam-macam ” ucap Ares dia fokus membersihkan, hatinya sakit mendapati air yang nampak memerah karena masih ada bekas darah yang tertinggal di kaki Lyra.
__ADS_1
Dia hanya membersihkan sampai pangkal paha Lyra. Karena menurutnya Lyra akan merasa tidak nyaman.
“ Aku akan menyimpan ini dulu ” ucap Ares lalu dia berlalu keluar.
Bagaimana bisa aku melupakan perasaanku saat dia berbuat baik seperti ini, batin Lyra.
Lyra merasa sedikit lebih baik setelah dibersihkan karena sebelumnya tubuhnya terasa lengket.
“ Aku akan di sini sampai kapan? ” tanyanya saat Ares masuk.
“ Dokter mengatakan sebaiknya kamu di rawat di rumah sakit, karena kamu belum di izinkan banyak bergerak ” jelas Ares.
“ Lalu bagaimana dengan magangku ” guman Lyra risau.
“ Tidak perlu khawatir aku akan mengurus itu ke kantormu ”
“ Tidak perlu biar aku saja ” tolak Lyra cepat.
“ Aku akan menghubungi mereka nanti, Anda tidak perlu repot biar aku urus sendiri ” lanjut Lyra.
Bukan selesai masalahnya malah tambah rumit kalau mereka berdua bertemu. Pasti akan melakukan persaingan bodoh!, rutuk Lyra dalam hati.
* * *
“ Lyra..”
“ Lyra.. ” panggil Ares lembut.
Melenguh sedikit Lyra membuka matanya. Nampaknya hari sudah pagi.
“ Pagi ” sapa Ares
“ Pagi ” jawab Lyra dengan suara khas bangun tidur.
“ Ly, aku ada urusan penting di kantor. Aku akan pergi sebentar ” ucap Ares.
“ Maaf aku tinggalkan kamu sebentar, aku pasti akan menyelesaikan secepatnya ”
“ Tidak apa-apa Anda bisa pergi, kemarin bukannya Anda tidak pergi. Aku tidak masalah ada perawat, aku bisa memanggil mereka jika butuh sesuatu ” tutur Lyra.
“ Benar, tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkanmu sendiri. Dokter melarangmu bergerak ”
“ Aku akan tetap diam berbaring, tenang saja ”
“ Aku tetap tidak tenang. Aku akan minta seseorang datang untuk menemanimu di sini. Jika ingin meminta Adhisti saat ini dia sedang di luar kota ”
“ Siapa? ” tanya Lyra penasaran dengan orang yang di maksud Ares.
“ Kamu sudah mengenalnya, aku berharap kalian dapat akrab. Kalau kamu sudah mengenalnya lebih dalam dia itu orang yang baik ” jelas Ares.
“ Aku sudah mengenalnya? Kalau beritahu siapa? ” tanya Lyra.
“ Kamu akan segera tahu saat dia datang. Kalau begitu aku akan pergi sekarang ” Ares memakai jasnya lalu keluar dari sana setelah melambaikan tangannya pada Lyra.
“ Siapa? Kenapa tidak langsung bilang saja. Apakah dia meminta Eslin? Atau Shera? ” guman Lyra bertanya-tanya.
__ADS_1
"**Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri" - Tere Liye
Mystorios_Writer🍵🍵**