
Dia gadis yang baik, ucap Ares dalam hati.
“ Sebaiknya kau berbaring di kamar Isti ” ajak Ares.
Adhisti hanya mengangguk pelan. Lyra melepas rangkulannya karena Ares mendekat untuk memapah Adhisti.
Ares membaringkan Adhisti di atas ranjang kamar atas.
Ini pertama kali Lyra memasuki kamar itu, di lihatnya sekeliling di meja rias terdapat sebuah bingkai yang foto, yang menunjukkan seorang wanita dengan bayi di gendongannya, dan seorang anak kecil yang memeluk wanita itu.
Lyra memegang foto itu, menatapnya tapi dia tidak mengenalinya. Setelah dilihat lagi beberapa foto lainnya juga berisi foto bayi dan anak itu.
“ Itu foto kami dan ibuku ” ucap Ares karena sepertinya Lyra akan mempertanyakan itu.
“ Ini foto masa kecil Anda? Tapi kenapa bisa ada di sini? ”
“ Waktu kecil kami tinggal di rumah ini bersama ibuku. Dia adalah wanita yang suka kesederhanaan dan tidak terlalu suka dengan gaya hidup glamor ”
Itu cukup jelas dari suasana rumah ini.
“ Setelah ibuku meninggal kami tidak menempati rumah ini lagi ”
Mereka pindah ke rumah yang waktu itu. Lalu bagaimana dengan ayahnya, Tuan Ares maupun Adhisti jarang sekali mengungkit mengenai keluarganya.
“ Ohh ” ucap Lyra, walaupun dia di penuhi pertanyaan, tapi dia juga tidak berani untuk bertanya.
“ Rumah ini pasti penuh kenangan, kenapa Anda memutuskan untuk membawaku tinggal di sini ”
“ Apa yang salah dengan itu, kau tinggal di sini tidak akan merubah atau merusak kenangan itu ”
Lyra terdiam mendengar kalimat yang diucapkan Ares itu.
“ Aku semakin merasa bagaimana anehnya hubungan yang di bangun tanpa saling mengenal ” ucapnya.
“ Kau boleh bertanya apa pun tentang aku, kau tentu saja boleh bercerita apapun tentangmu. Maka hubungan ini tidak akan terasa asing lagi ”
“ Ehm ti-tidak maksudku bukan seperti itu ” Lyra tiba-tiba gugup tak menentu.
“ Aku akan pergi mandi ” Dia segera pergi dari sana, dan masuk ke kamarnya.
Ares tersenyum melihat Lyra yang menjadi salah tingkah.
“ Ho oh dia pintar sekali menjebakku ke dalam pembicaraan yang melantur, tadi itu canggung sekali ” rutuk Lyra ketika dia mengingat kembali ucapan Ares.
* * *
Sampai jam 2 siang, Lyra tidak keluar dari kamarnya, dia menghindari Ares. Sepertinya Ares juga mengetahui Lyra menghindarinya, tapi dia memilih untuk memberi waktu untuk Lyra tidak perlu takut lagi padanya. Jadi dia menyibukkan diri dengan memeriksa laporan yang di kirimkan Gavrill. Sekretaris pribadinya itu telah lama pergi ke kantor.
Lyra membalik-balikkan lembaran buku yang ada di depannya, dia mulai bosan dan kebiasaan anehnya yang terjadi baru-baru ini sepertinya kumat.
“ Aku mau makan buah anggur kesukaanku ” ucapnya sendu, dia mengelus perutnya.
Lyra berjalan pelan keluar dari kamarnya dia tidak ingin menarik perhatian Ares yang sedang duduk di sofa.
Di bukanya lemari es, matanya sibuk mencari benda yang di inginkannya.
Tidak ada satu pun buah anggur di sini, Adhisti tidak membawanya.
Lyra berjalan lesu ingin kembali ke kamarnya.
“ Kau lapar? ” tanya Ares ketika Lyra melewatinya, sebenarnya sejak tadi dia sudah memperhatikan Lyra. Ares juga menyadari nampaknya Lyra tidak menemukan yang dia inginkan.
Lyra memandang malas ke arah Ares, lalu dia menggeleng.
“ Apa kau ingin sesuatu? kau nampak lesu ”
__ADS_1
Aku ingin makan anggur.
“ Tidak aku baik-baik saja ” mulut dan hatinya tidak sinkron.
“ Baiklah ” jawab Ares, Lyra sangat kecewa kenapa Ares tidak menanyainya lagi.
“ Aku mau anggur ” rengeknya.
Ares melotot kaget mendengar perkataan Lyra.
“ Hei itu tidak mungkin, seorang wanita hamil meminum alkohol tidak tidak, aku tidak akan mengizinkanmu sampai kapanpun ” tegas Ares.
“ Bukan, aku tidak mau alkohol. Maksudku buah anggur, bukan alkohol ”
“ Ohh astaga aku tidak berpikir ke arah situ ” ucap Ares.
“ Tentu saja Anda tidak berpikir seperti itu, Anda pasti memandang aku sebagai seorang pecandu alkohol ” kesal Lyra.
Aku salah bicara, batin Ares.
“ Maaf aku tidak pernah bermaksud menuduhmu peminum, aku hanya terlalu khawatir ”
Lyra membuang wajahnya, dia sudah terlanjur marah karena perkataan Ares.
“ Kau mau anggurkan, baiklah tunggu sebentar aku akan meminta Gavrill membawanya segera ”
“ Tidak usah, aku akan pergi sendiri membelinya ” tolak Lyra.
“ Kau belum terlalu tahu daerah sekitar, kalau begitu biar aku temani ”
“ Aku hanya membutuhkan ponsel, sekarang sudah ada G-Maps ” dia lalu meninggalkan Ares dan masuk ke kamarnya.
Lyra keluar setelah selesai berdandan, dan membawa tasnya.
“ Masuklah biar aku antar ” bujuk Ares sambil dia membukakan pintu mobilnya.
Dia masih marah.
“ Kau masih marah karena yang tadi aku bersungguh-sungguh tidak ada niat berprasangka padamu. Aku minta maaf sebagai gantinya kau bisa membeli apa saja nanti ”
Lyra sedikit tergoda dengan tawaran Ares, dia benar-benar ingin membeli banyak anggur.
“ Aku mohon sekali lagi coba pikirkan terlebih dahulu, Anda tahu terkadang perkataan seseorang bisa menyakiti orang lain ”
“ Aku berjanji tidak akan mengulanginya, kau sudah tidak marah lagikan, ayo aku akan mengantarmu ” ajaknya.
Lyra masuk ke dalam mobil, setelah Ares menunggu Lyra selesai memasang seatbeltnya baru dia melajukan mobilnya.
Mereka berhenti di depan sebuah supermarket, itu adalah yang terdekat dari rumah.
“ Ayo ” ajak Ares pada Lyra, mereka tidak berjalan beriringan. Lyra berjalan di depan Ares, dan Ares mengikutinya dari belakang.
Dengan cepat mereka telah tiba di etalase khusus buah anggur. Mata Lyra berbinar ceria memandang barisan anggur yang tersusun rapi.
~10 menit~
~20 menit~
~ 30 menit ~
Ares mulai mengibas-ibaskan kakinya yang pegal setelah begitu lama berdiri diam di sana, dia tidak tahu alasan Lyra berdiri cukup lama di sana hanya memandangi anggur.
“ Ly, bukankah kita akan membeli anggur itu. Ambillah masukkan ke troli ” ucapnya karena kesabarannya mulai habis.
“ Tunggu sebentar lagi ” jawab Lyra tanpa melihat Ares.
__ADS_1
Dari tadi dia hanya berdiri di sini, ya ampun sebenarnya apa ini, batin Ares.
Seorang wanita paruh baya lewat dengan mendorong trolinya.
“ Hei ini tempat umum, bagaimana kau bisa sangat egois. Kalian menghalangi jalan ” ucap wanita itu dan dengan sengaja dia menabrakkan trolinya ke troli yang berada di belakang Lyra.
“ Awww ” ringis Lyra karena punggungnya tertabrak troli, dan dia juga terdorong sampai tersudut ke arah etalase.
“ Apa yang Anda lakukan?! ” bentak Ares pada wanita itu, dengan cepat dia menggeser troli itu dan membantu Lyra.
“ Hah! kau berteriak kepadaku, jelas itu salah wanita itu. Menghalangi jalan orang lain! ” tukas wanita itu kasar.
“ Kau! -
Lyra segera menghadang Ares yang ingin melanjutkan pertengkaran dengan wanita itu.
“ Sudahlah Tuan tidak apa-apa, aku juga baik-baik saja ” bisiknya.
“ Maaf Nyonya ini adalah salahku aku minta maaf telah mengganggu Anda ” ucap Lyra sambil membungkuk.
“ Begitu seharusnya ” ucap wanita itu sinis lalu dia pergi dari sana.
Lyra menegakkan tubuhnya kembali, Ares menatapnya dengan tatapan marah.
“ Tidak ada salahnya mengalah untuk menghindari masalah, lagian memang itu salahku juga ” jelas Lyra.
“ Kau tidak salah, semua orang berhak untuk berdiri dan melihat barang yang akan dibelinya, tapi tidak ada yang berhak untuk melukai orang lain ” sesal Ares atas tindakan Lyra yang meminta maaf pada wanita itu, yang menurut Ares wanita itulah yang tidak sopan.
“ Aku akan mengambil anggurnya ” ucap Lyra berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Dia lalu mengambil semua anggur yang ingin di belinya dengan semangat, dia sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa moodnya naik turun tak menentu. Ares yang melihat Lyra kembali ceria dan bersemangat juga mulai sedikit tenang.
Setelah satu troli penuh dengan anggur barulah Lyra mengajak Ares pergi. Ares mendorong troli itu menuju kasir.
“ Tiba-tiba tempat ini jadi sepi sekali, kemana semua orang itu tadi ” gumam Lyra betapa dia merasa heran ketika tidak ada pembeli lain selain mereka yang ada di sana. Supermarket itu kini hanya di isi beberapa karyawan saja.
“ Hanya sedikit memberi ruang agar kau merasa bebas ” jawab Ares santai setelah melihat Lyra yang keheranan.
“ Ya?! maksud Anda? ” Lyra semakin tak mengerti.
“ Aku tidak mau kau terganggu seperti tadi, jadi aku meminta mengosongkan supermarket ini ”
“ Apa?! ”
“ Hmm ” Ares hanya membalas dengan Berdehem.
Mengosongkan tempat ini hanya karena masalah seperti itu, apa dia punya kelainan, pikir Lyra.
Dengan bantuan dari beberapa karyawan, semua belanjaan Lyra berhasil di angkut ke bagasi mobil Ares.
“ Bisa-bisanya mereka mengusir pembeli seperti itu ”
Lyra menoleh ke arah sumber suara itu, di lihatnya wanita paruh baya yang tadi bermasalah dengannya. Wanita itu beberapa kali terus memaki dan merutuki karena dia tidak di izinkan belanja, dengan alasan supermarket di tutup tiba-tiba, dan tentu saja itu karena ulah Ares.
Lyra lalu masuk ke dalam mobil, dia menatap Ares dengan tatapan aneh.
“ Kenapa melihatku seperti itu? ” tanya Ares sadar dengan tatapan Lyra padanya.
“ Aku hanya ingin bilang nyatanya Anda suka membuat kehebohan hanya untuk hal-hal kecil yang tidak seharusnya di perbesar ” tutur Lyra.
“ Ini bukan hal kecil, wanita itu menganggu istriku. Hal itu tidak bisa di anggap remeh ” jawab Ares santai.
“ Ya? ” Lyra terkejut dengan pernyataan Ares yang mengatakan istriku, itu sedikit risih menurut Lyra.
Ares tidak menjawab Lyra lagi dia menjalankan mobilnya.
"**Tidak perlu bertindak bodoh jika tujuannya hanya untuk menarik perhatian seseorang.-Anonim.
__ADS_1
Mystorios_Writer 🌻**