
“ Bukan perhiasan biasa. Itu cincin pernikahannya ” balas Lyra.
“ Apa istimewanya cincin pernikahan ” ucap Ares dengan nada sedikit merendahkan.
“ Tuan cincin pernikahan itu sangat berharga bagi wanita tadi karena merupakan hadiah di hari yang sangat spesial baginya, dan juga simbol dari pernikahannya. Dengan mengenakan cincin itu di jarinya dia menaruh harapan agar suaminya tidak melupakan janji yang di ucapkan saat menyematkan cincin itu ” jelas Lyra tulus.
Ares akhirnya tidak bisa berbicara apa pun lagi sehingga dia hanya diam tak menanggapi.
“ Tuan ayo kita pergi..jangan hanya diam di sini saja ” Lyra mengajak Ares yang masih tetap diam di tempatnya.
Sedikit tersadar dari lamunannya Ares berjalan menghampiri Lyra.
“ Tuan!! ” pekik Lyra terkejut.
“ Apa yang Anda lakukan cepat turunkan aku? ” Lyra berontak dari pelukan Ares.
“ Kamu pasti kelelahan, kalau kamu mau kita tetap pergi maka aku harus menggendongmu. Tidak mau maka kita akan segera pulang ” tegas Ares tetap dengan kuat mengangkat Lyra ala bridal style.
“ Aku tidak terlalu lelah, justru nanti Tuan bisa kelelahan kalau terus menggendong aku, tubuhku pasti berat ” ucap Lyra lagi agar Ares menurunkannya.
“ Aku bahkan heran kenapa tubuhmu ringan sekali. Lihat ini ” Ares mengangkat tubuh Lyra lebih tinggi.
“ Tuan!! ”
“ Aku bisa jatuh! Ya sudah terserah Anda saja. Tapi jangan mengeluh nanti! ” Lyra memperingatkan.
Ares kemudian melanjutkan langkahnya. Dengan enggan Lyra mengalungkan tangannya ke leher Ares.
Menyenangkan sekali! Aku sangat senang saat-saat seperti ini, batin Lyra dia tersenyum kecil.
“ Jarimu masih sakit? ” tanya Ares.
“ Ehh..ternyata Anda melihatnya. Tidak sakit paling di oles salep saja sudah sembuh ” jawab Lyra.
“ Baguslah ”
Benar saja selama perjalanan Ares tidak sama sekali mengeluh bahkan tangannya tak pernah terasa mengendur walaupun mereka telah berjalan jauh.
“ Kita akan kembali ke gazebo ” ucap Ares.
“ Baiklah ” balas Lyra bersemangat.
Ares menurunkan Lyra begitu mereka tiba di gazebo.
“ Anda pasti kelelahan. Kemari istirahat di sini ”
Ares mengikuti perintah Lyra.
“ Setelah istirahat kita pulang ” ucap Ares.
“ Ta-tapi...” balas Lyra enggan.
“ Kenapa? ”
“ Tuan bisakah kita pulang setelah melihat matahari terbenam di sini. Itu tinggal sebentar lagi ” pinta Lyra sedikit manja.
__ADS_1
Ares sebenarnya berencana segera pulang dia menerima pesan dari Gavrill yang mengatakan membutuhkannya di kantor.
“ Aku sangat ingin melihat matahari terbenam ” bujuk Lyra lagi karena Ares belum menjawab.
Masa bodoh dengan Gavrill! Aku tidak akan sanggup menolaknya, batin Ares kuat.
“ Baiklah kita akan kembali setelah melihat matahari terbenam, tapi setelahnya kita langsung pulang ” jawab Ares.
“ Yeah!! Makasih Mas! ” lonjak Lyra kegirangan.
Ares terkejut mendengar wanita itu kembali memanggilnya Mas.
Setelah tersadar Lyra menutup mulutnya.
Astaga mati aku! Keceplosan!
“ Tu-tuan terima kasih ” ucapnya malu-malu.
Sudut bibir Ares terangkat menertawakan sikap wanita itu yang berubah salah tingkah.
“ Hmm” Ares berdehem kecil berpura-pura santai. Lalu dia mengirim pesan kepada Gavrill.
Ares memesankan banyak makanan dan juga minuman selama mereka menunggu di gazebo itu. Lyra terlihat sangat senang dan puas akan hal itu.
* * * *
“ Wahh matahari terbenam ternyata bisa seindah ini ” ucap Lyra dengan mata berbinar memandang peristiwa sunset itu.
Berbeda dengan Lyra pandangan Ares hanya berfokus pada Lyra. Baginya Lyra lebih indah dilihat dari pada sunset itu.
Ares mendekat dan membenarkan anak rambut Lyra yang berserak terhembus angin pantai yang lumayan kencang.
“ Jangan menangis ” ucap Ares sembari mengusap wajah Lyra.
“ Tidak ini karena aku terlalu senang, terima kasih Anda sudah sangat baik hari ini ”
“ Sama-sama tapi semua itu tidak gratis kamu harus membayarku untuk itu ”
“ Tuan ini bagaimana! Dasar tidak ikhlas! ” rutuk Lyra.
“ Kamu harus membayarnya dengan terus tersenyum ” ucap Ares.
Pipi Lyra seketika memerah mendengar itu.
“ Kamu terlihat sangat cantik saat tersenyum dan kalau kamu marah karena suatu hal padaku cepat katakan ” Ares mencubit hidung Lyra pelan.
Lyra mengangguk cepat.
Sikapnya manis sekali!! Aku bisa meleleh saat ini juga!
“ Ayo kita pulang ” ajak Lyra.
“ Kamu nyakin? ” tanya Ares memastikan.
“ Iya ” jawab Lyra pasti dan menggenggam tangan Ares.
__ADS_1
Aku tahu seharusnya sedari tadi kita harus pulang. Anda mendapat panggilan dari Gavrill, tapi memilih tetap di sini untuk menemaniku itu sudah cukup, batin Lyra.
Ares membantu memasangkan seatbelt Lyra. Lalu kemudian melajukan mobilnya.
“ Kamu tidak kedinginan, sebaiknya tutup jendelanya ” ucap Ares yang melihat Lyra membuka jendela mobil.
“ Tidak anginnya terasa menyegarkan biarkan terbuka seperti ini ” balas Lyra karena dia benar-benar menikmati saat angin menerpa wajahnya.
“ Ikutlah bersamaku ke kantorku besok ” tutur Ares.
“ Kantor? Aku tidak salah dengarkan ” Lyra tak nyakin akan pendengarannya.
“ Benar, berada di rumah kebosanan juga tidak baik untuk perkembangan mentalmu. Aku akan membawamu ke kantorku setidaknya kamu bisa sekadar melihat para pekerja di sana ” jelas Ares.
“ Tidak Tuan yang ada aku malah akan menghambat dan merepotkan Anda ” tolak Lyra.
“ Kamu belum pernah benar-benar melihat aku saat bekerjakan, jadi kamu cukup mengawasi aku saja ” ucap Ares percaya diri.
Hanya mengawasimu juga membosankan, ucap Lyra dalam hati.
“ Ikutlah kalau kamu memang bosan berada di sana aku akan mengantarmu pulang ” lanjut Ares.
“ Baiklah ” Lyra akhirnya menyetujui itu karena sepertinya Ares akan tetap berusaha menyakinkannya untuk ikut ke perusahaan.
Karena tidak mengobrol lagi, Lyra akhirnya terbawa kantuk dan tertidur.
Ares yang melihat itu menutup kembali jendela mobil, agar Lyra tidak kedinginan dan masuk angin.
Bahkan saat mereka tiba di rumah Lyra masih terlelap. Akhirnya Ares menggendong Lyra membawanya ke kamar. Lalu perlahan membaringkan Lyra.
“ Aku pergi dulu ada yang harus ku kerjakan ” Ares mengecup dahi Lyra lalu pergi meninggalkan Lyra.
* * * *
“ Bagaimana perkembangannya? ” tanya Ares serius pada Gavrill.
“ Semuanya masih gamang Tuan cukup sulit untuk menemukan dia ” jawab Gavrill walau tahu jawabannya akan membuat bosnya itu marah.
“ Bisa-bisanya setelah selama ini kalian masih belum menangkap pelakunya!! ” bentak Ares.
“ Maaf Tuan kami tidak becus ” ucap anak buah Ares serempak dan segera berlutut, kecuali Gavrill.
“ Dasar!! Aku tidak butuh kata maaf kalian!! Yang aku inginkan pelaku itu ada di sini segera!! ” teriak Ares jika sudah seperti ini takkan ada yang berani menjawab Ares.
“ Tuan setelah penyelidikan yang kami lakukan, dapat di pastikan bahwa dalang dibalik penculikan itu bukan orang sembarangan. Bagaimana pun kami berusaha mencarinya tapi jejaknya tak terlihat sama sekali ” Gavrill menjelaskan laporan mereka.
“ Siapa bajing*n itu?! Berani-beraninya dia berniat mengusikku!! ” kesal Ares meremas kertas di tangannya.
“ Tuan sebaiknya kita tidak boleh lengah sedikit pun. Aku sarankan agar Nona Lyra tidak pernah lepas dari pengawasan. Karena nampaknya ada rencana besar yang sedang dilakukan penjahat ini. Kita tidak tahu pasti siapa target mereka itu Nona Lyra, Tuan, atau bahkan Nona Adhisti sekalipun ” jelas Gavrill.
“ Ternyata itu benar-benar berkaitan denganku bukan hanya karena proyek pembangunan Founding Company ” Ares memandangi bukti-bukti yang ada di meja.
“ Tambah jumlah penjaga di mansion, usahakan orang kita selalu berada di sekitar Adhisti. Masalah Lyra aku akan memastikan dia tetap berada di pengawasanku ” Memang bukan tanpa alasan Ares mengajak Lyra pindah ke mansion itu dan memutuskan untuk membawa Lyra ikut ke kantornya. Ada suatu ancaman besar yang belum terdeteksi.
Kasus penculikan Lyra waktu itu bukan hanya mengarah pada tujuan untuk ancaman bagi Founding Company, tapi juga dengan tujuan lain yang lebih besar dan menuju pada Ares.
__ADS_1
“**Teruslah tersenyum, karena hidup adalah hal yang indah dan ada banyak hal untuk disyukuri.” — Marilyn Monroe
Mystorios_Writer💋💋**