
“ Nampaknya kita akan terus dibatas ini, tidak saling mengerti atau mengenal sama sekali ” ucapnya lirih.
“ Terima kasih setidaknya Anda mengizinkan aku bertanya ” ucapnya melepaskan pegangannya dari tangan Ares.
Dengan cepat Ares menahan Lyra yang ingin menjauh darinya. Dia menggenggam wajah Lyra dengan kedua tangannya.
“ Aku sudah katakan padamu untuk tidak menciptakan batasan di antara kita ” ucapnya tepat di wajah Lyra.
“ Anda yang membuat batas yang dimana aku sendiri tidak diizinkan untuk melewatinya ” tutur Lyra.
“ Masa laluku tidak penting, Lyra ” desah Ares singkat.
“ Jelas penting aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu Anda, setiap membicarakan hal itu Tuan akan berubah menjadi tegang. Masa lalu itu menyakitkan? ” tanya Lyra berusaha tetap mencari tahu.
Ares menggeleng, tetapi Lyra tahu dari ekspresinya dia berbohong.
“ Sudahlah....aku tidak akan bertanya lagi ” ucap Lyra sambil mencoba melepaskan genggaman Ares di wajahnya.
“ Lyra tatap aku ” pinta Ares.
Lyra menatap manik tajam pria itu.
Ares mendekatkan wajahnya kepada Lyra hingga hidung mereka bersentuhan. Lyra ingin menjauh namun ditahan oleh Ares.
“ Dengar, Ly. Masa laluku ibarat sebuah boomerang. Jadi jangan bertanya tentang itu lagi ” ucapnya lembut.
Lyra merasakan tatapan terluka Ares. Hingga dia hanya diam memandangi pria itu.
Ares mendekatkan wajahnya pada Lyra hingga dahi mereka menempel. Lyra menutup matanya merasakan kedekatannya dengan Ares saat napas mereka berhembus begitu dekat.
Tak tahu karena apa tapi Lyra ikut merasakan rasa sakit yang di sembunyikan pria itu.
“ Maaf....itu pasti berat bagi Anda ” ucap Lyra menyesal.
Ares hanya membalas tatapan Lyra tanpa bicara. Dia mengusap lembut pipi Lyra. Menyentuhkan hidung mereka lagi.
Lyra berubah waspada tapi tak bisa berpaling dari pria itu.
Cupp!
Ares mengecup bibir Lyra cepat.
Lyra terkejut sehingga dia hanya dapat melotot.
“ Aku juga meminta maaf...”
Belum sempat Lyra mencerna perkataan Ares, pria itu telah kembali menyerang Lyra. Kembali mencium Lyra bukan kecupan singkat. Ares melu.mat bibir Lyra, dengan cepat mengajak Lyra untuk mengikuti permainannya.
Jantung Lyra berdegup kencang tindakan Ares membawa Lyra kembali pada saat traumanya. Tangan Lyra meremas kuat selimut di bawahnya.
Ares menyusupkan tangannya ke dalam rambut Lyra memperdalam lagi ciuman mereka. Benar-benar mencicipi rasa wanita itu.
Lyra menggerakkan tangannya ke arah pundak pria itu, dia benar-benar ingin mendorong Ares menjauh. Tapi saat dia melihat pria itu niat itu dengan segera di urungkannya, melihat Ares memejamkan matanya merasakan pria itu menciumnya dengan segenap emosinya yang tertahan.
Lyra tidak tega Ares kembali tersakiti sama seperti saat dia mendorongnya waktu itu. Hingga menahan rasa takutnya, tangannya beralih meremas bahu Ares kuat.
__ADS_1
Mendapati itu Ares menduga Lyra tidak menolak ciuman mereka, sehingga tetap mencumbui wanita itu.
Lyra mulai merasa kehabisan napas, dia makin meremas kuat bahu Ares.
Perlahan Ares melepaskan ciuman mereka. Keduanya bernapas tersengal-sengal setelah ciuman panas itu.
“ Maaf..” Ares mengusap bibir Lyra yang membengkak karena ulahnya.
Lyra mengatur napasnya sejenak.
“ Aku akan menunggu saat Anda siap menceritakan padaku kisah masa lalu Anda ” Lyra memanfaatkan kesempatan karena saat ini Ares rentan.
Ares terdiam tak mampu menanggapi ucapan Lyra.
“ Tidak perlu menjawabnya sekarang ” Dengan memberanikan diri Lyra memeluk Ares mendekap pria itu.
Walau canggung Lyra mengusap lembut punggung Ares.
“ Aku siap mendengarkannya saat Tuan siap. Percayalah padaku ” lanjutnya.
Dia dapat merasakan Ares menganggukkan kepalanya. Lyra tersenyum bersyukur akan hal itu.
Selanjutnya pria itu balik mendekap Lyra kuat dan posesif seakan tak mau melepaskan Lyra.
Setelah lumayan lama Lyra mulai merasa sesak.
“ Tuan bisakah melepaskan pelukannya aku merasa sesak ” pinta Lyra.
“ Kamu yang memeluk duluan mau bagaimana lagi aku belum puas memelukmu ”
“ Masih sesak? ” ucap Ares setelah melonggarkan pelukannya sedikit.
Dengan terpaksa Lyra mengangguk bagaimana pun dia tahu sifat pria itu lalu mengapa memancing dengan memeluknya duluan. Ini merupakan resiko yang harus di terimanya.
“ Terima kasih ” ucap Ares tersenyum melepaskan pelukannya setelah cukup lama.
Lyra menghela napas lega dia juga bersyukur nampaknya mood Ares telah membaik.
“ Kapan kita akan pulang? ” tanya Lyra setelah melihat jam tangannya.
“ Pulang kemana lagi. Ini rumah kita sekarang ” jawab Ares pasti.
“ Aku setuju untuk pindah tapi tidak perlu tergesa-gesa harus hari ini juga Tuan. Bagaimana dengan barang-barang yang masih di sana ” protes Lyra.
“ Semua barang yang kamu perlukan akan segera di bawa ke sini. Jadi tidak perlu pergi ke sana. Aku sudah mengurusnya. ”
“ Tetap saja bagaimana bisa langsung pindah ke sini. Setidaknya aku butuh mandi ” sungut Lyra tak terima.
Ares berdiri lalu berjalan mendekat dan membuka sebuah pintu di kamar itu.
Lyra tercengang tak percaya dengan penglihatannya.
Ternyata ruangan itu adalah walk in closet yang di penuhi pakaian, sepatu, tas, dan perlengkapan wanita lainnya.
“ Bagaimana semua pakaian ini ada di sini? ” tanya Lyra pada Ares.
__ADS_1
“ Sudah kubilang tidak perlu memikirkan apa pun. Semua yang kamu butuhkan sudah ada di rumah ini ” ujar Ares tersenyum pada Lyra.
“ Kamu tinggal bersama wanita sebelumnya? ” tanya Lyra tidak suka pada Ares.
“ Tentu saja ”
“ Antarkan aku pulang! Aku tidak mau memakai semua barang bekas wanita itu! ” Lyra berbalik cepat meninggalkan Ares.
“ Hei..tunggu dulu Nona, kenapa marah begitu ada yang salah ” cegat Ares.
“ Bagi Tuan tidak ada yang salah, aku yang merasa salah jika harus menggunakan barang bekas pakai seseorang ” sungut Lyra marah.
Ares tertawa kecil dan beralih memeluk Lyra dari belakang.
“ Lepaskan! Aku mau pulang! ” rontah Lyra.
“ Kita sudah pulang sekarang ini rumahmu. Aku hanya menjawab dengan jujur pertanyaanmu karena memang aku tinggal dengan wanita dulu ”
“ Ya sudah aku tidak peduli! Aku akan mengambil semua barangku sendiri! ”
“ Kamu begitu manis saat marah. Wanita itu Adhisti, aku bahkan dari kecil sudah tinggal bersamanya ” ujar Ares tertawa jahil.
Lyra dengan cepat berbalik memukul bahu pria itu kuat, walaupun Ares nampak tak bergeming.
“ Apa menyenangkan membuat orang lain marah?! ” pekik Lyra kesal.
Ares mencubit hidung Lyra gemas.
“ Makanya jangan cepat berprasangka. Mana mungkin aku membiarkan istriku memakai barang bekas orang lain. Lagian sudah berapa kali aku katakan tidak punya wanita lain ” jelas Ares.
“ Siapa yang tahu bisa saja itu kebohongan. Aku kesal sekali ”
“ Kamu sudah dengar dari Shakira kalau aku tidak pernah terlibat hubungan asmara dengan wanita mana pun ” ucap Ares bangga.
“ Jadi tidak perlu menyangkalnya, kalau kamu mau mandi pergilah. Periksa semua yang ada di sana baru ” Ares menunjuk ke arah walk in closet itu.
Lyra yang memang kesal dengan pria itu dan juga merasa dia butuh mandi. Berlalu melewati Ares.
“ Tidak pernah terlibat hubungan asmara dengan wanita lain. Kalau begitu bisa saja Tuan seorang biseksual...GAY ” ejek Lyra.
“ Apa?! Bisa-bisanya kamu berpikir begitu. Lalu saat aku menciummu menurutmu itu apa? ” sungut Ares tak terima.
Lyra merasa malu saat Ares mengungkit tentang ciuman tapi tetap tidak terima kalah berdebat dengan pria itu.
“ Rasanya tidak memuaskan ” ucap Lyra menggedikkan bahu, lalu dengan cepat menutup pintu walk in closet itu agar Ares tak bisa membalasnya.
“ Tidak memuaskan?! Haruskah aku menunjukkan padamu! Kalau aku bisa memuaskanmu bahkan lebih! ” ucap Ares dengan nada sedikit tinggi.
“ Rasakan ” guman Lyra tertawa di balik pintu itu.
Ares mengacak rambutnya.
“ Ciumanku tidak memuaskan? Apa dia sedang membandingkan aku dengan orang lain? Wanita itu dia mencoba menantangku lihat saja nanti aku tunjukkan padamu ” rutuk Ares berbicara sendiri.
“ **Aku pernah mendengar ini, lalu mencoba menerimanya, dan inilah aku sekarang ”-Anonim.
__ADS_1
Mystorios_Writer 🧘♀️🧘♂️**