
“ Pemanasan tadi cukup membantu ” ujar Gavrill.
Ares melangkah cepat dan dengan gerakannya dia mampu melumpuhkan penjahat yang berjumlah lebih banyak dari mereka.
“ Sialan!! ” rutuk Ares saat pistolnya sudah kehabisan peluru.
Dia melonggarkan sedikit kerah kemejanya dan tanpa rasa takut menerjang kawanan yang melawannya dengan senjata tajam bahkan senjata api.
Gavrill yang berjarak agak jauh dari Ares, menyaksikan bosnya yang bertarung hanya mengandalkan kekuatan fisiknya.
Dorr!!
Gavrill menembak seorang pria yang akan menusuk Ares dari arah belakang dengan sebuah pisau.
“ Damn it!! Itu peluru terakhir! Bukannya mati malah mengenai kakinya! ” tembakan Gavrill meleset karena pergerakan pria itu.
Setelah melawan para penjahat yang mengepungnya, Gavrill segera berlari ke arah Ares, karena semakin banyak musuh yang mengkeroyok bosnya itu.
“ Kau terlambat ” ujar Ares saat dia dan Gavrill berdiri membelakanginya dan mereka berdua di todong pistol yang masing-masing mengarah langsung ke kepala mereka.
“ Sepertinya sedikit Tuan ” ucap Gavrill masih berusaha bersikap santai walaupun maut sudah di depan mata.
“ Jangan melakukan perlawanan lagi! Kalau tidak akan kami bunuh kalian!! ” teriak pria yang menodongkan pistol pada Ares.
Sedikit tertawa Ares mengangkat tangannya ke atas seolah di menyerah.
“ Gavrill ” gumannya pelan.
Gavrill kembali mundur dan mendekat lagi ke arah Ares.
“ Baik Tuan ” lirihnya pelan.
“ Menunduk!! ” perintah penjahat itu.
Ares tertawa mencela.
“ Bunuh saja!! ” serunya. Dan secepat kilat Gavrill membungkuk dengan punggung Gavrill sebagai tumpuan Ares melompat dan melayangkan tendangannya tepat kepada pria yang menodong pistol ke arah Gavrill.
Dengan cekatan Gavril mengambil belati kecil dari saku jasnya dan sekali lemparan tepat mengenai dada pria yang menodongkan pistol ke arah Ares sebelumnya.
Dorr!!
Satu tembakan terlepas dari pistol orang itu, tapi karena dia telah tumbang tembakan itu melesat ke udara.
“ Dasar!! Masih punya tenaga?! ” seru Gavrill sambil menginjak tangan pria itu dan segera pistol itu terlepas dari tangannya.
Gavrill meraih pistol itu.
__ADS_1
Dorr!!
Pria itu bertemu ajalnya, sedikit berjongkok Gavrill mengambil belatinya yang tertancam di dada pria itu.
“ Aku ambil punyaku ” ucapnya.
Srett!!
Suara sayatan terdengar jelas, Gavrill segera berbalik.
* * *
Lyra mondar mandir di ruangan tamu rumahnya, sedikit pun dia tidak bisa tenang karena sama sekali belum mendapat kabar apa pun dari Ares.
Dan Ares juga belum kembali ke rumah. Lyra memandang empat orang pria yang berdiri tegak di ruang tamu itu.
Jika sebelumnya dia hanya dikawal oleh dua orang, saat tiba di rumah Lyra malah mendapati lebih banyak penjaga. Nampaknya Ares benar-benar memastikan agar dia tidak pergi ke mana pun.
“ Apa sudah ada kabar dari Tuan? ” tanya Lyra risau pada salah satu pengawal itu.
“ Saat ini masih belum ada kabar atau perintah apa pun dari Tuan Ares ” jawab pengawal itu kaku.
Napas Lyra serasa tersekat dia memegangi lengan sofa dan terduduk lemas di sofa itu. Lyra memegangi kepalanya yang terasa berat memikirkan keadaan suaminya saat ini.
Tanpa terasa bulir air mata lolos begitu saja dari matanya.
“ Akhh...” desahnya frustasi dan mengusap wajahnya kasar.
* * *
Ares memegangi lengannya yang mulai bercucuran darah.
“ Bajing*n!! ” rutuk Ares setelah dia menendang seorang pria yang memegang sebuah pisau di tangannya. Dan pisau itulah tadi yang dengan mulusnya menyayat lengannya.
“ Tuan!! ” seru Gavrill terkejut dan secepat kilat dia membereskan pria itu. Lalu segera menghampiri Ares.
“ Lain kali tetap fokus ” guman Ares. Saat Gavrill tengah sibuk mengambil belatinya ternyata seorang penjahat mencoba menusuknya dengan pisau dari belakang. Dengan gerakan cepat Ares menepis serangan pria itu dan berakhir mengenai lengannya.
“ Maaf Tuan ” sesal Gavrill setelah bosnya harus terluka karena dia.
“ Cepat bereskan sisanya ” Ares menepi ke arah mobilnya sambil memengangi lengannya yang penuh dengan darah.
Dengan cepat Gavrill memastikan semua penjahat itu benar-benar di lumpuhkan, dan setelah anak buah mereka tiba di sana. Dia mengerahkan perintah untuk membereskan semua kekacauan yang ada di sana. Tanpa jejak apa pun.
“ Tuan semuanya sudah selesai ” lapor Gavrill pada Ares.
“ Baguslah pastikan masalah ini tidak bocor ke publik. Ikatkan ini di lenganku ” Ares menyodorkan sebuah sapu tangan pada Gavrill.
__ADS_1
“ Tuan sebaiknya tunggu sebentar akan saya ambilkan kotak obat dan memberi perban pada luka Anda ” ucap Gavrill.
“ Tidak perlu ” tolak Ares.
Gavrill akhirnya memilih untuk hanya mengikatkan sapu tangan itu di lengan Ares. Tapi tentu saja itu tak membantu sama sekali karena luka di lengan Ares nampak lebar dan dalam.
Setelah selesai mengikatkan sapu tangan itu, Gavrill segera masuk ke mobil dan memutuskan untuk segera membawa bosnya itu pulang sehingga bisa mendapatkan perawatan yang benar.
Suara mesin mobil terdengar melaju ke arah mobil Ares.
Ares segera berbalik dan melihat mobil yang melaju di jalan itu. Dan untuk beberapa saat mobil itu melaju tepat di depan Ares dan Ares dapat melihat siapa yang berada di dalam mobil itu.
“ Sialan!!! ” bentak Ares marah. Dadanya naik turun menahan amarahnya. Seorang pria dari dalam mobil itu menoleh kepada Ares dengan seringai jahatnya. Seakan menertawai dan menantang Ares.
“ Ada apa Tuan? ” tanya Gavrill bingung dari dalam mobil.
Ares segera masuk ke dalam mobil itu.
“ Jack si berengs*k itu dalang dari semua ini!! ” rutuk Ares.
“ Jack?!! ” seru Gavrill tak menyangka.
“ Apakah mobil yang tadi? Dikendarai oleh Jack?! Kita akan mengejarnya Tuan!! ” lanjut Gavrill.
“ Tidak, untuk saat ini bukan situasi yang tepat bertindak ceroboh. Siapa tahu yang sedang dia siapkan untuk menyambut kita kalau kita mengikutinya ” sekilas Ares melirik lukanya.
“ Jalankan mobilnya menuju rumahku! ” perintah Ares.
Tanpa menjawab Gavrill melajukan mobil itu secepatnya, dia mengerti saat ini memang bukan keputusan yang tepat untuk mengejar musuh dalam keadaan bosnya yang sedang terluka.
“ Terima kasih karena sudah menolongku Tuan ” ucap Gavrill. Ares tidak menjawab apa pun meskipun begitu Gavrill sangat tahu bahwa bosnya itu selalu bersikap baik dan bahkan rela membahayakan diri sendiri untuk menyelamatkan Gavrill. Cuma tabiatnya saja yang nampak dingin.
Gavrill sudah bekerja cukup lama pada Ares, melewati banyak pertarungan seperti sebelumnya. Jadi dia sudah sangat mengenal Tuannya itu.
Akhirnya mereka tiba di rumah Ares. Setelah keluar dari mobil Ares melangkah cepat menuju rumah.
Gavrill memandang kagum terhadap bosnya itu yang masih nampak sangat kuat tidak goyah sedikit pun walau dengan luka seperti itu.
Ares membuka pintu rumah dan melangkah cepat.
Mendengar suara langkah kaki itu Lyra segera berdiri dan menoleh ke arah suara itu.
Dia menatap pria yang sedang menuju ke arahnya itu dengan mata berkaca-kaca.
Tubuhnya terdiam membeku padahal sebelumnya dia benar-benar berpikir akan segera berlari menghampiri pria itu ketika datang.
“ Dia pulang! ” , batin Lyra.
__ADS_1
“ Yang menyakitkan adalah kita terlalu percaya, sampai lupa bahwa manusia bisa berubah kapan pun ”-**Anonim
Mystorios_Writer 💥💥**