Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Setidaknya Berikan Aku Ketenangan!!


__ADS_3

“ APA?! DIJUAL?! ”


“ Iya apartemen itu sudahku jual ” ucap Ares berbohong, sebenarnya dia tidak menjual apartemennya, dia mengatakan itu hanya agar Lyra tidak bisa menolak.


“ Ini pemaksaan! Tuan memang masih sama, tidak punya hati dan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain! ”


Dia sudah menjual apartemen, tapi masih pura-pura mengajakku ke sini untuk melihat rumah, Kenapa tidak langsung bilang saja aku harus pindah. Dasar pemaksa!!!


“ Apa masih ada yang kurang? ” tanya Ares tanpa mempedulikan perkataan Lyra.


“ Aku tidak peduli! Kalian sangat menyebalkan keluar dari sini. Aku tidak suka kalian selalu saja memaksakan keinginan kalian tanpa mempedulikan aku ”


Lyra marah dia mengusir Ares keluar dari kamar itu, lalu dia mengunci pintu dengan keras.


“ Pergilah! aku akan tinggal di sini, bukankah aku tidak punya hak menolak!! ” teriak Lyra dari dalam kamar.


Lyra menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, tangisannya pecah.


“ Lyra buka pintunya, aku hanya ingin kau tidak takut karena traumamu lagi. Karena itu aku menyuruhmu pindah kemari ” ucap Ares sambil mengetuk pintu agar Lyra membuka pintu, karena dia khawatir mendengar tangisan Lyra.


“ Daripada mementingkan apartemen itu, kenapa Anda tidak menjauh saja dariku!! Aku lebih trauma melihatmu!! ”


Ares tertohok mendengar perkataan Lyra, dia tidak tahu harus berkata apa, memang benar dia adalah sumber trauma Lyra.


“ Tuan sebaiknya biarkan saja dulu, mungkin Nona Lyra sedang butuh waktu ” ucap Gavrill menenangkan Ares.


Ares akhirnya tidak mengetuk pintu lagi, dia lalu duduk di sofa menunggu Lyra keluar dari kamar.


* * *


“ Ini sudah satu jam, kenapa dia belum keluar juga? Dia baik-baik saja kan? ” tanya Ares pada Gavrill, sudah sejam mereka menunggu, walaupun menyibukkan diri dengan laporan kantor yang ditunjukkan Gavrill, tapi Ares tetap khawatir dengan Lyra.


“ Itu benar Tuan, apakah kita cek saja ke kamar? ”


“ Ambilkan kunci kamar! ” Ares segera beranjak dari sofa.


“ Kakak! ”


“ Adhisti! Kenapa kau ada di sini? ” tanya Ares heran melihat kedatangan Adhisti.


Sebenarnya Adhisti sangat penasaran yang terjadi antara Lyra dan Ares, setelah dia memberitahu kakaknya perihal kehamilan Lyra. Jadi dia memaksa Ares menceritakan padanya, begitu juga dengan niat Ares membawa Lyra pindah.


“ Aku datang ingin bertemu Lyra, Kak ” ucapnya sembari melangkah masuk.


Gavrill kembali dengan kunci di tangannya, tanpa bicara apapun Ares segera membuka kamar. Dilihatnya ternyata Lyra tertidur dia atas ranjang.


Ternyata tertidur, untunglah semua baik-baik saja.


Ares lalu masuk dia membenarkan posisi Lyra, sedikit karena Lyra berada di sisi ujung ranjang. Dia takut Lyra terjatuh, lalu dibenarkannya juga selimut yang dipakai Lyra.


“ Lyra sedang tidur? ” tanya Adhisti begitu dia masuk ke kamar itu.


“ Dia mungkin kelelahan ” jawab Ares singkat.


“ Lyra tidak masalah pindah ke sini? ”


“ Dia menolak ”


“ Tapi kakak memaksanya, kakak bilang akan mencoba memperbaiki hubungan dengannya, tidak mungkin berhasil jika kakak terus memaksa ” tutur Adhisti sedikit kesal dengan sifat pemaksa kakaknya.


“ Sudahlah dia lama-lama akan mengerti ini untuk kebaikannya ”


“ Lyra malah semakin tidak suka dengan kakak, siapa yang akan tahan dengan sifat mendominasi seperti itu ”


Ares tidak menjawab perkataan Adhisti dia kembali melanjutkan memeriksa laporan dengan Gavrill.

__ADS_1


Memperbaiki hubungan apanya seperti ini, dia bahkan tidak bisa mencoba membujuk Lyra daripada memaksa. Dasar kakak malah memperburuk keadaan!!, rutuk Adhisti dalam hati, dia lalu memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di depan Ares, sambil memainkan hpnya.


* * *


Tubuh Lyra bergeser sedikit, perlahan dia mulai membuka matanya.


Apa aku tertidur?


Dia memandang sekeliling, benar saja dia berada di kamar rumah baru itu.


Aku lapar sekali! Tuan Ares pasti sudah kembali. Tidak apa-apa aku keluar sekarang.


Dia keluar dari kamar perlahan, setelah melihat seluruh ruang tengah, Lyra tidak menemukan sosok Ares atau Gavrill.


“ Huftt untung mereka sudah pergi ” ucap Lyra lega.


Lyra melirik ke arah jam yang tergantung di dinding.


Sudah jam 7 malam pantas saja aku sangat lapar, astaga aku lapar sekali sampai perutku terasa nyeri, batin Lyra sembari mengusap-usap perutnya.


Lyra masuk ke dapur, dibukanya lemari es, tapi tidak ada apa-apa disana. Lalu dia membuka laci-laci yang ada di dapur itu, tapi nihil tidak ada satu pun yang dapat di makan.


Lyra terduduk lesu di kursi yang ada di meja makan.


“ Bahkan tidak ada satu pun yang bisa dimakan, aku bisa mati kelaparan jika begini, kenapa mereka tidak menyiapkan makanan ” rutuk Lyra.


Samar Lyra tiba-tiba mendengar langkah kaki seseorang seperti menuju ke arah dapur. Dia mulai siaga.


Perlahan mulai terlihat sosok Adhisti datang dengan handuk sibuk mengeringkan rambutnya, nampaknya gadis itu baru selesai mandi. Dia berjalan santai belum sadar keberadaan Lyra. Lyra duduk tercengang dia tidak percaya penglihatannya.


Setelah berbalik ke arah meja makan, Adhisti juga terkejut mendapati Lyra sudah berada di sana.


“ Lyra! Ehm kau sudah bangun? ” tanyanya canggung.


“ Sebenarnya apa lagi ini? Bagaimana kau bisa ada di sini? ”


“ Aku tidak bertanya itu, tapi kenapa kau ada disini apa yang kalian rencanakan? ” tanya Lyra sinis.


“ Ma-maaf Ly, aku khawatir. ”


“ Sejak kapan kau perhatian padaku, kalian benar-benar membuat aku takut ”


Siapapun tidak mungkin bisa dengan mudahnya menerima perubahan sikap Adhisti yang dulu kasar, tiba-tiba jadi baik begitu juga dengan Ares. Tentu saja Lyra khawatir mereka mempunyai niat tersembunyi.


“ Kakak tadi bilang ada urusan penting jadi dia harus pergi ke kantor, mungkin sebentar lagi kembali. Tadi kakak juga bilang akan sekalian membelikan makanan ”


“ Aku tidak peduli ” lalu Lyra berdiri ingin kembali ke kamar.


Tapi Adhisti menahannya dengan memegang tangannya.


“ Ly, maaf aku memang tidak tahu malu, setelah yang kulakukan tapi aku masih menemuimu. Tapi aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Setelah mengetahui bahwa kau hamil aku benar-benar menyesal ” ucapnya.


“ Dari mana kau tahu aku hamil? ”


“ Kemarin saat kita bertemu di rumah sakit tanpa sengaja kau meninggalkan sebuah amplop, maaf karena kelancanganku membukanya ”


“ Aku hamil atau tidak bagaimana itu bisa mengubah pandangan kalian secara tiba-tiba padaku? Rasa kasihan atau kalian hanya ingin anak yang ku kandung ” ucap Lyra sinis dia perlu tahu niat pasti Ares dan Adhisti.


“ Ti-tidak Ly, maaf aku bodoh telah menuduhmu, sungguh kakak tidak pernah berniat berbuat seperti itu. Dia hanya terpengaruh oleh ucapanku ”


“ Sudahlah, aku tidak peduli lagi. ” jawab Lyra dingin, dia sedikit muak dengan pembelaan Adhisti.


“ Maaf Lyra, tapi kakak benar-benar tidak berniat untuk memaksamu, dia hanya tidak tahu bagaimana bertindak lembut. Aku tahu kakak sangat khawatir padamu, bahkan sebelum tahu kau hamil, dia terus menanyakan dirimu. Setelah aku memberitahu tentang kehamilanmu dia jadi bingung dan takut sesuatu terjadi padamu, oleh karena itu dia memaksamu pindah kemari ” jelas Adhisti.


“ Kau yang memberitahunya? ”

__ADS_1


“ Benar maaf, Ly. ”


“ Kau memang suka ikut campur, tanpa bertanya padaku tapi kau langsung memberitahunya ” Lyra malah semakin kesal, bagaimana Adhisti dengan gegabahnya memberitahu Ares, tanpa diketahui oleh Lyra, dia tidak tahu bagaimana sulitnya yang dialami Lyra karena perbuatannya.


“ Aku memang lancang maaf ” ucap Adhisti sendu.


“ Aku bosan mendengar permintaan maaf ” jawab Lyra dingin. Dia berlalu meninggalkan Adhisti. Tapi baru beberapa langkah.


“ Aaaahhh ”


“ Ly, kau kenapa? Ada apa? ” dengan cepat Adhisti menghampiri Lyra yang terduduk di lantai sambil memegangi perutnya.


“ Aawwww sakit ahhhww ” tidak menjawab Lyra malah terus meringis kesakitan.


“ Kenapa Ly? Perutmu sakit? Ba-bagaimana ini? ” Adhisti tidak tahu harus berbuat apa, dia panik kalang kabut.


“ ADHISTI!!! ” terdengar teriakan suara baritton.


Adhisti menoleh ke arah suara itu, dan dilihatnya kakaknya.


“ Kakak!! cepatlah kemari!! Lyra! Lyra kesakitan! ” teriak Adhisti.


Ares berlari menghampiri Lyra, tapi Lyra tidak mempedulikan kedatangan Ares, dia masih terduduk dengan terus memegangi perutnya.


“ Apa yang kau lakukan Isti? Kau harusnya berpikir sebelum bertindak, sekarang dia tengah hamil!! ”


“ Kakak a-aku tidak melakukan apa pun ” jawab Adhisti terkejut, ini pertama kalinya kakaknya membentaknya dengan amarah seperti ini.


Sebenarnya ketika membuka pintu pertama kali, Ares sangat syok ketika dilihatnya Lyra terduduk kesakitan di lantai, begitu dilihatnya Adhisti disana dia menduga adiknya itu telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang membuat Lyra seperti itu.


“ Aku tidak pernah melarangmu melakukan apapun, tapi setidaknya kau mengerti sedikit keadaan Lyra saat ini!! ” karena kemarahannya Ares malah tidak terlalu memperhatikan Lyra yang tengah kesakitan, dia malah sibuk berdebat dengan Adhisti.


“ Aku benar-benar tidak melakukan hal seperti itu kak, tidak mungkin aku tega! ”


“ Awww ka-kalian berhenti ” guman Lyra pelan, namun tidak terdengar oleh Ares dan Adhisti. Mereka malah terus melanjutkan perdebatannya.


Perlahan Lyra berusaha berdiri dan menjauh dari mereka, dengan tertatih dia melangkah ke arah sofa, Gavrill yang baru masuk ke rumah itu, terkejut melihat Lyra. Dia meletakkan kotak makanan di tangannya, Gavrill berlari menghampiri Lyra.


“ Nona Anda tidak apa-apa? ” tanyanya sambil memapah Lyra, tak menjawab Lyra memberi isyarat dengan tangan untuk membawanya duduk di sofa.


Dengan bantuan Gavrill, Lyra berhasil duduk di sofa.


“ tolong ambilkan a-air aww ” lirih Lyra.


“ Baik Nona ” dengan tergesa-gesa dia berlari ke arah dapur. Gavrill kembali terkejut melihat Ares dan Adhisti yang masih berdebat. Tapi dia tetap melanjutkan langkahnya.


Sekilas ketika melihat Gavrill, Ares tersadar ketika melihat ternyata Lyra tidak ada disana lagi.


“ Ohhh Ya ampun ” rutuknya pada dirinya sendiri karena kebodohannya yang malah lupa membantu Lyra yang sedang kesakitan.


Ares berlari menghampiri Lyra yang ada di sofa, begitu juga dengan Adhisti.


“ Lyra kau masih kesakitan? kenapa kau bisa sakit? Apa Adhisti mengganggumu? ” tanya Ares tergesa-gesa


“ Berapa kali harus ku bilang aku tidak menyakiti Lyra kak!! ” pekik Adhisti yang mulai kesal terus di salahkan kakaknya.


Gavrill datang dengan segelas air, lalu memberikannya kepada Lyra. Perlahan Lyra meminum air itu, biasanya jika perutnya sakit seperti sekarang karena kram dia akan minum cukup air dan meminum obat yang diresepkan oleh Eslin. Tapi karena dia tidak tahu apakah obatnya terbawa ke rumah ini, jadi dia hanya bisa minum air saja usaha untuk meredakan kram perutnya.


“ Sebaiknya kita pergi ke dokter. Ayo Lyra! ” ajak Ares.


“ Benar Lyra kau harus ke dokter. Takutnya terjadi sesuatu yang berbahaya! ” timpal Adhisti.


“ Cukup!! ku mohon. Setidaknya berikan aku ketenangan!!! ” teriak Lyra sambil memijat pelan pelipisnya, dia tambah frustasi mendengar perdebatan Ares dan Adhisti sejak tadi.


"**Kamu tahu, aku bisa menanggung segalanya dalam hidup. Aku bisa melawan, mengatasi rintangan, tumbuh, dan berhasil. Yang aku butuhkan hanyalah kamu di sisiku."-Anonim

__ADS_1


Mystorious_Writer☘️**


__ADS_2