Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Anak Haram ( Story Of Gavrill)


__ADS_3

Adhisti berjalan sambil melamun.


“ Nona telah selesai berbicara dengan Tuan Ares ”


“ Hah?! ” Adhisti terlonjak kaget.


“ Anda melamun? ”


“ Ahhh...tidak ”


“ Anda telah bertemu Tuan Ares, lalu apa di beri izin? ”


“ Kakak tidak mengizinkan ”


“ Aku sudah katakan sebelumnya, kalau begitu sebaiknya Nona akan saya antarkan pulang ”


Adhisti menganggukkan kepala pasrah.


“ Pria tadi adalah rekan bisnis Kakak ” ucap Adhisti memecah keheningan, karena setelah berkendara lama mereka berdua hanya diam saja.


“ Ohh ” jawab Gavrill singkat.


“ Sepertinya kamu juga mengenal pria itukan ”


“ Bisa dibilang begitu Nona ”


Adhisti ingin bertanya tentang pembicaraan Gavrill dengan pria itu tadi, tapi dia memilih tidak meneruskan mengingat yang di katakan Ares untuk tidak terlalu ikut campur urusan Gavrill.


* * *


“ Nona karena hari ini aku tidak bisa menjemput Anda pulang, aku sudah menyuruh orang lain untuk menjemput Anda ” ucap Gavrill begitu dia membukakan pintu untuk Adhisti.


“ Tidak perlu aku akan pulang naik taksi saja ” tolak Adhisti.


“ Tidak bisa Nona, Anda tetap harus pulang dengan orang yang saya suruh ”


“ Dengar ya Gavrill, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku akan pulang dengan taksi ” tegas Adhisti lalu meninggalkan Gavrill cepat sebelum mendapatkan penolakan.


“ Baiklah tapi Anda harus menghubungi saya begitu tiba di rumah.” ucap Gavrill sedikit berteriak.


“ Iya ” jawab Adhisti bersemangat.


Setelah Adhisti tak terlihat lagi, Gavrill melajukan mobilnya meninggalkan kawasan kampus itu.


Tak di sangka hari ini jam kuliah Adhisti selesai di siang hari. Karena salah satu dosen mereka yang seharusnya masuk mengajar hari ini mengganti jadwal.


Adhisti berjalan perlahan ke luar, dia sedikit malas untuk kembali ke rumah dan hanya berdiam diri di sana. Tapi tentu saja dia juga tidak bisa pergi ke mana pun bisa jadi Gavrill mengamuk nanti.


Akhirnya dia menunggu taksi yang lewat di sana untuk mengantarkannya pulang.


“ Hei, Nona ”


Adhisti menatap pria yang menyapanya dari jendela mobil itu.


“ Butuh tumpangan ” tawar pria itu.


“ Tidak ” jawab Adhisti cepat.


Pria itu keluar dari mobilnya dan mendekati Adhisti.

__ADS_1


“ Gerry Sanjaya, bukankah kita bertemu kemarin ” pria itu mengulurkan tangannya.


Adhisti menatap jengah, dia tentu saja mengingat pria itu. Yang tidak wajar baginya bagaimana pria itu bisa berada di kawasan kampusnya.


“ Aku tidak ingat pernah bertemu Anda ” elak Adhisti.


Gerry menurunkan tangannya karena tidak mendapat balasan.


“ Wanita ini sama sombongnya seperti saudaranya ”, geram Gerry dalam hati.


“ Kita bertemu kemarin saat Anda bersama Gavrill ”


Adhisti pura-pura berpikir sejenak.


“ Oh itu Anda rupanya ”


“ Panggil saja Gerry ” ujar pria itu bersemangat setelah Adhisti mengatakan mengingatnya.


“ Kalau boleh tahu namamu siapa? ” lanjut pria itu.


“ Untuk orang yang menunggu di depan kampus, nampaknya Anda sudah mengetahui namaku ” ungkap Adhisti dingin.


“ Apa maksudmu? ” Gerry panik seketika.


“ Aku tahu ini trik yang terlalu biasa, berpura-pura bertemu denganku di sini dengan alasan menawarkan tumpangan. Anda mencari informasi tentang aku, tidak masalah bagiku ” tukas Adhisti.


“ Mau bagaimana lagi niatku sudah ketahuan benar aku mencari tahu tentangmu, aku ingin berkenalan denganmu ”


Adhisti cukup risih karena pria itu menggunakan bahasa informal padanya, seakan dekat dengannya.


“ Aku tidak terlalu tertarik ” balas Adhisti dingin.


“ Lihat saja nanti saat kau berbaring lemah di ranjangku. Apa mulutmu itu masih bisa menyombong ”


“ Sayang sekali, apa kamu bahkan tidak mau untuk sekadar minum kopi denganku ” pinta Gerry masih berusaha tetap lembut.


Adhisti menggeleng dengan cepat.


“ Apa karena kamu akan dijemput supirmu? Si Gavrill itu ”


Mendengar cara pria itu menyebut Gavrill, Adhisti merasa cukup kesal.


“ Tidak, kalau Anda memang sangat ingin minum kopi bersamaku. Ya sudah ” lirih Adhisti.


“ Kamu mau, kalau begitu kita bisa pergi dengan mobilku ”


“ Tidak perlu kampus ini juga memiliki Cafe. Anda ingin minum kopi kan ” Adhisti berjalan terlebih dahulu meninggalkan pria itu.


“ Dasar..” rutuk Gerry pelan lalu menyusul Adhisti.


“ Padahal aku bisa membawamu pergi ke Cafe yang lebih bagus dari ini ” ujar Gerry ketika mereka telah tiba di Cafe itu dan minuman yang mereka pesan telah diantar.


“ Bisa saja jika Anda memiliki kesempatan lain ”


“ Aku pikir mungkin akan mendapatkan kesempatan lain itu ”


“ Hahaha bagaimana Anda bisa mengenal Gavrill? ” ucap Adhisti setelah tertawa jengah.


“ Tidak pantas kita membicarakan bocah rendahan itu ”

__ADS_1


“ Tentu ada alasan mengapa Anda memanggilnya begitu? ”


“ Kamu nampak penasaran tentang Gavrill ”


“ Iya, seperti yang kamu ketahui dia bekerja untukku. Jelas aku penasaran ”


“ Jika aku menceritakan tentang bocah itu, kamu pasti langsung merasa jijik dan menyesal telah menerima orang itu bekerja sebagai supirmu ”


“ Benarkah? ”


“ Tentu saja aku bukan hanya mengenalnya tapi juga tahu semua tentangnya. Dia itu anak haram ayahku ”


Tenggorokan Adhisti terasa tercekat mendengar hal itu, untung dia mampu menelan minuman itu.


“ Anak haram? Apa maksudnya? ”


“ Ibunya seorang wanita penggoda menjebak Ayahku untuk menghamilinya. Akhirnya dia melahirkan bocah sialan itu. Sifatnya sama dengan Ibunya berniat agar bisa mendapatkan kekayaan dari Ayahku. Tapi gundik tetaplah gundik ”


Adhisti menahan diri untuk tidak marah mendengar semua itu.


“ Kalau aku tidak salah bukankah Gavrill lebih tua darimu? ”


“ Bocah itu lebih tua 2 dariku, tapi itu tidak akan mengubah posisinya ”


“ Walaupun aku tidak mengetahui cerita pastinya, tapi dapat di simpulkan Gavrill adalah anak sulung. Tidak peduli dia dilahirkan oleh wanita mana ”


“ Menjadi anak sulung tidak membuat dia istimewa. Dia tetaplah anak seorang gundik ” tekan Gerry dengan amarah.


“ Anda salah menjadi anak sulung tentu saja istimewa karena dia selangkah lebih dulu berhak sebagai pewaris. Aku tidak salahkan? ” tukas Adhisti berusaha membalas penghinaan pria itu terhadap Gavrill.


“ Tidak untuk bocah itu. Kamu bisa melihat dia hidup hanya sebagai supirmu. Dia akan tetap seperti itu dan tidak berhak atas perusahaan kami ”


“ Yang Anda sebut perusahaan itu juga milik Ayahnya, bukankah bisa saja nanti dia yang ditunjuk sebagai pewaris ”


“ Itu tidak akan pernah terjadi!! Anak gundik itu tidak berhak!! ” pekik Gerry kuat.


“ Aku hanya berkata kemungkinan kenapa Anda segelisah ini, apa kemungkinan posisi Anda sebagai seorang anak dari istri sah juga tidak menjamin ” sindir Adhisti.


Gerry terdiam menahan amarahnya.


“ Dia yang bekerja untukku saja bisa membuatmu sepanik ini, apa lagi jika dia memutuskan untuk mulai bekerja pada Ayah Anda ”


Gerry menatap Adhisti dengan tatapan marah seolah ingin membunuh gadis itu.


“ Sebaiknya jangan mengusik singa yang tenang, jika Anda tidak ingin dilahap. Aku akan pergi ” Adhisti beranjak perlahan dari sana.


“ Oh iya satu lagi sebelum aku lupa, kalau Anda sekesal ini melihatku mengapa mengajak minum kopi. Berusaha mendekatiku agar mendapat posisi yang aman di hadapan Kakakku adalah tindakan bodoh ” cerca Adhisti.


“ Wanita sialan!! ” maki Gerry tak dapat lagi menahan amarahnya.


“ Hahahaha ” Adhisti meninggalkan dia dengan tertawa puas meremehkan pria itu.


“ Bajing*n itu seenaknya menghina orang lain!! ” maki Adhisti kesal begitu dia naik ke dalam taksi.


“ Mengapa Gavrill memilih bekerja untuk Kakak sedangkan dia bisa saja bekerja di perusahaan Ayahnya? ”, Adhisti bertanya dalam hati.


“ **Satu persatu masa lalu yang terkuak bisa membuka tabir menuju sesuatu yang baik atau yang terburuk ”-Mystorios_Writer


Mystorios_Writer 🦚🦚**

__ADS_1


__ADS_2