
Seharian itu mereka hanya berdiam di kamar hotel, acara pesta di pulau itu memang sudah selesai. Para tamu juga sudah tidak terlihat sama sekali di sana.
“ Kapan kita akan pulang? Besok aku harus kuliah ” ucap Lyra pada Ares yang sibuk dengan laptopnya.
“ Ya sudah kita akan kembali sore hari ” jawab Ares tanpa menoleh kepada Lyra dan tetap fokus pada pekerjaannya.
Lyra bersandar malas ke sofa. Dia mendengus kesal melihat Ares yang mengacuhkannya.
“ Dia yang mengajak ke sini, tapi malah sibuk dengan pekerjaannya. Bisa tidak melupakan pekerjaannya untuk sehari saja. Ini sudah siang aku bosan di kamar terus ” guman Lyra pelan.
“ Tuan ” panggil Lyra.
“ Ehm ” jawab Ares singkat.
“ Aku akan berjalan-jalan keluar sebentar ya ”
“ Jangan, tetaplah di sini ” larang Ares.
“ Aku bosan, boleh ya? Aku hanya di sekitar sini saja ”
“ Bermain dengan ponselmu saja dulu kalau bosan ”
“ Lupakan! Anda memang tidak pernah peduli padaku! Dari tadi juga Tuan hanya mementingkan pekerjaan! ” dengus Lyra kesal dan meninggalkan Ares. Lyra berbaring di ranjang membelakangi Ares.
“ Dia yang tidak mau meninggalkan pekerjaan, tapi bahkan tak mengizinkan aku keluar ” guman Lyra kesal.
Sementara Ares hanya menghela napas pasrah, pekerjaan yang dikerjakannya saat ini sangat penting. Oleh karena itu dia harus fokus untuk menyelesaikannya hari itu juga. Ares tidak mungkin mengizinkan Lyra keluar kamar sendirian, dia tahu sifat wanita itu saat Lyra mengatakan hanya akan pergi ke sekitar sini dia bisa saja pergi menyusuri pinggiran pantai. Dan Ares tidak ingin mengambil resiko apa pun atas itu.
Jadi Ares memilih membiarkan Lyra merasa sedikit kesal, demi keselamatannya juga.
* * *
“ Hei....” Ares membelai rambut Lyra pelan.
“ Sudah cukup tidurnya sekarang bangunlah ” Ares mencolek hidung Lyra membangunkan wanita itu.
Lyra membalikkan badannya malas ke arah Ares.
“ Sudah jam berapa? ” tanyanya masih setengah sadar.
“ Jam 3 ” jawab Ares.
“ Kita akan pulang sekarang ” Lyra menggosok matanya.
“ Bangunlah kita akan pergi ”
“ Hmmm...aku akan cuci muka dulu ”
“ Biarku bantu ” Ares dengan cepat mendaratkan bibirnya di bibir Lyra, mencium wanita itu dengan rakusnya.
Lyra langsung melotot tak percaya dengan tindakan Ares.
Lyra memukul dada Ares untuk membuat pria itu melepaskan ciumannya karena dia mulai kehabisan napas.
“ Huftt...huftt ” Lyra menghirup napas cepat setelah Ares melepaskan ciuman itu.
__ADS_1
“ Anda berniat membunuhku! Aku hampir kehabisan napas! ” bentuknya.
“ Siapa suruh kamu tidak bernapas, akukan hanya membantu ” ucap Ares tersenyum jahil.
“ Membantu apanya? Membunuh iya! ” sungut Lyra lalu beranjak dari ranjang itu.
Saat Lyra akan melangkah pergi Ares segera menarik tangan Lyra.
“ Astaga!! ” pekik Lyra terkejut saat dia sudah terjatuh di pangkuan pria itu.
Ares juga sedikit terkejut awalnya dia hanya bermaksud menarik Lyra untuk memeluknya, tidak berniat membuat wanita itu duduk di pangkuannya.
“ Lepaskan aku! Anda ini kenapa! ”
“ Jangan bergerak diamlah ” ucap Ares berusaha mengendalikan diri karena gerakan tubuh Lyra serasa menyiksanya.
Melihat tatapan bernaf.su Ares dan nampak sangat membara Lyra segera terdiam tak berani bergerak sedikit pun.
Wajah mereka benar-benar berdekatan, hembusan napas mereka serasa begitu dekat.
“ Kamu kesal karena aku sibuk dengan pekerjaanku tadi ” ujar Ares dengan sesekali menyentuhkan hidungnya ke wajah Lyra.
“ Sedikit..” lirih Lyra.
“ Benar hanya sedikit? ” tanya Ares tepat di telinga Lyra.
Lyra memiringkan wajahnya menjauh dari Ares.
“ Harusnya biarkan aku keluar sendiri kalau Tuan sibuk dengan pekerjaan ” jawab Lyra sedikit tersegal karena tubuhnya serasa merinding saat hembusan napas Ares menerpanya.
Ares mengendus leher Lyra, sampai Lyra benar-benar merasa geli.
“ A-aku hanya ingin keluar di sekitar hotel ”
“ Bisa aku percaya kamu hanya akan pergi ke sekitar hotel ini. Tidak pergi ke pantai ”
“ Mungkin iya ” jawab Lyra pasrah.
“ Kamu itu pemberontak yang berani. Aku tahu itu ” Ares menyesap leher Lyra kuat sampai menyisakan tanda di sana.
“ Tu-tuan...” guman Lyra tak jelas.
Ares membalikkan wajahnya ke arah leher Lyra yang lainnya dan tentunya berniat melakukan hal yang sama disana.
“ Aku merasa hubungan kita berubah menjadi ladang ranjau yang tak terkendali ” ujar Lyra cepat.
Ares menghentikan aktivitasnya dan menatap Lyra.
“ Kenapa kamu bilang begitu? ” tanya Ares.
“ Aku rasa setiap Tuan berada di dekatku Anda pasti menyentuhku dengan naf.su...dan tidak bisa di pungkiri aku juga begitu ” jelas Lyra perlahan.
“ Aku tahu hal itu dan memang benar aku ingin selalu menyentuhmu, menciumimu dan menyatu denganmu. Aku senang kamu juga merasa begitu. Lalu apa yang salah dengan itu? ” Ares menangkup wajah Lyra dengan tangannya menahan agar Lyra terus menatapnya.
“ Entahlah...aku hanya berharap kita melakukan hal itu perlahan ” ujar Lyra.
__ADS_1
Menarik napasnya sebentar.
“ Aku ingin melakukan hubungan kita bagian itu pelan-pelan saja. Mungkin dengan tenang dan tidak terlalu meledak di setiap saat ”
Ares tersenyum mendengar penjabaran wanita itu, dia sangat tahu Lyra adalah tipe wanita pemalu dan tidak terlalu pintar untuk mengekspresikan diri, maupun terlalu terbuka dengan orang lain. Lebih tepatnya menurut Ares Lyra sangat berhati-hati dan waspada setiap waktu.
“ Kita akan melakukannya sesuai keinginanmu ” balas Ares.
“ Anda tidak masalah dengan itukan? ” tanya Lyra ragu takut pria itu ternyata tidak senang dengan sarannya.
“ Tidak masalah bagiku, kita bisa menjalaninya dengan perlahan. Dalam hubungan ini kita masih butuh banyak waktu untuk saling mengenal. Dan tidak perlu ragu-ragu untuk mengatakan hal yang tidak kamu suka ” ungkap Ares.
Lyra mengangguk senang mendengar itu.
“ Jika ingin mengatakan sesuatu tidak perlu ragu atau takut aku akan mendengarkanmu ” ucap Ares menyakinkan Lyra.
“ Baiklah, hanya saja Anda terasa sangat dominan. Jadi sedikit sulit untuk membicarakan sesuatu ” tutur Lyra.
“ Aku memang buruk dalam hal berkomunikasi seperti ini. Perbincangan bukan gayaku. Tapi jika itu denganmu aku akan berusaha ”
Lyra tertawa kecil mendengar itu.
“ Kamu merasa itu lucu? ” tanya Ares.
Lyra menggeleng cepat.
“ Bukan karena lucu, hanya saja saat ini kita terasa seperti pasangan suami istri yang menyelesaikan permasalahan dengan berbincang. Itu terasa terlalu baru dan aku bahagia karenanya ” ujar Lyra tersenyum tulus pada Ares.
“ Kamu suka dengan perbincangan seperti ini ”
“ Hmmm ” jawab Lyra dengan anggukan.
“ Sepertinya itu akan sulit. Sebaiknya aku harus banyak berlatih menyelesaikan masalah dengan perbincangan seperti ini ” jelas Ares.
“ Anda hanya harus berlatih untuk mendengarkan dan memahami orang lain saja ” saran Lyra.
“ Aku biasanya menyelesaikan dengan tindakan langsung tanpa perlu berbincang dengan orang lain. Aku harap kamu mengerti ” balas Ares.
“ Aku tahu ” jawab Lyra.
“ Lalu sekarang kita sebaiknya melakukan apa? ” Ares menatap Lyra dengan tatapan jahilnya.
“ Tentu saja aku akan pergi ke kamar mandi ” jawab Lyra sedikit tergelak.
“ Tidak memilih untuk menyelesaikan hal lainnya ”
“ Tidak ” lirih Lyra.
“ Sayang sekali...” dengus Ares sedikit kecewa.
“ Aku masih kesal dengan Anda ” Lyra mengecup bibir Ares cepat dan segera berlari kecil masuk ke kamar mandi.
Ares melotot tak percaya dengan tindakan Lyra.
“ Dasar wanita ini ” ucap Ares tertawa kecil.
__ADS_1
“**Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.”- Bung Karno
Mystorios_Writer🏂🏂**