Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Bekas Luka


__ADS_3

“ Terima kasih ” ucap Ares mengecup pucuk kepala Lyra lembut.


Lyra menyandarkan kepalanya di dada kekar milik Ares. Sementara Ares terus mengecupi pucuk kepalanya.


“ Tuan aku akan tidur ” lirih Lyra.


“ Hmm...kamu pasti kelelahan ” Ares lalu menaikkan selimut menutupi tubuh mereka berdua.


“ Aku pikir ini semua terasa seperti mimpi ” ujar Lyra pelan.


“ Saat kamu bangun besok mungkin semuanya akan terasa nyata ” Ares memberi kecupan di dahi Lyra sedikit lebih lama.


“ Sekarang tidurlah ” ucapnya memeluk Lyra erat.


Perlahan mereka berdua masuk ke alam mimpi dengan posisi saling berpelukan dan tubuh polos.


* * *


Lyra perlahan merasa permukaan hangat yang berbeda dari ranjangnya yang biasanya. Dia membuka matanya yang di dapatinya adalah penampakan dada seorang pria yang disandari oleh kepalanya.


Dengan terkejut Lyra segera mendongakkan kepalanya.


“ Pagi ” sapa Ares dengan senyuman.


“ Tuan!!! ” pekik Lyra menyadari tempat dia bersandar adalah Ares. Secepatnya dia menjauhkan tangannya dari dada pria itu dan bergerak menjauh.


“ Mau kemana ” belum sempat Lyra menjauh Ares kembali menarik Lyra ke arahnya, dan tubuh mereka kembali bersentuhan.


“ Kenapa Anda tidak segera pergi, cepatlah pergi tinggalkan aku ” Lyra menutupi wajahnya yang memerah karena rasa malu saat mereka dalam posisi berpelukan dengan tubuh yang sama-sama polos.


“ Aku tidak mau kamu terbangun dan tidak melihat aku di sampingmu. Kamu pasti kecewa ” jelas Ares.


“ Mungkin...tapi aku sudah bangun jadi cepatlah pergi ” pinta Lyra lagi.


“ Apa masalahnya? ayo coba katakan padaku ” Ares berusaha menjauhkan tangan Lyra yang menutup wajahnya, namun wanita itu tetap bersikeras.


“ Aku merasa malu.....jadi aku mohon ” lirih Lyra lagi.


“ Malu untuk apa aku sudah melihat semuanya setiap inci tubuhmu, kamu juga sudah melihat tubuhku ”


Lyra mendesah frustasi saat pria itu malah mempertegas hal itu dengan ucapannya.


“ Ahh...tidak mau tahu..please pergi dulu ” ucap Lyra dengan nada memaksa yang manja.


Dengan menghela napas berusaha mengerti permintaan Lyra, akhirnya Ares beranjak dari ranjang.


“ Baiklah aku akan mandi ” ucapnya lalu berlalu pergi ke kamar mandi.


Setelah Lyra mendengar suara gemericik air dari kamar mandi barulah dia melepaskan tangan yang menutupi wajahnya.


“ Akh!! Aku malu sekali! ” Lyra menyugar rambutnya kasar.

__ADS_1


Setelah hampir setengah jam Ares keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Dia melotot tak percaya apa yang dilihatnya. Lyra sudah berdiri di samping ranjang dengan tubuh dililit selimut.


“ Aku akan mandi ” ucap Lyra dan dengan kesulitan berjalan ke arah kamar mandi.


“ Biar aku membantumu ”


“ Berhenti!! ” teriak Lyra belum sempat Ares menghampirinya.


“ Aku bisa sendiri tolong tetap di situ ” Lyra kembali melanjutkan langkahnya.


“ Kamu bisa jatuh nanti ” risau Ares melihat wanita itu.


“ Tenang saja ” jawab Lyra cepat, begitu dia tiba di kamar mandi menutup pintu kamar mandi itu dan melepaskan lilitan selimut dari tubuhnya.


Perlahan dia membuka pintu sedikit dan mengeluarkan selimut itu dari kamar mandi, lihat nanti saja pikirnya setelah melemparkan selimut itu begitu saja ke luar.


“ Ohh..astaga ” ucap Ares tertawa melihat tingkah absurd Lyra.


Lyra keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kimono mandi.


“ Dimana aku bisa mendapatkan pakaian? ” tanya pada Ares, karena pria itu telah memakai pakaian santai yang khas untuk berlibur ke pantai.


“ Lihat di lemari sebelah sana ” tunjuk Ares.


Lyra segera menuju lemari itu, setelah mengambil pakaiannya dia kembali masuk ke kamar mandi.


Sesaat kemudian Lyra keluar dengan gaun pantai yang di pakainya.


Lyra mengangguk dan duduk di hadapan pria itu. Mulai menyesap teh di depannya lalu mengambil roti yang ada di sana.


“ Roti saja cukup? ” tanya Ares karena tahu naf.su makan Lyra yang tinggi di dorong kehamilannya.


Lyra mengangguk cepat karena mulutnya penuh roti.


“ Okeh ” balas Ares singkat.


Lyra dengan cepat menyelesaikan sarapan itu dan tinggal hanya menikmati tehnya. Sekadar info ini gelas yang kedua.


“ Ly, boleh aku bertanya ” ujar Ares.


“ Silakan, kalau aku tahu jawabannya akan ku jawab ”


“ Bekas luka yang ada di bagian pinggang dan sedikit panjang sampai mengenai perutmu. Bekas luka apa? ” tanya Ares rinci.


Refleks Lyra meraba bagian bekas lukanya.


“ Benar, bekas yang itu ” ucap Ares melihat tangan Lyra yang meraba bagian perutnya.


“ Ini bekas operasi ginjal ” jawab Lyra dengan senyum terpaksa.


Ares terdiam sejenak mendengar jawaban Lyra.

__ADS_1


“ Berarti kamu hanya hidup dengan satu ginjal ”


“ Aku punya dua...aku yang mendapat donor ginjal ” tutur Lyra perlahan.


“ Apa yang terjadi? Sampai kamu harus mendapat operasi itu? ” tanya Ares penasaran.


“ Itu sudah lama aku pernah mengalami kecelakaan...saat SMP sebuah sepeda motor tanpa sengaja menabrakku. Aku hanya dapat luka kecil ”


“ Rupanya aku terlalu meremehkannya mungkin saat itu aku tanpa sengaja tertabrak di bagian ginjal. Lama-kelamaan itu menjadi penyakit yang berbahaya ” Lyra bercerita dengan sedikit rasa berat di hatinya untuk membuka kembali kisah memilukan.


“ Saat aku duduk di bangku SMA akhirnya di vonis gagal ginjal. Kedua fungsi ginjalku menurun drastis, dan harus segera di lakukan operasi pencangkokan ginjal ” Lyra memutar bola matanya agar tidak ada air mata yang jatuh.


“ Ibuku mendonorkan ginjalnya....ibu Diandra ” Lyra memilih memalingkan wajahnya sedikit dari pria itu.


“ Ibumu sangat baik, aku berhutang banyak padanya ” ucap Ares mengenggam tangan Lyra.


“ Benar dia orang terbaik yang pernah aku miliki ” balas Lyra tersenyum ketir.


“ Anda pasti terkejut melihat bekas luka itu, sebelumnya sudah nampak memudar. Karena perutku yang membesar bekasnya malah semakin menonjol. Maaf..” lirih Lyra sedikit menyesal.


“ Ly, kenapa kamu minta maaf. Aku tidak pernah menganggap bekas itu buruk atau terkejut karenanya. Bekas itu bagian dari dirimu dan aku mencintai setiap bagian dirimu tak terkecuali ”


Lyra mengatupkan bibirnya terharu mendengar perkataan Ares.


“ Saat melihatnya aku di serbu pertanyaan mengapa dia bisa terluka seperti ini? Darimana luka ini? Seberapa sakit yang dia rasakan? Itu yang ada dibenakku ” ucap Ares jujur kepada Lyra.


“ Aku tidak tahu menjelaskannya tetapi rasanya benar-benar menyakitkan. Tapi dari pada aku yang mendapat kesembuhan, Ibuku lebih banyak berkorban dia rela memberi organ tubuhnya untukku ” ungkap Lyra.


“ Kamu wanita yang kuat ” Ares memeluk Lyra dengan cepat.


“ Aku rasa operasi bukan hal yang perlu di takutkan. Saat ini aku sedang hamil bisa saja aku melahirkan Caesar ” ujar Lyra.


“ Aku tidak akan pernah mempermasalahkan bagaimana proses bersalin yang akan kamu jalani. Walaupun akan ada bekas baru di sini. Tidak masalah bagiku ” ucap Ares menyentuh perut Lyra.


“ Ehmm ” balas Lyra berdehem karena dia sedang menahan air matanya.


“ Sayangi berbaik hatilah jangan biarkan Mamamu kesulitan dan harus mendapat bekas luka ” Ares mengucapkan itu seakan berbicara dengan janin yang ada di perut Lyra.


“ Aku rasa dia juga tidak mau Mamanya kesulitan ” lanjut Ares.


Lyra menganggukkan kepalanya.


“ Mamamu pasti ingin tetap punya perut yang mulus saat memakai bikini ” ujar Ares dan segera mendapat pukulan dari Lyra.


“ Anda ini kenapa mengatakan hal-hal seperti itu, dia bahkan belum lahir sudah mau di cemari ” protes Lyra.


Ares hanya tertawa dan memeluk Lyra lebih erat lagi. Lyra tersenyum tulus dalam dekapan pria itu.


“**Perubahan itu menyakitkan, Ia menyebabkan orang merasa tidak aman, bingung, dan marah. Orang menginginkan hal seperti sediakala, karena mereka ingin hidup yang mudah” - Richard Marcinko.


Mystorios_Writer 👨‍👩‍👧👨‍👩‍👧**

__ADS_1


__ADS_2