Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Kenapa Pernikahan Ini Sangat Menyakitkan?


__ADS_3

Lyra berbaring di ranjangnya dengan mata sembab karena habis menangis. Jam menunjukkan pukul 8 malam.


Tak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang memasuki rumah. Lyra sudah menduga itu pasti Ares, dengan cepat dia menyelimuti seluruh tubuhnya dan berbaring menyamping membelakangi arah pintu.


Seperti dugaan Lyra benar saja Ares menuju kamarnya karena langkah kakinya semakin mendekat.


Driittt


Pintu mengeluarkan suara berderit pelan tanda ada yang membukanya.


“ Lyra kamu sudah tidur? ” tanya Ares berdiri di samping pintu.


Lyra tak ingin menjawab pria itu, tapi lebih tak ingin jika nanti Ares menghampirinya dan melihat keadaannya yang menyedihkan.


“ Hmmm ” jawab Lyra berdehem.


“ Aku pikir kamu akan pulang lebih lama, ternyata kamu kembali ke rumah dengan cepat ” ucap Ares.


Kau mengharap aku pergi lebih lama agar aku tidak mengetahui kebohonganmu, batin Lyra dia berusaha tak terdengar terisak karena air matanya telah kembali berjatuhan.


“ Aku pikir kamu belum pulang, soalnya hujan sangat deras sekarang ”


Ares heran melihat Lyra yang diam saja, dan tak menoleh ke arahnya.


“ Apa semua baik-baik saja? Kamu-


“ Bisakah Anda pergi dan tutup pintunya, aku ingin tidur ” ucap Lyra menghentikan perkataan Ares karena dia benar-benar tidak ingin mendengar apa pun dari pria itu.


“ Baiklah ” jawab Ares enggan lalu menutup pintu.


“ Apa yang terjadi? Tidak biasanya dia tidur secepat ini ” guman Ares bingung.


Lyra mengusap air matanya dan menutupi mulutnya dengan tangan agar suaranya tangisnya tak terdengar.


Kenapa pernikahan ini sangat menyakitkanmenyakitkan? Tidak adakah kebahagiaan sedikit saja di dalamnya. Aku ingin bertahan tapi tak menyangka rasanya akan sesakit ini, batin Lyra.


* * *


“ Ly! Lyra! Kamu masih tidur? ” panggil Ares sambil mengetuk pintu kamar Lyra.


“ Kalau sudah bangun ayo keluar kamu harus sarapan ini sudah jam 8 ” ucapnya tapi tak ada respon sama sekali dari Lyra.


“ Ly! Ada apa? kamu baik-baik saja kan? ”


Tapi tetap tak ada jawaban dari wanita itu atau bahkan pintu tak kunjung terbuka.


“ Aku akan masuk kalau begitu ” ucap Ares sudah tak sabar.


Lalu dia segera membuka pintu itu dan mendapati Lyra yang masih berbaring di ranjangnya.


“ Kamu masih tidur ternyata ” guman Ares lega.

__ADS_1


“ Lyra bangunlah ini sudah jam 8, setidaknya makan dulu ”


Tapi Lyra tetap tak merespon.


“ Lyra! Ly! Ayo bangun! ” Ares menguncang pelan bahu Lyra. Pelan tubuh Lyra berbalik menghadap Ares.


Ares terkejut melihat wajah pucat Lyra dan keringat yang membasahi wajahnya.


“ Ya ampun kamu kenapa?! ” Ares menyentuh dahi Lyra dengan telapak tangannya.


“ Panas sekali! Ly! kamu bisa mendengarku ” ucap Ares menepuk pelan pipi Lyra.


Lyra menepis tangan Ares pelan.


“ Pergi.. ” gumannya dengan suara parau.


Ares melepas jasnya cepat lalu segera menuju dapur. Diambilnya air dan sapu tangan. Dengan cepat dia mengompres Lyra.


Ponsel Ares berdering.


“ Ada apa? ” tanyanya cepat.


“ Tuan mengapa Anda belum datang ke kantor rapat dengan kliennya akan segera dimulai ” ucap Gavrill


“ Batalkan saja semuanya! ” Ares lalu memutus panggilan itu, dan meletakkan ponselnya.


Ares mengangkat kain itu dari dahi Lyra, setelah mencelupkan ke air di taruhnya lagi di kepala Lyra.


“ Jangan menyentuhnya ” larang Ares.


Tangan Lyra kembali terjatuh lemah, sekujur tubuhnya terasa sakit dia menggigil kedinginan.


Ares yang melihat Lyra menggigil meninggikan selimut Lyra sampai ke bahunya. Ares akhirnya menelpon dokter kandungan yang bekerja untuknya.


Setelah memberitahu kondisi Lyra, dokter itu mengatakan sebaiknya Lyra di biarkan istirahat dan untuk demannya cukup di kompres saja. Karena sedang hamil Lyra juga tidak di sarankan untuk mengkonsumsi obat. Dokter itu mengatakan bahwa Lyra hanya mengalami demam ringan saja.


Ares mengikuti saran dokter itu, dan berusaha untuk tetap tenang dan melakukan yang di sarankan oleh dokter.


“ Buka mulutmu ” pintanya pada Lyra sambil menyuapkan bubur.


Lyra membuka matanya pelan menatap Ares dengan sayu.


Kalau tubuhnya sedikit lebih bertenaga maka akan di ambilnya sendok itu dari tangan pria itu dan memakannya sendiri tanpa bantuan Ares.


Cukup lama Ares menyodorkan bubur itu akhirnya dengan lemah Lyra membuka mulutnya memakan bubur itu.


Ares kembali menyuapkan bubur itu pada Lyra, setelah beberapa suapan Lyra menggeleng pelan menandakan dia tidak ingin makan lagi.


Ares menegakkan tubuhnya sedikit dan memberi air minum padanya, lalu membaringkan Lyra lagi.


“ Kamu masih merasa dingin? ” tanya Ares.

__ADS_1


Lyra mengangguk pelan.


Ares mengambil sebuah satu selimut lagi dan menaruhnya di tubuh Lyra. Ares menyentuh dahi Lyra lagi suhu tubuhnya masih panas.


“ Tidurlah lagi agar demammu turun ” ucapnya.


Lyra menutup matanya dan kembali tidur.


Ares menjaga Lyra di kamar itu, sudah hampir 2 jam tapi deman Lyra tak kunjung turun. Dia bahkan dapat melihat Lyra yang semakin menggigil.


“ Tenanglah...” guman Ares pelan sambil menggenggam tangan Lyra yang gemetar kedinginan. Keringat mengucur deras di dahi Lyra tapi dia merasa sangat kedinginan.


“ Aku akan membawamu ke rumah sakit ” ucap Ares panik karena kondisi Lyra nampak semakin memburuk.


Dia menegakkan sedikit tubuh Lyra untuk menggendongnya, lalu dia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Lyra.


“ Ya Tuhan! ” lonjak Ares terkejut mendapati gaun tidur Lyra sudah penuh dengan darah.


“ Sakit... ” racau Lyra setengah sadar.


Dengan cepat Ares menggendong Lyra, lalu membawa Lyra ke mobil. Ares melaju dengan kecepatan penuh membelah jalanan kota.


“ Aku mohon bertahanlah sebentar ” ucapnya gentar merasakan telapak tangan Lyra yang terasa dingin.


“ Ly! Lyra! Jangan menutup matamu! Tetaplah bangun! ” panggilnya terus pada Lyra yang telah kehilangan kesadarannya penuh.


“ Periksa dia secepatnya!! ” teriak Ares kuat setelah dia tiba di rumah sakit.


Beberapa perawat akhirnya datang dengan brangkar, Ares membaringkan Lyra di sana. Para perawat itu berlari membawa Lyra menuju UGD.


“ Mohon tunggu di luar Pak, kami akan melakukan penanganan terhadap pasien ” ucap perawat itu mencegah Ares untuk masuk.


Ares menyugar rambutnya kasar dia menunggu dengan gelisah. Berulang kali dia berdiri dan menoleh ke dalam ruangan dari jendela.


Setelah sekitar setengah jam akhirnya dokter keluar dan menemui Ares.


“ Maaf Pak apa Anda suami pasien? ” tanya Dokter itu.


“ Iya saya suaminya, bagaimana keadaannya? ” ucap Ares cepat.


“ Begini Pak kondisi Nona itu cukup mengkhawatirkan setelah mengalami kontraksi dan demam tinggi sehingga mengakibatkan terjadinya pendarahan berat padanya. Beruntungnya segera di bawa ke rumah sakit kalau terlambat sedikit saja bukan hanya bayinya tapi nyawa ibunya juga dalam bahaya ” jelas dokter itu.


Ares mengusap wajahnya kasar, dia menyesal begitu terlambat membawa Lyra ke rumah sakit.


“ Untuk saat ini walaupun kondisi ibu dan janinnya lemah, tetapi pendarahan telah berhenti. Kami akan terus memantau keadaannya, saran saya sebaiknya agar menghindarkan hal-hal yang bisa menjadi beban pikiran dan menimbulkan stres pada pasien. Pasien sudah bisa di jenguk tapi tetap terbatas. Kalau begitu saya permisi ” ucap Dokter itu lalu berlalu pergi.


Ares segera masuk menemui Lyra. Dia merasa hancur saat melihat wanita itu terbaring lemah dengan selang oksigen dan infus yang tertancap di tangannya.


“ Ly.. maaf karena tidak bisa menjagamu dan anak kita dengan baik ” ucapnya sambil mengusap pelan rambut Lyra.


"**Kadang manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang, dan kesetiaan."-Anonim

__ADS_1


Mystorios_Writer🧊🧊**


__ADS_2