
Sudah satu jam Ares tetap terjaga, dia bersabar menunggu sampai saat Lyra benar-benar sudah terlelap tidur.
Setelah pertimbangan panjang, akhirnya dia bangkit dari duduknya, lalu melangkah pelan ke kamar Lyra. Di putarnya gagang pintu, dan benar Lyra tidak mengunci kamarnya. Ares berusaha masuk dengan tak menimbulkan suara sedikit pun.
Dilihatnya Lyra yang berbaring menyamping, Ares melayangkan tangannya di depan wajah Lyra memastikan apakah dia benar-benar sudah tertidur.
“ Dia sudah tidur ” guman Ares karena Lyra memang tidak menunjukkan reaksi. Ares menggeser kursi rias yang ada disana, tepat berhadapan dengan Lyra lalu duduk di sana.
Berulang kali Ares menghela nafasnya, dia masih bimbang apakah akan menyentuh perut Lyra yang tidak terhalang selimut, karena selimut itu jelas berada di bawah kaki Lyra.
Apa yang terjadi sekarang kenapa Tuan Ares malah hanya diam saja, ucap Lyra dalam hati.
Sebenarnya semenjak memberi izin pada Ares, Lyra malah tidak bisa tidur. Ketika menyadari Ares masuk ke kamarnya terpaksa dia harus berpura-pura tidur karena bagaimana pun pria itu telah menunggu agar dia benar-benar sudah terlelap.
Harusnya aku segera tidur tadi, sekarang aku malah jadi ketakutan. Aku mohon cepatlah, Anda boleh melakukannya hanya satu sentuhan saja, geram Lyra dalam hati karena menyadari Ares tidak melakukan apapun tapi hanya diam di depannya.
Ares meremas tangannya, dia gugup takutnya gerakannya nanti malah membangunkan Lyra dan membuat gadis itu ketakutan.
Perlahan dia mulai mendekatkan tangannya dan.....
Deggg!!
Jantung Lyra seakan berhenti berdetak ketika dia merasakan sebuah sentuhan di perutnya, sentuhan lembut.
“ Hmmm apa kamu sehat? ini pertama kalinya Papa menyapamu ” guman Ares lirih, jika Lyra tertidur tentu saja dia tidak akan terbangun karena suara Ares cukup pelan dan tenang.
“ Tumbuhlah kuat dan pintar, jangan terlalu menyusahkan mamamu.. hmmm kau harus baik pada mamamu, dia bekerja keras untukmu ”
Lyra tidak bisa menyangkal, bahwa perkataan Ares benar-benar mengharukan untuknya. Sehingga dia tidak bisa menolak dorongan untuk melihat ekspresi pria itu sama ini.
Lyra membuka matanya sedikit, mengintip ke arah Ares. Ternyata pria itu tidak menatap wajahnya, tatapannya lurus pada perut Lyra. Betapa Lyra takjub melihat tatapan tulus pria itu, lalu dia mengalihkan tatapannya mengikuti tatapan Ares.
Hanya jari telunjuk, batinnya.
Ares menyentuh perut Lyra dengan jari telunjuknya, dan hanya menyentuh tanpa membuat pergerakan yang dapat membangunkan Lyra.
“ Selamat malam....tidur yang nyenyak sampai bertemu. Aku tidak sabar untuk melihatmu ” ucap Ares.
Dia lalu berdiri, membenarkan kembali posisi kursi itu. Lalu dia meraih selimut, pelan dia menaikkan selimut itu menutupi tubuh Lyra sampai bahunya. Ares keluar dari sana dengan tetap menjaga tidak menimbulkan suara yang mengganggu.
“ Terima kasih sudah mengikuti perkataanku, aku bersyukur Anda menghargainya ” ucap Lyra ketika dia membuka matanya, dan Ares sudah tidak berada di sana lagi.
* * *
Pagi harinya ketiga orang tersebut telah bersiap untuk menjalani kegiatannya masing-masing. Mereka sedang menyantap sarapan yang disiapkan oleh Lyra.
“ Aku akan mengantarkan kalian ” ucap Ares membuka percakapan.
“ Tidak perlu Tuan, aku akan pergi ke kantor sedangkan Adhisti ke kampus. Itukan berbeda arah nanti malah repot jadinya ” tolak Lyra.
__ADS_1
“ Tidak apa-apa, aku juga tidak terburu-buru. Kalau kau harus cepat, aku akan mengantarmu duluan. Tidak masalahkan, Isti? ”
“ Tidak apa-apa kelasku baru mulai jam 9 nanti, aku hanya ingin pergi lebih awal ” jawab Adhisti santai.
“ Baguslah, jadi kita akan mengantar Lyra duluan ” ucap Ares sambil tersenyum simpul kepada Lyra.
Lyra membalas dengan anggukan.
“ Suasana hati kakak sedang baik? ada kabar gembira apa? ” tanya Adhisti karena tak biasanya kakaknya itu tersenyum.
“ Bukan apa-apa, hanya tenang saja semuanya baik ” jawab Ares santai.
“ Oooh ”
Hubungan mereka mungkin membaik baguslah kalau begitu, batin Adhisti.
Setelah selesai sarapan seperti yang dikatakan Ares mereka mengantarkan Lyra. Begitu tiba di depan kantornya Lyra turun dari mobil.
“ Terima kasih Tuan, sampai jumpa Adhisti ” pamit Lyra.
“ Bye bye ” ucap Adhisti sambil melambaikan tangannya.
Lyra lalu meneruskan langkahnya.
“ Lyra! ” sapa seseorang dari belakangnya.
“ Pagi, kamu sudah sarapan? ”
“ Aku sudah sarapan dari rumah, Anda belum sarapan, Pak? ” tanya Lyra.
“ Belum, tadinya aku ingin mengajakmu makan bersama, tapi ya sudahlah aku akan pesan makanan saja nanti ”
“ Hemm baik Pak ”
Lalu mereka melanjutkan langkah mereka memasuki kantor tersebut.
“ Siapa pria itu? ” tanya Ares dengan wajah kesal ketika melihat Lyra dari mobil.
Mereka memang belum pergi, Adhisti ingin pindah duduk ke depan, karena sebelumnya dia duduk di belakang.
“ Pastinya rekan kerjanya ” jawab Adhisti sekedar.
“ Dia berusaha mendekati Lyra, ini tidak boleh dibiarkan bisa saja dia punya niat buruk ” geram Ares.
“ Hei! hei! ” ucap Adhisti sambil menjentikkan jarinya.
“ Kakak yang posesif dan terlalu pemaksa apa yang sedang kau pikirkan? ”
“ Jangan mengejekku, Isti. Aku sedang mengkhawatirkan Lyra ”
__ADS_1
“ Ohh khawatir? Yang harus kakak khawatirkan itu agar sebisa mungkin menjaga sikap, tidak ingat apa hubunganmu dengan Lyra juga baru membaik ” balas Adhisti dengan nada mengejek.
“ Aku hanya khawatir kedekatannya dengan pria itu, yang belum tentu baik ”
“ Kakak! masih belum mengerti ya, kalau kakak bersikap seperti itu maka Lyra pasti akan marah dan tersakiti. Dia akan merasa kakak tetap menuduhnya melakukan hal yang bukan-bukan bersama pria itu. Sikap posesif benar-benar merusak, loh ” tukasnya.
Ares mulai mengerti maksud dari perkataan Adhisti, dia lalu diam tak menjawab. Tak dapat disangkal dia tetap kesal.
* * *
“ Halo Bos, nampaknya benar wanita itu dekat dengan pemilik perusahaan tersebut ” lapor seorang pria yang berada di dalam sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari kawasan kantor Lyra melalui telepon.
“ Hahhahahhah ” tawa jahat dari seberang.
“ Lalu apa selanjutnya, Bos? ”
“ Awasi dia, saat ada kesempatan kita jalankan rencana penculikan ”
“ Oke Bos ”
Telepon berakhir.
“ Siapa pun yang berani mengusikku akan aku buat menderita hahhhah berani sekali dia menghajar para anak buahku. Kita lihat saja nanti dia akan memohon di bawah kakiku hahahha ” ucap seorang pria setelah menerima laporan dari salah satu anak buahnya.
* * *
“ Pak lokasi area pembangunan 3 dilaporkan sudah kembali aman ” ucap Lyra memberi tahu Robert hasil laporan yang diterimanya.
“ Tentu saja, preman-preman seperti mereka itu hanya cecurut penganggu saja. Ancaman seperti itu tidak akan memberi rasa gentar pada Founding Company ” tutur Robert bangga.
“ Untunglah, Anda tahu aku sempat khawatir masalah ini akan membesar ”
“ King dan aku punya cara tersendiri menangani hal seperti itu, ini merupakan suatu hal kecil yang tidak perlu dikhawatirkan ” balas Robert santai.
“ Benarkah? aku tidak tahu, mungkin aku saja yang terlalu khawatir. Sedangkan ternyata Pak Aslan dapat dengan mudah menanganinya. Anda tahu seseorang yang memiliki kuasa memang selalu memperoleh kemudahan ” Ungkap Lyra.
“ Tentu saja King mempunyai kekuasaan dan kekuatan, karena itu perusahaan ini tetap berjalan. Menurutmu ancaman yang lebih dari para preman itu harus diselesaikan dengan apa? ”
“ Maksudnya? ” Lyra malah balik bertanya karena bingung.
“ Kekuasaan dan kekuatan hahhahha ini membuatmu bingung kan? ” gelak Robert.
“ Hmmm ” Lyra menjawab dengan Berdehem.
Entah apa maksudnya, pikir Lyra.
"Orang yang bahagia bukanlah orang yang berada dalam situasi tertentu, melainkan orang yang memiliki perilaku tertentu." - Hugh Downs
Mystorios_Writer☃️☃️
__ADS_1