Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Niat Baik


__ADS_3

“ Cukup! ku mohon. Setidaknya berikan aku ketenangan!! ” teriak Lyra, dia memijat pelan pelipisnya.


Semuanya seketika hening saat itu juga. Mereka bertiga hanya berdiri diam memperhatikan Lyra.


“ Kalian pulanglah aku butuh sendiri ” ucap Lyra akhirnya.


“ Kau sedang sakit tidak mungkin meninggalkanmu sendiri ” bantah Ares.


“ Aku minta maaf, Ly. karena aku kau jadi sakit ”


Adhisti menunduk sambil minta maaf pada Lyra.


“ Aku tidak sakit, ini hanya kram perut. Itu biasa terjadi saat hamil, juga bukan salahmu. Tidak perlu khawatir, pulanglah ”


“ Kram perut? ini biasa terjadi? ” tanya Ares tak sabaran.


“ Gavrill apa kalian juga membawa obat yang ada di laci kamar apartemen? ” Lyra tidak menghiraukan pertanyaan Ares.


“ Obat? ”


“ Iya Nona, saya menaruhnya di laci ini ” jawab Gavrill sambil berjalan ke arah sebuah laci di dekat TV, lalu dia menyerahkan obat itu pada Lyra.


Lyra lalu memakan obat itu.


“ Obat apa itu? ”


“ Terima kasih karena sudah mengambilkannya ”


“ Kenapa kau tidak mau menjawab pertanyaan dariku? Lyra kau mendengarkan aku? ”


“ Kakak bersabarlah sedikit ” bisik Adhisti pada Ares yang tidak mengerti situasi bahwa sekarang Lyra marah.


“ Setidaknya jawab aku tadi itu obat apa? jangan-jangan kau?! ”


“ Tuan pikiranmu selalu di penuhi pikiran negatif, itu obat untuk kram perutku ” jawab Lyra geleng-geleng kepala tak habis pikir jalan pikiran pria itu.


“ Kalau kau menjawab dari tadi, aku tak mungkin berpikir seperti itu. Lagi pula kau pernah ingin melakukan aborsi, tentu saja aku pantas khawatir soal itu ”


Apa aborsi? Nona Lyra hamil?! Ya Tuhan aku tak menyangka Tuan sudah melakukan langkah pasti hehhhe itu sedikit tak terduga, guman Gavrill dalam hati.


“ Huftt ” Lyra tertawa getir.


Semuanya semakin kacau, pikir Adhisti.


“ Sekarang Anda menggunakan itu untuk menyerang ku! Kenapa kalau aku pernah ingin melakukan itu? Apa menurutmu aku akan benar-benar melakukannya? ”


“ Aku hanya berjaga-jaga saja ” jawab Ares.


“ Perlu aku tekankan jika Anda berada di sini hanya untuk memastikan itu, maka aku bersumpah tidak akan melakukan hal itu. Sekarang Anda bisa pergi dengan tenang dari sini ” ucap Lyra sinis.


“ Niatku baik hanya ingin memastikan kau sehat ”


“ Aku tidak butuh itu ”


Keadaan benar-benar tegang.


“ Tu-tuan bagaimana dengan makanannya? ”


Aku harus bisa mengalihkan pembicaraan dua orang ini, batin Gavrill.


“ Kenapa masih bertanya? Bawa itu ke meja makan ”


“ Baik Tuan ”

__ADS_1


Selalu saja menjadi korban pelampiasan


“ Baiklah kita harus makan, ayo makan... Lyra kau pasti laparkan ” tutur Adhisti sembari menelan ludahnya kasar, merasakan betapa tegangnya saat itu.


“ Aku tidak lapar ”


Sebenarnya aku sangat lapar, tapi si Tuan bodoh ini ada disini lebih baik aku mati kelaparan.


“ Kau mau mati kelaparan ” ucap Ares dengan suara sedikit meninggi.


Kalau iya kenapa, kau pikir aku suka di atur oleh mu, batin Lyra. Dia memilih diam tak menjawab Ares.


“ Tidak boleh ada yang makan. Siapa pun tidak boleh makan, kalau dia tidak ikut makan ” perintah Ares dengan santainya, lalu dia duduk di sofa yang ada di depan Lyra.


Mendengar itu jelas Adhisti dan Gavrill tidak berani menyentuh makanan itu.


“ Anda?! keterlaluan sekali! ” rutuk Lyra.


Kau kira aku akan luluh karena hal itu, biarkan saja. Sekalian kita mati bersama.


Adhisti dan Gavrill hanya bisa duduk diam di meja makan itu saling memandang.


“ Aku sangat lapar ” guman Adhisti sambil memegang perutnya.


Gavrill yang melihat itu hanya bisa menghela napas.


Aku juga sudah sangat lapar Nona bukan cuma Anda yang tersiksa disini, batin Gavrill.


“ Aww perutku terasa nyeri karena sangat lapar ” ucap Adhisti dengan suara sedikit kuat, sebenarnya dia berbohong niatnya hanya agar kedua orang itu sedikit melunak.


Setelah beberapa lama tapi tidak ada tanggapan dari Ares, maupun Lyra.


“ Astagaa mereka berdua keras kepala sekali ” Adhisti mengepal tangannya.


“ Ehh apa? aku tidak tahu Nona ”


“ Ohhh benar-benar. Aduh bagaimana ini.. perutku benar-benar sakit sekarang apa mungkin karena aku baru-baru ini terserang radang perut. Jangan-jangan radang perutku kambuh ” ucapnya keras sambil menoleh ke arah Lyra dan Ares, melihat reaksi mereka, tapi tetap saja tidak digubris.


“ Ahhh sialan ” gumamnya.


Lihatlah betapa egoisnya dia adiknya sedang kesakitan tapi dia masih mempertahankan egonya dasar, rutuk Lyra dalam hati.


Kita lihat sampai kapan kau akan tega melihat mereka berdua kelaparan, pikir Ares.


“ Nona sebaiknya Anda makan saja, jika perutmu sangat sakit ” ucap Gavrill berusaha membantu usaha Adhisti.


“ Tidak boleh ada yang makan ” sergah Ares.


Apa?! Hah tukang perintah yang egois tak berperasaan, cerca Lyra dalam hati.


“ Sudahlah tidak apa-apa Gavrill, sepertinya aku akan tidur saja lagi sambil menahan lapar dan pastinya itu akan sangat sulit ” ucap Adhisti sendu.


Hanya ini usaha terakhirku, batinnya.


Ketika dilihatnya Lyra dan Ares tetap tak menghiraukan ucapannya, akhirnya perlahan dia mulai beranjak dari meja makan.


“ Tu-tunggu kau makanlah, tidak baik kau menahan lapar. Radang perutmu bisa tambah parah. Aku akan makan juga ”


Mau bagaimana lagi? aku tidak tega harus membiarkan dia tidak makan hanya karena manusia egois satu itu.


Lyra menahan malunya, dan memilih mengalah. Dia menghampiri Adhisti dan Gavrill ke meja makan.


“ Makanlah ” ajaknya pada Adhisti dan Gavrill.

__ADS_1


“ Kau juga harus makan ” ucap Adhisti dengan senyuman.


“ Tentu ” jawab Lyra singkat.


Mereka mulai mengambil makanan di piring masing-masing, Ares datang menghampiri mereka. Dia duduk di kursi jauh dari Lyra, tapi nampak jelas ekspresi bahagia tanda kemenangan di wajahnya.


Baiklah Lyra ingat kau harus bersabar tidak apa-apa ini juga demi kesehatan bayiku. Semakin cepat mereka pergi maka semakin baik, abaikan saja pria itu.


Semuanya hening bahkan sampai mereka selesai makan.


“ Ayo pulang Isti ” ucap Ares memecah keheningan.


“ Ehh? Apa tidak apa-apa meninggalkan Lyra kau sendiri di sini, dia sedang sakit kakak. Aku bisa tinggal dan menjaganya di sini ”


Apa? Pergilah tidak perlu kau menjagaku, keberadaan kalian benar-benar mengganggu.


“ Sepertinya dia tidak suka kalau kau tinggal di sini ”


Beruntung kau tahu diri.


“ Be-benarkah? aku tidak tahu maaf, kalau begitu aku akan ikut pulang bersama kakak ”


“ Kami akan pergi, kalau kau butuh sesuatu atau ada apa-apa kau bisa hubungi aku langsung ”


Lyra hanya diam tak menjawab, meski dalam hati dia bersorak bahagia. Lyra mengantarkan mereka pergi dari depan rumah.


“ Apa yang dikatakan pria itu tadi ~Niatku baik hanya ingin memastikan kau sehat~ ” Lyra meniru cara bicara Ares.


“ Wah dia pasti berpikir aku akan kagum dan bersyukur atas perkataannya itu, aku ingin sekali mengatakan padanya Hei Tuan Bodoh tidak perlu memastikan aku sehat karena hanya dengan melihatmu saja sudah membuatku sakit ” Lyra tak henti-hentinya menggerutu.


* * *


“ Kak, harusnya kakak bisa sedikit lebih lembut, coba pikirkan bagaimana menderitanya Lyra selama ini, dia harus menikah dengan kakak yang bahkan tak dia kenal, selain itu dia harus menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan olehnya ” tutur Adhisti di dalam mobil selama perjalanan pulang.


“ Apa menikah denganku seperti sebuah bencana? ” tanya Ares seakan tak percaya perkataan Adhisti.


“ Dengar ya kak, itu pasti sebuah bencana bagi Lyra, kakak dia dipaksa untuk menikah denganmu. Tentunya dia tidak suka atau bahagia, itu fakta ”


“ Tapi aku berusaha untuk memperbaikinya, dia saja selalu menolak niat baikku ”


“ Kakak sampai sekarang bahkan masih belum mengerti, ini bukan perkara melakukan sebuah kesepakatan damai. Ini soal perasaan, bagaimana setidaknya kakak bisa membuat Lyra percaya bahwa kakak tidak ingin menyakitinya ” jelas Adhisti lagi.


“ Itu sudah kulakukan, aku membawanya pindah karena dia trauma berada di apartemen dan.. ”


“ Dan itu semua dilakukan secara paksa ” sela Adhisti.


“ Ya mau bagaimana lagi dia tidak mau jika tidak dipaksa ”


“ Di situlah titik masalahnya, kakak keras kepala memaksa Lyra, tanpa peduli bagaimana perasaannya ”


“ Aku hanya ingin mengutamakan yang terpenting ”


“ Yang terpenting adalah membuat hubungan kalian membaik kakak, bukan memperburuk nya ”


Bagaimana cara memperbaiki hubungan ini? sementara jelas ikatan ini tak menyangkut perasaan, pikir Ares.


“ Sudahlah kita lihat saja ”


Akhirnya Adhisti memilih diam, dia merasa sia-sia juga menjelaskan pada kakaknya. Kalau Ares sendiri tidak mengerti maksud perkataan Adhisti.


"**Ketika jatuh cinta, jangan berjanji tak saling menyakiti, namun berjanjilah tuk tetap bertahan, meski salah satu tersakiti."-Anonim


Mystorios_Writer🍀**

__ADS_1


__ADS_2