
“ Kakak!! ”
“ Kakak!! ”
“ Kakak!! ”
Lyra menggeliat kaget mendengar suara teriakan itu, dia melihat Ares yang masih tertidur.
“ Ada apa? ” guman Lyra bingung, dia lalu segera beranjak dari ranjang.
Ternyata pergerakan Lyra membangunkan Ares.
“ Mau kemana? ” tanyanya masih setengah sadar yang melihat Lyra nampak tergesa-gesa.
“ Kakak!! ”
“ Kakak!! ”
Lyra belum menjawab dan suara teriakan itu terdengar lagi, akhirnya Lyra hanya mengedikkan bahunya dan segera pergi.
Ares mengumpulkan nyawanya sejenak dan kemudian menyusul Lyra.
“ Kakak!! ”
“ Adhisti, sudah berhenti berteriak. Dia akan datang sebentar lagi ” ucap Lyra pada Adhisti karena teriakan adik iparnya itu sukses memekakkan telinga.
Adhisti merenggut kesal, Lyra hanya geleng-geleng kepala melihat itu dan memilih duduk di sofa.
“ Duduk dulu, coba ceritakan padaku ada apa? ” tanya Lyra.
“ Aku punya masalah dengan kakak ” kesal Adhisti.
“ Masalah apa? Sampai kau berteriak pagi-pagi begini ” tutur Ares ketika dia tiba di sana.
Adhisti segera berbalik ke arah Ares dengan raut wajah marah.
“ Kakak masih bertanya masalah apa? Kenapa berpura-pura tidak tahu ” Adhisti mendengus kesal.
“ Gavrill dan pengawal menjemputku dengan paksa semalam. Itu sangat buruk acaraku dan teman-teman rusak karena itu ” sungut Adhisti.
“ Aku punya alasan untuk itu ” jawab Ares santai lalu duduk di samping Lyra.
“ Tapi Kakak acara itu berantakan, Kakakkan tahu itu penting untukku. Aku harus bagaimana sekarang ”
Lyra merasa kasihan melihat Adhisti, dia tahu acara itu sangat penting bagi Adhisti karena dia sudah merencanakan itu sejak lama. Tapi bagaimana pun dia juga tahu alasan Ares melakukan itu untuk keselamatan Adhisti.
“ Kakak akan membantumu untuk mengadakan acara itu lagi ” ucap Ares.
__ADS_1
“ Sudahlah lupakan Kakak selalu begitu, sedikit pun tidak menghargai usahaku untuk membuat acara semalam. Itu memang tidak terlalu penting untuk Kakak tetapi itu penting untukku. Tidak bisakah Kakak melihat usahaku ” tegas Adhisti.
“ Kamu boleh berpikir apa pun ” balas Ares dingin.
Lyra hanya dapat menghela napas melihat sifat keras kedua saudara itu. Tentunya cara Ares yang seperti itu yang selalu menyebabkan masalah semakin besar. Seharusnya dia memberi Adhisti penjelasan maka Adhisti tidak perlu semarah itu.
“ Tuan...sudah jangan di teruskan lagi ” guman Lyra pelan pada Ares.
“ Ayo ikut denganku, sebaiknya jangan bertengkar seperti ini ” Lyra mengajak Adhisti pergi bersamanya.
Lebih baik membawa memisahkan mereka agar bisa memikirkan kembali tindakannya dengan kepala dingin.
Lyra mengajak Adhisti duduk saat mereka tiba di bangku taman.
“ Kamu pasti marah dan kecewa sekali semalam ” ujar Lyra.
“ Tentu saja, semuanya kacau bayangkan saja aku bahkan tidak menyelesaikan acara itu dengan baik. Dan malah di gotong paksa oleh Gavrill ” rutuk Adhisti kesal mengingat bagaimana semalam Gavrill memaksanya pergi.
“ Tapi kamu harus tahu, Kakakmu melakukan itu untuk menjaga keselamatanmu ”
“ Ly, Kakak memang sudah berlebihan. Dia bahkan menempatkan banyak sekali pengawal di rumah, dan itu terlalu overprotektive sampai aku bahkan tidak bisa bebas melakukan hal yang ingin kulakukan ”
“ Aku juga sempat berpikir dia berlebihan dengan semua pengawal yang di tempatkan disekitarku. Hanya saja akhirnya aku tahu alasannya. Kakakmu memikirkan keselamatanmu itu saja ”
“ Itu sudah sifatnya, Ly. Terlalu protektif dan membatasi segala aktivitas kita ”
“ Bukan, Isti. Kamu harus tahu Kakakmu pasti mengkhawatirkanmu. Aku rasa dia tidak akan setuju aku memberitahumu. Tapi semalam saat dalam perjalanan pulang dari pulau X, mobil kami diikuti oleh dua mobil misterius ”
“ Ya, ternyata yang mengikuti kami itu adalah penjahat yang berusaha melukai Tuan Ares. Aku tidak tahu kejadiannya karena dia memerintahkan pengawal yang lain untuk membawaku terlebih dahulu ke rumah. Pastinya mereka pasti terlibat pertarungan karena Tuan Ares pulang dalam keadaan terluka ” jelas Lyra.
Adhisti menutup mulutnya dengan kedua tangannya syok dengan yang di dengarnya.
“ Kakak terluka?! Aku harus melihatnya ” ucap Adhisti ingin segera berlari, namun di tahan oleh Lyra.
“ Tenangkan dirimu, dia baik-baik saja. Lukanya tidak terlalu serius ” Lyra mengelus tangan Adhisti agar dia tenang.
“ Kenapa Kakak tidak menceritakannya padaku ” sesal Adhisti.
“ Dia pasti tidak ingin membuat khawatir. Aku berharap kamu mengerti alasan Kakakmu bertindak seperti itu.”
Adhisti mengangguk pelan.
“ Aku akan coba bicara pada Kakakmu agar tidak terlalu mengekangmu. Hanya saja Adhisti apa kamu tahu kira-kira siapa dalang dibalik penyerangan ini? Tuan Ares nampak gelisah ” tutur Lyra.
“ Aku tidak tahu, tapi dia kerap sekali menghadapi penyerangan seperti ini. Terkadang merupakan rencana dari beberapa saingan bisnisnya ” ungkap Adhisti.
“ Semakin kita diatas, maka akan semakin banyak orang yang ingin menjatuhkan kita. Hal itu wajar tapi jika sampai mengincar nyawa seseorang, itu benar-benar sebuah kejahatan ” ucap Lyra prihatin.
__ADS_1
“ Seharusnya tidak seperti ini, bagaimana pun kita tetap ingin hidup tenang ” lirih Adhisti.
Lyra memeluk Adhisti, dia paham beban yang dirasakan Adhisti. Tentu saja dia tidak bisa membayangkan jika Kakak yang sangat disayanginya itu berada dalam bahaya.
* * *
“ Kakak baik-baik saja? ” tanya Adhisti menghampiri Ares yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Ares memandang ke arah Lyra, karena nampaknya Adhisti sudah tidak marah lagi. Lyra hanya tersenyum kecil.
“ Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ” jawab Ares.
“ Kenapa tidak bilang kalau Kakak diserang? Harusnya katakan langsung aku pasti mengerti. Maaf karena marah-marah tadi ” ucap Adhisti.
Ares mengerti Lyra pasti sudah menceritakan semuanya pada Adhisti tadi.
“ Itu bukan masalah besar. Untuk saat ini aku ingin kamu tetap dalam pengawasan agar keamanan terjamin ”
“ Baiklah, aku tidak akan mempermasalahkan jika ada beberapa pengawal yang mengikuti aku. Asal mereka tidak terlalu mencolok tidak masalah ”
“ Aku memerintahkan Gavrill untuk mengawasimu langsung, dan mendampingimu untuk kegiatan apa pun ”
“ Apa?! ” lonjak Adhisti.
“ Kakak! Jangan Gavrill, cari yang lain saja ” protes Adhisti cepat.
“ Aku sudah putuskan ” jawab Ares, untuk saat ini yang paling dapat dipercayainya untuk menjaga adiknya itu hanyalah Gavrill orang kepercayaannya.
Adhisti mendengus kesal.
“ Ly...” lirihnya pada Lyra meminta bantuan.
“ Tuan kenapa Gavrill harus mengikutinya? Sebaiknya tidak perlu seperti itu. Adhisti pasti merasa tertekan ” ucap Lyra.
Adhisti tersenyum mendapatkan bantuan dari Kakak iparnya.
“ Gavrill tidak akan membuatnya terganggu, dia hanya akan memastikan keselamatan Adhisti ” ujar Ares tegas kepada kedua wanita itu.
Lyra dan Adhisti hanya dapat saling memandang dengan pasrah, mereka sama-sama tahu sifat Gavrill yang bahkan terbilang sama dengan Ares, sangat kaku dan juga keras kepala. Setiap ucapannya juga tidak bisa dilawan.
Gavrill juga sangat pintar untuk mengandalkan Ares sebagai ancaman kepada siapa pun yang mencoba menentang perintahnya. Ibaratnya Gavrill secara tidak langsung adalah bayangan Ares.
“ Tuan ada apa memanggil saya kemari? ” tanya Gavrill begitu dia tiba di ruangan itu.
“ Akhhhh....” desah Adhisti kesal tahu alasan Ares memanggil pria itu.
Gavrill bingung melihat reaksi Adhisti itu.
__ADS_1
"Bukan beban yang menghancurkanmu, tapi caramu membawanya." – Lou Holtz
Mystorios_Writer🎸🎸