
Gavrill mengacak semua isi laci meja kerjanya mencari sesuatu dengan tergesa-gesa.
“ Ini dia!! Aku akan menemukanmu!! ” pekiknya.
Gavrill berlari cepat sambil menyalakan ponsel yang di ambilnya dari laci sebelumnya. Itu adalah ponsel yang dipakainya saat masih bekerja dengan Ares, ponsel itu terhubung langsung ke GPS yang dipasang Gavrill ke ponsel Adhisti.
Gavrill yang menunggu sampai ponsel Adhisti terlacak bersiap-siap di dalam mobilnya. Gavrill menjalankan mobilnya setelah alat pelacak itu mulai bekerja.
“ Bagaimana bisa sinyalnya terhenti disini? ” Gavrill turun dari mobilnya, dia tidak menyangka sinyal ponsel Adhisti terlacak tepat di ujung jalan raya menuju rumahnya.
Gavrill menelusuri jalanan itu perlahan, dan akhirnya dia menemukan ponsel Adhisti yang tergeletak di sana.
“ Sialan!! ” rutuknya mendapati ponsel itu yang sedikit retak. Dari hal itu dapat dipastikan pasti terjadi hal buruk.
Setelah memeriksa log panggilan ponsel Adhisti di sana terdapat panggilan dari Ares dan tidak terjawab. Perhatian Gavrill terfokus pada salah satu nomor tanpa nama yang nampak menelpon Adhisti bersamaan dengan waktu Adhisti pergi dari pesta.
Gavrill dengan cepat menelpon kembali nomor itu.
“ Halo ini siapa? ” tanya suara di seberang.
“ Halo Tuan saya ingin tahu mengapa Anda menelpon ke nomor ini sebelumnya? ” tanya Gavrill.
“ Menelpon? Saya periksa dulu ”
Gavrill menunggu jawaban dari pria yang menjawab panggilan itu.
“ Oh ternyata ini nomor Nona yang memesan taksi atas nama Adhisti. Saya menelpon beberapa kali untuk menanyakan Nona itu berada dimana karena sudah saya jemput di alamat yang diberikan. Panggilan pertama Nona itu menjawab, tapi setelahnya tidak. Saya pikir itu mungkin pesanan jahil ” ungkap pria itu dengan nada kesal.
“ Bisa Anda mengirimkan bukti pesanan taksinya, itu sangat penting untuk saya ” pinta Gavrill.
“ Baiklah saya akan kirimkan ”
Setelah pria itu mengakhiri panggilan itu tak lama bukti pemesanan taksi di kirimkan. Di sana jelas tertera nama Adhisti dan juga nomor supir taksi yang dipesan. Dari situ terbukti pria itu memang hanyalah seorang supir taksi. Lalu siapa dalang dibalik menghilangnya Adhisti?
* * *
“ Mas....sebaiknya makan dulu ” Lyra menghampiri suaminya yang nampak kacau.
“ Aku tidak lapar, Ly. ”
“ Kamu sudah pucat begini tidak cukup tidur. Setidaknya makan agar kamu punya tambahan energi ”
Ares mengacak rambutnya frustasi.
“ Ini sudah tiga hari tapi aku sama sekali belum menemukan keberadaan Adhisti. Bagaimana aku bisa makan? Apa Adhisti baik-baik saja? Apa dia makan? ”
Lyra meletakkan nampan makanan itu di meja dan memeluk Ares.
“ Aku tahu...aku juga sangat khawatir tapi kalau kamu sakit bagaimana kita bisa mencari Adhisti ” guman Lyra. Tentu saja Ares sangat bersedih ketika saudara satu-satunya menghilang tanpa diketahui karena alasan apa.
__ADS_1
“ Aku bukan Kakak yang becus...untuk melindungi adikku saja aku tidak bisa ”
“ Jangan bilang begitu...semua ini bukan kesalahanmu.” Lyra melepaskan dekapannya dan mulai menyendok makanan itu.
“ Aku mohon makanlah sedikit saja ”
Dengan berat Ares membuka mulutnya dan menguyah makanan itu. Tapi baru beberapa suapan dia tidak mau makan lagi. Lyra bersyukur untuk itu dia memberikan gelas air minum pada Ares.
“ Semuanya pasti baik-baik saja. Kita tetap harus optimis ” Lyra berusaha menyemangati Ares walau dia sendiri tak bisa memungkiri rasa ketakutannya.
Tiba-tiba pintu ruang kerja Ares di ketuk, setelah ketukan itu terdengar lagi Ares memberi izin orang itu untuk masuk.
“ Gavrill? ” ujar Ares heran ternyata yang mengetuk itu adalah Gavrill.
“ Tuan aku ingin membicarakan sesuatu ” Gavrill terdengar serius. Lyra mengerti dan segera merapikan nampan makanan itu dan keluar dari ruang kerja Ares.
Setelah kepergian Lyra, Gavrill mendekat kepada Ares.
“ Tuan aku sudah menemukan keberadaan Nona Adhisti ”
“ Benarkah? Beritahu padaku!? ” Ares nampak tak sabaran.
“ Tuan jika kita pergi ke sana tanpa persiapan itu akan sangat sulit. Karena dalang dibalik semua ini...”
Ares meninju meja di depannya dengan keras.
“ Aku akan membunuhnya!! ”
“ Kau masih tidak mau makan? ”
Adhisti menyeringai menatap pria yang menarik rambutnya keras.
“ Makanlah atau aku akan merobek mulutmu sampai kau tidak bisa tersenyum lagi! ” bentak Jack lalu melepaskan rambut Adhisti kasar.
Adhisti menggerakkan kepalanya dengan lemah menatap pria itu.
“ Kau ingin membunuhku? Lalu mengapa aku harus memakan makanan sampah itu ” lirih Adhisti tanpa rasa takut.
“ Aku ingin kau mati di hadapan Kakakmu hingga dia tidak akan bisa melupakan itu, lalu mati depresi!! ” Jack duduk di kursi yang ada di hadapan Adhisti.
Tangan dan kaki Adhisti diikat dengan kuat ke kursi hingga dia tidak bisa bergerak.
“ Kau nampak lebih tua sekarang...kenapa memanjangkan rambut? Rambut panjang yang memutih itu terlihat menjijikkan ” cela Adhisti.
“ Hahahahaha ” tawa jahat menggema di ruangan itu.
“ Mulutmu itu memang tidak berubah!! Tidak sabar rasanya merobeknya!! ”
“ Obsesi bodohmu juga tidak berubah!! Tidak sabar rasanya menunggu ajalmu! ”
__ADS_1
Plakk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Adhisti, sampai gambaran tangan nampak jelas di sana.
“ Jangan pikir aku tidak bisa menyiksamu!! ” bentak Jack marah.
“ Hahahaha...aduh aku lelah rasanya, kamu terpancing hanya karena kata-kata seperti itu ” gelak Adhisti seolah tak merasakan apa pun.
Jack ingin sekali rasanya memukul kepala gadis itu hingga isi kepalanya berserakan di lantai. Tapi dia berusaha menahan emosinya, dia tahu gadis itu sengaja memancing emosinya untuk menggagalkan rencananya.
“ Sepertinya kali ini kamu berhasil tapi tidak lain kali ” Jack kembali duduk dengan tenang di kursi itu.
“ Kau tahu melihatmu seperti ini aku penasaran bagaimana reaksi Ibuku seandainya dia masih hidup? Melihat seorang pria yang begitu terobsesi padanya ”
“ Ratna pasti sangat senang aku berhasil membalaskan dendamnya kepada dua orang anak yang membuatnya harus hidup menderita ”
“ Menurutmu kami yang membuat Ibu hidup menderita? Leluconmu buruk ”
“ Kalau saja kalian tidak hadir di dunia ini dia pasti bisa lepas dari jebakan pria itu! ”
“ Anggap saja pria itu memang bajing*n karena memperlakukan Ibuku seperti itu, tapi apa menurutmu Ibuku berada disana hanya karena kami berdua? ”
“ Dia memilih diam menghadapi penghianatan pria itu karena kalian!! ”
“ Jangan bodoh!! Ibuku bertahan disana menderita dan mati karena depresi karena obsesinya yang tinggi kepada pria itu sama sepertimu! Kenapa kamu juga tidak mati menyusulnya dengan obsesi bodohmu?! ”
“ Tutup mulutmu!! Kalian memang tidak pernah menyadari seberapa banyak Ratna berkorban untuk kalian!! ”
“ Ibu tidak pernah mengorbankan apa pun untuk kami.. dia memilih tetap tinggal di rumah itu. Terkurung! Hanya karena rasa cintanya kepada pria itu yang lebih mendominasi akal sehatnya!! ”
“ Aku akan membunuhmu!! ” Jack mencekik Adhisti kuat.
“ Jangan pernah mengatakan hal buruk mengenai Ratna, dia menahan menderita dengan pria itu karena kalian!! ”
“ Ka-kami mengajaknya pergi...tapi dia memilih menunggu pria itu...dia bahkan melupakan kami karena depresi terhadap pria itu ” ujar Adhisti dengan suara tercekat napasnya hampir habis sampai wajahnya memerah.
Jack melepaskan cekikannya dan menjambak rambut Adhisti hingga kepalanya tercengkal ke belakang.
“ Kau tidak pernah mendugakan...Ibuku bahkan tidak mengingat mempunyai dua orang anak. Yang diingatnya hanyalah pria itu ” ucap Adhisti sembari menatap Jack dengan air mata yang mengenang karena hampir mati tadi.
“ Karena kalian menghancurkannya!! ”
“ Bukan kami yang menghancurkannya..tapi dia sendiri yang memilih hancur. Jika kau pikir menyalahkan kami untuk semua itu adalah hal yang tepat! Kau salah besar karena kami juga kehilangan sosok Ibu sudah sejak lama ”
“ Tidak!! Tidak!! Ratna tidak mencintai bajing*n itu!! Dia hanya terjebak!! ” Jack pergi sambil berteriak-teriak tidak Terima dengan yang dikatakan Adhisti.
Napas Adhisti tersengal air matanya berjatuhan.
“ Kakak tolong aku...” lirihnya
__ADS_1
“ **Terkadang yang tersulit adalah menerima dan merelakan ”-Anonim
Mystorios_Writer🍑🍑**