Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Terbongkar


__ADS_3

“ Kau?! Baj*ng*n!! ” teriak Lyra, dia segera berlari masuk ke apartemen.


Brakk!!


Suara kerasnya pintu yang di tutup oleh Lyra. Ares berdiri terkejut di sana dengan tangan terulur memegang sebuah sapu tangan.


“ Apa?! mengapa dia sangat marah hanya karena aku menawarkan sapu tangan? aku cuma ingin dia menggunakan sapu tangan ini untuk menghapus air matanya. Dia tidak suka dengan sapu tangan? ” ucap Ares bingung. Tapi dia memilih untuk tidak memaksa masuk ke apartemen itu pasti lebih memperkeruh keadaan.


Lyra terduduk lemas di balik pintu, dia terus menangis.


“ Dasar manusia sial*n! Sia-sia saja aku berusaha mendengarkan dia bicara. Apa dia pikir semua akan selesai jika dia menawarkan sapu tangan, untuk apa sapu tangan bodoh itu!! ” rutuk Lyra.


* * *


Setelah mengalami hari yang rumit, sore hari Ares kembali ke rumah.


“ Kakak!! ”


Ares menoleh ke arah suara itu, nampak Adhisti berdiri di depan sofa.


“ Ada apa Isti? Jangan sekarang ya kakak capek sekali, lain kali saja ” ucap Ares sembari menaiki tangga, dia tidak ingin meladeni Adhisti saat ini, bisa saja gadis itu akan mengeluh sesuatu yang membuat Ares tambah pusing.


“ Kakak ini penting! dengarkan dulu! ” pekik Adhisti.


Ares pun berbalik.


“ Isti mengertilah sekarang kakak sedang tidak ingin membahas apapun ”


“ Tapi ini mengenai Lyra ” balas Adhisti


Ares tidak menjawab tapi nampak dari ekspresinya menunggu Adhisti untuk melanjutkan ucapannya.


“ Aku benar-benar ingin kakak jujur, selama ini apa kakak dan Lyra melakukan hal yang hmm itu..itu...”


Bagaimana sih mengatakannya, tidak mungkin aku langsung bertanya apa kakak meniduri Lyra, ahhh ini sedikit memalukan, rutuk Adhisti dalam hati.


“ Apa Isti? kenapa kau cuma melantur dari tadi ” Ares mulai kesal melihat Adhisti yang lama mengatakan tujuannya.


“ Itu.. seperti kakak dan Lyra... hubungan.. ahhh maksudku apa kakak dan Lyra melakukan hubungan suami istri!! ” ucap Adhisti.


“ Ya?! ” sontak Ares terkejut untuk apa Adhisti menanyakan hal itu.


“ Iya hubungan yang benar-benar seperti suami istri pada umumnya, aku ingin tahu? ” tanya Adhisti.


Apa yang harus ku jawab pada Isti, tidak mungkin aku bilang melakukannya dengan Lyra, dan itu juga karena sebuah kesalahan, pikir Ares.


“ Pertanyaanmu aneh Isti tidak ada hal yang seperti itu, kau tahu sendiri alasan kakak menikahi Lyra ” jawab Ares berbohong.


Secepatnya Adhisti menutup mulutnya menunjukkan ekspresi terkejutnya mendengar jawaban Ares.


“ Lalu bagaimana bisa Lyra hamil? ” gumannya pelan namun masih terdengar oleh Ares.

__ADS_1


Ares segera mendekati Adhisti.


“ Apa maksudmu? Bicaralah yang jelas!!! ” bentak Ares dia mulai tidak mengerti maksud Adhisti mengatakan hal itu.


“ Ehh itu.. kak tadi a-aku bertemu Lyra ” Adhisti gelagapan dia juga bingung bagaimana mengatakannya kepada Ares.


“ Ada apa ini sebenarnya?! ”


“ Kakak tadi aku bertemu dengan Lyra, tanpa sengaja dia menjatuhkan ini dari tasnya ”


Adhisti menyerah sebuah amplop di hadapan Ares. Dengan cepat Ares meraih amplop itu dan membacanya. Amplop beserta isinya terjatuh dari tangan Ares, karena dia begitu terkejut mengetahui isi amplop tersebut.


Ares tanpa bicara apa pun segera berlari keluar dari rumah itu.


“ Kakak tunggu! Kak! ” panggil Adhisti tapi tidak dihiraukan oleh Ares. Adhisti lalu memungut amplop yang terjatuh itu, beserta sebuah surat dan foto hasil USG janin.


“ Sebenarnya ada apa ini? ” guman Adhisti.


* * *


Ares melajukan mobilnya cepat menuju apartemen Lyra.


“ Mengapa dia menyembunyikan hal itu dariku? Ahh Sial karena itu dia sangat membenciku. Tapi seharusnya dia memberi tahu ku, setidaknya aku akan bertanggung jawab. Astaga betapa bodohnya aku tidak pernah mengira hal ini akan terjadi ” rutuk Ares pada dirinya sendiri.


Dia memarkirkan mobilnya asal, dan segera berlari masuk ke gedung apartemen itu. Setelah tiba di depan apartemen Lyra, dengan cepat dia mengetuk pintu.


“ Lyra! Lyra! Buka pintunya! ”


“ Apa mungkin dia tidak ada di rumah? ”


Ares lalu memutuskan masuk ke apartemen, dia sebenarnya tahu sandi pintu masuk. Ares melihat ke dalam dan benar sepertinya Lyra tidak ada di rumah.


“ Kemana dia pergi? ”


* * *


Setelah jam 10 malam, Lyra kembali ke apartemen dengan di antarkan Shera. Lyra bersyukur ketika Shera menelpon ingin mengajaknya bertemu, semua permasalahannya dengan Ares. Dia benar-benar butuh tempat berpaling walau hanya sesaat.


Lyra melangkah memasuki apartemen, di bukanya perlahan pintu apartemennya. Dia melepas sepatunya, meletakkan di rak sepatu. Lalu berjalan perlahan menuju kamarnya.


“ KAU?! ” pekik Lyra terkejut melihat Ares berdiri sedang memegang beberapa kertas di depan sebuah laci di kamarnya.


Ares hanya diam, tapi dia menatap Lyra tajam dengan tatapan membunuh. Lyra menatap kertas yang dipegang oleh Ares, setelah mengenali kertas itu, dengan cepat dia merebutnya paksa dari tangan Ares.


“ Pergilah! untuk apa Anda disini! ” ucapnya begitu dia menjauh kembali dari Ares.


“ LYRA!! KAU! Kenapa dengan teganya kau membunuhnya! Hah! Apa salahnya!! ” bentak Ares.


Lyra tersentak mendengar suara keras Ares, dia mulai mengerti Ares mengira dia melakukan aborsi karena surat yang dibacanya adalah formulir pendaftaran Lyra saat pergi ke klinik aborsi waktu itu.


“ Jelaskan padaku kenapa kau melakukan hal itu!! ”

__ADS_1


Ares mulai mendekat dan berhasil mengikis jarak antara dia dan Lyra. Lyra terus menjauh hingga dia tersudut ke dinding.


“ Bicaralah!! Kenapa kau hanya diam!! ”


“ Argghhh ” Lyra berteriak karena Ares melayangkan tinjunya ke arah dinding tepat di samping kepala Lyra, hal itu benar-benar membuatnya ketakutan. Kakinya lemas sehingga ia mulai beringsut terduduk di lantai.


“ Jawab aku!! ” Ares menguncang bahu Lyra keras.


Ares benar-benar marah, dia sangat kecewa dengan Lyra yang tidak memberitahunya perihal kehamilannya, tapi yang lebih mengejutkan baginya adalah saat mengetahui bahwa ternyata Lyra melakukan aborsi.


“ Aku tahu telah melakukan hal yang tidak pantas padamu, tapi apa tidak ada sedikit pun rasa kemanusiaan dalam dirimu, sehingga kau melakukan hal terkutuk itu ”


Lyra tetap diam mulutnya terasa kelu, tubuhya gemetar hebat. Ares tidak tahu bahwa tindakannya membuat Lyra terguncang, dia ketakutan setengah mati mendengar teriakan dan juga tindakan Ares.


Lyra trauma berdekatan dengan Ares, apalagi menerima perlakuan seperti itu. Tanpa dapat berkata-kata dia hanya menangis gemetaran. Ares melihat itu sebagai bentuk ketakutan rahasianya terbongkar.


“ Kau benar-benar memilih untuk diam! Kau boleh membenciku sesukamu, tapi melakukan hal itu pada anakku, aku tidak akan membiarkanmu. Kau tahu betapa terkejutnya aku mengetahui tentang kehamilanmu dari orang lain, dan ternyata.... ternyata aku juga harus mengetahui fakta bahwa kau sudah membunuhnya ” ucap Ares dengan ekspresi marah dan kecewa yang mendalam.


Setelah tiba di apartemen dia menunggu Lyra, tapi gadis itu tidak kembali berjam-jam menunggu, karena bosan Ares memutuskan melihat-lihat.


Tanpa sengaja dia membaca kertas yang ada di laci kamar itu, di sana jelas tertera Lyra yang mendaftarkan diri untuk melakukan aborsi. Seketika niat Ares untuk mengajak Lyra bicara baik-baik membicarakan solusi yang akan mereka lakukan untuk kehamilannya, tapi mengetahui hal itu membuat darahnya mendidih seketika.


“ Ikut denganku! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! ” Ares menarik tangan Lyra, memaksa gadis itu berdiri.


Merasakan Ares menyentuhnya kembali dengan kasar, bagaikan sengatan listrik bagi Lyra, trauma yang dimilikinya dari malam saat Ares menyetubuhinya dengan paksa malam itu seperti terulang baginya.


“ Le-lepaskan aku! ” dia berusaha melepaskan genggaman Ares, tapi tidak berhasil. Lama-lama pandangan mulai buram.


“ Lepaskan ” gumamnya.


Brukk


Lyra pingsan, beruntung dengan cepat Ares berhasil menangkap tubuhnya.


“ Ly! Lyra bangun ” ucap Ares dengan menepuk pipinya, tapi gadis itu tidak bereaksi. Ares lalu mengangkat tubuh Lyra dan membaringkannya di atas ranjang.


Ares mengambil handphonenya dari sakunya.


“ Suruh dokter datang ke apartemen sekarang cepat! ” perintahnya pada Gavrill begitu teleponnya di jawab.


” Apartemen? ” Gavrill bertanya bingung apartemen yang mana di maksud Tuannya itu.


“ Apartemen Lyra cepatlah! ”


“ Baik Tuan ” dia menjawab secepatnya.


Ares mematikan telponnya, dia mulai mendekat kembali ke arah Lyra. Diambilnya sebuah kain, di lapnya pelan keringat dan juga air mata yang tergenang di wajah Lyra. Ada rasa iba dihatinya melihat wajah itu, tapi sesaat kemudian dia kembali dikuasai kemarahan mengingat anaknya yang telah di gugurkan oleh Lyra.


“ Aku akan menebus kesalahanku seumur hidup padamu, kenapa harus membunuhnya? ” ucapnya sendu sambil terus memandangi wajah Lyra.


"**Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayangi bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi dia tidak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu." Dee lestari

__ADS_1


Mystorios_Writer✴️**


__ADS_2