Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Aku Akan menemukanmu


__ADS_3

“ Anda ternyata di sini ”


Adhisti segera berhenti begitu mendengar suara yang khas baginya.


“ Tuan Ares mencari Anda ternyata Anda sedang pergi ke toilet ”


Dengan berat hati Adhisti berbalik menghadap pria itu, dia tidak menyangka akan menemui pria itu di sana.


“ Aku akan segera pergi menemui Kakak setelah dari toilet, seharusnya jangan membuang waktumu dengan pergi mencariku ” ungkap Adhisti sembari dia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya.


“ Eye shadow warna pink lebih cocok dari warna merah ” Adhisti melirik tangan Gavrill yang menahan tangannya.


“ Bisa lepaskan tanganku ”


Tentu saja karena menangis tadi riasannya rusak, oleh karena itu dia mengganti warna eye shadow dan juga lipstiknya. Tak di sangka Gavrill menyadarinya.


“ Apa Anda merasa senang sekarang? ” tanya Gavrill sinis sambil terus menahan tangan Adhisti erat agar gadis itu tidak beranjak dari sana.


“ Apa ada alasan aku harus bersedih? ” ujar Adhisti membalas perkataan Gavrill.


“ Bukankah seharusnya saat ini Nona menyesal? ”


“ Aku merasa tidak ada yang perlu aku sesali ”


“ Benarkah? Semua yang Anda katakan dulu! Bukankah Nona menyesal mengatakan aku tidak pantas?! ” tegas Gavrill mulai meninggikan suaranya.


“ Aku tidak menyesali yang aku katakan dulu. Bagiku itu semua benar, masalah kamu pantas atau tidak itu sama saja bagiku ” lirih Adhisti berusaha terdengar tak acuh.


“ Lalu semua ini percuma! Jabatan CEO itu juga tidak akan membedakan pandangan Anda padaku!! ”


“ Setidaknya ingat kita sedang dimana sekarang! Semua yang kau capai sekarang nikmati! Sekarang itu hakmu! Tidak perlu mempedulikan aku ”


Gavrill mendorong Adhisti kuat hingga menempel ke dinding dan mengukungnya dengan kedua lengannya.


“ Menjauh dariku! ” tegas Adhisti mendorong Gavrill.


“ Jika menjadi CEO juga tidak pantas menurutmu?! Lalu harus seperti apa agar bisa layak dimatamu?!! ”


Adhisti benar-benar takut jika ada orang lain yang mendengar dan menyaksikan pembicaraan mereka.


“ Aku mohon padamu....hentikan semua ini ” lirih Adhisti dengan mata berkaca-kaca menatap Gavrill.


Napas Gavrill menderu tak teratur disebabkan semua emosi yang bercampur saat ini.

__ADS_1


“ Apa karena aku memang anak haram dari wanita simpanan? Sehingga Gerry bajing*n itu lebih layak untukmu ” semua kata-kata itu diucapkan Gavrill pelan tepat di depan wajah Adhisti.


“ Kau lebih suka menyentuh dia dari pada harus berdekatan denganku. Aku begitu menjijikkan bagimu ”


Air mata Adhisti jatuh perlahan karena sudah tak dapat terbendung.


“ Asal kau tahu aku baru tahu ternyata kau wanita terburuk...jangan merasa aku yang selalu tak layak untukmu. Kau juga sangat tidak layak menurutku ” bisik Gavrill sinis.


“ Terima kasih aku senang mendengar itu ” ucap Adhisti dengan suara bergetar, lalu dengan cepat dia mendorong tubuh Gavrill menjauh darinya karena pria itu juga tidak berusaha menahannya lagi. Adhisti berlari cepat dengan highheelsnya meninggalkan tempat itu.


Dengan air mata yang berjatuhan dia merogoh ponselnya yang ada di tasnya dan segera memesan taksi. Dia tidak mungkin menemui Kakaknya dengan kondisi seperti ini.


Adhisti berjalan melewati gerbang rumah itu tak mempedulikan tatapan para penjaga terhadapnya. Setidaknya logikanya masih berjalan dia harus berjalan ke arah jalan raya, karena kawasan ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.


Menapaki setiap langkahnya dengan tangan yang senantiasa mengusap setiap bulir air mata yang berjatuhan. Dia akhirnya tiba di ujung jalan menuju jalan raya.


Ponsel di tangannya berdering tanpa melihat siapa yang menelpon dia menjawab panggilan itu.


“ Halo..oh iya Pak saya menunggu tepat di ujung jalan-


Suara ponsel Adhisti yang jatuh terdengar cukup jelas.


“ Halo Nona apa Anda mendengar saya? Anda dimananya? ”


“ Halo! ”


Suara supir taksi itu terdengar jelas dari ponsel Adhisti yang tergeletak di jalan itu, namun tidak ada jawaban dari gadis itu.


* * *


“ Adhisti sudah pulang duluan? ” tanya Lyra memastikan lagi perkataan Gavrill.


“ Nona Adhisti tadi bilang aku pulang lebih dulu karena merasa kurang enak badan ” ujar Gavrill, dia jelas berbohong tapi setelah kepergian Adhisti tadi dia dapat memastikan gadis itu pasti segera pulang.


“ Dia memang sudah bilang merasa kurang nyaman. Apa tidak apa-apa membiarkan dia pulang sendiri Mas? ” tanya Lyra karena dia merasa khawatir pada Adhisti.


“ Mau bagaimana lagi dia sudah pergi. Nanti saja aku akan meneleponnya ”


“ Hmmm ” jawab Lyra.


Mereka kemudian kembali bercengkrama dengan beberapa tamu, dan juga mengikuti acara pesta itu selanjutnya.


“ Ada apa Mas? ” tanya Lyra begitu melihat gelagat suaminya nampak berubah.

__ADS_1


“ Aku mencoba menelpon Adhisti karena seharusnya dia sudah tiba di rumah sekarang ” ujar Ares cepat.


“ Apa karena merasa kurang enak badan, jadi kemungkinan Adhisti sudah tidur. Coba telpon pelayan yang ada di rumah Mas ” saran Lyra.


Untuk sesaat Ares berbicara ditelpon.


“ Adhisti belum pulang ke rumah ” Ares sudah tidak bisa menyembunyikan kepanikannya lagi.


“ Kenapa dia belum sampai di rumah? Aku akan coba menelpon teman-temannya ”


Lyra segera menyingkir ke tempat yang agak sepi, dia menelpon teman-teman Adhisti menanya apa kemungkinan adik iparnya itu ada bersama salah satu dari mereka.


“ Mas teman-temannya tidak tahu Adhisti ada dimana ” ungkap Lyra memberitahu Ares, dia juga sangat khawatir.


“ Aku akan mencarinya sebaiknya kita pulang sekarang ”


Ares dan Lyra segera melangkah cepat meninggalkan area pesta itu. Gavrill tanpa sengaja melihat mereka yang terburu-buru, segera dia menghampiri Ares.


“ Tuan tunggu dulu, ada apa Anda nampak terburu-buru? ” Gavrill jelas tahu ada yang salah tidak mungkin Ares akan meninggalkan pesta itu tanpa memberitahunya.


“ Kau bilang tadi Adhisti pulang lebih dulu kan, Apa dia naik taksi? ” Ares ingin memastikan kembali karena Gavrill yang mengatakan Adhisti pulang lebih dulu.


“ Tidak Tuan, Nona Adhisti langsung pergi. Saya tidak sempat melihatnya pergi dengan taksi atau apa ”


“ Astaga! ” lonjak Lyra semakin khawatir karena itu membuka ke arah suatu kemungkinan.


“ Ada apa Tuan? Mengapa kalian nampak khawatir? ” tanya Gavrill cepat.


“ Adhisti belum pulang, kalau sesuai yang kau katakan seharusnya sekarang dia sudah di rumah ” ujar Ares.


“ Kami akan pergi aku harus mencarinya ” Ares kembali mengajak Lyra pergi.


Gavrill mencoba berpikir sejenak berusaha menjernihkan pikiran. Setelah sesuatu terlintas di pikirannya dia segera berlari. Semua tamu yang ada di sana nampak terkejut dengan tindakan Gavrill.


“ Gav, kamu kenapa? Semua tamu bingung ” Bella menahan tangan Gavrill.


“ Katakan pada mereka pestanya sudah selesai ” Gavrill segera menyingkirkan tangan Bella dan melanjutkan langkahnya.


Bella mau tidak mau harus menuruti perkataan Gavrill dan membubarkan pesta itu. Bella harus berusaha menahan malu karena pasti mereka dianggap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab dan sombong karena mengusir tamu undangan sendiri.


Gavrill mengacak semua isi laci meja kerjanya mencari sesuatu dengan tergesa-gesa.


“ Ini dia!! Aku akan menemukanmu!! ” pekiknya.

__ADS_1


“ **Tidak mungkin langit mampu memeluk bumi ”-Anonim.


Mystorios_Writer💒💒**


__ADS_2