
“ Apa itu?! ” lonjak Ares segera bangkit berdiri.
“ Hahhhahahha duar!! Hahahaha meledak!! ” Jack tergelak.
Ares menarik kerah baju Jack dan dengan satu gerakan cepat membanting tubuh pria itu ke lantai.
“ Matilah kau!! ” pekik Ares.
“ Hahahaha....hahahahha..perutku sampai sakit karena tertawa ”
Ares semakin marah melihat Jack semakin tertawa ingin rasanya dia menginjak-injak pria itu sampai remuk.
“ Sialan!! Aku akan membunuhmu!! ” Ares menendang tubuh Jack menjauh dari jalannya, dia segera melangkah cepat mencari Gavrill.
“ Berhenti...kau belum melihat pertunjukan sebenarnya ” ujar Jack santai seakan tidak merasakan apa pun, dia menepis debu yang menempel di kemejanya.
Ares menghentikan langkahnya menatap pria itu sinis.
“ Ayo ikut denganku menonton pertunjukan utama! BAMM!! ” diiringi teriakan itu layar televisi yang ada di ruangan itu menyala.
Rahang Ares menegang melihat itu.
“ Beraninya kau!! ” Ares mencekik Jack dengan marah.
“ Perhatikan tingkahmu atau kau akan segera melihat wanita itu di tembak ” lirih Jack.
Dada Ares naik turun menahan amarahnya dia melepaskan cekikannya perlahan.
Jack merapikan kerah kemejanya meremehkan Ares, dan dia kembali duduk dengan santai.
“ Duduklah ayo kita lihat pertunjukan ini bersama. Pasti seru melihat istrimu melahirkan anakmu kan? ”
“ Aku tidak akan melepaskanmu!! ”
“ Melihat wajahmu seperti itu membuatku semakin bersemangat...Tara dekatkan ponselnya ke wanita itu ” Jack berbicara di telpon dengan Tara, dan seperti yang diperintahkan Jack Tara bertindak demikian karena terlihat jelas di layar televisi itu.
“ Halo Lyra kau masih mengingatku? ”
Lyra menatap ke arah Tara bingung.
“ Mengapa kau melakukan semua ini? ” lirih Lyra karena dia tahu pria itu adalah Jack.
“ Aku hanya ingin memberi sebuah memori indah pada suamimu, kami berdua sudah tidak sabar ingin menyaksikan kelahiran anakmu ”
Lyra tak percaya dengan yang didengarnya, dia segera menggeliat berontak sebisanya. Walaupun tidak berguna karena tangan dan kakinya di ikat erat.
“ Jangan aku mohon! Bagaimana bisa kau berpikir sekeji itu! Mas! Tolong aku! ” Lyra berteriak sebisanya dia tidak bisa membayangkan jika pria itu benar-benar melakukan sesuatu dengan anaknya.
“ Hiks....hiks...Tara aku mohon lepaskan aku..bagaimana kalian tega? ”
Wajah Ares memerah mendengar tangisan Lyra.
“ Anak buahku akan membantu istrimu melahirkan, mereka akan membelah perutnya lalu membawa anakmu ke sini. Kau sudah tidak sabar ingin bertemukan. Bagaimana lagi hanya ini yang bisa kulakukan untukmu? Aku harap kau suka ”
__ADS_1
“ Apa dengan melakukan semua ini kau akan senang? ” tanya Ares geram.
“ Tentu saja...aku akan puas setelah melihat kau kehilangan semuanya. Selamanya kau tidak akan pernah melupakan momen ini. Saat adik, istri dan anakmu mati! Tara mulai proses pembedahan itu! ” setelah memberi perintah itu Jack mematikan televisi itu.
Ares menjatuhkan dirinya memohon pada pria itu.
“ Bukankah kau dendam padaku..maka sebaiknya lampiaskan saja padaku. Pukul aku sesukamu atau bunuh saja aku, tapi jangan pernah menyakitinya ”
“ Wah!! Akhirnya kau mau menundukkan diri hahahaha ” gelak Jack seakan puas dengan pemandangan Ares yang pasrah.
* * *
Tara mengeratkan lagi ikatan Lyra pada brangkar itu.
“ Tara aku mohon...jangan lakukan itu. Kamu juga seorang wanita bagaimana kamu bisa melakukan ini ” air mata Lyra semakin deras mengalir melihat Tara dengan santainya menyiapkan pisau bedah itu.
Tara hanya diam tak menanggapi sama sekali bahkan wajahnya datar tanpa ekspresi apa pun.
“ A-anakku..bisa mati jika kamu melakukan itu hiks..hikss usia kandunganku belum sampai 8 bulan, ini belum waktunya aku mohon padamu. Kau bisa membunuhku...aku akan datang menyerahkan nyawaku pada kalian...ta-tapi biarkan aku melahirkan anakku dengan selamat ” Lyra terus memohon, tangisnya semakin pecah saat Tara menyingkap bajunya dan mengoleskan semacam cairan di perutnya.
“ Tara...mengapa kamu melakukan ini? Apa salahku? Aku tidak menyangka semua ini, menurutku kamu gadis yang baik...kamu merawat anak-anak panti dengan baik ”
Mendengar Lyra menyebutkan anak-anak panti sesaat Tara menghentikan tindakannya. Melihat itu Lyra merasa masih punya kesempatan.
“ Aku sudah lama tidak mengunjungi panti, tapi saat aku datang waktu itu. Aku benar-benar bersyukur anak-anak dirawat dengan baik. Mereka tidak henti-hentinya menceritakan kebaikanmu ”
“ Itu semua jelas hanya bagian dari penyamaranku ” balas Tara.
Dio adalah salah satu anak panti.
“ Dia sangat antusias menceritakan bagaimana kau selalu memasak untuknya selalu mengingat alerginya...Samudra dan Angkasa adalah nama yang bagus, kau menamai dua bayi itu.”
Lyra menarik napasnya sejenak.
“ Jika yang kamu lakukan semua sandiwara semata..aku kasihan dengan anak-anak itu, mereka tulus menyayangimu ”
“ Maka mereka tidak akan bisa melakukan apa pun karena semua itu hanya kasih sayang palsu ” tegas Tara.
“ Aku tahu kamu juga menyayangi anak-anak panti, tapi siapa sangka semuanya akan berakhir seperti ini. Aku juga seorang yatim piatu jika ada seseorang yang memberikan kasih sayang yang tulus padaku dengan mudah aku menganggap mereka sebagai orang tuaku. Begitu juga anak-anak itu. ”
Tara nampak berpikir dan jelas di wajahnya terpampang keraguan.
“ Dulu aku bermimpi untuk menjadi seorang Ibu yang tidak akan meninggalkan anaknya sama seperti yang dilakukan orang tuaku. Ternyata setelah semuanya mimpi itu tidak bisa terwujud. Aku akan kehilangan anakku...aku akan ikut mati bersamanya ”
Tara mengangkat pisau bedah itu dengan tangan bergetar.
* * *
Duarr!!!
“ Akhhhh!! ” Adhisti berteriak keras beriringan dengan ledakan itu.
Dia merasakan ada sesuatu yang berada diatas tubuhnya melindunginya dari ledakan itu.
__ADS_1
Perlahan dia membuka matanya. Dia melotot tak percaya ternyata itu Gavrill, Adhisti sedikit meringis ketika Gavrill membuka lakban yang menutup mulutnya.
“ Gavrill ” ungkapnya. Ketika Adhisti menggerakkan tangannya untuk melepaskan rangkulan pria itu, dia merasakan tangannya basah akan sesuatu.
“ Gav...ka-kamu-
“ Jangan lihat tanganmu ”
Tubuh Adhisti seketika membeku dia menuruti kata-kata Gavrill untuk tidak melihat tangannya karena dapat di pastikan itu darah.
Gavrill segera membuka jasnya dan membersihkan darah yang ada di tangan Adhisti. Darah itu berasal dari luka di punggungnya.
“ Seharusnya kamu membuka lakbannya sedari tadi..aku berusaha memberitahumu untuk tidak menarik rantai itu. Jack menghubungkannya langsung ke granat ”
“ Kau termakan tipuannya ”
“ Lalu ledakan ini apa? Bagaimana kalau kamu terbunuh karena ledakan itu?! ”
“ Ledakan itu bukan dari granat, itu ledakan bom karena bom itu meledak makanya granat yang ada di sana meledak. Jack hanya menipumu, jadi saat seseorang ingin menyelematkanmu kau akan melarang karena takut granat itu meledak ”
Adhisti masih belum mengerti yang dimaksud Gavrill, jelas sekali begitu dia menarik rantai itu ledakan itu terjadi sesuai perkataan Jack.
“ Seseorang pasti ditugaskan untuk meledakkan bom itu tepat begitu aku menarik rantainya, lebih baik membiarkan mereka berpikir rencananya berhasil. Jack pasti berpikir kita telah mati karena ledakan itu ” Gavrill melirik ke arah CCTV yang sudah rusak karena ledakan tadi. Adhisti mulai mengerti setelah menyadari ternyata mereka diawasi dari CCTV.
Gavrill mencoba berdiri tapi ternyata kakinya juga terluka karena ledakan itu.
“ Gav! ”
“ Berbalik! Aku tidak ingin semuanya lebih merepotkan lagi! ”
Adhisti segera mengikuti perintah Gavrill, walaupun itu terasa kasar. Adhisti tahu Gavrill berusaha agar Adhisti tidak melihat darah di tubuhnya karena phobianya.
Gavrill membersihkan darah di lukanya dengan jas. Meringis menahan sakit dia berusaha berdiri karena mereka harus keluar dari ruangan itu.
“ Gav...kamu terluka ”
Gavrill menarik tangan Adhisti agar mengikutinya.
“ Kita harus keluar dari sini, Tuan Ares pasti menunggu ” tegas Gavrill.
Adhisti tidak berani membantah lagi, dia hanya mengikuti Gavrill. Sebenarnya sulit untuknya karena tubuhnya masih lemah.
“ Gavrill!! ” lonjak Adhisti saat Gavrill mengendongnya dan menaiki tangga itu.
“ Di tangga ini ada jebakan ”
Adhisti berusaha tidak menatap Gavrill.
“ Bagaimana aku bisa melupakanmu? Kalau kau terus berbuat seperti ini. Mengapa kamu selalu terlihat gagah ”, batin Adhisti.
"**Hal terpenting dalam hidup adalah belajar bagaimana memberikan cinta, dan membiarkannya masuk." - Morrie Schwartz
Mystorios_Writer💍💍**
__ADS_1